samedi 28 mai 2016
Pasung: Pelanggaran HAM Tak Kasatmata di Indonesia
mardi 17 mai 2016
Feminism in Indonesia: How We Still Misplace the Spotlight of Kartini Day
![]() |
| Google was being Google: it doodled Kartini to celebrate her birthday, too! |
| With Rosie the Riveter on it, this poster appeared during World War II and became a symbol for patriotic womanhood. |
mardi 9 février 2016
Satu Semester di [(HI) (FISIP) (UI)]
Those who can't, suffer.
Kebanyakan dari mereka yang melihat gue sebatas dari outer layer, mengasumsikan Echa sebagai sosok independen yang keputusannya unshakable. Well, andai mereka tahu seberapa panjang perjalanan (dan banyaknya poin-poin pertimbangan) sebelum gue memutuskan sesuatu, bakal tahu gue--barangkali--adalah orang ter-indecisive yang pernah ada. When it came to deciding which university, which faculty to go for my higher education, I took six whole months to fix my choice. Bukannya apa-apa, bo, kalo nentuin baju yang gue pake sehari-hari aja gue udah susah (atau mendingan naik Gojek atau bus kota, contoh lainnya), apalagi milih jurusan yang bakal sangat berpengaruh di masa depan (dan, kata senior gue, turut menentukan kita nikah sama siapa)?
(YES) (PADAHAL NGELES)
Gue sendiri punya tiga bidang ilmu I was really fond of: psikologi, sastra, dan HI. Kenapa? Karena yea, gue simply mikir masa depan yang gue inginkan nggak jauh-jauh dari ketiga jurusan itu. Gue kepingin jadi psikolog, penulis/penerjemah, atau diplomat. Dan kebetulan, tiga jurusan itu belum "di-tag" teman gue yang lain. Setelah gue udah hampir hilang akal, gue pun salat istikharah. Lalu suatu saat, gue bermimpi...
(ENG, ING, ENG)
Nggak, sih. Mimpinya nggak dramatis. Gue mimpi dikasih tote bag dengan makara hijau oleh seorang perempuan yang kayaknya dosen, tapi gue ngejar beliau dan minta tukar tote bag-nya dengan yang makaranya jingga. FYI, di UI, setiap fakultas punya makara masing-masing yang beda warna. Makara hijau itu punyanya FK, jurusan yang pasti gue pilih seandainya gue jurusan IPA (I almost stumbled there). Makara jingga adalah FISIP, rumah yang menaungi HI. Gue jadi lebih yakin, dan tanggal 13 Februari (atau Maret, ya? Gue lupa), satu hari sebelum SNMPTN ditutup, gue milih HI UI di pilihan pertama, dan Sastra Inggris UI di pilihan kedua. Ortu gue sangat menentang gue memilih Psiko, because once my cousin went there, and it didn't go well.
And, you know, time flies. Tahu-tahu, gue melewati UN (jangan tanya NEM-nya berapa, ya). Tahu-tahu, gue udah wisuda SMA. Tahu-tahu, gue udah ikut intensif SBMPTN di BTA. (Gue yakin banyak kejadian seru yang gue tulis selama gue
Nggak. Gue nggak punya screen capture hasil SNMPTN untuk dibagikan. Tapi, ya, hasilnya, alhamdulillah gue diterima di jurusan HI UI. Seneng nggak? Seneng, dong! Rasanya, kayak beban gue keangkat semua. Rasanya... rasanya... kayak gue udah nggak usah berjuang lagi.
If only I had known better.
(But, technically, I was right after all. Gue nggak usah berjuang lagi sampai masuk kuliah.)
