lundi 30 avril 2012

Dear Someone...

"I have found the paradox, that if you love until it hurts, it can be no more hurt, only more love."
-Mother Teresa.

"I could tell you, his favorite color's green,
He loves to argue, born on the seventeenth.
His sister's beautiful, he has his father's eyes.
And if you ask me if I love him, I'd lie."
-I'd Lie by Taylor Swift.

Dear Someone,
Would you like to close your eyes and think back to the first time we met?
You told me that your mother's fat and your favourite colour's red
I never thought before that you'll be important to me,
Because fell in love with you isn't that easy.

Dear Someone,
Do you remember all the jokes, all the madness?
Do you remember all the tears, all the happiness?
I'd like to back to those times with you,
But I can't repair the broken part and put them together back by the glue.

Dear Someone,
I really want to tell you that I miss you,
But I remember that we don't talk anymore.
I would like to tell you that I hate you,
But it just makes me love you even more.
I really want to greet you as usual,
But it feels awkward and weird.
I try to fight this feeling,
But it just grows bigger.

Dear Someone,
Can you see the inside of my heart?
I cry and I laugh, I smile but I'm sad.
But when you run your finger through your hair,
I know that I'm still loving you though it's unfair.
You've found your love and I'm still looking for mine.

Dear Someone,
I'm pretty sure you don't forget yet that I'm an absentminded.
So please remind me every morning, everyday,
To tell you that I loved you from the very first day.

DEDICATED TO SOMEONE OVERTHERE.
Yeah, we've broken up, but for me you're still mine until my last breath.

30th April, 2012.
7:52 pm.
Esa Khairina.

jeudi 26 avril 2012

Would You Just Listen?

Would You Just Listen?
by Tara Kay.

Would you just listen and please don't say a word, just yet,
I'd like you to think back to the very first time we met,
How you felt around me? The memories we shared,
And just remember that once upon a time, you really cared.

Now think about how we parted, and how much I cried,
But please don't speak, remember that I never ever lied,
That I told you the honest truth about why we were to split,
But now I'd like you to know that my heart broke bit by bit.

The pain was deep, unbearable and painful, for so many years,
I'll never forget all the sadness, all the uncontrollable tears,
Slowly I am rebuilding my life, I am content with what I've got,
And although it is hard I am beginning to forget what I have not.

You were a special part of my life that I will never forget,
A part of my life that broke my heart, but that I don't regret,
You gave me some happy memories that I'll keep in my heat,
Although sometimes I wish that you and I didn't have to apart.

You were my first love and my true love that will always be so,
After all of the heartache, sadness and never ending pain, I know,
You and I had something special and that will never change,
Because I love you and loving someone else will always seem strange.

Would you just listen and please don't say a word, not ever,
I'd like you to remember that once upon a time, we said forever,
That I had hopes and dreams, that I was the one who threw them away,
And this is something that I will always regret until my dying day.

BIG POST! :D

WARNING! Since I haven't post so long, I think it'll be a long and tired post. DON'T GET ME WRONG! I've told you!

Hai, fellas! What's up there? Hahaha :D

For a starter, I just wanna greet you, my fans friends!

Hai...

Hai...

Hai...

Apa kabar?

Kalo lo tanya gue, gue ngerasa... ruarrrr biasa baik. Fantastic. Wonderful. Never be better than this. Hari ini adalah hariiiii besar! You know what? Hari ini adalah hari kebebasan gue, sang pelajar kelas 9 yang teraniaya! Hari iniii, gue selesai UN!

*APPLAUSE-NYA MANA?!*

Yap, yap, terima kasih, saudara-saudara, dan untuk kalian yang udah pada ngedoain gue, gue ucapkan *uhuk* makasihh sedalam-dalamnya. Doa kalian sangat membantu, loh! Untuk para kelas 9 di mana pun kalian berada, gue ucapin selamat liburan, selamat menempuh hari kebebasan! Dan... untuk para kelas 8, gue ucapin selamat babak belur belajar! Saran kakak sih, nikmati hidup bebasmu yang bisa diitung pake jari, Adik-adik manis :')

Eittt, tapi kok jadi lebai gini, ya? Menurut gue, UN itu wajar, kok. Semua orang kok pasti udah pernah ngalamin, bukan? Dan sebenarnya, UN itu bukannya babak belur, tapi babak baru! Emang sih, harus diwarnai dengan desah napas memburu dan sumpah serapah selama detik-detik menjelang pelaksanaannya, tapi begitu udah kelewat, bahhh rasanya legaaa banget! Pernah nggak, kalian nahan pipis di suatu tempat yang rame dan nggak bisa nemuin toilet? Seluruh isi cairan udah di ambang "pintu" tapi toilet begitu jauh dari gapaian. Tapi pas kita nemu terus bisa pipis, wah nggak kebayang lega dan bahagianya!

