dimanche 22 janvier 2012

Wah, Belajar Bahasa Asing Bikin Orang Lebih Pintar!

Bagi kebanyakan orang, belajar bahasa asing tuh ribet, menuh-menuhin otak, atau nggak… kayak nggak ada pelajaran yang lebih penting aja. Padahal, di era global ini kita dituntut untuk menguasai bahasa lain selain Bahasa Inggris dan Indonesia–pastinya. Dengan menguasai berbagai bahasa, lapangan pekerjaan untuk kita meluas dan apa yang kita pelajarin nggak monoton.

Believe it or not, belajar bahasa asing bisa bikin orang lebih pinter, loh. Akademisi dari Universitas Newcastle dan Universitas York, Inggris, mendukung anggapan yang mengatakan bahwa belajar bahasa membuat seseorang menjadi lebih pintar dengan dasar ilmiah yang kuat.

Bahasa yang berbeda mewakili makna yang berbeda. Contohnya, dalam Bahasa Inggris blue itu biru, dan dalam Bahasa Italia, biru itu celeste (biru muda) dan blu (biru tua). Jadi ketika seseorang yang biasa bicara Bahasa Inggris mempelajari Bahasa Italia, dia harus belajar untuk berpikir tentang warna yang berbeda untuk menggunakan kata yang benar.

“Kami sudah tahu bahwa mempelajari bahasa lain meningkatkan pengetahuan juga tentang bahasa ibu kita, dan penelitian juga sudah membuktikan bahwa mempelajai bahasa lain memiliki efek positif pada otak,” ujar Profesor Vivian Cook dari Newcastle University, dikutip dari Medialxpress.com. “Anak-anak muda saat ini berpendapat bahwa menguasai dua bahasa dapat menunda timbulnya kepikunan ketika sudah tua,” beliau melanjutkan.

Para peneliti ingin mengambil langkah lebih lanjut untuk melihat apakah menguasai dua bahasa bisa menjadi semacam bentuk latihan pikiran. Berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa mempelajari dua bahasa tidak secara langsung mengubah cara seseorang melihat dunia. Efek positif menguasai bahasa baru menyebabkan seseorang merangkul konsep baru yang tak terwakili bahasa ibu.

“Jika saya meminta Anda untuk memikirkan makan siang, Anda mungkin akan berpikir tentang sebuah sandwich dengan keripik. Jika saya bertanya kepada orang Italia untuk memikirkan pranzo (makan siang), dia akan memikirkan hidangan pasta, daging, dan sayuran,” tutur Dr. Benedetta Basseti dari University of York.

“Ada banyak bukti penelitian yang membenarkan bahwa orang yang menguasai dua bahasa berpikir dengan menggabungkan dua pandangan yang mewakili dua bahasa yang mereka kuasai. Tapi kadang mereka juga membuat konsep baru yang tidak datang dari salah satu bahasa itu,” ujar Profesor Cook.

Di era 70-an, peneliti menemukan bahwa anak-anak yang berbicara dengan Bahasa Inggris beranggapan bahwa waktu berjalan dari kiri ke kanan, dan anak-anak Arab berpikir sebaliknya, dan yang mempelajari Bahasa Inggris kemudian tahu bahwa dua-duanya benar.

Profesor Cook menemukan bahwa orang Italia menganggap rubah lebih cantik dan lembut, sedangkan orang Jerman menganggap tikus yang lebih cantik yang lembut (menurut kalian cantikan mana?). Hal ini terjadi karena rubah dalam konjugasi Bahasa Italia bersifat feminin dan dalam Bahasa Jerman bersifat maskulin. Sedangkan tiks, dalam Bahasa Italia ia bersifat maskulin sedangkan dalam Bahasa Jerman feminin. Mereka yang menguasai kedua bahasa tersebut tidak akan bingung sebab persepsi mereka tidak berdasarkan tata bahasa.

sumber: detik.com, dengan perubahan.

samedi 21 janvier 2012

A Writer ≠ Her Main Character!

Pas gue ngepost ini, gue lagi buka "kotak surat" gue dan menemukan sepucuk surat maya di sana. Ada email yang isinya bikin gue... bosan. Karena kira-kira udah puluhan kali gue ditanyain pertanyaan kayak gini:

Helo kak echa! aku vera, kelas 2 smp di bangka belitung. aku udah baca buku kakak yang *FANTASTIC FIVE* dan aku pengin nanya:

1. kakak itu BENERAN citra?
2. kisah di buku kakak itu beneran/boongan?
3. apa semua tokoh di buku itu beneran nyata?
4. boleh ga ello sama farell buat aku? :p

udah ya kak, jangan lupa dibales...kalo kakak ga sibuk

Setelah ngebales email ini, gue langsung merenung. Gue sering mendengar hal serupa dari pengalaman beberapa orang yang tulisannya terbit di suatu media dan nasib mereka sama kayak gue, dibanding-bandingin sama tokoh utama tulisannya!

Di Facebook, baik lewat chat, inbox, ataupun wall, ada banyak orang kayak Vera yang nyangka gue ini Citra. Gue tegasin sekali lagi di sini, gue bukan Citra. Echa dan Citra adalah dua orang berbeda dan nggak akan bisa disamain.

Kadang gue heran, kenapa orang-orang yang cerpennya terbit di majalah atau dijadiin buku, cenderung disama-samain dengan tokoh utamanya. Kalo tokoh utamanya baik, lemah lembut, girly, si pengarang cenderung dianggap demikian. Kalo tokoh utamanya tomboi dan anak karate, sang pencipta pun dianggap memiliki karakter yang sama. Padahal kan belum tentu juga kayak gitu. Jujur, dalam ngebikin tokoh utama, gue sengaja selalu ngasih dia sifat, kepribadian, dan nasib yang beda dengan gue. Dan semua itu adalah teriakan gue atas hal-hal yang nggak bisa gue dapet saat ini.

Begitu dengan cerpen Balada Cinta David Archuleta part 1. Banyak yang ngira kalo Ara adalah gue, dan well, tebakan mereka nggak meleset-meleset amat. Guys, gue kasih tau satu hal, di antara semua karya yang pernah ditulisnya, orang yang gemar menulis pasti bakal menulis kisah dari kejadian nyata, tapi namanya disamarkan. Percaya, deh. Gue udah lumayan sering nulis cerpen berdasarkan pengalaman pribadi, sampe-sampe pas gue baca ulang, ini kok rasanya jadi kayak diary...

Seseorang yang menulis belom tentu sifatnya sama dengan tokoh yang dia tulis. Belom tentu kepribadian dan kejadian yang dialaminya sama. Malah, banyak temen gue yang suka nulis, yang dia ini juteknya naudzubillah, eh giliran gue baca cerpennya... isinya tentang cewek yang ditinggal meninggal ayahnya dan terpaksa jadi pelayan. Terus dia ketemu sama kakaknya yang ternyata adalah orang kaya. Tamat.

Kalo boleh curhat dikit, gue nggak akan nulis cerita kayak gitu. Karena gue nggak pengin ngerepotin tokoh-tokoh gue. Gue aja suka kesel sendiri sama novel yang isinya tokoh utamanya mati mengenaskan--misal, ketabrak bus, kanker, blablabla--kayak hidup nggak bisa lebih ceria aja. Bukannya gue nggak menghargai mereka yang menulis kayak gitu, tapi gue nggak terlalu suka dengan genre seperti itu. Genre gue adalah fantasi dan petualangan, selesai.