Dari menjadi penumpang tetap bus 614, gue beralih status jadi pengunjung setia SMA gue. Ngurusin berkas legalisasi, blahblahblah. Gue bolak-balik soalnya birokrasinya ribet dan ada beberapa human error, tapi akhirnya I made it! Tanggal 5 Juni, gue verifikasi. Gue nggak mau cerita because it's a long story. Bayangin aja sih, ribuan camaba yang diterima SNMPTN dari DKI Jakarta, ditumplekin dalam satu hari buat verifikasi. Tapi lumayan cepat sih. Gue nyampe sana pukul enam pagi, dan urusan gue selesai pukul 1 siang
Okay, semuanya sudah terlewati. Gue lanjut OBM. Apa itu OBM? Err, semacam simulasi belajar kita di kampus, sih. Mahasiswanya dicampur, dosennya juga nggak nentu dari fakultas mana, dan lo juga belum tentu dapet kelas di fakultas lo. Gue dapet di FMIPA dan F. Psiko. OBM itu the only time you get to know people from other faculties, so make the experience count. (Karena link di OBM berguna untuk kelanjutan OKK.) Ngapain aja di OBM? Ya gitu. Lo belajar ngisi borang (yaitu bahasa Indonesia baku dari form) hasil diskusi yang bakal lo gunain di kelas MPK, terus ada simulasi PBL atau problem based learning, semacam diskusi dari masalah di sekitar kita sehari-hari. Yang seru itu kelas LS atau learning skill, kita belajar lewat games, dan yang ngajar pun senior dari masing-masing fakultas kelas lo berada (gue dapet Psiko). Di OBM, gue dikasih dua buah buku panduan. Lama OBM itu empat hari, dan walau gue ngerasa kelasnya random, gue sekarang merasa kehilangan
![]() |
| My OBM class and I, on our last day. This is not a goodbye, this is a see you again! |
Kelar OBM, lanjut OKK. Jadi, supposedly ini tuh orientasi tingkat universitas. Kita dikasih tugas, kalau nggak salah ada enam macam, individu dan kelompok. Nyari kelompoknya agak problematik, soalnya harus campur dari tiga kelompok ilmu: Saintek, Soshum, dan RIK (Rumpun Ilmu Kesehatan). Nah, inilah saatnya kita menggunakan networking yang didapat dari OBM. (Tapi ujung-ujungnya kelompok gue harus nge-stalk orang dari FB dan meminang dua orang cowok, sih.) Di hari H OBM, individu maupun kelompok yang karyanya paling baik diumumkan.
Anyway, di hari H OBM (yang dibagi menjadi dua hari dengan kategori Reguler/Paralel), gue disuruh bawa karton kuning, nametag yang template-nya dikasih dan bermartabat (ini serius. For once in my life, gue nggak disuruh bikin nametag bentuk daun atau bunga), dan air mineral satu setengah liter (WARNING: NEXT TIME NGGAK USAH DIBAWA!). Nanti bakal ada senior-senior yang memeriksa kelengkapan atribut kita. Terus, ada cerita lucu gini....
Waktu gue diperiksa di depan Balairung, senior yang bertugas adalah cowok (yes, like every story, it starts with a guy). Dia nanyain gue dengan suara rendah, "Bawa gunting, penggaris, parfum?" And I was too in tune with my surroundings, all the hectics, that I blurted out, "Non." Trus dia bales, "Francais?" Gue baru beneran melihat dia, melihat makara putih di jaket kuningnya. Gue berasumsi dia anak Sastra Prancis.
I nodded my oui. Dia lanjut nanya, "Belajar dari mana?"
Gue bilang, "IFI."
"Puis quand?" Sejak kapan, katanya.
Gue gelagapan karena udah lupa tenses. "Errr, deux annes?"
And then he smiled that playful smile and let me go.Terus gue teringat kejadian itu dan penasaran lagi. Sial.
Akhirnya gue masuk ke Balairung. Duduknya diatur dan sengacak itu. Gue tidak menemukan satu pun peer group gue di sana. Akhirnya gue SKSD dan ngerumpi sama kanan-kiri gue. Untungnya, pembicaranya lumayan menarik. Salah satunya itu Chairil Tanjung. Gue baru tahu doi ternyata alumni FKG UI. Lalu, ada sosok inspiratif yang menyebarkan pesan anti-korupsi lewat media dongeng ke anak-anak kecil. Sisanya... gue lupa.
Hal berkesan lainnya dari OKK itu ya pas angkatan 2015 disuruh bikin makara kuning, makara UI. Lalu kami pulang.
![]() |
| Makara 2015. Coba cari gue di mana. |
Lantas, apa itu semua sudah selesai? Ohoho, belum. Jangan cabut dulu. Sini, sini, duduk lagi.
Gue lupa bagaimana urutan rangkaian tepatnya. Yang jelas, gue harus mendatangi latihan paduan suara (lately gue dikasih buku lirik lagu-lagu khas UI) untuk penyambutan MTQ Nasional di UI (yang, untungnya, dikasih makan KFC gratis) juga untuk melepas kelulusan senior 2011 (yang ini konsumsinya McD, tapi gue nggak happy karena nggak menemukan orang yang gue cari [orang yang bikin gue bersumpah bakal masuk UI, dan di saat gue udah masuk, dia malah keluar. Kampret.]). Pelatih paduan suaranya adalah the Mighty Pak Dibyo. Latihannya tujuh kali, dan gue dikasih kartu absen datang dan pulang
Selesai rangkaian Kamaba tingkat UI, datanglah... eng, ing, eng! PSAK! Pengenalan Sistem Akademik Kampus. Yaitu OSPEK tingkat fakultas, yang namanya beda di setiap fakultas. Budaya dan tugas di setiap fakultas juga beda. Teman gue di FE, misalnya, kedapatan tugas menganyam makara dan dijadikan sampul buku, juga berfoto dengan anak-anak angkatannya di FE, terus dibikin biodata. Teman-teman dari FH dan Psiko harus memakai jakun dalam kurun waktu dan tempat tertentu. Sisanya gue lupa, huehuehue.
