jeudi 23 février 2012

The IGC (International Ghost Community)

I was standing on a street near Tanah Kusir, late night, when suddenly a bajaj came beside me. The driver looked out the window and asked, "Would you like to get on my bajaj?"

I smiled, then answered politely, "No, Sir, thank you."

The driver asked, "Are you sure, Miss?"

"Yes, I am," I said bravely. "So what could happen next if I'm not getting on your bajaj?"

"You'll get an awful moment," he answered with his mysterious voice. I smiled at him, acted like everything's going to be alright. He drove his bajaj away from me.

Well if you ask me what I was doing that night, I was waiting for my daddy's car. I've stood there since one hour before but my daddy stucked by traffic. I called him again and again but he didn't answer that.

It was about 00.02 when suddenly a dazzled light came down to my head. I blinked my eyes, I thought maybe I poisoned. I saw something that only I see in TV..., something that unbelievable..., something that... Oh God, it was an UFO!

The first thing that came inside my head... I must take my phone and then capture it. Maybe I can send it to the magazines and I'll be rich, deeply I thought. But I didn't do that. The UFO came closer and closer, and finally landed in front of me.

The UFO's plane opened its door and I was almost breathless. A kuntilanak, a pocong, a tuyul, a suster ngesot, a genderuwo..., and many ghosts that I couldn't mention, came from the plane and galloped to me, so I backed away. And the scariest thing I've ever seen... an alien!!!

The alien has eight tentacles like Squidward but an eye like Plankton (don't ask me does it has a house made from pineapple under the sea, I don't know). Then, it walked (I feel awkward if I call "he" or "she", I don't know its gender) to me and talked. I didn't really understand what it spoke because its voice wasn't clear. I just heard some messy sentences and then said to me.

"We are The IGC, stands for International Ghost Community. It's a big community, over the world. As you see, there's a mummy, a walking skeleton, and many more..." he didn't has to say that. I can see a mummy with so much knots tied its body, a walking skeleton, a zombie... oh God, take me now!

"Well it would be great if you join us," it continued. I blinked my eyes. These moments are so damn weird. First, a crazy bajaj's driver, an UFO plane, and then... an alien asked me to join its community with their species! Didn't it see that I'm a human?

I smiled and calmly asked them back, "Is this community a part of United Nation's organization?"

The alien was thinking quietly and then answered, "No."

"So you have to!" I shouted, and then saw my daddy's car not far from that street. "Well just call me if this community has been known as United Nation's organization. I have to go, bye!"

A week later, a magazine came to my house and the title was "International Ghost Community, A New Organization Under United Nation." I. Didn't. Believe. That.

"Whoah, this magazine started to lie again!" my dad commented. "IGC? Oh my gosh. Do you believe this, honey?"


I write this for a writing exercise in my English course,
so thanks to Mr. Ross for correct this story! =)

22nd February 2012, 4:51 pm.
Esa Khairina.

mardi 21 février 2012

Do Your Best in Your Own Way!

Hai,kak echa yang chubby+imut+cantik! aku dhia dr lampung. kakak kan penulis nih,menurut kakak novel / cerpen yg bagus itu gimna dan siapa penulis panutan kakak? :D soalnya aku lg bikin novel ( nyoba-nyoba ) tapi bingung harus ngambil tema apa. trs kak,aku sering kebawa2 gitu. misal,aku suka pink,dinovelku aku tulis tokohku jg suka pink,padahal kepribadiannya itu tomboi! gimana tuh kak cara ngatasinnya? dijawab ya kak,kalo kakak longgar. abis kakak penulis paling friendly sih,hehe...

Halo yang di Lampung! Widiii kita samaan nih, tos dulu dong! Ayah Echa juga orang Lampung loh hahaha.

