samedi 7 janvier 2012

Mau Langsing? Yuk, Nulis!

Merasa badan kamu udah bikin timbangan di rumah nyaris remuk? Nggak pede pake baju model tertentu karena kegemukan? Well, seribu jalan menuju Roma. Ada cara lain lho, buat ngelangsingin badan selain dengan diet!

Caranya adalah dengan nulis. Nulis hal-hal positif yang ringan dan sederhana yang setiap hari dilakukan. Sadar nggak sadar, berat badan kita udah turun dengan sendirinya.

Sebuah penelitian dilakukan di Amerika dan Kanada soal hubungan menulis hal-hal positif. Penelitian ini diujikan di Stanford University dan College Renford University pada 45 orang mahasiswi penderita obesitas.

Separuh dari mereka diminta menulis selama 15 menit per harinya tentang hal-hal dalam hidup yang mereka hargai (menurut gue sih, mungkin disukai). Misalnya tentang hobi, tentang keluarga, dan boleh kok tentang *ehm* pacar.

Hasilnya? Wedeh, empat bulan kemudian, cewek-cewek yang rutin mengerjakannya, berat badannya turun, rata-rata 7 kg!

Menurut sang peneliti, Profesor Christine Logel, perempuan yang menulis tentan sesuatu yang mereka hargai, setiap hari akan merasa bahagia dalam hidupnya. Mengutip dari Dailymail, ini katanya, "Bagaimana kita merasakan tentang diri kita sendiri dapat memiliki efek besar."

Menurut Prof. Logel, perempuan yang hatinya bahagia akan selalu berpikir positif, tak banyak makan. Makan yang dilakukannya adalah makan teratur yang baik untuk kesehatan. Selanjutnya, perempuan tersebut juga akan melewatkan ngemil, karena konon orang-orang stres lah yang banyak ngemil.

So, kalo lagi menghadapi situasi yang membuat stres, kayak gagal dalam tes (amit-amit), dicuekin sama temen, diamuk guru, kta bisa menjadikannya positif, sebagai media untuk menurunkan berat badan. Misalnya, sih, dengan ingat-ingat hal-hal positif dalam hidup kita.

Nah, masih jaman diet? Dietlah dengan menulis, sekarang juga!

Kabut Kenangan Kota Dieng

Matahari kian tak terlihat di ufuk timur, nyaris tak menyisakan cahaya. Gerimis kecil mulai membasahi jalanan. Susah payah gadis itu berjalan di pematang sawah.

“Aduuuh, Mas, ini nyampenya masih besok sore, ya?! Kok pematangnya panjang bener, sih. Sungai Niil aja kalah, kali,” gerutu Niken sambil mengecangkan ikatan rambutnya.

"Lho, Mbak Niken ini gimana, toh. Katanya sing mau ngerasain tinggal di desa, ya gini rasanya! Jangan harap ada jalan aspal, rata-rata ya masih pematang sawah begini. Belum lagi kalau kita mesti nyebrang sungai. Jembatannya sing masih dari bambu.”

“Ada ularnya nggak nih?! Awas aja kalo aku baru nyampe rumah Eyang pas jadi mayat, Mas Paijo harus tanggung jawab!” ancam Niken, merentangkan tangan untuk menjaga keseimbangan. Yang diancam hanya mengernyitkan kening dan tersenyum, terus memandu cucu Ndoro-nya ke tempat yang dituju.

Si cewek metropolitan Bandung itu kontan memekik melihat rumah yang ia kenal dari kejauhan. Rumah bergaya Jawa kental bercat coklat, tidak bertingkat namun luas. Begitu pematang panjang berakhir, Niken langsung berlari menuju rumah Eyang.

“Walah walah, cah ayu kemana saja toh Nduk? Ibu kamu nelponin mulu, katanya kamu ilang gitu aja. Eyang sampe nelpon Wanda, siapa tau kamu kabur ke luar negeri.”

Sambutan yang sama sekali tidak hangat itu hanya dibalas Niken dengan pelukan hangat pada sang nenek. Ia duduk di sofa panjang di samping kursi goyang yang dulu sering menjadi tempat santai almarhum Eyang Kakung-nya. Niken merasa gatal melihat kursi itu berayun, maka ia mendudukinya, menikmati sensasi yang tidak ia rasakan empat tahun terakhir ini.

“Kan aku udah lama nggak ke sini, Yang. Papa sekarang dinasnya ke Babel. Mama? Beuh, udah jarang ada di rumah. Seringnya ke Malaysia atau ke Spore, berangkat pagi pulang dinihari!” sahut Niken, tak bisa menahan diri untuk nggak ngomel.

“Iya, yo dimaklumi lah, Ken, ayah-ibumu sibuk begitu. Kerjanya kan, enak. Tapi jangan kabur-kaburan segala, toh. Bikin semua orang khawatir,” nasihat Eyang sambil menyodorkan secangkir teh panas pada Niken. Ia menerimanya, lalu menyesapnya. Rasa khas teh melati neneknya, dicampur gula batu halus, terasa memanjakan lidah.

“Iya, iya, Yang. Udah ya, aku mau istirahat dulu. Oh iya, Yang, nanti suruh orangnya Eyang ya, buat nemenin aku nonton sunset,” pesan Niken, menyeret kopernya masuk ke kamar tamu, kamar yang selalu ia tempati bila ke sini.

Si Nenek hanya tersenyum. “Iya, wes tenang toh cah ayu. Istirahat, jangan lupa shalat Ashar!”

“Udah kok tadi di rest area,” sahut Niken malas sambil menggeliat.

Walau matanya sudah mengerjap lelah, Niken masih menyempatkan diri membuka gorden linen jendela, membuat cahaya menerjang masuk ke seluruh ruangan, membuat suasana hatinya sedikit membaik. Yah, memang itu bukan, tujuannya ke sini? Sambil tersenyum, Niken duduk ke atas kasur, membuka selimut, dan tenggelam dalam kehangatan.

Tidur tanpa mimpi itu terusik oleh suara gedoran pintu. Niken bangkit dengan rambut awut-awutan, merasa tenggorokannya kering, lalu mengambil minum di meja di sebelahnya. Masih dengan mata lengket, Niken berteriak.

“Bukaaa! Masuk ajaaa!” teriaknya. Sejurus kemudian ia sadar ia tak ada di rumah, maka buru-buru Niken bangkit dan membuka pintu, membuat pemuda aneh di hadapannya tersentak.

Niken menatapnya dengan pandangan asing, ketus. “Siapa lo?”

“Eh, saya… anu, saya…”

“Saya, saya, saya siapa?! Justin Bieber, hah?”

“Eh, eh, eh, Niken, kamu udah gede kok ngomongnya seenak jidat. Yang sopan dikit toh Ken, yang anggun jadi anak gadis,” sambar Eyang yang keluar dari kamarnya, “ini Heru, keponakannya Paijo! Dia ini yang kerja di kebun, terus tahu tempat-tempat bagus di Temanggung. Oh iya, Heru ini pintar lho, Ken, sudah kuliah juga. Umurnya sepantar dengan kakakmu.”

Like I care, gitu?
batin Niken mencibir, lalu memasang senyum sok manis. “Terus sekarang Mas Paijo-nya mana?”