Di FISIP, angkatan gue dibagi ke dalam 60 kelompok. Gue masuk kelompok 41 sama Vina (kunjungi blognya ya, vinaitulalat.tumbeler.com), Arya (kalo lo pernah ngeliat cowok mirip Tulus dan mirip paus, itu Arya. Jangan lupa disapa, ya), Ariel (anaknya gampang homesick), Rafi (kepala suku kelompok 41), Ody (calon-calon ui.cantik), Via (kelompok gue selamat dari kelaparan pas hari H PSAK berkat beliau), Rara (anaknya kalem, tapi sekalinya ngomong ricuh sih lucunya), dan BELVA KEBANGGAAN KITA (bikoz Belva caketang, alias calon ketua angkatan). Mentor kami Kak Ezra (mau gue tulis spesialisasinya tapi nanti gue dikira mem-bully lagi) dan Kak Bayu (yang sekarang jadi Waketu HMIK). I need to jottle down these names because I won't (and it's impossible to) forget them. Lucu, seru, asyik, memori pertama gue di FISIP ya sama mereka. Kalau FISIP itu pohon, akar gue ya mereka (asli, gue nggak disogok kok). Tugas-tugas pas PSAK itu... ada kelompok dan individu. Yang individu mostly berupa esai. Yang paling memorable itu bikin Canfis alias Catatan FISIP, baik sampulnya, maupun kontennya, dan foto bareng artis FISIP, juga bikin karya visual tentang masalah di kota Depok. LOL JADI KANGEN. Pardon my melancholy.
![]() |
| Kelompok 41 - Photoshoot for Canfis cover. It's our Paus in the centre. |
PSAK FISIP UI berjalan selama empat hari, dan dua hari pertama gue telat, guys. Oke, barangkali gue harus ngasi tau aturan mainnya, walau nggak bakal jadi surprise lagi: jangan coba-coba telat pas OSPEK. Do that now, thank me later. Hukumannya itu beneran bikin pegel, disuruh merentangkan tangan dan kepala nengok ke atas, terus ditanyain sama Tibum (short for Ketertiban Umum, di fakultas lain bisa beda nama) alasan kenapa kita telat. Oh iya. Aturan kedua: jangan coba-coba ketawa. Hari pertama, gue diinterogasi (?) dua senior, terus hari kedua satu aja, tapi dia ingat gue juga telat hari sebelumnya, and that doomed me completely. Di PSAK, ada banyak kegiatannya, di antaranya adalah: perkenalan BEM dan HM, stan-stan UKM dan organisasi, perkenalan sama jajaran dekanat, mentoring keagamaan, latihan solidaritas (?) angkatan yang termasuk di dalamnya pemilihan Ketua Angkatan, talkshow inspiratif (I failed to find another name), perkenalan sama warga FISIP, dan banyak lagi, gue yakin (maafin udah lupa). Hari terakhir PSAK bersamaan dengan hari ambil jakun, terus gue jadi merasa hore gitu.
Setelah orientasi tingkat fakultas, maka muncullah (drumrolls) TKHI! Alias Temu Keluarga Hubungan Internasional. Orientasi di HI UI. (Again, nama resmi orientasi di tiap jurusan itu beda.) Kalau beberapa teman gue beropini orientasi tingkat fakultas mereka lebih melelahkan daripada orientasi tingkat jurusan, gue berpendapat sebaliknya. Tapi, as always, tingkat kesulitan suatu kegiatan berbanding lurus dengan eratnya bonding pelaku kegiatan tersebut.
![]() |
| Jakun baru, foto dulu. :p |
Mahasiswa angkatan 2015 di HI UI itu sebanyak 50 orang, belum termasuk exchange students-nya. Kami dipecah ke dalam sepuluh kelompok, dan tema nama kelompok tahun ini adalah peristiwa-peristiwa penting di dunia internasional (tahun lalu penerima Nobel, tahun lalunya lagi kriminalis tingkat internasional), misalnya: Meiji Restoration (inget soalnya ada Amel di situ lol), Kyoto Protocol (kelompok paling bala), Yom Kippur War (ngeksis sis dengan jargonnya "MANA SEMANGATNYA? NIH!"). Me? I got paired up with these freaky kids in Asian African Conference (tuh, gengs, gue stabiloin saking pentingnya kalian buat gue #cih). Kelompok dengan nama paling panjang, sampai-sampai our senior eventually gave up dan ikut menyingkatnya jadi AAC aja. Ada siapa aja di AAC? AHAHAHAHAHA mari kita telusuri profilnya.