Novel yang bagus menurutku apa? Gini ya, selera semua orang itu beda. Ada yang lebih suka baca komik yang menye-menye, ada yang demen baca serial detektif macam Sherlock Holmes, ada yang hobiii jereng-jerengin mata buat baca ensiklopedia..., dll-dll. Semua itu tergantung selera. Apa yang menurut eloh bagus, belum tentu buat gueh bagus juga. Garis besarnya sih gitu.

Jujur, ketika menulis, naluriku langsung bergerak. Aku nulis hal-hal yang bikin aku nyaman. Orang pertama yang kepadanya aku tujukan tulisanku adalah diriku sendiri, bukan orang lain. Kalo Dhia sering baca blog ini, itung deh pake kalkulator berapa sering Echa nyebut "menulislah dari hati" di beberapa post. Udah sering!

Pas kalian nulis dari hati, pasti orang juga akan ngerti apa maksud tulisan itu. Tapitapitapii... tetep perhatiin siapa sasaran utama tulisan ini dibuat. Misalnya, gue nulis teenlit yang isinya kira-kira, "Seorang cewek ketus yang jatuh cinta sama sopirnya sendiri." Mungkin kalian yang seumur gue bakal mikir, "Weh sadappp bos temanya!" Tapi coba suruh nenek lo baca tu tulisan. Boro-boro ngerti, baru lima menit baca juga paling udah ngorok.

Intinya, menulislah dari hati, dan jangan bebani tulisanmu dengan hal-hal macam "menulis tuh mesti gini, harus gitu, nggak boleh begini..." dan blablabla. Bayangin kalo tulisan lo malah jadi "sempit", "nggak dinamis", atau yang paling parah "miskin imajinasi" gara-gara batasan itu. Guys, ketika.kalisn nulis, jagat dan seluruh isinya ini milik kita dan kita yang ngatur!

Kalo urusan penulis favorit, Dhia bisa liat sendiri di blog ini. Terus kalo urusan "personality yang kebawa-bawa", emang aku akuin, aku juga sering kayak gitu. Tapi kalo Dhia merasa nggak nyaman, Dhia bisa mengatasinya dengan cara Dhia sendiri :) Ada lho, penulis yang jeli banget menyelipkan sifat yang beda di setiap tokoh di buku-bukunya. Aku pernah baca buku-bukunya "King of Romance Books", Nicholas Sparks, dan dia lihai banget. Biar kata beliau cowok dan bukan lagi ABG, tapi beliau bisa nulis dari berbagai point of view; mulai dari point of view seorang wanita kaya yang mesti ninggalin crush-nya karena dijodohin (The Notebook), point of view seorang kutubuku kuper pengidap kanker (A Walk To Remember), sampe point of view seorang ABG labil yang terlahir dari keluarga brokenhome (The Last Song). Apa kita nggak bisa seperti beliau? Wadeh bisa banget! Apalagi kita lagi ngerasain banget nih bittersweet-nya kehidupan!

Jadi... udah ngerti kan? Menulis bukanlah menulis kalau kamu membebaninya dengan batasan-batasan yang mengekang imajinasi! Yang terpenting... trust yourself and do your best in your own way!

samedi 18 février 2012

The Differences Between A Writer and Someone Who Writes

Well, dari judulnya aja mungkin kalian udah bertanya-tanya, apa sih bedanya penulis dan seseorang yang menulis? Sebenernya saya bikin ini soalnya terinspirasi dari thoughtcatalog.com, jadi di situ dijelasin perbedaan seorang penulis dan seseorang yang menulis, tapi pake Bahasa Inggris. Kalo kalian mau lihat, bisa lihat di sini.

Apa ya bedanya penulis dan seseorang yang menulis? Kalo menurut saya pribadi, seorang penulis nggak pernah betul-betul menulis. Cara mereka menulis adalah "show them, not tell them", jadi mereka memperlihatkan/menggambarkan sesuatu pada si pembaca, jadi si pembaca nggak muter-muter nyari maksud si penulis. Seseorang yang menulis lebih suka memberitahu daripada menggambarkan (and actually, I feel I'm kind of this person).