Dan untuk Dek Vera di Babel, untuk menjawab pertanyaan nomor 3, oke, gue akan jujur. Memang semua tokoh di buku gue itu adalah nyata, cuma namanya gue samarin. Tapi demi menjaga privasi temen-temen gue, nggak usah disebutin siapa aslinya nggak pa-pa, kan? Yang pasti sikap mereka nggak jauh dari anak-anak Fantastic Five dan Ello dkk., baik, asyik, helpful dan easy going.

Terus untuk pertanyaan terakhir, oh man.... Yang ini gue nggak bisa ngasih komentar apa-apa karena gue suka sakit hati juga kalo gue berandai-andai, "Coba yang jadi Astoria Greengrass itu gue," dan semua orang ngeledek, "Mana mungkin Draco mau sama lo?" (Buat yang nggak tau, Astoria Greengrass itu yang jadi istrinya Draco Malfoy di Harry Potter 7, and yes, I'm Potterhead since I was 9 yo).

Ello-Farrel itu abadi punya Citra dan Rena, tapi anggaplah demikian :) Mereka punya semua orang kok HAHA. Gue juga sering banget berandai-andai kalo punya pacar kayak Warren Burgess dan Patton Burgess di Fablehaven series, yang ganteng+berbakatnya nggak ketulungan. Dan sayangnya Patton udah punya Lena dan Warren kayak punya crush gitu sama Vanessa </3

Gimana Dek Vera? Echa harap jawabannya memuaskan. Makan yang banyak dan tidur teratur ya, Dek. Wassalam.

vendredi 20 janvier 2012

Secangkir Cinta untuk Mereka

Di sana
kutemukan apa yang kucari
Kedamaian, cinta, kasih sayang...
Memelukku di sela-sela lebatnya hujan

Aku yang penikmat hening, dan mereka yang mencintai keramaian
Sungguh berbeda, bukan?
Namun sungguh, saat bersama mereka,
aku yang lemah dan cengeng ini,
bisa menjadi kuat.
Bisa kembali bangkit.

Saat aku terjatuh, aku tak perlu memikirkan tangan siapa yang harus kuraih,
karena tangan mereka selalu terulur,
karena sorot mata mereka selalu membuatku percaya,
Kapanpun, di mana pun, dalam kondisi apapun...


Kawan,
kutemukan sebutir kasih dalam senyummu,
kutemukan setetes sayang dalam perkataanmu,
kutemukan secangkir cinta dalam matamu,
Kusyairkan doa dan cinta dalam puisi ini,
karena seribu gurindam pun tak akan bisa menandingi,
apa yang telah kalian beri.
Ribuan detik, ratusan hari,
tawamu menghangatkanku,
senyummu menenangkanku,
godaanmu memotivasiku.
dan kuharap sampai seterusnya...
kita bisa seperti ini.


Buat mereka yang udah kaya akan perasaan kayak gini, gue yakin mereka nggak perlu muter jauh-jauh buat ngeh apa akan apa yang gue tulis. Saat ini, otak gue lagi korslet karena terlalu banyak kata yang pengin gue tumpahin, dan semuanya berintikan hal yang sama: rasa terima kasih.

Dulu, gue sering nge-blacklist orang karena gue cuma mandang dari sisi negatifnya aja. Tapi pas gue nulis ini... gue sadar betapa butanya gue akan apa yang Allah udah beri. Gue punya keluarga dan sahabat yang super dan selalu mendukung.

Kayak misalnya hari ini.... January 20, 2012. Gue kenyang ledekan gara-gara seharian Dyna sama Ajeng abis-abisan ngecakkin gue. Mulai dari ngatain gigi gue, ngatain muka gue, apa aja kayaknya dipandang lucu sama mereka -_- Tapi yaa dasar gue cepet kebawa suasana. Biar kata yang jadi sumber guyonan itu gue sendiri, gue akhirnya ikut haha-hihi sama mereka.

But... biar kata paginya gue abis diketawain, tapi pas siang gue sadar mereka itu baik dan... asyik (oke, sebenernya ini gue udah sadar dari lama, tapi bener-bener "nyeresep"-nya itu sekarang). Tadi ketua kelas gue yang cantiknya lebih-lebih dari Miss Universe, Mohammad Arravy, bener-bener bikin gue pengin ngemut kepala orang. Bayangin aja, kan pas lagi istirahat gue dikasih amanat sama Nisa 9-4 buat ngasih soal Mtk ke bendahara, nah bendahara kelas gue (Olin-Dwita), ngasih kertasnya ke Ravy. And then Ravy asked me how to doing that homework, jelas gue nggak tau karena gue cuma diinfoin buat motokopi tuh soal. Ehhh udah nanya, nyolot pula! Udah tau gue lagi ngerjain soal dan fokus, eh gara-gara gue nggak jawab, dia nyewot, "Ah setan nih si gigi."

Anjrit banget kan! Cih cih cih! Kalo gue setan dia apa?! Dajal?! Tapi emang ada dajal yang jerawatan?! HAH?! *emosi*

Tapi akhirnya Dyna juga ngebentak si Ravy *atau itu kemarin, ya? Haha lupa*, pokoknya intinya dia ngebela gue :p *ngerasa menang*

Oke, gue akan lanjutkan.

Sebelumnya gue flashback dulu dengan mesin waktunya Doraemon. Pas ulangan Tata Boga, tiba-tiba perut gue melilit. Dan atas dasar faktor kuat belom sarapan, gue simpulkan... mag gue kambuh. Kali ini bener-bener kuat, kayak dililit tambang itu gimana si -,- Tapi alhamdulillah Dzalika nganterin gue... mulai dari ke toilet buat ngoles minyak kayu putih, ke UKS (dan suprise... UKS-nya belom buka!), dan akhirnya ke Bu Pur. Sialnya apa coba?! Gue dikasih obat mag tablet!!

Matilah awak.

Jadi gini... satu kelemahan gue yang dengan rendah hati gue akui adalah... sampe umur segini gue belom bisa nelen tablet (apalagi pil), dan harus digerus atau nggak dijadiin puyer. Gue trauma gara-gara dulu pas kelas 1 SD pernah disuruh nenggak obat cacing mahapahit dengan ukuran jumbo. Dua hari rasanya tenggorokan gue dipampet. Makan apa aja nggak enak. Duh, kelamnya masa kanak-kanak gue...

Abis itu Dzalika maksa, mulai dari ngajuin saran yang lumayan kayak dimakan sama roti, sampe saran nggak sehat kayak ditelen bulet-bulet-_- Yang bener aja! Terus pas gue buka, dia malah bikin gue takut dengan bilang, "Ih, pasti pait, deh. Baunya aja kayak remason."

Berhubung gue suka mint, akhirnya gue beranikan diri buat masukin tuh tablet ke dalam mulut. Netral sih, tapi kayak ada sensasi mint gitu. Dzalika tepok tangan mirip penonton di arena pacu kuda, nyuruh gue minum air, tapi akhirnya...

Obatnya gue kunyah.

Iya, beneran, obatnya gue kunyah -_- Rasanya nggak aneh-aneh amat, kok. Pas udah menyerupai serpihan kecil, baru deh gue minum air. Yak, seenggaknya satu kemajuan baru telah gue lakukan hari ini: minum obat tablet! Yey! Tepok tangan donggg...