Apa hubungannya pipis dengan UN? Jelas berhubungan sekali, Saudara sebangsa setanah air yang beda RT! Perasaannya mirip-mirip gimanaaa gitu (ketauan deh sering nahan aktivitas biologis ekskresi). Pas kita lagi dicekokin sama pelajaran-pelajaran, terpaksa ngiler ngeliat adek-adek kelas kita tercinta balik ke rumah sementara kita melototin papan tulis gara-gara mesti ikut pelajaran tambahan, itu rasanya kayak pengin cepet-cepet berakhir aja. Pengin cepet-cepet UN aja. Tapi pas giliran kita udah mendekati UN--yang, dalam asosiasinya dengan kebelet pipis tadi, nyaris menggapai pintu toilet--rasanya kok deg-degan gitu, udah gitu makin "kebelet", tapi dalam arti kebelet karena gugup. Kikuk. Nervous.

Perasaan itu manusiawi, kok, karena gue mengalaminya. Baruuu aja kelewat. Tapi pas kita udah selesai, wadeh, nggak kebayang deh merdekanya ;') *nyanyi We are The Champion*.

Jadi, selama gue vakum nge-post gara-gara sibuk *ehek* belajar (sumpah, gue udah gedek banget sama kata ITU. Rasanya pengin gue telen semua buku pelajaran mentah-mentah. Sayangnya, gue masih punya satu step perjuangan lagi. Because I wanna be an International School student, so I have to STUDY again!).

Oke, balik.

Selama gue enggak ada, ada kejadian apanich? Apakah Gurun Sahara udah beku? Atau sebaliknya, apa onta udah berhasil bermigrasi ke Kutub Utara?

Haha, justky kok, guys.

Sekarang sih, gue cuma pengin nge-post detik-detik menjelang UN yang udah gue rangkum mati-matian biar bisa di-post ke sini. Jadi, sebelum UN, kita mesti ngelewatin beberapa kali uji coba as known as TRY OUT! Parahnya, soal-soal TO itu lebih susah dan bombastis daripada UN, HAHAHA. Pas ngerjain soal Fisika, gue nggak tau berapa lama lagi gue bisa tahan dari keracunan....

Terus, terus, abis itu kita masih mesti ngelewatin Ujian Praktik, Ujian Akhir Semester, and at least but not last, Ujian Sekolah! Ujian Praktik sih yaaa lumayan-lumayan dikit, lah, tapi the most unforgettable moment from that adalah... OLAHRAGA! Bayangin, jadi ada sekitar delapan jenis olahraga di situ, mulai dari senam, basket, voli, sepak bola, atletik (dan... atletik sendiri terbagi menjadi empat bagian), dan sit up, pull up, push up, dan up-up lainnya yang bertanggung jawab atas nyerinya otot perut gue dan bikin gue nggak bisa ketawa atau bangun tidur dengan normal selama seminggu! Tapi sih yang paling nggak banget itu, tiger sprong alias lompat harimau. Jadi, kita tuh disuruh ngelompatin rintangan-rintangan gitu dengan posisi tangan dulu, jadi nggak boleh kaki-tangan duluan! Demi apapun gue udah geregetan banget... dan lebih geregetan lagi pas Pak Fulmer---guru olahraga gue--bilang kalo di SMA mungkin bisa lebih sadis daripada itu. Alahmak....

Sebelum UAS, gue sama beberapa temen-temen gue ikut SuperCamp--sesi penceritaannya Insya Allah akan dimuat di post berikutnya!--buat belajar. Jadi kita belajar di alam gitu selama enam jam sehari. Demi apapun, itu sama sekali jauhhhh dari ekspetasi gue. Gue kira mah, kita bisa loncat-loncat sama rusa dan seneng-seneng, minimal enjoy hidup gitu, buat beberapa waktu. Eh ternyataaaa....