![]() |
| AAC pasca Final Day. LTR: Giffar, Difa, Echa, Grace, Vincent. |
A! Ada Vincent dan Difa.
A! Ada Echa dan Giffar.
C! Coba Grecia yang mana?
Haaai, Grecia itu nama dia (yang di tengah).
Oooh! Asian African Conference!
p.s. nyanyinya pake nada jingle Sakatonik ABC ya.
Btw, itu adalah potongan dari salam kelompok kami (AAC kalo nyanyi salam kelompok paling merry-ah). Jadi, di AAC itu ada Vincent si anak artsy. Vincent ini jago akting (lately I knew he played for profitable theatre play), trus jago main piano (anak orkestra dia) to the point dia ngajarin les privat piano dan made a living from that job. Vincent itu nunda setahun gara-gara tahun lalu milih FK semua: FK UI, FK UGM, FK Unpad ahahahaha ngesein emang ni anak (tapi ai laf yu kok Cent). Trus "pelarian"-nya sekarang ke HI UI (makin ngeselin kan) dan nyasar ke kelompok AAC. Fakta unik tentang Incen: tua, panggilannya VW, hopeless romantic, dan pernah mimpi jadi nabi. Status di AAC: the always-ngilang one.
Orang kedua di AAC, sesuai urutan jingle kami, adalah Difa. Jadi Difa ini adalah anak IPA yang ingin membuktikan pada dunia bahwa anak IPA juga bisa masuk dan berprestasi di HI UI. Difa ini LDR-an sama pacarnya yang namanya Jeni, terus kerap kali mengeluh kalau nggak jarak menghalangi romansa mereka #ciat. Difa ini juga anak debat, dan anak HI banget sih kata w. Fakta unik tentang Difa: nggak suka bawang goreng, punya satu lemari penuh dengan koleksi Elmo, dan punya kucing bernama Brunese yang kelakuannya kayak anjing. Status di AAC: the reliable one.
Orang ketiga di AAC adalah... gue. ANJIR KOK GUE. Ya udahlah di-skip. Orang ketiga ngapain diulas, bikin makan ati aja. LAH KOK BAPER. Status (orang ketiga juga punya status) di AAC: IRS tidak bermasalah.
Lanjut. Sekarang kita bertemu Giffar AHAHAHAHAHA orang yang kalo ditanyain fakta unik setiap hunting pasti ganti-ganti saking banyaknya. Giffar ini bangga banget sama root-nya yang orang Bogor. Kalau dia nikah, dia mau di Kebun Raya Bogor. Disaksikan rusa-rusa lucu. Giffar itu sepeka itu (baca: sering salah fokus). Giffar juga senantiasa murah hati membagikan makanannya kepada anak-anak HI (truth be told, gue nggak pernah ketemu orang yang makannya sesedikit doi). Giffar juga berkontribusi paling banyak dalam penciptaan salam kelompok dan salam angkatan. Fakta unik tentang Giffar: nggak suka daging sapi karena nggak enak dikunyah (tapi dia suka daging kambing. BINGUNG NGGAK LO), kalo tidur TV-nya harus dinyalain, pernah digigit tomcat, menurutnya rasa mentimun dan semangka itu mirip, terus bisa terbang saking kurusnya. Status di AAC: the creative one.
Last but not least... Grace! Alias Grecia Anggelita (inget-inget yaw, doi gampang baper kalo orang typo nyebut/nulis namanya). Teman LDR Difa juga dengan pacar bernama Bima. LOVE STORY GRACE ITU UNYU BANGET BENER DEH kayak cerita-cerita FTV. Grace sebangga itu dengan akarnya sebagai orang China. Grace itu paling street-smart, alias banyak akal, karena dia realistis wkwkwk. Grace melengkapi Giffar dengan kreativitasnya, Difa dengan praktikalismenya, Vincent dengan nyeninya, dan gue dengan idealisme gue. Tapi Grace juga jago akting AHAHAHA we'll get to that part later. Fakta unik tentang Grace: ahli babi (tahu beda rasanya babi China dan babi Batak), ahli anjing (punya delapan ekor Shitzu di rumah nyaw), ahli hamster (punya lima kandang), ahli figure doll, dan ahli LDR.