Dari situ gue belajar bahwa temen ibarat tetangga kita di sekolah. Kalo kita sakit, mereka yang bakal pertama nolong kita. Kalo kita konflik, mereka yang bakal pertama ngebela kita. Kalo kita kepleset, mereka yang bakal pertama ketawa ngeliatin kita.

Dan temen juga orang yang bakal rela bercapek-capek buat mereka. Konkret nyata ini gue buktikan setelah tengah hari bolong jalan ke Blok M sama Sentani buat nyari buku. Pertama, ke Gramed (dan sialnya... gue ketemu my beautiful class leader lagi, sama temennya yang badannya kayak burger salah takaran, Dhana -_-). Abis ke Gramed, gue turun ke lantai UG (Underground) tempat buku-buku murah dan langka dijual. Setelah keliling seharian, sampe deh kita di tempat langganan gue, dan gue akhirnya beli beberapa buku.

Hal kedua yang membuktikan fakta kalo temen adalah orang yang bakal bercapek-capek buat kita adalah pas gue mandi abis renang sama Senta. Gara-gara sangkutan pakaiannya cuma ada satu, akhirnya gue mandi duluan. Senta yang megangin tas gue karena tas gue dari katun dan warnanya putih, tipis. Padahal cuma gue dan Allah yang tahu berapa ton kira-kira berapa berat tuh tas. Duh, maaf dan makasih ya, Sen....

Selain itu, tau nggak? Temen adalah orang yang bakalan ribut karena ngekhawatirin kondisi kita. Hal ini gue dapet setelah pas gue renang di Senayan tadi, Pak Fulmer, guru olahraga gue, ngasih tes gaya punggung dan gaya bebas. Pas gaya punggung--itu lho, yang badannya kebalik gitu :$--kaki gue kram di tengah jalan. Gue langsung teriak heboh, "PAAAK! KAKI SAYA KEERAAAAMMMM!" dan anak-anak BlakBlakans langsung ngegiring gue ke pinggir dan ngebantuin gue naik. Terus Pak Fulmer neken kaki gue dan alhamdulillah gue lebih rileks setelahnya :)

Pas kaki gue ditarik, Ulfa, Lista, dan yang lain pada heboh. Pas gue udah mendingan dan lari-lari kecil muterin kolem buat ngelemesin, mereka bilang hati-hati. Dan pas gue pengin nyebur lagi, mereka bilang, "Jangan dulu, Rin, sampe sembuh bener." Dari situ gue dapet pelajaran baru yang berharga: gue disayang banget sama temen-temen gue.

Terus pas pulang ke Blok M naik bus 19 yang penuhnya nadzubillah juga, temen-temen gue pada teriak, "Tuh, Rin, duduk!" tiap ada penumpang yang turun, padahal mereka sendiri berdiri. Gue yang lagi dipenuhi oleh rasa hangat ngegeleng biar kata bawaan gue bejibun. Akhirnya semuanya bisa duduk. Gue sama Ulfa, terus Senta sama Ajeng, dan Dinda-Rachmi-Umami di paling belakang. Lista, Ayu (Fadhila Ayu, 9-6), sama Fia beda jalur sama kita, jadi tadi misah di jalan.

Gue juga tahu kalo temen adalah orang pertama yang paling gampang kita "sesatin". Sesat di sini maksudnya dibikin PENASARAN, HAHA *evil laugh*. Jadi tadi pas nungguin Pak Fulmer setelah renang, kita ngegosip dan gue mulai curcol soal someone that have a crush on me. Abis itu mereka langsung ribut dan curcol pun berganti dengan atmosfer penuh kecurigaan. Mulai dari tahap hangman, sampe gue kasih banyak clue, mereka sampe nggak bisa nebak.

(Sebenernya, bisa. Salah satu dari mereka udah nyebut nama orang yang tepat, tapi gue ngegeleng biar mereka makin penasaran HAHA.)

Tahu sesuatu, nggak? Penasaran itu bermakna peduli, lho. Hal itu gue tahu dari diri gue sendiri. Gue paling kesel kepo kalo temen-temen deket gue pada ngobrolin sesuatu dan gue nggak tahu. Tapi giliran orang yang jauh sama gue, nggak akrab sama gue, mereka keras-keras nyebut inisial nama orang yang mereka taksir juga gue masa bodo-_- Kesimpulannya? Yap, temen-temen gue peduli sama gue.

Dan temen adalah a shoulder to cry on. Ini gue dapetin pas gue galau atau pengin nangis, temen-temen gue yang selalu nyediain bahunya buat gue (asalkan bajunya nggak gue peperin ingus). Selain BlakBlakans, Ajeng, Senta, dan my bestfriends in school, shoulders to cry on gue ada banyak. Shabi, Gani (dia ini cewek. Nama aslinya Ganisha Radhisti), Maria, Safir, Nadine.... Mereka semua unik-unik dan biar kata ngeselin, tapi mereka kayak krayon, selalu bikin hari-hari gue lebih berwarna.

Selama ini gue selalu mikir kalo temen-temen gue nggak peduli sama gue, tapi mungkin itu karena gue "cepet marah dan melupakan seribu kebaikan hanya karena kakinya terinjak sekali." Emang udah nggak terhitung berapa kali gue ngambek, marah sama mereka, tapi gue nggak bisa memungkiri fakta bahwa mereka nggak pernah ninggalin gue sendiri dalam kegelapan, meraba-raba mencari jalan. Tangan mereka selalu ada untuk menuntun gue perlahan-lahan menemukan setitik cahaya baru. Intinya, mereka selalu ada buat gue.

Ortu gue adalah tipikal ortu over-protective, jadi dari tadi HP gue krang-kring-krang-kring mulu. Tapi gue tau kok, mereka ngelakuin itu karena khawatir. Dan gue, sebagai anak, nggak sepantasnya mengeluh.

Gue juga tahu kalo gue beruntung dilahirkan di kota kayak Indonesia. Biar kata macetnya naudzubillah, tapi sebenernya Jakarta nggak kalah sama Los Angeles, Singapore, bahkan Paris. Bahkan kalau kita mau membuka mata kita lebar-lebar, Jakarta udah lebih keren dari tiga kota itu. Kita punya landmark, Monas, yang nggak kalah dari Eiffel, kita punya shopping district dan tempat keren yang lebih banyak dan luas daripada Orchard (oke, gue belom pernah ke Spore dan cuma denger ini dari tante), dan sebagainya. Keindahan itu cuma terletak pada sudut mana kita memandang. Kalo kita terus-terusan banding-bandingin negara Indonesia sama negara maju lain tanpa menyadari apa kelebihan negara sendiri, kapan negara kita bisa maju? Penduduknya aja sama sekali nggak punya kebanggaan terhadap tanah airnya.

Yang kurang dari Jakarta (dan ini super-mengenaskan) mungkin adalah keretanya. Gue masih sedih karena proyok monorel di Jakarta dihentikan, padahal siapa tau aja kan kalo dilanjutin, bisa mengurangi kemacetan. Coba tengok Prancis yang punya Metro, kereta cepat bawah tanah yang dioperasikan sejak tahun akhir 1800-an. Orang dari 100 tahun lalu bisa tanggap betul dalam mengatasi masalah kemacetan dan memberikan solusi brilian. Apa Indonesia nggak bisa seperti itu?

