vendredi 17 mai 2013

Guratan Hujan

1997.

Anak perempuan itu masih berdiam diri di sana, mengabaikan tiap sapaan orang lewat yang mengenalnya. Ia mungil, berambut ikal, dan bermata besar. Sulit dipastikan apakah ia sedang menunggu ibunya datang menjemput atau tidak membawa payung. Sementara di luar, hujan turun dengan derasnya, menyisakan kubangan-kubangan berlumpur yang anak itu sering amati dengan otak kecilnya yang lugu.

"Hai. Apa yang sedang kamu lakukan?"

Anak itu menoleh pada akhirnya, merasakan keheningan yang susah payah ia bangun diruntuhkan oleh colekan di bahu. Ia mengernyit, hidungnya mengerucut. Ia tidak suka diganggu.

"Kenapa belum pulang?"

Sejujurnya, anak perempuan itu sudah tahu siapa si anak lelaki. Mereka tidak sekelas, pun terlalu asing untuk saling menyapa.

"Menunggu pelangi," cetus si anak perempuan.

"Menunggu pelangi?" si anak lelaki menimpali heran.

"Iya. Kata ibuku, pelangi selalu datang setelah hujan reda," sahutnya enggan.

"Oooh," si anak lelaki mengangguk, "aku kira, kamu sedang mengamati butiran hujan alih-alih menunggu pelangi."

Dijawab anak perempuan itu, "Saya benci hujan."

"Kenapa? Hujan kan nggak membuatmu berdarah atau terluka. Hujan terasa sejuk, dan menenangkan. Saya lebih suka melihat hujan daripada menunggu pelangi, soalnya...."

Panggilan dari seorang wanita bersuara familier menghentikan ucapannya. Si anak lelaki merengut sekilas, lalu bangkit berdiri, agak terlalu bersemangat. Sebelum ia sempat pergi, ia masih menatap si anak perempuan, yang terlihat masih merenungi intisari perkataannya. Memang tidak banyak orang yang memahami perkataannya. Terlalu rumit, itu yang orang sering bilang selain kata "sok tua".

"Saya yakin kamu nggak sedang menunggu pelangi, entah kamu menyadarinya atau nggak. Kamu tidak terlihat seperti orang yang sedang menunggu."

Lalu ia pergi, meninggalkan si anak perempuan terbengong-bengong dalam lamunannya sendiri.

2004.

Petir yang menggelegar membuat gadis kecil itu bergidik, membekaskan coretan pulpen di lembaran buku hariannya. Ugh, betapa banyak kesialan yang menimpanya gara-gara hujan! Setelah flu selama seminggu penuh, plus semua isi tasnya basah oleh air, kebenciannya terhadap hujan kian menjadi-jadi.

"Teriaknya kenceng banget, sih."

Si gadis kecil menoleh, mendapati seorang pemuda yang juga berseragam putih biru kini duduk di sampingnya. Ia sadar si pemuda sudah memperhatikannya sejak ia duduk di perpustakaan ini.

Setelah bengong cukup lama, gadis itu putuskan untuk tidak menanggapi, yang menghasilkan kerutan di jarak antara kedua alis pemuda itu.

"Yeee, sombong banget sih jadi orang."

Telinga gadis kecil pun panas. "Saya bukannya sombong, saya cuma lagi fokus ngerjain sesuatu," ujarnya datar, membela diri.

"Ngerjain apaan sih?"

Si gadis tidak menyahut, kembali menulis. Si pemuda geleng-geleng kepala dan menarik binder si gadis, membuat coretannya makin panjang.

"Argh! Kamu...!"

"Wah, ini cerpen?" si pemuda berbinar. "'Si Hero Butuh Pertolongan'? Wah, judulnya kreatif."

"Itu bukan urusanmu, kembalikan..."

Si pemuda bangkit berdiri dan menggebrak meja, membuat semua pengunjung perpustakaan menoleh padanya. "Fadil adalah anak baik hati, rajin shalat, dan selalu berbakti pada orangtuanya. Sayangnya, hari ini dia ketiban sial! Saat sedang liburan dan naik kapal, mendadak dia terpisah dari ibunya. Fadil pun panik dan mondar-mandir. Saat dia sedang berada di geladak kapal, mendadak ia mendengar suara, 'Tolong...! Tolong...!' Fadil melompat ke laut untuk menyelamatkan seorang anak yang tenggelam, dan menaikkannya lagi ke kapal. Kemudian... dia pun me- Selesai! Belum ada kelanjutannya."