“Ngngng, Pakde nggak bisa nemenin Non Niken, dia lagi ada rapat sama buruh-buruh tani, ngerencanain panen. Jadi saya yang nemenin Non Niken.”

Rapat, rapat. Buruh aja pake rapat, udah kayak DPR aja
, dengus Niken, makin dongkol. Tapi dengan cepat ia menurunkan alis dan suaranya, lalu berkata lunak, “Ya udah, gue ganti baju dulu. Lo tunggu di depan aja, sana.”

Secepat kilat ia mengganti pakaian, kemudian ke teras. Si Heru atau si Heri atau siapa lah itu, menunggu dengan gaya duduk hormat khas orang terpelajar. Omaigat, jangan bilang Niken jauh-jauh ke Dieng dari Bandung, eh malah dapat teman yang 11/12 sama kakaknya! Duh, jangan sampe!

Beberapa saat kemudian mereka sudah ada di atas sebuah bukit. Niken dulu sempat ikut klub yang kegiatannya trekking, jadi bisa beradaptasi, lah, biar kata capek-capekan sedikit. Heru yang ada di depannya diam saja, walau sesekali menoleh dan menatap Niken agak lama, tapi kemudian melihat jalan lagi. Niken sih cuek-cuek aja, ngapain juga ngobrol sama orang yang nggak dia kenal?

“Nah, sampai, Non. Dari sini, kita bisa melihat sedikit proses matahari terbenam, juga seluruh desa. Tapi cuma sedikit, Non, lebih indah kalau matahari terbit, jadi jangan buat interpretasi terlalu tinggi,” oceh Heru, membuat Niken merasa seolah-olah ia jalan dengan tour guide superbawel. Dulu saat sekolah di Hongkong pada jaman SD, ayah Niken punya tour guide pribadi yang Bahasa Inggris-nya mahakacau, berantakan. Udah gitu cerewet pula, mencicit terus!

Niken menghela nafas dalam-dalam, tak lupa mengucapkan terima kasih kalem pada Heru. Di hadapannya terpampang landscape indah, sawah dengan bulir padi yang mulai menguning, rumah-rumah penduduk, dan juga saung-saung di tengah sawah. Latar belakangnya pun tak kalah cantik, gunung yang tinggi menjulang, tertutupi kabut tipis. Inilah yang ia inginkan! Bukan sekadar gunung samar yang nggak kelihatan karena polusi, kayak di Bandung.

“Ngomong-ngomong, Non Niken dari Bandung, ya?”

Panggilan santai itu membuat Niken menoleh, mengangguk singkat.

“Yang orang Bandung itu, ibunya Non?”

“Apa? Bukan, bukan,” kali itu Niken benar-benar tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa, “nyokap gue campuran Jepang-Jerman, tapi karena dulu pernah ikut study abroad ke Indonesia, beliau jadi jatuh cinta sama Indonesia. Terus pas gede, kuliah di sini, terus ketemu bokap, terus nikah, deh.”

“Oooh. Pantes muka Non Niken bukan kayak muka orang Indonesia. Matanya sipit, hidungnya mancung, kulitnya putih. Tinggal dipirangin rambutnya, udah mirip orang luar.”

Niken terkekeh mendengar argumen itu, lalu kembali menatap panorama gratis yang tersaji di hadapannya. Lagi-lagi Heru mengajaknya ngobrol.

“Non Niken ke sini ngapain? Liburan?”

Pertanyaan itu tak Niken jawab karena pikirannya keburu mengambang ke tempat lain. Dia ke sini? Liburan? Sama sekali bukan. Kalau liburan mah, mending Niken nyusul ayahnya di Bangka Belitung, dengan pantainya yang lebih indah.

Sebenarnya Niken bela-belain jauh-jauh ke Dieng dalam rangka menenangkan diri, mengumpulkan kembali serpih-serpih hatinya yang sedang dalam kondisi sehancur-hancurnya. Dua hari lalu ia terpaksa menerima kenyataan pahit kalau ternyata cowoknya, Kevin, playboy sialan bermulut manis. Niken kenal Kevin sejak hari pertama masuk SMA, dan langsung jatuh cinta karena perhatian yang diberikan cowok itu. Siapa sangka ternyata si Kevin cuma mulutnya aja yang manis? Memang Kevin kece, pintar, ketua OSIS, tapi ternyata….

Lamunan Niken buyar ketika ponselnya mendadak berbunyi. Di layar iPhone-nya terpampang foto Wanda, kakaknya yang tiga tahun lebih tua, yang kini melanjutkan studi di Lucerne, Swiss. Mendecakkan lidah, di-reject-nya panggilan itu, kemudian mematikan HP. Wanda pasti akan menceramahinya alas-kali-tinggi-kali-diameter begitu mereka bicara, nggak pake basa-basi atau say hi dulu. Wanda, si anak kesayangan Papa-Mama, yang apapun diminta pasti dikabulkan. Sekolah di Eropa? Fix. Tinggal di apartemen mewah? Silakan. Huh, boro-boro Niken dimanja kayak gitu.

“Non Niken, itu proses matahari terbenamnya sudah mau mulai,” tiba-tiba Heru mencolek bahu Niken, membuatnya menengadah melihat langit yang mengeluarkan semburat merah jambu. Gradasi warna alami yang membuat Niken berharap ia membawa SLR-nya di koper. Burung-burung terbang melintasi lazuardi, terlihat tidak peduli dan buru-buru kembali ke sarang. Pemandangan yang akan sangat cantik bila dijadikan lukisan.

Kira-kira sepuluh menit mereka ternganga melihat matahari terbenam, sebelum akhirnya langit mulai gelap. Heru mengajak Non-nya kembali ke tempat ia seharusnya berada, dan Niken menyetujuinya. Berdua, tapi merasa lebih nyaman, mereka kembali terseok-seok di pematang sawah.

Esoknya Niken kembali bangun pukul lima pagi, itu juga karena lagi-lagi pintu kamarnya digedor. Menahan diri untuk tidak mengutuk siapa pun yang menggedor dengan sumpah serapah yang paling kasar, sempoyongan Niken membuka pintu. Lagi-lagi si Heru!

“Mas, bangunin orang kira-kira, dong! Yang bener aja kamu, jam lima subuh udah gedor-gedor rumah orang!” maki Niken, mengerjap-ngerjap.

“Hehe, maaf, Non. Kata Mas Paijo, Non Niken mau ngerasain tinggal di desa, toh? Mandi, deh, Non, nanti saya ajak jalan-jalan.”

Kata “mandi” tidak begitu menggugah selera Niken, tapi kata “jalan-jalan” menarik perhatiannya. Sambil mengangguk patuh, ia mandi, berwudhu, pakai baju, shalat, dan keluar lagi.

“Ndoro tadi sudah saya kasih tau, jadi ayo Non.”

“Lho? Nggak sarapan dulu?” tanya Niken heran. Di rumahnya, ibunya akan mengomel dengan bahasa campuran Jepang-Jerman-Inggris-Indonesia yang bikin telinga pengang dan kepala pening kalau Niken tak menyentuh nasi sebelum berangkat ke mana-mana.

Heru melempar senyuman singkat. “Nanti di sana juga ada warung, Non. Ayo, toh.”