Seorang penulis nggak pernah memaksakan diri untuk menulis. Dia menulis untuk dirinya sendiri, kemudian baru membagikan apa yang ia pikirkan kepada orang lain. Seseorang yang menulis akan menulis walau hatinya terpaksa dan kepalanya udah mumet dan cenat-cenutan. Seorang penulis bisa mendapat ide dari hal-hal paling sederhana sekalipun; entah itu ketika dia ditilang polisi atau ketika distrap di depan bendera. Seseorang yang menulis akan menulis kejadian yang menurutnya "whoah", dan dia nggak bisa mengembangkan kisah yang sebenarnya sederhana menjadi menarik. Justru, seseorang yang menulis bisa membuat kisah yang "whoah" tadi itu jadi biasa-biasa aja ketika dibaca oleh pembaca. "A writer writes for mind share, but someone who writes, writes only for Facebook share."

Seorang penulis mampu bermain dengan khayalannya, ia mampu masuk ke dalam khayalan itu, bukan sekedar memikirkannya. Ia mampu membuat para pembaca ikut tertarik ke dalam tulisan. Ketika seorang penulis menulis, ia menuangkan separuh dari jiwanya ke dalam tulisannya.

vendredi 10 février 2012

My Favourite Books

Hayooo, siapa sih yang nggak suka baca buku? Kalian suka baca buku nggak? Kalo gituu, sama dong kayak gue! :D Setiap orang punya favoritnya masing-masing, termasuk gue. Beberapa buku ini adalah buku "wajib" buat dibaca karena bener-bener bikin seger! Selain bahasanya yang enak, jalan ceritanya juga berbobot dan ending-nya dijamin membuat emosi kita terkocok. Yuk, yuk, cekidot! ;-)

1. Romance books
Kalo untuk buku-buku romance, gue punya favourite author sendiri, yaitu Kak Ilana Tan, penulis best seller 4 seasons series itu! Gue suka semua buku-bukunya, Summer in Seoul, Autumn in Paris, Winter in Tokyo, Spring in London, dan yang terbaru... Sunshine Becomes You! Emang sih, jalan ceritanya rata-rata pasti udah bisa ditebak, tapi Kak Ilana cakap banget memainkan alur sehingga kita jadi penasaran. Ai laf yu, Kak Ilana! :D

2. Teenlit books
Apa bedanya "romance" sama "teenlit"? Oke, kalo menurut klasifikasi gue nih yaa, kalo romance itu lebih ke cerita yang udah rada berat, tema yang diangkat juga biasanya dari kejadian langka. Kalo teenlit, itu cerita yang diangkat dari kehidupan simpel yang ditulis sedemikian rupa sehingga jadi "nggak biasa" lagi! Udah gitu, biasanya kalo teenlit itu lebih ke persoalan asmara anak-anak remaja *ceileee*. Untuk yang ini gue suka banget sama seri Student Across Seven Seas, jadi itu seri tentang petualangan cewek-cewek Amerika yang keliling berbagai negara dan ketemu sama Prince Charming-nya di sana! Ououooo, tapi sih yang paling berkesan buat gue dari seri itu yang judulnya The Sound of Munich, jadi dia ngambil latar di Munich, Jerman.

Selain itu gue juga suka sama Flipped-nya Wendelin van Draanen. Buku ini bernuansa vintage gitu dan tokoh utamanya, seorang cewek unik yang kharismatik. Jadi si cewek ini, cewek "aneh" yang suka manjat-manjat pohon dan main sama ayam, terus dia jatuh cinta sama tetangganya. Ehhh si tetangganya malah benci dia! Tapi giliran pas SMP, giliran Bryce (main male character) yang sadar kalo dia tuh udah sayang sama Juli (main female character). Sebaliknya, Juli udah mikir kalo Bryce udah bukan apa-apa lagi, tapi kenyataannya, dia masih sayang sama Bryce. Novel ini cocok banget dibaca sama semua orang, bahasanya juga ringan dan rada childish, tapi secara keseluruhan enak buat dibaca!