Wajah si gadis memerah, namun sebelum ia sempat mengumpat si pemuda, semua pengunjung perpustakaan bertepuk tangan untuk cerpen singkat setengah halaman yang baru dideklamasikan si pemuda.

"Cerpen kamu bagus," cetusnya spontan, "kenapa kamu menulisnya?"

"Saya bosan. Saya sedang menunggu guru saya datang."

"Oh, guru...." Si pemuda mengangguk dan meletakkan binder itu kembali. "Sejujurnya, kamu tidak terlihat seperti orang yang sedang menunggu."

2008.

Hujan lagi.

Gadis itu kini menggosok-gosokkan telapak tangannya, entah untuk yang keberapa. Waktu boleh merubahnya dari sesosok anak kecil lugu menjadi gadis remaja pertengahan yang kritis dan cantik, namun rasa bencinya terhadap hujan belum pernah berubah.

Diangkatnya tangan kiri, dan diliriknya arloji. Tepat dua jam sudah ia duduk di kursi ini, dan hujan belum menunjukkan gejala akan berhenti. Dengan depresi ia menghela napas, melirik laptop di hadapannya, dan menarik napas frustasi lagi. Diraihnya cangkir cokelat panas yang sudah dingin, meneguknya tanpa selera. Sebisa mungkin diabaikannya tetesan hujan yang menggurat permukaan kaca. di sampingnya. Salahnya sendiri yang memilih meja paling pinggir, karena sungguh, pemandangan senja yang ditimpa cahaya oranye terlalu indah untuk dilewatkan, dan sayangnya visualisasi favoritnya itu hancur karena datangnya sang hujan.

"Hai, boleh saya duduk di sini? Sudah nggak ada tempat lain."

Orang asing, datang dan pergi. Si gadis tersenyum kecut, namun mengangguk mengiyakan. Orang asing itu kontan nyengir dan menarik kursi di sampingnya.

"Rasanya, wajah kamu tidak asing bagi saya."

Si gadis merutuk dalam hati. Tak bisakah si orang asing diam saja? Alih-alih menanggapi, ia malah menenggak lagi cokelat panas yang sudah tak lagi panas, dan menggerakkan trackpad.

"Sedang apa?" lagi-lagi si orang asing mengusiknya.

"Berpuisi," jawabnya sekenanya.

"Puisi? Hm? Tentang apa?"

"Tentang pelangi."

"Pelangi?" si orang asing bertopang dagu, menaik-turunkan alisnya jenaka. "Kamu mengingatkan saya pada cinta pertama saya. Gadis mungil yang juga mencintai sastra, dan selalu menunggu pelangi. Sayangnya sudah lama saya nggak ketemu dia."

"Oh, begitu," si gadis masih enggan memindahkan matanya dari layar monitor ke si orang asing.

"Siapa nama kamu?"

Si gadis memberitahunya.

"Oh," senyuman si orang asing mengembang, "nama kamu sendiri sudah mengingatkan saya pada puisi."

"Kata orang, nama itu doa, dan sepertinya doa orangtua saya meleset," si gadis mulai membuka diri, "nama saya berarti akhiran yang sama, dan kira memang begitu kira-kira. Apapun yang saya lakukan, akhirnya selalu sama. Ini kali keempat naskah saya ditolak penerbit."

"Saya nggak percaya sama teori macam itu," si orang asing mengedikkan bahu, "jadi, apa yang kamu lakukan sekarang?"

"Menulis, menunggu panggilan penerbit," cetus si gadis tanpa pikir panjang.

"Kamu tidak terlihat seperti orang yang sedang menunggu. Kamu terlihat seperti orang yang sedang mengejar."

Si orang asing tersenyum, dan begitu kagetnya si gadis sampai ia mengangkat kepala dan tatapan mereka bersiborok. Sayangnya si orang asing sudah keburu berdiri.

"Terima kasih tempatnya, saya masih ada urusan." Kemudian si orang asing pergi begitu saja.