Alis Niken menaik, dan ia mengedikkan bahu. Diekornya Heru kembali ke pematang sawah, lalu berkeliling desa, melihat aktivitas warga pribumi di hari Minggu. Ibu-ibu sudah bangun jam segini, memasak nasi dan air di tungku. Bahkan air pun diambil dari aliran sungai yang meliuk bening dari air terjun kecil yang berasal dari mata air gunung. Para petani bangun beberapa saat kemudian, lalu langsung ke sawah dan kebun yang mereka garap. Rata-rata sih, berkebun palawija dan umbi-umbian.

Setelah Niken mengeluh kakinya lecet, barulah mereka singgah di warung makan yang tadi ia janjikan, memesan makanan yang… ya gitu deh. Niken cuma tersenyum kecut melihat telur balado, ikan mas, dan bihun goreng di tepi piringnya, sangat jauh dari ayam-ayaman, apalagi steak! Ia berusaha menikmatinya walau tentu saja itu berbeda. Pas sekali matahari terbit, mereka kembali berjalan ke salah satu sawah seorang warga–yang kata Heru sih itu sawah neneknya Niken, cuma digarap orang lain–dan Heru melipat celananya. Niken cuma menonton dari saung.

“Non, ayo ngapain bengong aja, ayo turun ke sini!”

“Hah?! Turun ke sawah?! Ogah, ogah, nggak mau! Schauen sie! It’s dirty!” lengking Niken, tanpa sadar betul apa yang diucapkannya. Campuran Jerman-Inggris yang sukses membuat Heru dan si penggarap lahan bengong.

“Maksudku… lihat! Itu kotor,” ulang Niken, merasa konyol sekali.

Heru tersenyum. “Jangan suudzon dulu, Non, coba deh Non nyebur! Lagi pula, ini dangkal, kok. Kan celana Non udah pendek, tuh, jadi nggak akan kotor.”

“Iya celana gue nggak kotor, tapi kaki gue gimana?! Kalo di dalem ada ulernya gimana?! Kalo kena lintah gimana?! Kalo kita nggak sengaja nginjek kotoran kebo gimana?!”

“Jangan manja, Non, ayo sini.” Tanpa banyak tanya Heru langsung menyeret Niken masuk ke dalam lumpur, membuat Niken menjerit.

“Kurang asem lo! Aaaa, gue baru spa nih, kemarin!” teriak Niken, tanpa sadar mencipratkan lumpur ke muka tablo Heru yang cengengesan. Niken kembali menjerit saat sadar tangannya sekarang kotor, tapi muka Heru lebih parah lagi. Menyeka wajah dengan lengan baju, Heru membalas si cewek metropolitan dengan lebih banyak lagi. Niken mundur, kaus putihnya yang bergambarkan bendera Inggris yang betul-betul diimpor langsung dari negara Ratu Elizabeth itu kini kotor. Ia mundur sampai-sampai terpeleset dan jatuh di lumpur yang menggenang.

Heru terkekeh sementara Niken bangkit sambil menyumpah-nyumpah. Untunglah rambutnya yang panjang sudah ia cepol dulu sebelum jalan, jadi nggak kotor.

“Puas lo?! Sekarang gue kotor!” bentak Niken. Sepenuhnya tahu bahwa marah-marah cuma akan merusak liburannya, ia mendengus. “Gara-gara gue udah terlanjur kotor, mending kita main yang lain, deh.”

Heru dan si bapak saling melempar senyum. “Gara-gara kita udah kotor, gimana kalo kita ngebajak sawah, naik kerbau, terus mandiin kerbau di sungai, sekalian mandi juga. Terus, merah susu.”

Niken sih, setuju-setuju saja, daripada ke candi atau balik ke rumah Eyang, mandi sama kerbau terasa lebih baik. Susah payah berjalan di lumpur, ia berkenalan dengan Bobi, kerbau piaraan Pak Bambang, si buruh. Pertama sih, Heru yang mencontohkan cara membajak dengan kerbau, dan awalnya jujur, Niken ngeri melihatnya. Tapi kan, ini petualangan. Siapa tahu ia bisa membangkitkan kembali jiwa petualangnya. Setelah melihat Heru dua kali bolak-balik di belakang Bobi, barulah Niken pede untuk membajak sawah di belakang Bobi.

Selesai membajak, mengacaukan sedikit kerjaan Pak Bambang, Niken nyengir dan menarik Bobi menuju sungai yang tidak jauh. Kata Heru, di sungai itu ada semacam alat penyaring atau apalah itu, jadi airnya tetap jernih. Dengan cuek Niken berjalan di tengah bapak-bapak yang sibuk mencangkul, lalu nyemplung ke air.

“BRRR! HERU, LO GILA?!” bentak Niken, buru-buru naik ke atas lagi. Air sungai itu terlalu dingin, membuat kakinya terasa kebas. Biar kata cetek dan arusnya amat tenang, Niken tak betah di sana. “Gue punya anemia, tau! Kedinginan dikit, gue bisa pingsan!”

“Maaf, Non, maaf, maaf. Saya kan nggak tau. Mending Non nyeburin kaki aja, deh, nggak akan pingsan, saya jamin. Minimal Non nggak dipelototin orang karena jalan kotor-kotoran gitu.”

Manyun, Niken menceburkan kakinya di sungai, itupun masih menggigil. Heru terjun langsung ke sungai membawa Bobi, memandikannya dengan tekun. Melihatnya dengan geli, Niken mencipratkan air ke muka Heru yang over-serious. Mandiin kebo aja, mukanya udah mirip sama dokter yang mau ngoperasi pasien.

“Heh, Non!” gerutu Heru, membalas Niken dengan cipratan kecil. Niken cuma cengengesan. Setidaknya air yang mengalir lembut dibawah kakinya semakin mencerahkan suasana hatinya. Pikiran tentang Kevin nyaris-nyaris tak terbayang lagi.

Tengah hari, barulah mereka kembali ke sawah untuk mengembalikan si Bobi. Walau jam 12, di Dieng tetap dingin, lebih dingin daripada Puncak. Apalagi, perlahan-lahan turun kabut di dataran tinggi itu. Niken, dipandu Heru, bisa menyeberangi pematang dan kembali ke rumah Eyang–disambut dengan teriakan lagi–dengan selamat.

Yah, walau kabut turun dan menghalangi pemandangan, tapi Niken sudah puas. Apa yang ia lakukan seharian ini terasa amat menyenangkan. Pengalaman baru yang sangat berharga. Niken tahu dia orang yang mudah menyembuhkan diri, tapi tak pernah secepat ini dalam move on seseorang.

“Non Niken, besok mau ke mana lagi?” tanya Heru ceria, keluar dari kamar mandi dengan handuk di lehernya.

Niken tersenyum, kemudian menggoyangkan cangkir berisi coklat panas di tangannya. “Ngobrol di balkon aja, yuk, sekalian gue mau curhat. Sambil minum hot chocolate. Terus nanti kita tentuin besok yang enak ke mana. Satu lagi, jangan manggil gue pake ‘Non’! Panggil aja Niken…”


7/1/2012. 10.12 am

Esa Khairina.

jeudi 5 janvier 2012

Banyak sodara, banyak inspirasi!

Setiap abis liburan, udah jadi ritual guru bahasa buat ngasih kita tugas buat nulis pengalaman saat liburan. Atau nggak nyeritain di depan kelas. Yang ini sih, basi banget.