Setelah Flipped, gue juga suka sama Beastly, yang juga udah diangkat ke layar lebar. Jadi ini saduran dari Beauty and the Beast yang mengambil latar di NY. Genre-nya romance fantasy gitu haha tapi keren!

Oh iya, untuk teenlit yang punya makna yang "wooshhh", menurut gue adalah seri Jurnal Jo-nya Kak Niken Terate, Waiting for You karangan Susane Colosanti, juga semua buku karangan Kak Esti Kinasih. Itu keren-keren B-A-N-G-E-T! I wish someday I can be as great as them, amiin :-)

3. Traveling books
Wkwk karena gue orangnya suka penasaran, gue suka baca buku yang setting-nya di negara lain, apalagi ngebaca ulasan tentang negara itu dari sudut pandang orang Indonesia. Hmm, menurut gue sih the Indonesian goddess of traveling book itu Kak Trinity, yang sukses banget sama seri The Naked Traveler-nya! Dulu gue pernah talkshow Fantastic Five di sebuah toko buku dan jadwalnya atas-bawahan sama talkshow-nya Kak Trinity, tapi nggak sempet minta foto+tanda tangan HUAAA :-(

Eh tapi buku yang menarik bukan cuma buku-bukunya Kak Trinity aja, koook :) Ada juga buku Life Traveler karya Kak Windy Ariestanty, Merah Putih di Benua Biru karya Kak Erditya Arfah, dan The Journeys, kompilasi dari beberapa penulis, tentang petualangan mereka di negeri orang! Tapi yahhh indikasinya setelah ngebaca buku-buku ginian, jadi ngiler setengah mati pengin jalan-jalan, hehe -_-. Semoga suatu saat gue bisa kayak Kak Trinity, amiin.

4. Inspirational books
Wahaha ini buku tentang ilmu pengetahuan yang bikin terinspirasi! Gue suka sama komik World Tour Series yang sampe sekarang udah nerbitin tiga seri: Haloo, Amerika!, Bonjouuur, Prancis!, dan Saluuut, Rusia!. Ini keren-keren banget!

Selain itu gue juga suka sama 99 Cahaya di Langit Eropa karya Kak Hanum Rais, jadi kisah petualangannya menapak jejak-jejak Islam di benua biru. Terus ada juga tetralogi Laskar Pelangi karya Kak Andrea Hirata, The Geography of Bliss karya Eric Weiner, The Sound of Music, dan Totto-chan's Children karya Tetsuko Kuroyanagi. Ini keren-keren banget, yobrooo!

5. Humor books
Nah yang ini mah nggak usah dijelasin panjang-lebar orang-orang mah juga udah tau, ya. Gue suka sama semuaaaa karangannya Kak Raditya Dika dan Kak Arief "Poconggg" Muhammad! Kerennya ituloh.

6. Fantasy books
King and Queen of fantasy books versi gue adalah Brandon Mull, penulis seri Fablehaven, dan J. K. Rowling, penulis Harry Potter. Gue udah punya semua serinya kecuali seri terakhir Fablehaven yang emang belum terbit di Indonesia.

Nah, nah, gimana buku favorit gue? Keren-keren, kan? Sekarang, apa buku favoritmu? ;-)

mardi 7 février 2012

Unperfect Melodies

"Jadi, Al, welcome to Japan. Japan o kangei."


Alex tersenyum, membiarkann ayahnya menepuk-nepuk bahunya. Setelah enam bulan berpisah, wajar rasanya Alex merindukannya.