Gue yakin kita bisa... mungkin kalo bukan sekarang, suatu saat nanti. Pokoknya, gue harap Jakarta bisa segera berbenah, amiin.

I'm blessed and I'm thankful. Thanks God it's Friday :)

20/1/2012, 9:00 pm.
Esa Khairina.

[Dedicated for those who loves me and know myself more than I do: my family, SentaniAyu, MegaAjeng, AdindaMahardhika, AnnisaNurhikma, ListaApriyani, RachmiAnindyaputri, UlfaJamilah, NurAfiani, PratiwiAmalia, ElsavanieNadine, ZahraFauziyyah, DiniWahyuningtyas, NunikNur, someone overthere, ShabinaAlya, GanishaRadhisti, MariaChristia, SekarSafira, NadinePramestia. Keep rockin' my days! I heart y'all :)]

jeudi 19 janvier 2012

Balada Cinta David Archuleta part 1

"Haaaiiii!"

Gilang menoleh, dan melihat cewek itu berjalan masuk ke dalam kelas. Kelas yang ditongkronginya sejak satu jam lalu, hanya supaya melihat senyum pagi cerah Ara. Cewek yang ditaksirnya habis-habisan sejak ia pertama kali melihatnya. Cewek yang biasanya membuat cewek lain tersenyum sinis karena kecerewetannya. Cewek yang selalu tersenyum bersemangat dan menyapa dengan nada menggebu-gebu pada setiap orang yang ditemuinya.

Mirza berdeham, jelas-jelas menangkap pandangannya ke Ara. Ini kedua kalinya dalam seminggu Gilang tertangkap basah sedang memelototi Ara. Kira-kira Kamis lalu, ia juga habis diledek seharian karena mendekatkan kepalanya ketika Ara berjalan masuk ke koperasi, sendiri, dengan muka suntuk berat. Tapi aroma dari seragam batik yang dipakai gadis itu membuatnya tak bisa menahan diri untuk tidak... mengendus Ara.

"Eh, lo, udah bikin pe-er?" tanya Ratih, si rangking 1, salah satu cs Ara.

Sang Miss Lebai tersenyum yakin. "Udah, dong! Dari kemarin, malah..."

Ia tersenyum ekstratipis mendengar jawaban sengak itu. Tapi entah kenapa, kalau Ara yang mengatakannya... ia sama sekali tak keberatan.

Kemudian cewek itu menarik kursinya dan mengobrol dengan Ratih, tetap dengan gestur dan nada naik-turun yang khas. Setiap ngobrol, Gilang perhatikan cewek itu selalu memperjelas maksudnya dengan gerakan tangan atau kernyitan, gelengan, dan ekspresi wajah lainnya. Pokoknya, Ara cewek paling ekspresif yang pernah ditemuinya... dan paling menarik pula.

Sejenak ia tertegun ketika melihat Ara menoleh dan tak sengaja pandangan mereka bertemu. Gilang menahan napas, mencoba bersikap biasa saja. Diberikannya Ara seulas senyum--hal yang biasa dilakukannya bila mereka berpapasan--dan Ara cuma tersenyum singkat, sama sekali tak spesial, lalu lanjut mengoceh.

Gilang membuang muka, mengutuk dirinya habis-habisan. Kenapa nasibnya dalam percintaan selalu naas begini? Ia bisa menyabet peringkat pertama di kelasnya tanpa bersusah payah, bisa dapat cepe di ulangan Matematika tanpa buka buku pada malamnya, tapi untuk mendapat perhatian cewek yang ditaksirnya, kenapa susah banget, ya?

Jujur, udah nggak terhitung berapa kali Gilang jatuh cinta. Bahkan kalau kesepuluh jari tangan dan kakinya disodorkan pun, ia tak yakin bisa mengkalkulasi dengan cepat. Mulai dari cewek culun yang pernah ditemuinya di gerbang sekolah, sampai cewek cheers yang cantiknya subhanallah. Tapi dia sama sekali tak pernah mendapat perhatian dari mereka.

Memang Gilang masih keturunan blasteran, dan pintar, tapi dia sama sekali nggak bisa nyanyi, main gitar, olahraga, dan blablabla yang bisa dilakukan cowok-cowok yang lo-tau-lah. Bahkan kalau main bola, ia selalu ditempatkan di bagian cadangan, nggak usah deh jadi penyerang, jadi kiper aja dia sering berakhir mengenaskan karena selalu membiarkan bola masuk dengan mudahnya.

Dan kira-kira bulan lalu ia melanggar sumpahnya untuk nggak pernah naksir sama cewek lagi. Bulan lalu, ketika ia yang datang ke kelas 9-A dikejutkan oleh bahakan tawa seseorang. Ketika itu ia cuma bisa menggerutu dalam hati, tapi ketika kepalanya menoleh ke arah si pemilik tawa, Gilang merasa lebih baik ia menembus inti Bumi saja.

Si pemilik tawa adalah cewek kurus dengan tinggi sedang dan seragam kebesaran. Bukan cuma itu, bahkan roknya pun kepanjangan. Rambutnya diikat tinggi di belakang, sama sekali nggak menarik. Tapi yang membuatnya terpesona adalah suara gadis itu. Suaranya cempreng, amat berbeda dengan suara gadis yang didengarnya ketika sedang berpidato tanpa teks.

Dan mereka adalah gadis yang sama. Shabina Aradia, si Betty La Fea kelas 9-A. Udah make behel, dan make kacamata, plus kantong mata tebal di kelopaknya, dia nyaris berpikir Ara adalah cewek murung yang penyendiri, tapi dugaannya terbukti salah ketika ia mendengar tawa cewek itu. Begitu ringan, dan Gilang pun seolah tertulari keceriaan di dalamnya.

Dan saat itu juga takdir memutuskan, Gilang menjadi pengagum rahasia Ara.
*****
Seekor cicak tiba-tiba meluncur ke arah bangkunya, tapi Ara dengan sigap menghindar. Dia sama sekali tak seperti cewek lain yang takut cicak atau kecoak. Dia lebih takut cacing dan kelabang, tapi yah seenggaknya cowok-cowok di kelasnya belum se-psycho itu menjadikan dua binatang melata yang ditakutinya sebagai lelucon.

Dengan malas dilemparnya kepala ke atas meja, memejamkan mata perlahan. Dengan ekor mata, diliriknya Farah, Gista, dkk yang asyik di pojok. Dia malas bergabung karena dia pasti nggak nyambung dengan topik yang mereka obrolkan. Ara akui, dia memang tipe yang pemalu di dalam. Kalo orang belum nyapa, terkadang dia cuma memberikan senyum. Bukan berarti Ara sombong, bukan, dia cuma well, nggak terlalu suka bergaul.

Menjadi anak rumah membuat sifat itu terbentuk. Daripada main, Ara lebih suka berdiam di kursinya, bercokol mengerjakan soal-soal atau membaca komik dengan ancaman minus di matanya bertambah. Kadang Ratih bergabung dengannya dan mendengarkan musik bersamanya, persis hari ini.

Ratih berjalan ke arahnya dan duduk di samping Ara, kemudian tanpa banyak cingcong mengambil salah satu headset Ara dan memakainya, lalu mengutak-atik ponsel Ara.

"Ngapain lo, dengerin ceramah orang tua begini?" Ratih mengangkat alis.

Ara meringis. "Nungguin acara Adri mulai."