Nah, pas UAS sih, alhamdulillah lumayan, tapi hidup gue kembali anjlok di US. Jadi semua matpel itu diujiin materinya dari kelas 7 sampe kelas 9. Kepala gue rasanya udah berbuih-buih :') Dan lebih parahnya lagi sih, di situ nggak cuma triple choices doang, cuy, tapi juga ada ESAI lima soal! Tangan gue rasanya udah keriting gara-gara ngerjain Bahasa Indonesia. Bayangin ajadeh, lo disuruh nulis pidato, puisi, terus ngubah cerpen jadi naskah drama! GILA NGGAK SIH?! *histeris*

Setelah US, pelajaran udah mulai agak kendor karena yang perlu kita hadapin "tinggal" UN. Jadi mau masuk ya monggo, bolos juga nggak ada yang ngelarang. UN itu udah bukan tanggungan guru-guru lagi, wahai saudaraku. UN itu tanggungan setiap individu. Singkatnya, lo-elo, gue-gue.

Yaaa tapi cukuplah mengenang masa lalu yang pahit. Lo tau nggak, kalo ternyataaa, pas gue tes kenaikan level di ILP, native gue, Mr Ross, ngasih rekomendasi buat langsung naik ke level Basic (level buat anak SMA) atau malah Intermediate (level buat mahasiswa dan setingkatnya)! I was so proud and happy, tapi gue ngelewatin seleksi gara-gara ngikut SuperCamp. Yah, mau dibilang apa.

BUT, YOU KNOW WHAT, FELLAS?!

GUE.

DI.

KELAS.

MR.

KEEGAN!

Hahaha! Hidup tuh emang luar biasa adil, bukan? :D Well, I think my life (maybe) was in the top at that time.

Ternyata Mr Keegan itu orangnya lucu, asyik, dan ramah :D Cara ngajarinnya dia juga nggak monoton. Dia juga sering ngasih challenge kayak story telling dadakan--yang mengurassss habis vocabulary--sama nulis cerpen gitu. Pernah waktu itu gue yang paling *errr* bagus cerpennya, terus dikasih hadiah. Tapi nggak gue ambil. Gengsi *nangis darah menyesali*

Oh iya, satu lagi berita hangat dari gue. Bulan Maret lalu, buku ketiga gue yang judulnya 24 Hours Stay at School diterbitkan! Buat temen-temen yang mau tau gimana ceritanya atau mau pesen online, silakan cek di sini.

Dan jangan lupa, ditunggu loh kritik dan sarannya :p

Well, sekarang gue juga lagi sibuk nyiapin barang-barang karena besok gue bakalan ada farewell ke Jogja dari sekolah. Mohon doanya biar gue selamat sampai tujuan. Dan... oh ya, ada yang bisa narik kesimpulan dari kisah gue, nggak?

Yes, maybe life is unfair, isn't it? But God is listening, and God's watching. Allah tahu apa yang kita perbuat. Kita udah bercapek-capek ria belajar, alhamdulillah UN-nya dimudahkan. Kita udah belepotan belajar ngomong Bahasa Inggris, alhamdulillah ditaro di kelas yang wali kelasnya sekece Robert Pattinson. Terus, nggak selamanya kita bisa jadi anak kecil. Akan tiba saatnya pas kalian harus ngadepin ujian juga. And you won't be a child forever. You must learn to be wiser and more mature.

And one more....

"Always be grateful, for despite what happens, life is beautiful."

Keep smile! Nantikan post gue yang berikutnya! :D

26/4/2012.
Esa Khairina.

vendredi 13 avril 2012

Like Yesterday-1

"Annie..., wake up sweetie!"

I open my eyes constantly when the shining light comes through my eyes. In front of me, my mother's smiling.

"How are you? Do you feel better?" she asks, take a step towards me.

"Better since you opened the window. I think I'm going to be blind."

"Funny, Ann. Now get up and let me clean up this room. You'd better take a bath quickly, your father will be angry if you make him comes to his office lately for the second time."

You up for it, Mom? I hiss and jump up my bed. I know there's no choice except follow her desire. I take a shower as fast as I can and dressed up.

samedi 10 mars 2012

Yuk, Jadi "Ratu Belanja" di Paris

Seandainya seseorang nyebut "Paris," apa yang bakal terbayang di pikiran kita--khususnya para cewek? Sungai Seine yang romantis...  Musée du Louvre yang megah tapi bikin penat.... Mesra-mesraan di puncak Eiffel Tower.... Arc de Triomphe yang artistik.... Belanja-belanja....