Lift berdenting dengan suara yang mengingatkan Alex pada oven klasik nenek. Tersentak, ia melangkah keluar bersama Papa ke lantai empat, ke ruang kerja beliau. Dilihatnya dua orang laki-laki, yang satu berkacamata, dan yang satunya lagi memakai anting di telinga kiri. Alex tak bisa menahan diri untuk tidak terkikik membayangkan ekspresi ibunya. Ibunya paling tidak suka laki-laki bertindik.

Satu kesamaan dari mereka adalah mereka sama-sama memegang cangkir kopi, dan oh, kesamaan kedua, begitu melihat Alex dan ayahnya, mereka buru-buru berdiri.

"Sir, Anda datang lebih awal rupanya," kata si kacamata, terlihat over-acting. Temannya yang beranting melirik Alex, tapi yang dilirik sok membetulkan tali tas.

"Ah, ya, harus menjemput seseorang yang spesial hari ini..." balas Papa ringan, merangkul Alex hangat. Si anting melempar pandangan bertanya pada si kacamata.

"Ini... errr, istri Anda, Sir?"

Kontan Papa tertawa terbahak-bahak. Bahkan Alex yang tadi masih agak jet lag, mau tak mau nyengir sedikit.

"No, no, no. Dia putriku. Apa yang membuat kalian berpikir dia istriku?" timpal ayah Alex, masih tertawa. "Ya, ya, ya, kurasa ada baiknya kita sekarang makan siang bersama. Bagaimana, Al?"

"Maaf, aku tidak bisa, Pa," tukas Alex buru-buru. Dirogohnya tas, dan dikeluarkannya sebuah tas plastik. "Mama nyuruh aku buat nganterin oleh-oleh ke Nenek, jadi yaa, Papa kan tau sendiri Mama kayak gimana."

Papanya mendecak. "Baiklah. Ibumu itu memang keras kepala, ya. Kalau begitu kau akan langsung ke Nagano?"

Alex mengangguk singkat.

Ayah Alex mengangguk, kemudian memeluk putrinya. "Hati-hati. Sampaikan salamku pada kakek-nenekmu. Kalau kau kenapa-napa, kau tahu siapa yang harus kauhubungi."

Alex meringis, kemudian mengangguk. Diciumnya pipi ayahnya, dan dengan cepat ia berjalan keluar dari Kedutaan Besar RI di Tokyo, Jepang.

Berbohong itu tidak baik, tapi Alex rasa berbohong demi kebaikan tidak ada salahnya juga. Itu yang ia lakukan sebulan lalu ketika berkata bahwa ia ke Jepang untuk liburan. Dibantu peran ayahnya sebagai salah satu petinggi di Kedubes negeri sakura itu, segala tetek bengek soal visa dipermudah.

Sebenarnya Alex ke Jepang untuk mendapatkan hot news tentang Jonathan Grey, musisi klasik kelahiran Jepang yang tinggal di Inggris. Sekarang cowok itu kembali ke Jepang dalam rangkaian konser Asia-nya. Kalau saja bukan karena pekerjaannya sebagai wartawan dan fotografer, Alex pasti enggan jauh-jauh ke Jepang. Tapi ini adalah tuntutan keharusannya dalam berkarier. Namanya telah terdaftar dalam Kompetisi Paparazzi, acara tahunan terakbar bagi mereka yang berprofesi di bidang media massa.

Matahari bersinar malu-malu, menembus lapisan awan seputih salju di bawah kaki. Ya, sekarang memang sedang musim dingin di Jepang. Angin menusuk bulan Januasi membuat Alex merapatkan wintercoat. Mulai menggigil, dipercepatnya langkah. Rumah kakek-neneknya berada di sebuah pedesaan di Nagano, nggak jauh-jauh amat, sih.

Gigi Alex mulai bergemelutuk ketika akhirnya ia tiba di stasiun. Tiket sudah ada di tangan, jadi dia hanya perlu masuk dan menunggu.