Ratih tersenyum lebar, maklum. Adri adalah cowok Ara dan pertama kali melihatnya, hal yang dipikirkannya bagaimana bisa cewek kayak Ara bisa ngegaet cowok sekece itu. Memang Adri nggak seganteng Robert Pattinson, tapi cowok itu memang keren. Senyumannya cool dan bodi basket, yah tipikal cowok inceran cewek-cewek normal, lah.

Selain bisa main basket dan pinter, dari Ara, Ratih juga tahu Adri adalah... penyiar radio. Dia membawakan tangga-tangga lagu mereka minggu ini dan juga memandu acara email minggu ini, jadi curhatan pendengar mereka, gitu. Adri satu tahun di atas mereka dan untuk cowok 15 tahun yang pernah ditemuinya... Ratih jamin nggak ada yang sekeren dia.

Dan acara Email Penting pun dimulai. Bisa dilihatnya wajah Ara mendadak cerah ketika mendengar suara cowok yang dirindukannya ada di dalam earphone. Suara Adri yang dalam dan macho, namun seketika berubah lembut dan penuh kasih ketika memanggil Ara dengan panggilan spesial, "Shabi."

Well, apa di sini ada yang ngerasain gimana jadi stalker? Itulah yang gue rasain sekarang. Kedengerannya sih, emang buruk, tapi kalo lo ada di posisi gue sekarang, gue jamin lo bakal ngelakuin segala cara biar bisa melihatnya dari segala arah.

Kening Ara mengernyit. Email apaan, nih? Dan kernyitannya pun merapat ketika suara Adri melanjutkan.

Wah, kayaknya seru, nih. Oke, lanjut.... Gue cuma cowok biasa yang nggak berlebihan disebut selalu gagal dalam percintaan, tapi ini pertama kalinya gue ngerasa bisa berhasil. Cewek itu. Cewek yang bikin perut gue dikocok-kocok kayak naik Tornado di Dufan tiap kali ngeliatnya. Buat cowok lain, mungkin dia jauh dari kata cantik, menarik, seksi, dan lain-lain, tapi percaya deh, lo bakal ngerti kenapa dia bisa bikin gue gila begini.

Yang gue lihat jauh dari itu. Tuh cewek punya dua kepribadian unik, ketika dia serius dan ketika dia sama temen-temennya. Sekali waktu gue ngeliat dia berdeklarasi di depan kelas, dan sekali waktu gue ngeliat dia ngegosip dengan sesamanya di bangku murid. Gue suka cara dia ngomong, tersaring sempurna walau seringnya asal nyeplos. Gue suka tutur katanya, nada suaranya yang naik-turun..., teriakannya di pagi hari, semuanya. Satu hal yang pasti, dia
beda dari yang lain. Dia nggak kayak cewek lain yang ribut sama kaca dan sisir tiap dua menit sekali. Pas gue ngeliat cewek-cewek di kelasnya ngejain hal-hal yang nggak berguna, yang dia lakukan adalah duduk anteng dan ngerjain soal-soal Fisika. Keren, kan?

Gue nggak memandang dia sebagai cewek alay dengan baju kegedean dan rok kepanjangan, sama sekali nggak. Gue kagum sama dia sejak pertama kali ngeliatnya, sejak ngeliat dia presentasi IPS di depan kelas dan mengoceh panjang-lebar tanpa keselek padahal nggak bawa buku. Bayangin, Geografi, sob! Saat itulah gue menyimpulkan, dia cewek yang cerdas dan cewek cerdas adalah salah satu hal yang udah langka.

Gue berharap, suatu saat gue bisa jadi salah satu orang yang dia sapa dengan suara cemprengnya pas pertama kali ke sekolah. Gue berharap, suatu saat gue bisa jadi tempat curhatnya walau apa yang dia omongin super-nggak-penting. Dan yang paling gue harapkan untuk sekarang ini adalah, gue punya keberanian buat bilang, "Gue sayang lo, Ina."

Dari G.


Kontan Ara dan Ratih sama-sama terbahak mendengar kisah konyol itu. Kisah aneh dari sudut pandang cowok mahamemelaskan yang dituturkan oleh suara cool Adri. Sama sekali nggak cocok!

Walau begitu Ara tahu siapapun pengirimnya, cowok itu adalah cowok yang... well, lumayan romantis.

Sambil tersenyum diangkatnya HP-nya, dan ditekannya nomor Adri.
*****
"Halo? Bi?"

Adri tersenyum mendengar suara Shabi di seberang sana mengoceh dengan cepat dan memuji penampilannya. Yah, memang penampilannya selalu mendapat pujian, sih. Tapi di mana-mana, dipuji sama orang yang lo suka itu, dosisnya beda, man.

"Ya, aku baru selesai siaran.... Hmm, hmm, mungkin bulan depan? Kamu udah libur, kan? Aku masuk siang hari ini, jadi siaran pagi.... Oh, udah ada guru? Oke, oke, jangan mikirin aku terus, fokus ya ke gurunya. Iya bye, Shabi..."

Perbincangan singkat harian yang selalu membuatnya merasa lebih semangat. Perhatian Shabi itulah yang membuatnya jatuh cinta. Sambil bersiul kecil, dimasukannya ponselnya ke tas, tapi saat itu pula ponselnya berdering. Dari Gilang, sepupunya.

"Halo, Lang? Iyeee, kenapa? Gue masih siaran kok, lo tadi dengerin ya?" Dengan cepat Adri keluar ruang siaran dan melompati dua anak tangga sekaligus. "Apa? Ini mau ke sekolah, lo bener-bener kayak nyokap gue, deh.... Apa? Jadi lo yang ngirim tuh email?" sambil menahan tawa Adri memindahkan HP dari kiri ke kanan. "Aduh, ngakakin... kocak amat sih lo, bro. Ya, ya, ya, ditunggu kiriman berikutnya."

Perut Adri mendadak kram karena info aneh itu. Lucu juga adik sepupunya yang sepantar ceweknya itu bisa naksir cewek sampai segitunya. Mana nama ceweknya kocak pula. Ina? Biasa bangeeet! Bisa dibayangkannya si Ina adalah cewek kurus tinggi hitam dengan lubang hidung besar. Sama sekali nggak bisa dibandingin sama Shabi.

Kembali bersiul, dituruninya dua anak tangga terakhir, dan entah kenapa kayaknya nasibnya hari ini memang lagi nggak bagus. Tiba-tiba saja ia menabrak seorang cewek yang membawa tumpukan buku.

Ia menggerutu dalam hati. Ni cewek dosen apa gimana sih, bawa buku banyak bener. Dengan cepat dibantunya cewek itu membereskan buku, berhubung dia yang nabrak.

"Mmm, sori, sori," gumamnya.

Pada saat si cewek menggumam, "Iya, nggak pa-pa, kok," barulah ia mengangkat kepala dan menelan ludah. Cewek di hadapannya ini cantik banget!

Dia cewek berwajah Indo dengan hidung mancung dan kulit putih. Rambutnya hitam dan agak ikal di bagian bawah, jatuh sempurna sebatas siku. Bola matanya biru karena soft lens, dan bibirnya seksi.

Jangan bilang kalo dia baru saja bertabrakan dengan Kate Moss yang menyamar?!

"Makasih ya udah dibantuin," ujar si cewek, tersenyum singkat, yang Adri rasa bisa melelehkan es di kedua kutub. Cewek itu menatapnya dengan pandangan aneh, kemudian naik ke atas.