Buat yang liburannya ke luar kota, bahkan sampai merantau ke negeri tetangga mah, nggak masalah. Tapi, gimana yang liburannya di rumah aja? Kayak gue, contohnya.

Well, bersyukur menjadikan ide lebih mengalir lancar. Setelah gue flashback ke liburan gue yang hampir abis ini, gue udah menemukan sesuatu. Sesuatu untuk diceritain kalo nanti disuruh bikin tugas. Apa yang udah gue dapet pada liburan kali ini? Kacamata baru untuk menatap hidup dalam artian yang hakiki.

Jadi, liburan ini sebenernya nggak bisa disebut liburan karena gue hampir nggak happy. Ada aja masalah silih berganti menghampiri. Dari awal liburan aja, gue udah ditimpa kenyataan pahit yang bikin gue mikirin terus dan ujung-ujungnya... sakit.

Waktu gue sakit, banyak tante dan uwak gue yang jenguk, begitu pula nenek gue. Saat itu gue sadar kalo gue diperhatiin banyak orang, kalo gue disayangin banyak orang, dan apapun yang terjadi, mereka akan selalu sayang sama gue. Di hari-hari gue yang biasa juga, adek gue sering menghujam gue dengan pertanyaan-pertanyaan yang super-nggak-penting--yang seringnya gue kacangin--tapi gue sadar, itu karena dia pengin akrab sama gue.

Sadar nggak sih? Sodara itu sumber inspirasi, lho. Mau senyebelin apapun, senorak apapun, semengganggu apapun, sodara dan family adalah orang pertama yang kita kenal. Orang pertama yang akan ngulurin tangan pas kita jatuh. Orang pertama yang akan jenguk kita saat kita sakit, dan sebagainya.

Lima Iklan Terkoplak versi gue

Iklan, salah satu hal yang bikin kita tetep nongkrongin TV dan ujung-ujungnya, tagihan listrik naik. Sadar nggak, kalo 30% dari apa yang kita tonton di TV tuh iklan? Contoh nih, nyokap lo nonton sinetron, lamanya 2 jam. Paling yang nyokap lo tonton, netto-nya cuma 1 jam 15 menit, sisanya mah iklan doang.

Ada iklan yang bagus dan kreatif, kayak iklan yang jargonnya Life is An Adventure itu. Gue demen banget sama nih iklan, soalnya udah anaknya ucul-ucul, puisinya juga keren. Versi satu dan versi duanya gue suka.

Terus iklan yang bikin gue rada mabok, "Ini ceritaku, apa ceritamu?" Itu iklannya bagus. Terlepas dari sangkut-paut mi instan terhadap kehidupan tokoh-tokohnya, tuh iklan bagus. Menceritakan perjuangan, apalagi yang bisa lulus dari jualan mi, sama mahasiswi Italia yang bela-belain ke Belanda demi nyari makanan kesukaannya (beda banget sama gue. Kepengin martabak depan rumah yang ngesot-juga-nyampe aja, gue terlalu males buat nyeret kaki dan ngeluarin duit). Tapi ada berapa iklan yang rada koplak, gue share beberapa, dan anehnya, semuanya itu iklan provider dan iklan mi instan.

Provider pertama, nggak usah gue sebut, lo pasti tau. Itu lho, iklan rada kobam yang sepasang pasangan lari-lari dibawah rinai hujan *terlalu dangdut, ya*, abis itu si cewek teriak gini, "Kamu kenapa sih? Nelpon nggak pernah, SMS nggak pernah!" Dan si cowok dengan mental anak mamihnya ngejawab, "AKU NGGAK PUNYA PULSAAAA...!"

Sumpah. Ini. Krik. Banget.

Maksud gue, pulsa berapa sih harganya? Kayak gitu aja sampe didramatisasi segitu berlebihan. Kenapa nggak sekalian aja ada truk tronton lewat begitu si cewek jatoh, terus kepalanya kelindes?! HAH?! Biar tambah sinetron! Mungkin yang nulis script perlu dikasih Panadol dulu.

Yah, lanjut saja, lah.

Provider selanjutnya, nah, yang ini juga lebai. Nggak usah disebut namanya, deeeh, lo pasti tau. Itu, yang katanya ada dua orang baru turun dari terminal, si cewek yang gendut bilang, "Ini Jakartta (medok), ddi sini, cuma aku yang kamu kenal!" cewek yang kurus cuma nyengir. Abis itu banyak yang nyapain si kurus, sampe mereka makan, si kurus digratisin, dan tiap dipelototin si gendut, dia selalu nyahut, "Temen pesbuqq," dengan aksen Jawir-nya. Sampe-sampe, si gendut naik angkot, si kurus naik Jaggy "temen pesbuqq"-nya.

Nah, ini menurut gue lebai. Kalo kita bandingkan dengan kehidupan nyata, sudikah lo memberikan makanan gratis pada cewek medok yang lo kenal dari "pesbuqq"? Nggak, kan?! Sudikah lo memberikan tumpangan sama dia? NGGAK, KAN?! Dan setau gue, nih provider juga pernah bikin iklan yang tokohnya itu kawin sama monyet, terus honeymoon naik mobil sama tuh monyet. Andai Gregor Mendel masih hidup, abis deh yang nulis script kena amuk. Lho, apa hubungannya? Sekarang gue tanya, kalo manusia sama monyet kawin, FILIAL/ANAKNYA KAYAK GIMANA?! HAH?! Bisa-bisa bakal ada teori persilangan yang lain. Bukan lagi monohibrid, dihibrid, trihibrid, nanti sekalian ada quarterhibrid!

Gue emosi.

Kenapa? Dari jauh-jauh aja guru IPA gue udah nasehatin biar gue nggak mikirin trihibrid karena jumlah kotak kalo ditabelin itu ada 32 kotak. Lah kalo quarterhibrid ada berapa kotak?! Gimana tingkat kesulitan gue dan temen-temen gue saat menghadapi UN kelak?!

Yak, lanjut deh, ke iklan selanjutnya.

Iklan yang ini tuh rada aneh. Ada cowok psycho yang selalu mantengin FB biar tau apa yang distatusin cewek yang dia incer. Menurut gue, kalo iklan ini ditonton oleh anak dibawah umur, bisa berabe. Ini ngajarin anak-anak kecil buat nguntilin orang. Melototin orang. Sampe-sampe, bisa-bisa mereka jadi benjol-benjol gara-gara niruin si tokoh cowok jatoh setelah make kostum Superman.

Terus iklan yang ini, gue lupa awalnya. Pokoknya ini iklan mi instan. Ada bapak-bapak lagi ngapainn gitu, abis itu Ayu Tingting tiba-tiba nongol pake kecrekan terus nyanyi, "DUUUUAAAAA~" INI MAKSUDNYA APA?!

Yah, segaje-gajenya iklan di atas, masih gajean iklan yang ini. Itu, lo pasti tau. Iklannya ada anak bongsor diomelin gurunya, terus pas pulang disuguhin mi instan. Abis itu dia teriak, "AYAMKU MANA?!" dan kamera disensor ke tempat lain. Gurunya megangin tuh mi sementara ayam-ayamnya ada di atas kepalanya. Menurut gue, ini nggak baik. Adek gue yang kelas 5 SD aja, begitu ngeliat tuh iklan, ngomong, "Ooo, berarti Pak Guru-nya yang nyolong ayam!" Bayangin kalo iklan itu ditonton oleh anak-anak yang lebih muda dan ingusan daripada adek gue, terus mereka punya cita-cita, "Aku mau jadi gulu, abis itu maling ayam, dehhhh..." Hancur sudah moralitas anak bangsa!