Tapi niat simpel itu tak terwujud ketika tiba-tiba sebuah tangan dengan keras mencengkram lengannya, menariknya mundur menjauhi stasiun. Alex mencoba menjerit, namun mulutnya disekap. Dan tahu-tahu gerombolan orang berkamera berlarian menyusulnya.

Kepala Alex berkunang-kunang. Ada apa ini?

"Stop, atau akan kutelpon pengacaraku. Kalian bisa menginterogasiku berjam-jam ketika aku selesai konser, tapi tidak ada toleransi bila kalian menganggu acara kencanku."

Konser? Kencan? Tuhan, jangan-jangan aku disekap orang gila!

"Jadi sebaiknya kalian menyingkir, oke?" lanjut laki-laki itu, masih membekap mulut Alex. Detik berikutnya, dengan gerakan cepat, tiba-tiba sebuah limosin melaju. Alex diseret dan dimasukkan ke dalamnya, dilempar begitu saja ke kursi seolah-olah dia hanya mainan.

"Fuih, kerja bagus, Lou," gumam si orang aneh. Alex melotot, menatapnya. Orang yang duduk di sampingnya adalah laki-laki tinggi berambut hitam dan berkacamata. Dia tidak bertindik, tapi kacamata dan gayanya yang sok seleb membuat Alex jijik.

Alex baru saja akan menghujani orang itu dengan ribuan pertanyaan ketika ia menolehkan kepalanya, menatap Alex, kemudian membelai rambutnya ringan.

"Dan tentu saja, dengan bantuan dari rekan kita ini," ia tersenyum.

"Rekan?" ulang Alex. "Turunkan aku sekarang juga atau aku akan berteriak!"

"Silakan saja teriak. Mobil ini kedap-suara, bahkan kalau jendelanya dibuka," sahutnya santai. "Tapi tentu saja tak akan kubiarkan kau melakukannya. Bisa-bisa aku membuat skandal."

Alex menyipitkan mata. "Lalu akan ke mana kau membawaku?"

"Bagaimana menurutmu, Lou? Sebaiknya kita bawa ke mana si cerewet ini?"

"Aku tidak cerewet."

Kedua laki-laki itu mengabaikannya, lalu orang yang menyetir di depan menyahut. "Sebaiknya kita bawa dia ke apartemen. Jelas-jelas yang dia butuhkan sekarang adalah penjelasan... dan baju hangat tambahan."

*****

Otak Alex terlalu beku untuk mencerna apa yang terjadi, jadi yang dilakukannya sepanjang perjalanan hanya diam. Laki-laki yang menyetir bertanya padanya di sepanjang jalan, pertanyaan standar seperti, "Siapa namamu?" dan "Kau tidak seperti orang Jepang. Darimana asalmu?" Alex menjawabnya sekenanya. Bagaimana pun, ia terjebak dalam limo kedap suara bersama dua laki-laki yang tak dikenalnya.

Maka ia manut saja ketika mobil berhenti di sebuah apartemen mewah kecil yang agak jauh dari keramaian, dengan latar perbukitan. Ia turun bersama dua orang itu dan herannya, Lou, si supir yang lumayan ramah, menyuruh Alex berendam dalam air panas, kemudian makan malam bersama.

Ketika mandi Alex sudah merencanakan apa yang akan ia lakukan. Menelpon polisi boleh juga, karena ayahnya pasti akan datang dengan antek-anteknya dan dijamin, Alex akan dikirim ke Indonesia saat itu juga. Dan rencana itu buyar di tengah jalan, ketika Alex keluar dari kamarnya, dan ia menemukan seseorang yang tak asing sedang memegang nametag wartawannya.

Jonathan Grey!

"Eh, halo." Tahu bahwa Alex sudah keluar dari kamar dan berdiri mematung, Jonathan Grey menoleh dan menyapanya ringan. "Sudah mandi? Bagaimana perasaanmu?"