Wow, yang terakhir pasti bakal bikin mata semua cewek ngelirik. Yap, sebagai pusat mode (baca: dulunya. Sekarang julukan pusat mode dunia ada di tangan London) dunia. Siapa sih cewek yang nggak suka
ngabis-ngabisin duit belanja? Semuanya pasti suka, dong! But but but, hati-hati kesasar ya, soalnya Paris itu nggak seperti bayangan kita pada umumnya.

Yang perlu diperhatikan, nggak semua tempat di Paris itu ada tokonya. Bahkan kata kakaknya temen yang tinggal di sana, tempat yang bisa diandalkan untuk belanja sekaligus cuci mata, yang seru dan nggak antre paling Champ Élysées atau nggak La Vallée Village. Ada juga mal terkenal di sana, yaitu Lafayette, yang sering ngasih diskon. Tapi katanya sih, di sana, saking banyaknya pengunjung, buat lihat-lihat saja susah. Hmm...

Well, hampir semua orang yang tau Paris, pasti tau Champ Élysées, distrik belanja mahabesar di Paris yang terbentuk dari deretan toko dan kafe mahal di sepanjang jalan selebar 70 meter itu. Toko-toko dengan merek yang bisa bikin kantong menjerit seperti Louis Vuitton dan Bulberry bisa ditemukan dengan mudah di sini. Karena "udah punya nama" dan udah famous di kalangan para fashionista di seluruh dunia, maka apa-apa bisa dibilang mahal di sini. Bayangin aja, untuk toko seluas 100 meter persegi aja, harga sewanya mencapai US$ 1.25 juta per tahun! Konon, untuk tarif parkir di sana saja bisa mencapai tiga atau empat euro (silakan dikali 12 ribu rupiah per satu euro). Ckckck....



Selain Champ Élysées, ada juga satu outdoor shopping arena di Paris, yaitu La Vallée Village. Ehe, jangan terpancing ya, tapi, sama kata "Village"-nya. Memang toko-toko yang berjejer di sini agak bernuansa kedesaan, tapi jangan sampe kamu masuk, ngambil baju, dan pas mau bayar ke kasir, kamu cuma bisa bengong kayak sapi ompong melihat harganya. La Vallée Village itu supermahal, dan semurah-murahnya barang yang udah didiskon, kalo dikurs ke rupiah tetep aja jadinya jutaan. Oya, masih kata kakaknya Refal Adhitama, di La Vallée Village, yang bisa kita lakuin di sana paling cuma cuci mata karena di sana nggak dibolehin foto-foto! Konon sih, itu karena banyak artis yang suka "mejeng" di sana (oke, ini kok kayaknya sepele banget ya -_-).

Nah, nah, gimana? Tertarik untuk jadi "Ratu Belanja" di Paris? :D

Galau Produktif? Kenapa Nggak?

Merasa bete hingga ubun-ubun dipanggang gara-gara ditegur guru, dosen, atau atasan? Atau jengkel karena sifat orangtua yang menyebalkan? Wah, kalo kita udah unmood, bete, dan ujung-ujungnya galau, seisi dunia serasa berkonspirasi to make it worse!

Eit, tapiii… daripada diam mojok di kasur sambil menyesali “kesialan” nasib, mending bangkit dan menyalurkan kegalauan kita menjadi positif! Yap, dan kegiatan menyalurkan kegalauan itulah yang disebut dengan “galau produktif”.

“Hah? Menyalurkan kegalauan jadi hal yang positif?” Mungkin sebagian dari kalian akan mendesiskan demikian. Duh, boro-boro deh melakukan sesuatu yang positif, mau beranjak dari kasur aja kok rasanya mager, ya….

Padahal menurut studi, kegalauan itu menghasilkan energi yang cukup besar pada diri manusia, sama seperti rasa takut dan marah. Kalo kita lihat di film kartun, contohnya, Naruto aja jadi lebih kuat kalau amarahnya tersulut! Dan di hutan di mana hukum rimba berlaku, hewan-hewan buruan cenderung akan mempercepat larinya kalau ketakutan akan diserang musuh! Hal itu juga terjadi pada manusia, lho. Pada suatu kasus, ada seorang nenek yang bisa melumpuhkan dua orang perampok yang berniat membunuh cucunya, lantaran marah melihat si perampok mengacungkan pistol ke kepala cucunya itu.