Nah, selain kami berlima, di AAC juga ada Kak Lisa sebagai mentor hore, dan Kak Rizki sebagai mentor akademis yang bantuin kami. Bersama AAC, gue mengarungi bahtera kegiatan TKHI yang akademis. Di TKHI, ada tugas akademis bertingkat yang terdiri dari summary, review, esai dan presentasi kelompok. Gue kelabakan banget sih ngerjainnya wkwkwk #deadliner. Selain ada sesi akademis, ada community service, dan Life After HI juga (kalo yang ini cuplikan lagu angkatan). PDW-nya pun hacep gila. PDW stands for practical diplomacy workshop merangkap MUN (Model United Nations, gue dapet Indonesia wey di debut w). TKHI itu lamanya dua bulan, dan selama itu juga kami ditantang buat "hunting" 120 senior. Pernah suatu minggu AAC kalah hunting, trus kita dihukum bikin video tutorial hijab. Dan tentu aja, as always, nggak seru kalo hukumannya nggak diaib-aibin sama AAC. Tutorial hijab itu pun kami plesetin jadi iklan nonkomersil lima menit situs jilbabe.com. Bikin videonya, kami berlima nginep di apartemen Giffar di Tamel, pas hari ultah Vincent. Tidurnya shift-shift-an AHAHAHA, dan Vincent jadi malaikat penjaga (karena nggak kebagian kasur) yang melindungi kami dari serangga Tamel. That's the most memorable moment with AAC sih:") Ohiya, di TKHI juga kami harus menampilkan salam angkatan, dan Giffar jadi salah satu koordinatornya yay (it doomed AAC karena banyak banget liriknya yang membongkar aib kami)! Puncak dari TKHI adalah Final Day!
![]() |
| Poster play Gelmab HI 2015 (tema anarkisme) |
![]() |
| Poster Potluck 2015: Peyang Mengundang. |
![]() |
| AAC berjaya waktu Potluck! Grace dan Giffar menang Best Actress dan Best Actor. |
Selain rangkaian Kamaba dengan berbagai tingkatan, gue juga ikut kepanitaan Grafity UI, dan diterima jadi staf ticketing bersama Vina
And now, we get to the part where I answer the question: "Jadi, kuliah di HI UI gimana, Cha?" Jujur, nggak seperti yang gue bayangkan muahahaha. Dulu, selalu tercetus di benak gue kalo di HI UI ya, lo belajar tata krama jadi diplomat (termasuk di dalamnya table manner dan cara berjalan yang anggun) dan budaya masyarakat asing. Forgive my naivety and DON'T follow me. Di HI UI (atau bahkan di UI sendiri), lo bakalan lebih sering dijejalkan teori daripada praktik, karena--mengutip perkataan salah satu dosen--mahasiswa UI diarahkan menjadi polisiator, bukan eksekutor. Sedangkan soal cross-cultural studies, ternyata itu "jatah"-nya anak Antropologi, bukannya HI. First thing to remember: HI itu pecahan Politik, jadi udah pasti yang dipelajari itu politik dalam scope yang lebih luas. Jangan kaget waktu masuk HI dan dikasih paper analisis post-war disorder atau teori balance vs. bandwagon. TAPI tapi tapi, nanti di HI UI sendiri bakal ada peminatan pada semester lima, yakni Ekopolin (Ekonomi dan Politik Internasional), Pengstrat (Pengkajian Keamanan Strategis), dan Mastrans (Masyarakat Transnasional, peminatan yang paling muda di HI). Sifatnya nggak rigid. I haven't decided and discovered which way to go. I'm still sticking with my dream to work for UNICEF or WWF, though.
Satu semester di HI, rasanya... campur aduk. Dengan segala kegiatan yang datang silih-berganti, selama empat bulan itu gue hampir selalu pulang jam sembilan malam, naik kereta. Nyampe rumah, begadang nugas, baik tugas akademis maupun non-akademis. Kayak zombie sih rasanya:" Bukan Oktober, gue didiagnosis kena infeksi saluran percernaan, yang merupakan penyakit turunan dari mag kronis. Gue sering mendapati diri gue mengintip ke fakultas sebelah dan berandai-andai gue membuat pilihan yang lain. Dikelilingi seni, dikelilingi mereka yang "nyeleneh" tapi mengerti bahwa hidup nggak punya teori atau formula resmi. Dikelilingi mereka yang antusias dengan penulisan populer.
Don't get me wrong. I passed last term just okay, but you know, there's always a space in my heart that keeps screaming, "IT'S NOT RIGHT, YOU FOOL," or, "Stop pretending. It's not what you want. You can't lie to me." And my head will answer it in whisper, "Darling, the world is not a wish-granting factory."
Satu semester dan semester satu di HI UI: babak belur, tapi setidaknya gue survive. Now I'm just gonna cross my fingers for this upcoming term. (Gue masuk mulai besok, dan hari Selasa nggak ada matkul yay!)