"Kau..." Alex menyipitkan mata curiga.

"Aku tak sengaja menemukan ini," Jonathan mengedikkan bahu, melambaikan nametag Alex. "Dan ternyata aku membawa orang yang salah. Kau wartawan, ternyata."

"Memang," angguk Alex. "Dan akan kupastikan seluruh dunia tahu bahwa Jonathan Grey menculik seorang gadis hanya karena dikejar-kejar fotografer."

"Akan kupastikan mulut kecilmu itu tak membocorkannya, manis," Jonathan menukas ringan, kembali membelai rambut Alex layaknya kucing. "Ayo, sebaiknya kita makan. Ada satu-dua hal yang harus dibereskan di sini."

Alex diam saja, mengikuti Jonathan ke sebuah ruangan besar. Meja panjang dengan delapan kursi ada di sana, dan aneka sup dan daging panggang tersaji di atasnya. Jonathan tersenyum, memberi isyarat supaya Alex duduk.

"Jadi, Alex--itu kan, namamu? Bagaimana keadaanmu?"

"Aku baik-baik saja," Alex menukas singkat, sama sekali tak peduli, kemudian mengambil sepotong daging panggang. Dalam keadaan emosi seperti ini, semua attitude menjadi terabaikan. "Kalian tak keberatan kalau aku makan, bukan? Untuk apa gunanya makanan ini kalau tidak dimakan?"

Lou mengernyit, tapi kemudian mengangguk dan tersenyum. Cowok itu sabar juga ternyata. Alex bisa sangat menjengkelkan kalau ia mau.

"Dia wartawan, Lou," cetus Jonathan. "Aku punya barang buktinya. Dia malah anggota dari forum media massa internasional yang berbasis di Canada."

"Dia wartawan?" air muka Lou mendadak kencang. "Betulkah?"

"Yeah..."

"Ini masalah," gumam Lou sambil mondar-mandir. "Kita tak bisa melepaskannya, tapi kita juga tidak boleh memberitahunya informasi."

Mata Alex tinggal segaris. "Kalian akan menyekapku di sini? Sebagai tawanan?"

Jonathan menukas, "Well, mungkin bisa lebih buruk daripada itu," dan Lou terlihat berpikir keras.

Suasana hening sejenak, dan akhirnya Lou berkata, "Kurasa boleh kita pertimbangkan usulanmu itu, young lady. Mungkin selama beberapa minggu kau harus tetap di sini, sampai kita membuat kesepakatan yang mengikat."

Wajah Alex mendadak pucat, dan detik berikutnya dijatuhkannya sendok dan garpu.

"Jangan dramatis begitu. Kau akan aman di sini, tenang saja. Kau mungkin akan kami latih untuk menjaga rahasia orang. Menyenangkan, bukan?"

samedi 4 février 2012

Top 5 Person in My Life

When I decided to write this post, I felt so thankful because God gave me a lot of important things, even though I didn't realize it. He gives me health, intelligence, happiness, wealth, and the most important, spirit to do my life. But the most prominent, He has given me people who always stands by my side, always supports, always gives me patience though I can be more than annoying sometimes.

And I wanna show my thankfulness because God has sent me these people:

1. My parents
They're my heroes, my guardians, my angels, and I love them no matter what.

Although my dad is so busy, but he always tries to give me and my brother happiness. He always supports me, he always teaches me new things in life that I can't learn from my teacher in school or other people.

He teaches me how to appreciate other people, how to treat other people, and he made me realize that "life is the mirror of our actions". Everyone says that I'm his true daughter, everyone says I'll be as great as him (and I just said amen). Since I was kid, he always "caught" my ideas, he taught me to brave to speaks up my mind. We oftenly discussed, about everything. He always reminds me it's important to keep my chin up and my head low enough in every environments. Oh, and he's the one who teaches me writing too! Without him, I'm nothing.