Lantas, gimana caranya kita menyalurkan kegalauan kita menjadi hal-hal yang positif? Yang pertama-tama sih, kita harus menguatkan tekad dan niat, lalu bangkit dan melakukan apa yang kita mau, apa yang kita suka, apa yang menjadi hobi kita! Bagi yang suka nulis, salurkan kegalauanmu dalam bentuk puisi atau cerpen (asal jangan ngedumel di social network, ya). Bagi yang suka kung fu, salurkan kegalauanmu untuk mengasah kemampuan jurusmu. Bagi yang suka basket atau futsal, anggep aja bola yang kalian drible dan tendang itu kepala orang yang jadi sumber kegalauan kalian! (Tapi mungkin bagi yang suka masak, jangan salurkan kemarahannya dengan memasak, ya, nanti malah bikin sakit perut lagi, hehe).

Sudah cukup banyak lho, publik figur yang jadi supertajir gara-gara menghasilkan karya dari kegalauannya itu. Sebut aja, si penyabet enam piala Grammy Award, Adele, yang menciptakan Someone Like You-nya, si ganteng Justin Timberlake dengan Cry Me A River-nya, dannn penyanyi cantik Taylor Swift yang nulis lagu sampe-sampe kayak nulis diary saking frontalnya. Bagi pecinta Nicholas Sparks, pasti tahu kalau novel A Walk to Remember yang sekarang udah jadi film itu, dibuat untuk mengenang adik Sparks yang meninggal karena kanker tahun 2000 lalu.

Nah, gimana? Udah dapet inspirasi? Yuk, daripada cuma diem di kasur dan nangis tersendat-sendat, mending kita bangkit dan mengikuti jejak para tokoh di atas! Kalau mereka aja bisa, kenapa kita nggak?

dari berbagai sumber.

samedi 25 février 2012

February 24th.... So Much Happiness, So Much CRAZINESS!

24 Februari 2012 mungkin adalah hari "keramat" yang rada bikin gue stres. Kenapa? Soalnya setelah tiga minggu mengalami penundaan, akhirnya kemarin praktik Tabog-nya jadi. Pas gue turun dari mobil sambil bawa tentengan yang isinya sosis yang udah digulung roti, gue rada worried soalnya guru-guru pada make seragam olahraga dan kayak mau senam gitu. Gimana kalo... setelah dua jam ngejain nih tugas (nyokap gue sih, yang ngerjain, HAHA), prakteknya ditunda lagi?! Oh nooo!

Tapi alhamdulillah akhirnya jadi! Gue sama kelompok gue masuk ke ruang Tata Boga (meja kelompok gue strategis soalnya udah di-booking Ana h3h3), terus naro barang-barang, dan mulai kerja. Pertama-tama, sosis yang udah digulung diolesin sama telur kocok, abis itu digulingin ke tepung panir. Lagi asyik-asyiknya ngolesin sosis pake kuas, eh si Mr. Jerawat, Alus (stands for Anak Lusi), apapun itulah panggilannya, nongol dan nyerocos tanpa nyapa gue dulu.


"Eh, Gi, lo udah cuci tangan belom? Pasti nggak higienis, dah."

Tarik nafassss, buang... Daripada berantem, gue milih mingkem, terus cuci tangan dengan sukarela. Pas gue baru nyampe, eh gue udah dicipratin air. Oke, gue jadi curiga. Jangan-jangan selama ini Ravy nge-FANS sama gue?! (Emang ada yah orang nge-fans segitu jahatnya?).


Gue baru aja bakal mulai kerja lagi. Jadi gue sama Ajeng yang ngoles, dan Ana sama Dzalika yang ngegulingin sosis gulungnya di tepung panir. Eh belom juga sempet megang rotinya lagi, gue udah kembali dikomplain.

"Eh, Gi, itu mah kelamaan. Mendingan gini--" dengan sok pinternya *oke, dia emang pinter. Seenggaknya dalam bidang akademis, nilainya lebih tinggi dari gue* Ravy ngambil roti gulungnya terus malah diguling-gulingin di telor sampe becek!