Ini catatan hidupku. Bagaimana denganmu?
lundi 27 juillet 2015
Pada Tanah Retak
Kemarau yang mengerontang
menggugurkan daun mahoni
kutatap jejak berdebumu
di tanah retak
tidakkah mereka berjanji akan kembali?
Berayunlah aku
pada kerangka besi
yang berkarat dan mengerat-erat
mecegahku mengejarmu
maka aku duduk dan membaca
sepucuk surat, selantun sajak
tentang mimpi-mimpi masa muda
tetap aku akan menunggu
kepulanganmu di musim salju
Taman Villa Sawo,
27/6/15, 11:33 a.m.
samedi 27 juin 2015
Parsel Pra-Lebaran
lundi 18 mai 2015
614
Pesan moral yang bakal gue kasih ke lo-lo pada bahkan sebelum sesi curhat dimulai: bus yang langka dan penuh lebih banyak memberi pelajaran hidup daripada bus yang pasaran dan sepi.
Menurut gue it makes sense sih, since there goes the famous quote: you never really get to know someone until you see them at their worst. Semakin buruk situasi yang lo hadapi, semakin melorot topeng yang lo pakai dan perlihatkan ke orang-orang. Di scenes seperti itulah kita bener-bener mempelajari watak seseorang.
"Oh, si A kalo udah emosi orangnya abusif, padahal kelihatannya kalem."
"Oh, si Z kalo laper jadi self-centered banget ya, semua mesti nurutin kemauannya."
Etc.-etc.
Di bus nomor 614, jurusan Tanah Abang-Pasar Minggu, gue mengenal berbagai wajah original (bukan paha atas aja yang original) berkerumun. Former status gue sebagai pengangguran menjelang kuliah yang menyibukkan diri dengan intensif SBMPTN di BTA bikin gue rutin naik bus itu, pergi dan pulang. Earlier this year, gue pernah nge-post tentang lansia yang mengingatkan gue akan kakek gue dan nahan gue biar nggak jatuh, juga malaikat yang ngasih gue kantong kresek pas hujan deras. Well, di waktu-waktu lain, ada kalanya gue kurang beruntung dan malah ketemu wajah-wajah yang malah kurang menyenangkan.
Pernah, gue yang udah duduk manis di bus penuh sesak, berdiri dengan maksud ngasih tempat duduk ke ibu-ibu yang bawa tas banyak banget. Eh, malah diserobot mas teng nggak tau diri. Gue udah nahan keki banget, si ibu juga kelihatan prihatin. Tapi nggak ada yang negur, dan nggak ada yang bisa gue lakukan selain menghela napas panjang. Panjaaaaang sekali.
Bukan sekali-dua kali gue ketemu laki-laki dewasa berbadan kekar yang nggak mau give up their seats untuk orang yang lebih membutuhkan, i.e. wanita hamil, lansia, penderita disabilitas, kids in kindergarten/elementary school uniform. It's sickening, really, to see just a little humanity left on them. They just look around with those boring eyes, seakan-akan udah sering ngelihat panorama macam itu, yang berarti, udah sering juga feed their ego dan tutup mata tutup telinga. Gue ngerti, gue sangat sangat sangat paham kalo dia capek/ngantuk/just had a rough day, tapi bukankah semua orang dalam bus juga begitu?
Kali lainnya, gue terdesak ke perut bus, lokasi yang amat tidak strategis kalo lo mau turun. Tiba-tiba ada ibu-ibu yang naik, mukanya datar tanpa senyum. Baru lima detik di atas bus, dia udah komplain, "Geseran dong, Bu." Lima belas detik, dia nyolek bahu ibu-ibu lain yang badannya gempal di tempat duduk dan bilang, "Bu saya pusing. Mau duduk, dong."
Wtf.
No magic words. No "please" and "thanks." Dia langsung mengangsurkan diri gitu aja ke atas bangku. Setiap bus ngerem mendadak dan ada yang nyenggol, dia ber-ckckck kesal. Mana suka garuk-garuk lagi. Gue tahu ini nggak adil dan nggak ada korelasinya, tapi rambutnya bau bawang, ketombean dan banyak kulit kepala yang mencuat, dan setiap dia kegatelan dan mengoprek rambutnya, ketombenya dan kulit kepalanya berguguran. Dan itu makin bikin gue bete aja. Sampe-sampe waktu ada yang bergumam, "Cibang," gue ngangguk-ngangguk dalam hati. Belakangan gue sadar generalisasi itu rasis dan diskriminatif, tapi tu orang emang b@ngs4t, sih.