Yah, itu dia rangkuman lima iklan terkoplak versi gue. Bagaimana iklan terkoplak versimu?

Life is realistic. That's why I stop dreaming and wake up to reality.

mercredi 4 janvier 2012

Atas Nama Blekberi

Jadi ini kisah pas gue masih kelas 8, hehe. Sebenernya sih ini kisah pait yang nggak perlu diceritain, tapi siapa tau ini bisa jadi inspirasi bagi kalian, PLUS bikin kalian hati-hati dan nggak kejebak :D Selamat membaca!

Pas gue kelas 8 (PS: sekarang gue kelas 9!), yang namanya Blekberi tuh booming banget. Di mana-mana orang ngobrol, pasti yang pertama ditanyain adalah, "Eh, pin lo berapa?" Itupun, setelah mereka duduk, bukannya ngobrolin yang penting dan akrab, malah sibuk sama BB masing-masing. Hubungan sejauh apapun yang kepisah, pasti jadi serasa dekat karena Blekberi.

Jujur, sampe sekarang gue nggak tertarik sama tuh HP, karena gue nggak suka desainnya yang rada "Mbok-mbok" (?). Dan belom lagi, kelebihannya paling fitur BBM-annya doang, sama aja kayak punya Yahoo! Messenger di HP. Plus, gue nggak kuat beli pulsa bulanannya, belom lagi nggak bisa Wi-Fi-an, lah, nggak bisa browser, lah! Ribet!

Tapi kira-kira pas bulan Mei, gue sempat tergoda sampe nabung mati-matian buat beli gadget yang konon bisa bikin kita "naik derajat" itu. Dan itu gara-gara satu orang.

Sebut aja namanya Jerry. Ngng, gue ngasih dia nama itu karena walau gue sepantar sama dia, dia lebih pendek lima senti--tapi believe it or not, sekarang dia lebih tinggi dari gue! DANG!--dan dia item + lagaknya tengil, persis si tikus dalam drama Tom and Jerry itu. Beloman lagi, kalo gue ketemu dia, seringnya kita berantem. Sampe-sampe semua temen yang kenal kami pasti komen, "Duh, permasalahan dalam maghligai rumah tangga jangan dibawa-bawa ke sini, dong," atau nggak, "Duh, udah kayak kucing sama tikus aja, deh."

Jadi waktu itu gue ikut klub yang bikin gue lumayan akrab sama dia, dan ANEHNYA, kalo ada apa-apa, gue pasti sekelompok sama dia. Terus banyak juga junior-junior gue yang ngomong, "Kak Echa, Kak Jerry kan suka sama Kak Echa..." terus tiap gue bilang, "Apaan siiih..." eh malah diledek lebih kenceng lagi.

Biar kata sepantar + lebih pendek, dia lebih dewasa daripada gue. Omongannya seringkali sok filsuf, tapi bikin dia keliatan "beda" dari yang lain. Makanya, kadang kalo lagi bercanda, gue suka manggil dia "Kak" dan dia manggil gue "Dek". Padahal, gue lebih tua dua bulanan daripada dia. Gue lahir bulan Oktober, dia Desember. Plus, tanggal lahir kita sama, 12 *brb ngitungin kalender*. Dan... gue selalu ngeliat "sesuatu" di matanya tiap kali kita ngobrol. Entah apa itu.

Terus puncaknya, setelah lima bulan kenal sama dia, publik pun mengenal gue sebagai "Esa Khairina, hobi macarin pedofil yang lebih muda dua bulan, tercatat sebagai kekasih dari Jerry XXX..." JDERRR! Ke mana-mana, gue selalu usahain biar gue nggak berduaan sama dia, yang--apesnya--susahnya minta ampun. Mungkin karena gue klop sama dia atau gimana, yang paling sering jalan bareng ya gue sama dia.

Bukannya apa-apa, hati gue masih belom siap buat nerima masuknya orang baru. Masih terlalu dini. Hati gue masih dalam proses penyembuhan, mengumpulkan kembali keping-kepingannya yang terpecah gara-gara kehilangan seseorang yang bener-bener gue sayang Desember 2010 lalu. Plus bonus yang bikin hati gue makin sekarat: kenyataan kalo orang yang gue sayang itu pindah ke Bandung, dan dua bulan setelah perpisahan itu, dia udah nemu yang baru. Hati gue makin remuk. Hancur sehancur-hancurnya.

Back to Jerry.

Dia lama-lama makin deket sama gue, dan anehnya, dia satu-satunya cowok yang nggak pernah gue banding-bandingin dengan "Si Itu yang Telah Lenyap ke Bandung". Dari sekian banyak cowok, cuma dia yang bikin gue comfort karena gue nggak pernah flashback dengan Si Itu. Karena apa? Karena dia emang beda banget sama Si Itu. Si Itu tinggi, putih, jago main basket, dan omongannya to the point. Blak-blakan tapi bikin gue melting dengan sempurna. Beda banget sama si Jerry yang seringnya bikin gue ilfeel.

Terus satu kelemahan si Jerry adalah, dia tuh orangnya pamer. Norak, bahasa kasarnya. Punya Blekberi Gemini aja--atau Javeline? Entahlah, tanyakanlah pada Abang-Abang Roxy Mas--sombongnya udah selangit. Dikit-dikit dia bakalan ngeluarin HP-nya, terus ngomong, "Aduh, ribet deh punya contact banyak di BBM."

Najong senajong-najongnya. Bweeeh. Sok laku banget sih jadi cowok! Muka kayak penguin belom cebokan aja belagunya udah banget-bangetan, dalem hati gue ngedumel.

Dan entah sejak kapan, sejak gue sadar dengan cara BBM-an adalah cara untuk stay closer ke dia, gue pun punya ambisi besar untuk beli Blekberi. Dan bahkan, yang lebih cangguih daripada punyanya dia! Lagian, Blekberi berapa sih harganya? dalem hati gue udah stay cool dan nyombong.

Pas gue pulang ke rumah, gue langsung ngudek-ngudek celengan gue--betul, sampe jaman ketika ATM bertebaran di mana-mana, celengan kaleng tetep jadi alternatif penyimpanan duit kecintaan dan favorit gue. Amannya lebih daripada ATM, soalnya. Kalo misalnya ada maling, gampang, tinggal kita jedotin aja pake tuh celengan. Simpel, nggak ribet--dan gue juga ngelongok isi dompet gue. Whatthehell, duit gue ditotal cuma ada 1.200.000!

Kurang 800.000-an, lah.

Sebagai anak emas, gue minta duit segitu (maybe) dikasih, tapi gue urungkan niat gue, berhubung waktu itu gue baru dapet rezeki. Jadi yah, jadilah gue bersakit-sakit ke hulu (tapi nggak pernah sampe ke tepian, itupun juga soakiiit banget). Gue nabung. Gue bela-belain nggak jajan di kantin meski muka gue bener-bener mupeng dan mengundang kasihan. Duh, kok dramatis amat....