"Lus, itu mah ntar sosisnya kecelup juga, ntar jadi amis," gue menyela dengan kalem. Sebenarnya satu huruf yang keluar dari bibir dower sang Alus bikin kesabaran gue menipis satu tingkat.

"Daripada lo ngoles-ngoles gitu pake kuas. Sa, kita nih lagi praktek Tata Boga, bukan Seni Rupa! Daripada lo lelet-leletan ngoles," Ravy mulai nyolot. Gue nyolotin balik.

"Vy, ini tuh gue yang bikin! Jadi gue yang tau, ngerti? Sok pinter banget sih lo!" gue mulai naik darah.

"Bodo dah Saaa, Sa..." Ravy ngebales ocehan gue dengan gonggongan dan menarik pihak lain, "Eh, Li, menurut lo ini mendingan dioles apa digulingin aja?" Dia mulai nyari sekutu, si Lia, anak kelompok lain yang kebetulan ngeliatin proses oles-mengoles.

"Iya, menurut gue sih mendingan digulingin aja..."

"Tuh!"

"Nggak fair lo! Lia kan pacar lo, jelas dia ngebela lo," gue mencibir, tapi Ravy sama Lia sok budek. Akhirnya dibuat kesepakatan. Gue yang ngoles pake kuas dan Ajeng yang ngegulingin di telur.

Belom juga ada sepuluh menit, gue kembali diterjang dengan debatan kelompok gue.

"Sa, ini mendingan minyaknya banyak apa dikit?" tanya Ridam (Rifki Adam) setelah kompornya panas.

"Dikit aja, jangan banyak-banyak, ntar kerendem, minyakan, terus nggak mateng," gue nyahut sambil merhatiin dia yang nuang minyak ke penggorengan.

"Sa, di mana-mana tuh yang kayak ginian minyaknya banyak!"

Anjir, ni orang nggak bisa apa nggak protes?!

"Vy, ini tuh gue diajarin nyokap gue, dan ada kok resepnya!" sahut gue dengan sabar (can you spell it? S-A-B-A-R).

Ravy langsung nanya ke Bu Djus dan kayaknya emang hari sial gue karena kalah debat mulu ama ni bocah. Bu Djus berpihak sama Ravy dan yaaa, lo tau lah mukanya. Gue nggak mau nyebutin di sini gimana tampang Ravy kalo ngerasa menang karena bisa bikin lo kena nightmare. Hampir sengeselin tampangnya Voldemort, lah, tapi bayangin aja kalo Voldemort jerawatan tuh kayak gimana.

Akhirnya setelah proses gulung-menggulung selesai, sosis gulungnya digoreng. Ana sama Dzalika yang gantian goreng sedangkan gue ngobrol sama temen-temen cowok gue (Ravy-Awak-Ridam-Basit) dan Ajeng duduk sama Dinda.

Belom juga ada beberapa menit...

"Jangan lupa ya nanti kertasnya dilaporin ke Ibu, sebelum kalian jualan," kata Bu Djus, dan dengan satu kalimat simpel itu, tiba-tiba Ravy nepok jidat.

"Mampus gue! Kertasnya nggak gue bawa!" dia mulai panik sama Basit, dan gue nggak kalah paniknya. Kertas yang dimaksud itu adalah kertas proposal berisi harga-harga pokok, perkiraan keuntungan, dll-dll yang baru gue selesain satu jam dengan bantuan nyokap gue! Dan sekarang dia nggak bawa?!

"Maksud lo nggak bawa?!" nada gue mulai ikutan panik.

"Ya nggak bawa! Aduh bego-bego-bego!" Ravy nyumpahin diri sendiri sambil berulang-ulang ninju jidatnya. Gue aja sampe heran kok jidatnya tetep kayak semula, nggak membengkak kayak ikan lohan walau ditinju segitu keras. Well, mungkin itu salah satu kelebihan--baca: mukjizat--yang dipunyai ketua kelas gue yang cantik itu.

Gue ikutan nyumpahin Ravy dan dia langsung lari ke Bu Djus, abis itu balik sambil bawa kertas yang sama, tapi KOSONG.

"Kok nggak ada tulisannya?" gue tanya sambil nyipitin mata sok ke-Hollywood-Hollywood-an.

"Ya nggak ada tulisannya," Ravy nyengir, dan walau gue tahu itu berarti "Maaf ya, Sa, maaffff...," gue tetep kesel sama dia. "Lo tulis ulang semuanya."