Tapi yah, kadang diskriminasi bisa jadi bumerang yang menghasilkan, sih. Pernah ada bangku kosong di samping gue, dan bapak-bapak kantoran yang udah diri lebih lama dari gue mempersilakan gue duduk dengan alasan, "Adek badannya kecil gitu." Gue nggak protes saat itu. Di kondisi normal mungkin gue bakal nyinyir, "Saya nggak pendek, situ aja yang tinggi." HAHAHAHAHA. #shortpeopleproblem
Penumpang jenis lain, yang pelit dan nggak mau rugi duit, juga ada. Gue samar-samar nguping bapak-bapak yang bilang ke temennya, "Kasih aja sopirnya seribu. Kita nggak duduk ini." Gue menahan diri buat nggak komen kalo they're being unfair. Mau lo duduk atau berdiri, sopir dan kernet itu udah mengantar lo ke tempat tujuan dengan selamat, and that's the whole damn point. Tapi waktu gue diskusi sama my partner in muse, Fadli, dia menimpali gue, "Ya menurut lo kalo orang nonton konser, lebih mahal yang duduk atau yang diri? Toh mereka ngeliat penyanyi yang sama." Gue ngotot, "Ih itu kan beda." Intinya gue kalah sih.
Ya udahlah kita skip. Bukan, bukannya gue mau menggambarkan betapa payah dan lemahnya argumentasi gue, but paraphrasing Fadli and I arguing will take lots of time.
*brb minum* *oke lanjut*
Nggak selamanya sih, gue ketemu sama orang-orang ngeselin. Di hari-hari gue udah males naik 614 because I decided it was stuffed by rude people, dan sudah antipati dan pasang muka badak, justru gue dikejutkan sama keramahan mereka. Ada yang nawarin gue payungan bareng waktu hujan dan bus 614-nya ada di tengah jalan. Ada yang kelihatan genuinely curious about my stories and the opposite, those who made me curious about their stories and they shared them with me wholeheartedly. Yang paling bikin gue terharu sekaligus menyesal, ada nenek-nenek yang memberi gue kursi. Gue tetep diri dan bilang, "Saya deket kok Bu," to which she responded all smile, "Saya juga deket." Akhirnya gue duduk di tempatnya, sementara dia diri di dekat pintu depan. Guess what? Gue turun sebelum dia.
Malamnya gue laporan lagi ke Komjen Fadli dan dia bilang, "Makanya jangan menggeneralisasi. Lo terus-terusan ketemu orang jahat karena lo belom sempet naik bus yang isinya orang-orang baik." Gue langsung tertegun sih.
Maybe that's all that matters. It is countless; the frequency of me complaining and bitching about other people's lives, although I do it in silence. Orang Indonesia egois. Orang Indonesia jorok. Orang Indonesia norak. Itu semata-mata karena gue belum ketemu orang Indonesia yang selfless, yang resik, yang keep it classy. Don't say this world is bad until you travel every pieces of it. Say there's part of this world which is bad for you; itu yang correct.
Saat-saat gue menunggu bus 614 juga memberi pelajaran tersendiri. Di spot yang dilewati 614 tempat gue biasa nunggu, gue sering nyender ke sudut terpencil pagar rumah orang, soalnya lumayan adem dan strategis. Selama gue nunggu gue pura-pura budek tiap ada penunggu (bukan hantu) terminal yang ngajak gue ngobrol. Lama-lama gue nyerah dan mulai ngerespon. Suatu hari dia ngasih unjuk tempat buat gue duduk dan bilang, "Lain kali jangan nyender di situ. Itu kan tempat kencing sopir."
Gue langsung kaget. "KOK BAPAK NGGAK NGASIH TAU??? SAYA UDAH SERING BANGET NYENDER DI SITU."
"Lah kamu nggak nanya."
*brb nari Tor-Tor*
Yha, guys. Next time lo nemuin tempat adem dan strategis yang nggak dikerumunin calon penumpang, lo wajib curiga.
(Anyway, sampe rumah gue langsung misahin baju-baju yang pernah gue pake ke BTA dan gue cuci ulang semuanya.)
Gue juga belajar soal fate and coincidence dari bus 614. Biasanya gue nungguin 15-45 menit sampe satu bus itu lewat. Suatu hari gue beli otak-otak dan es podeng, trus ngaso di bawah pohon di depan Pasar Mayestik. (Nikmat, sumpah. Lo semua kudu nyoba). Baru tiga suap, kira-kita tujuh menit, ada bus 614 lewat.
Crap.
Untung es podengnya gue bungkus, jadi gue bisa ngacir ngejar bus itu. Sampe rumah tetep mencair, sih. But that's so not the point.
Gue pernah juga denger orang yang kecopetan naik suatu bus (non-614) dan jadi kapok naik bus itu, dengan dalih bus itu banyak copetnya. Dari fakta sosial ini gue mengembangkan dua teori:
1) dia cuma kebetulan aja naik bus yang ditaiki juga oleh si pencopet, dan,
2) yang namanya sial, siapa yang tahu.