Dan aroma rambutnya... harum....

to be continued.
4:23 pm, 19/1/2012.

vendredi 13 janvier 2012

Email penting

Di saat gue lagi ngetik nih post, gue masih rada speechless karena ada kira-kira 9 pembaca blog yang ngirim gue email. Rata-rata sih, tau email gue dari Facebook haha. Mari kita sapa empat di antaranya! ;D

Q: Halo ka echa, aku nadhira. aku suka sama blog kaka, keren! desainnya juga pas, lucu kaya yang nulis ehe ( jangan gr loh tapi ka! ). keep writing ka! oh iya, anyway kaka mau jadi psikiater ( atau memang udah jadi? ) ya? tulisan kaka menginspirasi aku banget soalnya hehehe.

Sekian dulu ya ka. Bales email-ku yaaa :)

A: Halo jugaaa Dek Nadhira yang cantik! Aduh makasih bangettt atas pujiannya, dan lebih terima kasih lagi soalnya udah mau baca blog Echa. Untuk nulis, Insya Allah selalu dan selamanya *ehem*, masa sih menginspirasi? Alhamdulillah, seenggaknya salah satu target Echa ada yang kecapai :)

NOOO! I wanna be a nice blogger as well as a great writer, not a "psikiater" ;) Hehehe. Makasih yaaa Nadhira! Btw email kamu Echa jadiin post yaaa :D Thanks for visit my site! Papay....

Q: Morniiing sis Echa , how r u? I wish you're fine and pass your day happily (hehe ngesok biar dikira bisa bahasa inggris :p). Kak Echaa aku Gistha dari surabaya , ini aku temen kakak di facebook! Awalnya aku cuma tergoda buat buka blog kakak , eh ketagihan. Aku juga udah punya buku kakak yang *Fantastic Five* , sama kerennya sama blog ini!

Kak , kan udah taun 2012 nih , kakak punya resolusi apa ditahun ini? Aku doain sih semua resolusi kakak tercapai , aamin. Resolusi aku sih , pengin ngarang buku kaya kak Echa dan bisa jadi blogger yang baik kaya kak Echa juga :3

A: Halooo Gistha dari Surabaya! Arek-arek Suroboyo (loh?!). Aduh kok tersanjung banget, makasih ya udah baca blog Echa dan buku Echa :) Kritik + sarannya ditunggu, lho!

Tahun 2012? Wah apa ya? Pikiran pertama Echa setelah baca email kamu... kenapa resolusi selalu identik dengan pergantian tahun? Menurut Echa, kita nggak harus nunggu tahun baru untuk membuat resolusi. Setiap hari, bahkan jam, menit, detik, pasti kita punya resolusi. Resolusi Echa sehari-hari sih, "today must be better than yesterday, and tomorrow must be better than today." Hari ini harus lebih baik dari kemarin, dan besok harus lebih baik dari hari ini. Tapi karena kamu nanyanya tahun 2012, jujur Echa nggak punya resolusi spesial. Mungkin adanya target, kali ya? Echa mau lebih lancar Bahasa Inggris dan Prancis, bisa melalui UN dan masuk ke SMA tujuan Echa (amiin, doain yaaa), terus bisa lebih produktif dalam menulis. Tapi target harian Echa, Echa mau punya manfaat buat orang lain, mau lebih menghargai waktu, mau lebih rajin belajar dan nggak nunda-nunda, terus lebih bersyukur dan bersabar. Itu aja, sih. Hehe, makasih atas doanya :) Echa harap Gistha juga gitu yaaa :D SEMANGAT!

Q: Assalamu'alaikum echaaa. AKu tiara, 16 tahun, aku temen facebook kamu dan aku udah baca blog kamu. Keren! Maksudku gimana gitu ya, anak segede echa pikirannya udah jauh lebih mature dan bisa melihat hari2 dari sisi yang positif, itu keren. Kamu mesti bersyukur, soalnya dikelilingi teman2 yang baik.

Oh iya, menurut aku blog kamu lucu bangettt. Gaya kamu cerita itu "show them, not tell them" sehingga aku gampang ngebayangin dan suka ketawa sendiri. Aku liat foto2 kamu di fb sama temen2 kamu, kalian lucu2 deh, kelihatan bff banget. Kamu juga cantik dan keliatannya periang :) AKu harap aku bisa punya sahabat kayak sahabat2 kamu.

Bytheway, kamu ada niat buat bikin buku komedi gitu ngga? Pasti aku beli deh hehehe. Kamu berbakat banget jadi penulis. Semoga suatu saat bisa jadi penulis yang hebat, amin.

A: *mendadak merasa seperti orang penting* Wa'alaikum salam Kak Tiaraaa! Makasih ya udah ngirim aku email, aduh seneng banget dikasih masukan :) Aku juga udah ngeliat blog kakak dan NGGAK KALAH KEREN! Malah mungkin lebih. Hihihi, amiin aku mature, tapi sebenernya enggak juga, kok. Kadang aku labil dan emosional, malah di antara sahabat-sahabat aku, aku yang paling childish dan bikin orang naik darah! Hihihi.

Aku bersyukur banget punya temen kayak mereka. Mereka selalu ngerti aku, dan walau nggak jarang aku suka kesel sama mereka dan sebaliknya, satu fakta terindah yang aku tahu adalah kenyataan kalau mereka nggak pernah ninggalin aku. Mereka selalu ada dan mengulurkan tangan saat aku jatuh *brb ngambil tisu* dan aku sayanggg sama mereka *latar suara biola*.

Hehe mungkin karena aku suka baca buku, jadi yaaa gitu deh. Aku juga udah suka nulis dari umur 7 tahun, jadi udah nggak kagop lagi pas nulis. Rasanya lepas aja, gitu. Hehe aamiin. Wah buku komedi? Gimana ya, soalnya Echa lebih suka nulis novel yang tokohnya mengalami kejadian-kejadian yang "boom!", yang langka dan cuma dia yang ngerasain, sedangkan Echa nggak.

Kakak tau nggak? Sebenernya sahabat itu bisa kita dapetin di mana aja. Saat kakak senyum sama seseorang dan orang itu bales senyum kakak, sebenernya secara teknis dia udah jadi sahabat kakak. Tapi emang sih, nyari orang yang bener-bener klop sama kita itu susahnya bukan main. Aku harap, suatu saat kakak punya sahabat yang jauh lebih hebat dari sahabat-sahabatku (walau menurutku sih mereka nggak ada tandingannya, hehe).

Q: Halo ecacae! Ayo tebak siapa akuuu hehe, pokok nya aku kenal kamu dan kamu kenal aku :p Ecacae yang mahaimut ekstracantik namun superlebai, nanya dong nanya, boleh kan? Kamu kok bahasa inggris-nya canggih banget, belajar dimana? Aku aja kadang harus buka kamus kalo baca english post kamu. Emang sih ada beberapa kata yang incorrect, tapi itu udah hebat banget loh.Vocab kamu luas.

Aku juga suka nulis, tapi lebih ke fanfiction gitu. Tapi aku pernah liat dimanaaa gitu, jadi seorang penulis itu ribet. Harus menyatu sama cerita dan harus "sayang" sama pembaca. Itu maksudnya gimana? Nulis itu kan, hobi, bukan tuntutan! Tolong dikasih penjelasan yaa pacar nya f**** :p sekian yee, kalo lo nggak bales nih email secara memuaskan, berarti you're not a truly writer.