Gue bener-bener marah, dan gue langsung balik ke kelas buat ngambil pulpen, terus ke ruang Tabog dengan mulut terkunci. Gimana nggak miris coba coy, gue ngebantuin kelompok lain nyelesain proposal kertas itu dan kelompok gue sendiri nggak nyerahin proposalnya? Ironis dan pathetic banget.

Untunglah Bu Djus berbaik hati *sungkem*. Dia ngebolehin kelompok gue nulis keuntungannya di selembar kertas, dan segala tetek bengek soal proposal itu boleh nyusul Senin besok. Gue dengan lega berhenti nulis dan ngantongin pensil, terus minta maaf ke Ravy soalnya gue udah... marah-marah *sebenernya, wajar aja kan kalo gue marah?*

Terus akhirnya sosis gulungnya kelar digoreng dan gue buru-buru nyiapin plastik.

Baru aja damai, Ravy udah ngajak berantem lagi.

"Sa, lo nggak bawa straples?"

"Enggak," gue jawab dengan inosen, "abis kata nyokap gue, ntar takutnya ketelen."

Ravy langsung ketawa ngakak nggak jelas gitu. "Astaga... ketelen? Bego amat yang makan!" Actually he didn't understand what I felt! Gue trauma sama kemasan yang ada straplesnya. Dulu pernah, pas gue mau makan roti, straplesnya jatuh dan nyaris ketelen.

Dia langsung ngoceh nggak jelas sama Basit dan Ridam, ngepelonco gue, sedangkan gue cuma diem, bengong kayak orang idiot. Mau ngejelasin tapi paling nggak didengerin... yasutralah.

Akhirnya Ravy minjem straplesnya Adit dan berlima, kita mulai ngemasin semua sosis gulungnya. Gue, Ravy, Ridam, ngemasin, terus Basit nge-staples, dan Awak mulai berbenah. And finally, those tired activities finished!

Kita langsung tata tuh makanan, terus bagi-bagi tugas. Gue sama Ana ke kantor guru, Ravy and the gank ke 9-7, terus Dzalika-Ajeng ke kelas 8. Baru juga keluar, pembelinya udah ada dua, Miss Cindy sama Ricky, anak kelas 8 yang pernah ikut lomba sama gue. Sebenernya gue felt guilty juga ke Dinda, soalnya Dinda yang duluan nemuin Miss Cindy, tapi beliau malah beli makanan gue. Oke, gue ngerampas rezeki orang lain.

Di kantor guru, separo dagangan gue alhamdulillah laris! Bu Reni malah beli empat potong! Setelah selesai dari ruang guru, gue keluar dan ke 9-5, dan alhamdulillah yang beli "cuma" satu. Abis itu gue ke 7-1, dan di sanalah semua jualan gue diperebutkan.

Malahan banyak yang nggak kedapetan! Alhamdulillahhh rasanya senenggg! Hasil kerja keras gue berbuah juga yekan :D Gue ke kelas dan ngitung pendapatan, tapi rada bingung juga ngitungnya. Akhirnya, semua orang dapet untung 11 ribu.

Kelar praktek, gue dihadapkan pada ulangan Agama dan PKn, yang alhamdulillah lancar walau gue belajarnya ecek-ecek. Abis itu gue shalat di aula, dan ngedenger pencerahan soal gimana caranya dapet NEM 39 di UN.

Di sana dijelasin, ada tiga cara untuk dapet nilai yang bagus. Satu, harus selalu seneng dan punya mood yang bagus. Dua, harus selalu senyum. Tiga, minta dengan memberi (maksudnya kalo kita rajin beramal dan memberi, Insya Allah yang kita minta dikabulkan). Gue sempet nangis dalam suasana yang haru biru pas ada kayak semacam hipnotis gitu.

Gue juga tahu kalo otak akan lebih mudah terbuka karena ada limbic, zat yang dihasilkan oleh hati. Kalo hati kita selalu seneng, maka limbic yang diproduksi juga banyak. Nah, mulai sekarang gue pengin selalu senyum! :D Yang bikin gue seneng, kakak yang ngasih "ceramah", nyumpahin kita semua biar dapet NEM 40!

Semuanya, sumpahin gue ya biar gue bisa dapet NEM 40, amiin.

These happiness and craziness were beautiful gifts from God, so thanks God it was Friday :)















Esa Khairina.