Selebihnya, gue berusaha mengingat peristiwa-peristiwa manis dan sederhana aja. Kayak cogan yang ngasih gue kursi dan ngingetin uang gue yang nyembul dari saku, atau Pak Sopir yang nyahut, "Sama-sama Dek," waktu gue bilang makasih. Pengalaman hidup gue jadi bertambah sejak gue naik bus ini, dan gue harap pelajaran hidup lo bertambah sejak baca post ini. *nyengir*
Anyway, mulai bulan Agustus gue bakal berubah haluan naik bus 614 ke arah Pasar Minggu buat pergi dan ke arah Tanah Abang pas pulang.
Oke. Gue nyiapin ikat kepala dulu, ya. Sekian dulu Echa Teguh Platinum Ways-nya. Dadaaaah.
dimanche 26 avril 2015
Begin Again
Setelah sekian lama ke-pending, akhirnya barusan gue nonton Begin Again juga. Tahulah, filmnya Keira Knightley dan Mark Ruffalo. It started slow for me, but it did move. In fact, it's moving and poignant in its own way.
Kontradiktif dengan judulnya, gue justru merasa Begin Again adalah film tentang... suatu akhir. It made me wonder then, judul "Begin Again" terlahir karena "beginning" dan "ending" itu sudah satu paket. Just like birth and mort. Day and night. Yin and yang. They're different, but they complete the package. They are the package.
I came to a thought that maybe, semua hal di dunia ini memang punya pasangannya sendiri-sendiri. Black for every white and vice versa. Bisa bayangkan betapa chaotic dunia ini seandainya semua orang baik atau sebaliknya, semua orang berprofesi sebagai penjahat. White is bright. Black is gloomy. Grey is the most boring shade, but that's what happens when you mix black and white. Everyone has this shade. I suppose so.
Ada bagian yang membuat gue tercenung cukup lama, waktu Gretta pergi sebelum Dave menyelesaikan lagunya. That's when I knew it ended. Blackout. Fini. Benang merah itu putus.
Terkadang suatu akhir terjadi tanpa salam perpisahan. Seringnya, malah, "goodbye" dan "see you again" hanyalah pengesahan, bukti keabsahan berakhirnya suatu hubungan. Seperti "THE END" di kebanyakan film Disney.
You know it ends when someone who used to mean the world to you becomes a stranger. Ketika kalian mengenal cuma sebatas "hai" dan "apa kabar". Ketika lo melihat mereka punya kode mata yang nggak lo pahami dan bicara dengan diksi yang bikin lo mengernyit.
Perlahan lo merasakan keterasingan. Perlahan lo merasa sepi walau nggak sendiri. Perlahan lo menjauh tanpa diminta. Because you're feeling like a misfit.
That's when things end.
Things change. So does time. So do people. Itu kodrat. Itu aturannya. Itu ketetapan semesta. Dan kita nggak bisa mengubah perubahan itu. Atau melarikan diri.
Gue ingat, di suatu masa, di dalam sebuah bait, gue menulis kalau it is death, when you whisper someone's name for the last time. Tapi ada beberapa hal yang lebih kekal dari kematian dan ada hal lain yang lebih fana dari kehidupan.
Memories belong to the first group. They might pack their suitcase and leave. They might as well change their number and find another home. Tapi lo tetap bisa mendengar suara mereka di antara lagu-lagu jadul yang diputar di Prambors karena mereka sering mendendangkannya. Lo tetap bisa melihat tawa mereka sewaktu lo melontarkan guyonan jayus yang sama. Lo bisa mengendus aroma hot macchiato atau asap rokok atau parfum cemara dan merasakan eksistensi mereka. These things live forever and become a part of you.
And that's when things begin again.
Ketika lo menerima segala sesuatunya dengan ikhlas. Ketika lo udah nggak sok tegar-tegarin diri dan berhenti hidup dalam denial. Ketika lo membiarkan diri lo menangis sepuasnya dan tertawa selepasnya. Ketika lo akhirnya... melepaskan.
It's contrary again, huh? Segala sesuatu justru benar-benar dimulai ketika lo benar-benar melepaskan. Beginilah cara main semesta.
Oke, gue mulai menye-menye. Tapi yah memang perasaan itu yang ditinggalkan film Begin Again. I've had enough with running away from my feelings. I'm trying my best to feel. I'm trying my best to let go.
I find the pattern now. How the cycle goes.
Hidup... memang dimulai dengan suatu akhir dan ditamati oleh awal yang lain.