A: *anjrit nggak sopan bet -_-* Halo juga Kak, Dek, Tante, Om, Mbak, Mas, Ibu, Bapak yang terhormat.... LO INI PEMBACA BLOG GUE ATAU STALKER, SIH?! Sampe panggilan khusus gue dari SuperGreen aja lo tau. Oh, lo anak Napoleon juga, kan?! Ngaku!

Oke, karena gue profesional (baca: nggak mau dibilang bukan writer beneran), bakal gue jawab satu-satu. Dengan bahasa yang SOPAN.

Dari kelas 1-4 SD aku udah ikut les Bahasa Inggris di sekolah, terus kelas 5 aku berhenti gara-gara ikut banyak olimpiade dan pas kelas 6 udah mau ujian. Tapi aku tetep belajar sama "guru privat" aku di rumah: Mama aku. Jadi tetep belajar Bahasa Inggris. Dan dulu juga pas aku masih kecil, Mama kalo bangunin pasti, "Wake up sayanggg, udah jam enam nih!" dan kalo aku kelamaan mandi, Mama bakal teriak, "Kakaaak, hurry up sweetie...!" jadi dalam kehidupan sehari-hari, pemakaian Bahasa Inggris udah diterapin. Terus pas kelas 8, aku ikut les lagi, tapi keluar. Nah pas kelas 9 sekarang, aku ikut bimbel Bahasa Inggris di sekolah, dan ikut kursus juga di ILP. Belajarnya sama native (orang non-Indonesia) dan bahkan suka ditegur kalo kita ngobrol (atau nanya) sama sesama murid pake Bahasa Indonesia. Jadi emang harus casciscus dalam ber-conversation. Tapi sebenernya, aku lancar di writing, tapi kalo speaking, nggak bisa terlalu cepat dan nggak tau kenapa impuls otak juga bekerja sedikit lebih lambat daripada pas nulis pake Bahasa Inggris. Dan untuk pujiannya, saya ucapkan amiin dan terima kasih.

Jujur, aku juga suka kayak ih-sok-tau-banget-sih-jadi-orang kalo ada yang bilang jadi penulis harus gini dan blablabla. Karena aku orangnya nggak suka terikat (bahkan inspirasi kadang macet kalau harus nulis dengan tema tertentu), menurut aku yang penting adalah nulis dari hati. Let it flow. Biarkan kehidupan dalam ceritamu hidup dan mengalir begitu saja. Jangan pusing-pusing sama apa yang orang bilang tentang nulis. Ya, lo bener. Nulis itu hobi, bukan tuntutan. Mungkin kita cuma dituntut untuk memandang suatu peristiwa dengan otak kreatif kita aja, dan memandangnya dari sudut pandang yang berbeda. Udah kok, cuma itu.

DID YOU KNOW WHAT'S MY BOYFIE'S NAME?! *pingsan*

*nggak lanjut nge-post*

jeudi 12 janvier 2012

Recommended song for your teenage days!

Haha, nggak tau kenapa tiba-tiba kepengin aja nge-post ini -_- Saat ini ada beberapa lagu yang lagi gue suka dan ada di favourite playlist HP. Kalo kalian tertarik, bisa kok segera download di 4Shared atau--bagi yang punya Android--bisa punya ambil dari Music Download (tapi masih harus download application-nya dulu di AMarket HAHA).

1. Romance song
Nah yang ini, tema yang paling seringgg diangkat jadi sebuah lagu. Lagu-lagu tentang love story yang kadang bikin iri setengah mati. Rata-rata cewek, kalo pengin dengerin kind of this music, pasti merekomendasikan lagunya Taylor Swift. Gue pun begitu hehe, karena gue bisa dibilang Swifties walau lagu Taylor di HP paling cuma 30-an di antara ratusan lagu ciptaan beliau.

Most favourite romance song versi gue... Enchanted. Nggak tau kenapa dari pertama kali Bluetooth nih lagu dari kapan tau, nggak pernah bosen. Kayaknya tuh indah gimanaaa gitu. Tentang seseorang yang jatuh cinta pada pandangan pertama haiueo. Btw selain versi Taylor Swift, ada juga versi Owl City-nya, sama-sama KEREN! (NB: I love Owl City, too!). Konon katanya sih, Enchanted itu Taylor bikin buat si Adam Young (itu, Owl City), terus dibales deh sama Adam! Duh, co cwiiit!

Selain Enchanted, ada juga lagu-lagu keren kayak Sparks Fly (it reminded me of Keegan everytime I heard this), haha itu juga asli keren banget. Terus You Belong with Me, itu juga keren (yang ini teh kisah perjuangan gue banget hahaha). Terus ada juga Superman (masih dari Taylor), dan selain dari Teteh Taylor Swift, ada juga lagu romance lain yang nggak kalah keren dari kembaran gue... Miley Cyrus (uhuk, uhuk...). Btw I'm her big fans, I'm SMILERS! Lagunya yang menurut gue enakkk itu Full Circle, 7 Things (aduh ini lagu-lagu jebot semua), Permanent December, sama Two More Lonely People. RECOMMENDED!

2. Inspirational song
Nah yang ini lagu-lagu tentang keluarga, tentang sahabat, tentang hidup, dan lain-lain.... Dan pilihan gue jatuh kepada... The House That Built Me-nya Miranda Lambert! Ini lagunya keren banget, menceritakan tentang seseorang yang pergi jauh dari rumah terus dia flashback gitu tentang masa kecilnya. Lagu Never Give Up-nya Taylor teh juga keren, ini ngajarin kita bahwa kita nggak akan bisa kembali ke masa-masa kecil. Lagu Miley? Wah, jangan ditanya, banyaaak! Ada Been Here All Along, Gonna Get This, Loser Like Me, Don't Wanna be Torn, Ordinary Girl, The Climb, dan masih banyak lagi. Oh iyaaa, btw lagu Ours, Fireworks, Skyscraper, Alligator Sky, dan Someone Like You juga keren :D Yah, recommended banget deh!

3. Sad song
Segera siapkan tisumu kalo mau dengerin lagu-lagu berikut! Lagu-lagu galau yang menceritakan tentang putus cinta, penyesalan, dst-dst. Tapi saran gue, jangan dengerin pas perasaan lo lagi kacau balau, bakal nambah parah. Untuk mostly favourite sad song, jatuh kepada... lagu lama Leaving on a Jetplane-nya Chantal Kreviazuk yang nggak sengaja gue denger pas lagi di minimarket, terus denger di radio, terus gue Googled liriknya. Jadi kisahnya tentang seorang cewek yang bakal ninggalin cowoknya gitu, terus dia dateng pagi-pagi ke rumah cowoknya buat ngucapin selamat tinggal. Runner up dipegang oleh If This was A Movie-nya Taylor Swift (oke, Taylor lagi...). Ni lagu sukses bikin gue sembab semaleman sekitar akhir 2010-an, hiks. Terus ada juga Back to December (superdupergalau), Baby Don't Break My Heart Slow--dari judulnya aja udah ketauan yekan--Bottom of the Ocean, Stay, dan Goodbye (Miley Cyrus), The One That Got Away *pesan lagunya yang sedih, tapi iramanya sih semangat*, dan Get it Right. Yah, siapkan mental kalau mau dengerin lagu-lagu di atas!