Gue terus nabung biar bisa beli BB, sedangkan makin hari, gue sama Jerry makin deket. Hampir nggak ada bayangan Si Itu dan pacarnya yang mirip sama Sinta yang di video Keong Racun--sumpah, mirip persisss!--dan jelaslah, dia jauuuuh lebih... "yahgitudeh" daripada gue. Cocok pula profesinya. Si Itu kapten tim basket, pacarnya wakil ketua tim cheers sekolah mereka. There's no place to me :'>

Impian gue sedikit lagi terkabul! Dan sekitar awal Mei, gue udah mutusin bakal beli BB akhir Minggu itu, dan hari Sabtu-nya gue mau ngetraktir temen-temen di klub, sekalian mau *ehm* yaaah, mengenal lebih dekat si Jerry.

Sampe di situ, gue belom mau ngakuin kalo gue udah jatuh sama si Jerry.

Tapi hari Senin, gue ngeliat pemandangan yang super-nggak-enak. Di suatu tempat di Blok M, gue ngeliat dia. Jerry. Pegang-pegangan tangan. Sama cewek lain.

Gue shock kayak diserang tegangan listrik ribuan watt. Ceweknya gue kenal pula! Dia temen yang lumayan akrab sama gue, dan dulu dia tuh SAHABAT gue!

Si cewek senyum manis, dan Jerry nyengir salting gitu.

Gue langsung sesek napes.

Gue tau cengiran itu.

Cengiran yang Si Itu sering kasih di awal-awal kami jadian....

Gue ditabok sama temen gue, dan diseret ke Blok M. Tapi kok rasanya ada yang aneh, ya? Kayak gue ninggalin sesuatu di suatu tempat nun jauh. Kayak ada sesuatu yang... hilang.

Abis itu tuh cewek--yang juga temen klub gue, nanya, "Cha, katanya mau beli BB? Cek harga dulu, sana!"

Gue melamun.

Temen gue itu main-mainin sedotan limun terus ganti pertanyaannya, "Cha, hari Sabtu jadi kan lo traktir-traktirnya?!"

Gue masih melayang-layang dalam dunia gue.

"Cha!" gue digebrak. Gue kaget, dan buru-buru nyengir. Temen gue mengeriputkan kening.

"Lo kenapa sih? Gue tanyain dieeem mulu dari tadi. Kerasukan jin dari mane?"

Gue senyum tipis sambil geleng. Ciri khas gue adalah: karena gue nggak bisa diem dan talkative, begitu gue diem kayak sapi ompong, temen-temen gue langsung tau ada hal yang nggak beres. Yah, seenggaknya bagi orang-orang yang akrab sama gue.

"Jadi kan hari Sabtu?!" desak temen gue. Gue ngangguk sekenanya.

Benar. Gue punya hari Sabtu!

Dua hari kemudian, gue ketemu lagi sama temen gue itu, dan dia teriak-teriak heboh ke gue, "Cha, Cha, lo tau nggak, si Jerry jadian, tau! Sama si Febri *nama disamarkan* anak XX itu!"

Jleb. Gue langsung lunglai.

Gue speechless, tapi gue langsung maksain tawa.

"Hahaha, bagus deh, seenggaknya sekarang gue nggak perlu digosipin lagi sama dia, hahahahahaha," gue ketawa supermaksa. Sama maksanya dengan mata gue yang kedap-kedip biar nih air mata tak jatuh jua *najis kok melankolis banget sih*

Dan nggak berapa lama kemudian, Jerry dan sohibnya--yang juga seklub sama gue--dateng, terus mulai deh ngejailin gue. Dan bener, gue ngeliat di tangannya, tulisan, "Febriana XXX, tanggal jadian..." dan dikasih lope-lope norak *tapi giliran gue yang nyorat-nyoret tangan dan ditegur, gue lebih galak dari yang negur*. Cih, noraaaak!

Terus gue ledek aja, "Cieee jadian..."

Si Jerry cuma nanggepin sekenanya, seolah-olah yang gue omongin sama sekali nggak penting, nggak ada artinya. Gue tatap matanya.

"Sesuatu" itu udah hilang entah ke mana....

Matanya udah kosong. Sama sekali kosong.

Sumpah, barulah saat itu gue ngerasain perasaan itu lagi. Perasaan yang gue rasain lima bulan sebelumnya. Rasa kecewa. Rasa pahit menyiksa gara-gara mati-matian menelan bongkahan pahit di tenggorokan *maksudnya ludah*. Dan rasa campur aduk itu membuahkan sesuatu yang gue benci.

Air mata.

Sesuatu yang juga gue keluarin lima bulan sebelumnya.

Pas gue sampe di rumah, gue langsung... mewek. Yah, gue emang cemen. Tapi serius, hubungan yang berlangsung lama ini cuma berakhir dalam hitungan minggu.

Dan ambisi gue terhadap Blekberi pun menguap seiring dengan harapan gue yang juga tak berbentuk.

Gue coba tarik nafas dan gue tidur-tiduran. Cuma ada satu orang yang gue hubungin saat itu. Orang yang tau siapa si Jerry, satu-satunya orang yang tau kisah ini secara lengkap... Satu-satunya orang yang tau siapa itu Febriana.

Tapi emang bener Tuhan Maha Adil. Gue cuma sayang sama dia kira-kira sebulan, dan sakit hati ini juga cuma bertahan selama seminggu. Seminggu yang murung. Seminggu yang kelabu.

Kalo dulu gue sayang sama Si Itu selama 10 bulan, wajarlah gue nangis 4 jam pas nggak ketemu dia untuk terakhir kalinya. Wajarlah kalo gue baru bisa move on enam bulan setelah break up.

Uang yang udah gue kumpulin buat beli BB gue tabung lagi, dan pada bulan Juni, gue beli digicam baru karena digicam gue yang lama udah butut abis. Sekarang gue gigit jari pengin SLR dan dalam tahap penabungan.

Bulan Juni barangkali bulan paling kelabu. Bulan paling kelam. Karena selain masih ada rasa nyelekit tiap kali ngobrol sama Jerry, itu bulan gue galau terus-terusan gara-gara Si Itu. Betul-betul galau. Belum lagi ceweknya yang ngeselin itu nyindir gue abis di Twitter--gue nggak follow dia. Gue stalking TL-nya -_-. Gue balesin aja nyindir dia juga. Bener-bener, deh. Mirip gitu sama lagu You Belong With Me-nya Taylor Swift. She wear short skirts, I wear t-shirt. She's cheer captain and I'm on the bleachers. Dreaming bout the day, when you wake up and find that what you're looking for, has been here the whole time...

Dan gue juga tau kok, dari tweets-nya tuh cewek, dia tuh udah nggak sayang lagi sama Si Itu.

Inilah hebatnya cinta. Dari yang udah disakitin, dibikin mewek empat jam, dibikin bengkak tuh mata, masiiiih aja naro harapan. And... wanna know something? Si Itu dan si Jerry putus sama cewek masing-masing di bulan yang sama!

Duluan si Jerry, sih. Hubungan dia sama ceweknya nggak bertahan lama karena--maaf--ceweknya emang rada manja sedangkan dia tipe cuek. Tapi SI ITU! Cowok paling perhatian sejagad yang kalo udah punya cewek sayangnya ampun-ampunan... kok bisa putus?! Belakangan gue tau dari temen gue, kalo ternyata ceweknya Si Itu belom bisa move on dari mantannya dan...