Things that my mum tells me always is it's important to be myself no matter what people say. She never want me to be perfect or to be the best. She (and my dad too) wants me to do my best in my own way in every aspects of life. She always reminds me that there's no need to pretend that I'm OK if I'm not. She always reminds me that, "You are who you are. You are nobody except yourself." She always reminds me that I'm just another human beings, another ordinary fourteenager. I love her no matter what.

2. Sentani & Fadel
Sentani? Well I've told you about her in million times. She's my bestfriend and she never fake her smile, she never fake her thought from me. The fact is, I'm envy and admire her honesty. We've passed so many things together. She can make my feeling better when she hears my stories, my complaints. And she's not my friend. She's my bestfriend, my teacher, or else you wanna say.

Fadel wew haha I'm speechless if I talk about him. I know nobody's perfect, but I'm sure that he's flawless. He has saw me cried, smiled, laughed, upset, annoyed.... We've passed so many things together. Everything's getting better quickly when I'm with him. All my problems are getting lower easily as long as I'm with him. He doesn't have to do anything, because as long as I can be with him, I can hear his voice, I can see his eyes, I can watch his smile, there's nothing I have to afraid of. And well, you know that. I love him too. I love him no matter what.

3. My brother
Annoyed, that's one thing I can describe about him. In his eyes, there's nothing I can do except "ngambek" and "ngamuk" (NB: harusnya dia mikir, gue marah karena SIAPA?!). But he's funny and always got a million ways to make me laugh and smile. I love him.

jeudi 2 février 2012

Untitled

Hai ppl, kembali lagi dengan saya di post yang sama gajenya dengan post-post sebelumnya. Mungkin mendingan gue to the point aja yah hehe, soalnya gue nge-post lewat Android.

Ehem, jadi gue cek email, ada beberapa orang yang nanya kenapa akhir-akhur ini gue jarang nge-post. Gue pun balik nanya--lebih ke diri gue sendiri--ni orang nggak tau apa gue kelas berapa?!

Oke, sekarang gue klarifikasi. Gue adalah pelajar kelas 9. Pelajar biasa yang juga keracunan ngerjain PR banyak-banyak. Pelajar biasa yang juga sering ngeluh saat pekan ulangan datang. Pelajar biasa yang jarang dapet nilai di atas 9 saat tes tanpa belajar. Dan gue juga bukan Albert Einstein atau Aristoteles. Gue nggak segenius mereka. Gue juga masih perlu belajar. See? Inilah alesan kenapa gue jarang nge-post.

Jangan mikir kalo gue sok alim. Emang kenyataannya gitu kok. Saat ini, kalimat "Masuk SMA tujuan" adalah satu hal yang gue inginkan nyaris melebihi apapun. I wanna make my parent and myself proud.

Di mana SMA tujuan gue? Well itu salah satu SMA terbaik di DKI dan NEM minimalnya 9.11 tahun lalu. Gue tentu perlu kerja keras untuk mendapatkannya. Tadi gue sempet geli sendiri karena ada temen gue yang ngira gue mau ngebalap dia karena gue "carmuk" sama guru. Absolutely no! I have no idea to beat someone. I wanna do my best in my own way. Itu adalah proses pembenahan diri gue, dari yang berantakan jadi rada teratur, dari yang kekanakan jadi lumayan mature, dan sebagainya. Selain itu tindakan gue adalah transformasi yang baik (amiin), perubahan yang gue harap bisa membawa kemajuan.

Jadi doain yaa biar gue bisa masuk SMA idaman gue, amiin.

But don't get me wrong, ppl! Gue tetep nge-post kayak biasa, tapi mungkin nggak sesering dan seberkala sebelumnya. Mohon doa dan pengertiannya ya :-D

Akhir kata gue tutup post ini. Wassalamu'alaikum wr. wb.

(NB: Tolong yaa dibaca berulang-ulang bagi kalian yang ngira gue masih kelas 7).