4. Lonely lullaby
Buat yang insom, bisa kok bikin pules dengan dengerin nih lagu! Lagu-lagu kayak Make You Feel My Love-nya Adele, The Call-nya Regina Spektor, Slow Motion-nya Karina Pasian, Big Big World-nya Emilia Rydberg, Reflection-nya Lea Salonga, dan yang lain-lain! Pokoknya dijamin langsung ngantuk, deh! Oh iya, lagu Send It On sama California King Bed itu juga lumayan hehe. Semoga membantu! Mimpi indah!

5. Untitled songs.... Bikin klepek-klepek lah.
Kenapa gue bilang bikin klepek-klepek? Karena gue bakal meleleh kayak lilin kalo ada cowok yang nyanyiin lagu-lagu ini buat gue--well, udah ada, sih :p. Bagi yang menjomblo, siap-siaplah melambung! Rekor lagu-bikin-klepek-klepek versi gue adalah... Everything-nya Michael Buble! Gue udah punya lagu ini dari tahun 2009 dan alhamdulillah Februari 2010 ada yang beneran nyanyiin ini buat gue :') Ya bayangin aja, lo dinyanyiin lagu yang liriknya gini... "And in this crazy life, and through these crazy times, it's you, it's you... You make me sing, you're every line, you're every word, you're everything..." (Warning! Dengerinnya sambil ngebayangin sang doi nunjuk ke elo), dijamin langsung meluncur. Di peringkat kedua ada The Man that Can't be Moved-nya The Script, cowok di lagu itu setia banget.... Di peringkat ketiga ada Vanilla Twilight-nya Owl City (y!), terus Home is in Your Eyes-nya Greyson Chance *jujur, dari semua lagunya cuma ini yang gue suka* terus ada pula Can't Fight this Feeling, Somewhere Only We Know, Hey Soul Sister (bagian favorit gue tuh yang, "Watching you is the only drug I need..." bikin klepek-klepek!) dan Marry Me. Oh iya, satu lagi! Just the Way You Are HAHAHA. Tau nggak? Cowok itu emang nggak peka, tapi sekalinya mereka naksir cewek, behhh cintanya beneran dahsyat, jadi pesan dalam lagu-lagu itu bener-bener bikin gue merasa "dicintai" yang nyanyi *eaaa*.

Gimana, gimana? Udah siap berbudek ria mendengar lagu-lagu rekomendasi gue? :D

lundi 9 janvier 2012

First Day, back to my daily activities

I woke up this morning and felt my spirit dropped to the center of the earth. My Mum woke me up at 5.30 am, therefore usually I woke up at 6 am, shalat Subuh, and then back to slept. But now, that all were just memories. Now, I must back to my daily activities.

January 9, 2012, maybe the date that me and my friends hates, because it's our first day to back to school. Back to wake up early, study hard, doing homework, listen whiteboard and teacher until bored. But my first day in school was almost perfect! Teachers gave us free time until 9.30 am, and then we come to school auditorium, and we discussed about our target to get our SHS direction. Well I targeted my values 92 for Math, 90 for Indonesian, 95 for English, and 88 for Science (it's because I was too hopeless about my scores from grade 7 til 9 in Science study >.<) My friend who sat next to me was like, "Oh, you're so brave to target these values!" Why? I think there's no wrong, even if you choose 10 as your target. I believe it will motivate you the most, because with this score, you can getting in some favourite schools in Jakarta, and of course you're gonna make your parents proud.

After that, we back to free time, and we back to home earlier. Yeay! And this is my first day back to my course too. Surely I felt awkward, but why? My teacher said I'm an excellent student and I must keep my work good.

I asked to the receptionist where can I knew my new class, and she answered I can knew it from wall magazine. Automatically I went to wall magazine and my class, YAC 4B, is in Room 8. Suddenly I was flashback to that moment.... When my friends and I watched movie in Room 8 and first time I knew what's my crush's name.... Keegan...

I beat my cheek slowly and soon I took the upstairs to Room 8 in 2rd floor (alhamdulillah yah lebih baik dikit. Kelas gue yang lama di lantai 3 woi, di ujung pula!) and opened up the door. I saw my friends from YAC 4A too, Harris, Rafly, and Reza. I gave them smile and sat down two chairs next to Reza. My new teacher, Mr. Ross, already in the class. He asked my name and shook my hand. He wore a maroon shirt and a brown trouser, he's bald like Mr. Mike (my old teacher in YAC 4A, but there's a little hair on his head), his skin lil bit darker than Mr. Mike, and shorter than him. Oh, and he's almost toothless hahaha. Then a new student named Chika knocked the door, came to class, and sat next to me. And Salwa my close friend came too and sat between me and Reza. Oh, and Namira and Alesya came too!

After that Mr. Ross went around the class, he asked where do we come from, and more personal questions. Then he sat in front of us and asked, "What do you want to know about me? What do you want to know about your teacher?"

Because he's "orang bule dari luar negeri", calmly I asked, "Where do you come from?"

And his answer was soooooooooooooooooooo long. He told us not only about his hometown, but also about his childhood. He has two passports, he was born in Canada as a Canadian but he moved to Cambridge, England, at the age of three, and then moved again to London. His parents were farmers and he had very-funny-grandparents. And when he was kid, he played "senapan" and "tembak-tembakan" (sebenernya gue nggak ngerti dia main apa, tapi karena dia meragain orang main pistol, akhirnya gue simpulkan demikian). He has been traveled around Europe (I swear it was made me speechless. And envy, too) by train. He called Paris, Rome, Venice, as the most historic and cultured cities, he said he couldn't breath when he saw Vienna and Switzerland, and for him, Praha in Czech Republic is the prettiest, the most beautiful and amazed city in the world. Well I couldn't blinked my eyes when I heard his stories.

I knew my friends were sleepy and boring, I felt sorry for them--apalagi gue diliatin mulu sama tuh guru, mentang-mentang gue yang nanya ._.--and then my last friend from YAC 4A, Nadira, came to the class, late again. But I thought she was lucky because she didn't have to heard these long stories of our beloved new teacher.

Anyway, there are some differences about Room 8 and Room 15. It's larger than my old class, dan kursinya diatur berkeliling ruangan gitu, nggak dijadiin dua baris kayak Room 15. We got two AC and seriously, it was colder and I shivered--though I wore long-sleeved t-shirt. My new teacher, Mr. Ross (maybe because he was born as a Canadian), I don't know why but I think what he says are clearer than Mr. Mike does. When Mr. Mike said, "Slender," he'll say it as "Slendehh..." with his British accent, but Mr. Ross just say it, "Slender" (yang paling kocak, dulu pernah Mr. Mike ngomong nasi goreng sama becek, gue ngakak sampe sakit perut). I think Mr. Ross has lived in Indonesia longer than Mr. Mike, because he knew naik-apa-kita-ke-sini. For example, my friend, Nadira, said, "My home is in Kebayoran, but my school is in Pondok Labu," and then my new teacher cried, "Oh! I know that, maybe you went there by enam-sepuluh, or red angkot (ini beneran dia ngomong angkot, bukan karena gue nggak tau Bahasa Inggris-nya) kosong satu?" HAHAHA.

Well I think my first day wasn't bad, and I hope my next days gonna as fun as that, all 2012.

So, how about your first day experience?

9/1/2012
Esa Khairina