Si Itu dikit-dikit ngomongin mantannya terus.

NAH LHO?!

Gue nggak tau mau ngomong apa. Rasa seneng gue tertutup oleh rasa kasihan. Jujur, gue udah berkali-kali ngerasain yang namanya brokenheart dan nggak tega kalau orang lain ngalamin. Bukannya gue sok strong atau sok pahlawan. Gue benci ngeliat orang yang gue suka jadian sama orang lain, tapi giliran mereka putus... seneng juga nggak pada tempatnya banget, kan?

Dan najisnya, si Jerry masa SMS gue berkali-kali.

Nggak gue bales, lah. Tapi pas kami ketemu langsung, gue sengaja banyak-banyakin ngelawak. Gue nggak pengin jadi pelampiasannya dia, tapi gue siap kok jadi a shoulder to cry on. Jadi harus dikerasin dikit, tapi jangan terlalu keras juga.

Cuma karena Blekberi, hubungan kami jadi kayak gini....

Duh, ini mah namanya bener-bener atas nama Blekberi, bukan atas nama cinta!

Tapi bulan kelam gue--Juni--berganti dengan bulan yang terlalu menyilaukan di Juli. Buku kedua gue terbit. Gue masuk kelas yang dapet julukan "kelas favorit". Dan yang paling bikin hepi, gue nakilab sama Si Itu, dan alhamdulillah sampe sekarang kita masih :') Februari 2012 nanti, resmi dua tahun sejak dia pertama kali nge-shoot gue.

Bisa kalian liat moral value of the story? Semuanya udah diatur sama Tuhan, men. Mau lo megang Blekberi sampe lo megang Esia, kalo bukan jodoh lo nggak akan ketemu. Eh, ini untung lho si Jerry jadian pas sebelum gue beli Blekberi. Coba bayangin kalo gue beli BB dulu, terus dia jadian? Bisa-bisa BB-nya gue lempar dari balkon -__-

Sedangkan Si Itu yang jauh di sana, buktinya kita akur-akur aja, tuh. Jangan jadiin gadget sebagai alasan untuk memulai hubungan *omaigat bahasa gue...*, karena hubungan yang bener-bener itu nggak mandang seseorang dari HP yang mereka kantongin. Nggak mandang seseorang dari kendaraan yang mereka pake. Nggak mandang seseorang dari butik yang mereka sambangin tiap shopping. Bahkan, nggak mandang dari muka. Banyak lho, orang kece yang jadian sama yang biasa-biasa aja. Yang sirik mah bilang, "Dih, nggak pantes!" tapi menurut gue, itu ajaib. Itu membuktikan kalo cinta yang tulus bisa merobohkan apa saja yang merintangi dua insan itu *oke, sekarang bahasa gue bener-bener kayak presentes Insert*.

Yah, cukup sekian deh cerita gue. Apa ceritamu? Haha. Petiklah yang baik-baik yaaa, jangan contoh atau fotokopi kebodohan gue di masa lalu, oke?

Keep smile! God is preparing a wonderful love-story for you! ;)

4/1/2012.
Esa Khairina.

Dilema Sang Shopaholic

Halo para penonton, eh, pembaca setia When A Girl Speaks Up Her Mind yang budiman! Hoahaha, kali ini, gue pengin, ehm, curhat dikit soal dilema gue sebagai cewek boros yang doyan belanja.

Sebenernya sih, nggak tepat juga dibilang "shopaholic" karena gue bukan tipe cewek yang langsung ngacir ke mal begitu ngeliat iklan BIG SALE di TV. Tapi, please deh, cewek mana sih yang nggak suka belanja?

Gue suka belanja, belanja apa aja. Entah itu buku, baju, sepatu, tas, sampe barang-barang nggak guna pun gue belanjain. Hasilnya? Ya gitu deh, dompet gue kadang kosong melompong kayak kepompong yang dimakan kakek-kakek ompong.

Masalahnya, gue lagi nabung mati-matian karena ada sesuatu yang mengelitik urat mimpi gue. Ada sesuatu yang gue pengiiiiin banget, tapi gue sadar hal itu nggak akan bisa kesampean kecuali gue nabung, berhemat, DARI SEKARANG! Sampe-sampe di celengan kaleng gue, gue tempelin label yang tulisannya, "SAVE YOUR MONEY FOR YOUR FUTURE!" Yah, kadang sih nggak aman juga nabung di celengan karena tangan nyokap suka ngegerayangin sudut kamar gue buat nyari duit recehan--bilangnya sih, minjem, tapi abis gitu... suka lupa dikembaliin. Terus, gue juga mencanangkan program "Satu Hari Lima Belas Ribu" yang gue terapkan mulai Januari ini.

Jadi gini. Sehari duit jajan gue 30.000--bener-bener sehari, jadi pas gue kursus, naik bajaj, nggak dikasih duit lagi. TEGA!--dan buat sekolah, gue dibekalin nasi dan air putih. Buat balik ke rumah, gue naik bajaj yang kisaran argonya 8-10 ribu. Nah, nah, itu aja udah berapa. Plus kalo ada biaya fotokopi, beli kertas ulangan, deesbe-deesbe, itunglah goceng. Artinya, gue nggak bisa jajan lagi.

Sebenernya dari semester lalu gue udah nerapin sistem "Satu Hari Sepuluh Ribu", tapi seminggu, cuma gocap. Dua minggu, cepe. Belom lagi kalo gue jalan--pasti ujung-ujungnya bakal ke Gramedia--itu bisa abis paling minim gocap. Lain lagi ceritanya kalo gue mampir ke Gramed, bisa-bisa 200.000 ludes.

Bokap sih, nggak tega-tega amat, beliau juga ngasih uang diluar uang jajan gue, perbulan cepe. Jadi kalo kepepet, gue bisa pake itu. Dan emang berhasil sih, tapi duit gue menipis dengan cepat begitu liburan tiba.

Pertama, gue ke Blok M Plaza--ya, tongkrongan keluarga gue memang nggak jauh-jauh dari Melawai--sebelum bokap ke Bandung buat dinas selama 11 hari *whatthe...*. Gue ke sana, beli buku empat biji dan juga beliin nyokap buku masak gitu di TGA. Kalo dijumlahin, total 217.000. Abis itu--berhubung bokap gue ganti kaca mata--gue sama nyokap keliling-keliling, lumayan cuci mata. Sialnya buat gue, gue nggak sengaja masuk ke gerai kaus-kaus kawaii yang diskon akhir tahun 75%!

Gue shock. Tapi sumpah, ini fantastis dan sangat disayangkan untuk dilewatkan!

Akhirnya gue beli dua kaus lengan panjang kawaii yang masing-masing 30.000, jadi kaliin aja, tuh, udah 60.000. Ditambahin pengeluaran gue buat BUKU, JADINYA BERAPA?!

*Gemeteran megang kalkulator*

Dan karena waktu itu gue bawa uang lumayan banyak, jadi gue cuek aja dan ngajak nyokap keliling nyari sepatu, karena kebetulan sepatu gue udah jauh dari kata layak. Abis itu *mungkin hari itu gue lagi lucky* karena gue nemuin toko sepatu yang diskon 50%.

I. SWORE. THIS. IS. FANTASTIC.

Beragam model mulai dari yang merek Converse, sampe merek-merek yang udah didiskon aja harganya 400.000, dijajakan *kenapa gue jadi membayangkan tukang-tukang kacang goreng yang jualan di Metro Mini?* di sana. Setelah make-copot sepatu beberapa model, nyokap nunjuk satu sepatu dari bahan denim gitu, tapi lembut. Warnanya biru dan enteng, dan harganya 75.000. Jelas kan? Kalo belom dikorting, itu 150.000 *bangkrut*.

Dasar ibu-ibu, ngeliat barang kualitas top yang harganya udah *ehm* murah banget aja masih ditawar. Kebetulan sih yang jualan cowok, yang nggak sewangkeng pramuniaga cewek dalam memberi kepuasan kepada pelanggan. Believe it or not, gue pulang memboyong tuh sepatu dengan harga 35.000 aja!!!

*brb jemuran di pantai*

Nah, nah, coba deh ambil kalkulator, atau nggak pulpen sama kertas, terus jumlahin deh pengeluaran gue hari itu. 217.000 + 60.000 + 35.000 =
312.000.
*nelen ludah*

Well, perjalanan liburan gue nggak sampe di situ aja. Baru kemarin gue ke Blok M Square karena nyokap gue belanja bulanan, nggak sama bokap, tapi. Dan lagi-lagi, gue mampir ke Gramed dan beli empat buku lagi.

Ini bisa mecahin rekor karena sebelumnya, gue belom pernah beli buku delapan biji dalam dua minggu.

For those who hesitate, FYI, gue emang suka baca. Gue suka baca apa aja, mulai dari rambu-rambu lalu lintas, imbauan-imbauan sepele kayak "JANGAN INJAK RUMPUT!" di jalan, baca blog orang, stalking timeline temen, baca koran, baca apa aja, deh! Dan gue emang udah biasa hidup di lingkungan penuh buku sejak masih kecil. Bokap gue juga bilang, "Baca buku bisa bikin candu," dan well, asosiasi itu sama sekali nggak lebai. Rasanya gue megap-megap tanpa buku. Pokoknya, sehari gue harus baca buku diluar buku pelajaran.

Akibat negatifnya? Selain kantong jebol, mata gue minusnya sedikit demi sedikit memburuk--apalagi gue ANTI-sayuran dan BENCI WORTEL!!! Tidaaaaak--dan buku gue terlantar. Lahan di rumah gue rada sempit, dan bokap udah beliin dua rak buku kecil tiga tingkat, dulu sih muat, tapi lama-lama... yah, bisa dibayangin, deh, kalo seminggu gue beli empat buku.

Di meja belajar gue juga ada rak buat naro buku--selain buku pelajaran--dan muat! Seenggaknya, sampe bulan Oktober buku gue muat ditaro, tapi sekarang... buku-buku gue terpaksa gue taro di mana aja, mulai dari di atas kasur, di atas kursi lipet, ditumpuk-tumpuk, dll-dll. Adek gue sampe ngalah rak bukunya gue embat.

Gue sih bisa beli rak buku raksasa. Tapi DITARO DI MANA? Dan emangnya beli rak buku itu, kita bayar pake daon sirih?! Hah?! Ya butuh duit, lah! Kalo gue beli rak buku yang gede, bisa-bisa jatah shopping bulanan gue jadi ancaman. Duh, nggak mau ambil resiko, deh.

Back to kemarin.

Selain gue beli buku, adek gue juga beli komik dan buku pelajaran, dan ditotal semuanya 214.000. Alahmak. Itu juga gue seselektif mungkin milih buku. Sayangnya, makin tua selera buku gue makin bermutu. Sekarang gue malah doyan "melahap" buku yang tebelnya 200 halaman ke atas. Kalo dibawah itu, rasanya nggak puas. Dan gue juga hobi baca buku traveling yang rata-rata harganya lebih, errr, mahal. Selain itu, gue juga suka baca novel-novel klasik kayak karya-karyanya Mark Twain yang harganya bisa Anda kira sendiri.

Apesnya, gue salah ambil dompet. Jadi bukannya dompet yang isinya duit, yang gue bawa malah dompet yang isinya kartu-kartu ATM dan struk-struk belanja.

*brb nangis sinetron*

Ya mau gimana lagi. Gue ambil BCA card gue, satu-satunya yang bisa di Gramed, terus gue bayar pake itu. Itu ATM harian gue, dan ATM buat kepepet ada lagi. ATM harian gue isinya duit transferan bokap kalo gue kepepet dan butuh ngeluarin royalti. Nah, jadi royalti di rekening bokap ditransfer ke punya gue.

Pas gue ngeliat struknya, gue mau nangis.

Simpenan gue berkurang 214.000.

Hiks.

Ya udah mau gimana lagi. Habis dari situ, gue ke Carrefour, tempat nyokap belanja. Gue juga beli jajanan, sih, haha, dan untungnya dibayarin nyokap. Abis dari Carrefour, kita mampir ke Texas Chicken Melawai sebelum pulang. Untungnya, ni restoran superhemat, jadi duit selipan (baca: duit-duit sisa yang ketinggalan di tas) bisa gue pake buat bayar.

Bayangin aja, gue dan adek gue makan nasi + chicken crispy, nyokap mesen blackpapper chicken, plus nasi goreng karena emang porsi makan-makanan itu dikit. Gue mesen spageti dan puding (dua biji) juga, dan semua itu ditotal cuma 85.000!

HAHAHA *tertawa merdeka*

Udah enak, murah pula. Dan pelayanannya cepet. Puas banget deh. Kalo di D'Cost, terakhir kali gue ke sana, gue sampe "ngelabrak" pelayannya gara-gara gue udah mesen dari 30 menit yang lalu, NGGAK TAUNYA belom dianterin ke meja pesanan. Darah gue udah mendidih semengepul-ngepulnya pas itu.

Abis itu kita pulang naik bajaj. Yah, oke, nyokap gue yang bayar. Gue sih maklum kenapa sekarang dikit-dikit gue yang bayar, karena nyokap-bokap udah ngeluarin uang banyak buat gue. Sekarang bayar sekolah aja berapa, belom lagi bayar kursus, terus bayar kontrol behel gue, dan uang modem. Selain itu, kalo apa-apa yang gue bayar, gue maklumin.

Tapi ya itu. Kalo gue yang bayar, gue suka nggak ikhlas sendiri pas nyadar duit gue kepotong banyak. Tapi pas di mal, gue bener-bener kalap. Lupa diri kalo gue harus hemat.

Ini. Bener-bener. Jadi. Dilema.

Gimana mimpi gue bisa kesampean kalo gue boros terus?

Akhirnya gue terapin deh tuh program. Satu Hari Lima Belas Ribu untuk masa depan! Dan ini harus berhasil! Sekarang, seminggu gue 5 hari sekolah, jadi seminggu udah 75.000. Sebulan, udah gue itung gue 20 hari sekolah, jadi kaliin aja 75.000 dikali 4 berapa. 300.000. Terus kaliin lagi, 300.000 dikali 12. 3.600.000. Kaliin lagi 3.600.000 dikali lima tahun! Berapa hayo, banyak kan? Itupun belum *ehm* penghasilan gue lainnya.

Yah, ini dia cerita dilemaku, bagaimana ceritamu?

4/1/2012.
Esa Khairina H.