"Masih pendiam seperti yang dulu."

Mungkin si gadis hanya membayangkannya, atau mungkin memang perkataan itu nyata. Yang jelas, ia masih sempat menoleh ke belakang untuk yang terakhir kali, mendapati spasi kosong di sana, kemudian kembali melamun bersama hujan yang menderas.

2013

Sungguh, perempuan muda itu tak mengerti kenapa hujan selalu menghancurkan mood-nya. Harusnya ia sudah sampai di kampung halamannya di Surabaya, hanya saja hujan membuat jalanan menjadi macet. Dihelanya napas penat, sambil membereskan helai-helai rambut yang berjatuhan di garis rahangnya.

"Akan jadi malam yang panjang," demikian ia menggumam di tengah malam.

"Tidak akan panjang kalau kamu menikmatinya."

Ucapan itu membuatnya merinding, dan si perempuan pun mendongak. Seorang lelaki kini berdiri di sampingnya, tubuhnya basah dari rambut sampai dada. Wajahnya ramah, matanya secemerlang bulan.

"Boleh geser?" tanyanya, memainkan matanya.

Alih-alih bergeser, si perempuan berdiri. "Silakan, kamu duduk di pojok saja."

"Terima kasih, ini sempurna. Saya suka hujan," komentarnya seraya mengubah posisi duduk senyaman mungkin. Si perempuan ragu-ragu sejenak, dan duduk pada akhirnya, merasa tidak nyaman dengan zona sedekat ini dengan lawan jenis. Ia bukan perempuan konversional, tidak setertutup itu pada dunia, dan juga mengikuti tren layaknya gadis-gadis pada usianya. Tapi ia tak bisa sesokdekat ini dengan orang yyang baru dikenalnya.

"Saya nggak suka hujan," ia memutuskan untuk jujur.

"Oh ya?" Si lelaki menatapnya tertarik. "Kamu orang kesekian yang bilang nggak suka hujan."

"Hm? Banyak kan, yang benci hujan," si perempuan tertawa acuh.

Namun pada malam itu, si perempuan harus mengingkari janjinya, membuka gembok yang ia kunci tanpa sadar. Mereka menghabiskan waktu di sana, tiga jam yang dihabiskan dengan obrolan tanpa sekat. Aneh rasanya, mengenali hal asing yang kausangka akan kaubenci ternyata bisa semenyenangkan ini.

Ia telah jatuh cinta pada keintiman yang diberikan lelaki itu, tak berjarak pada rasa hangat yang menular di tengah percakapan mereka.

"Kenapa kamu menunggu pelangi yang tak pasti, kalau kamu bisa menikmati hujan yang datang setiap hari?" si lelaki bertanya.

"Menurut saya, hidup itu memang tentang penantian. Menunggu, menunggu, dan menunggu. Memang begitu siklusnya," jawab si perempuan.

"Baik, kalau kamu bilang hidup itu tentang penantian," si lelaki merogoh sakunya, kemudian mengeluarkan setangkai mawar putih yang sudah nyaris layu dan cokelat di pucuk-pucuknya. Mawar paling menyedihkan yang pernah dilihat si perempuan. Tapi bunga itu tetap mawar; bunga favoritnya, dengan warna favoritnya, warna tanpa warna.

"Kamu belum pernah dapet bunga, kan?" si lelaki tertawa renyah. "Jadinya sekarang kamu nggak perlu nunggu seseorang ngasih bunga buat kamu."

"Hm, hm, boleh, boleh," si perempuan tersenyum, walau masih diliputi kebingungan.

Dan tak sampai lima menit si perempuan sudah tertidur, kepalanya jatuh di atas bahu si lelaki, mendengkur halus. Si lelaki bergerak tak nyaman di tempatnya, merasa kegelisahan dan ketenangan yang mengganggu menyergapnya. Ia merasa hidup, duduk berdampingan dengan perempuan di sampingnya ini.

"Kamu... tidak terlihat seperti orang yang sedang menunggu," bisik si lelaki, lirih.

2017.

"Usiamu sudah sebegini besar, Nduk, kok belum punya pacar juga?"

Si wanita mengerjapkan mata, meringis dan merenung. Selalu begitu, setiap seseorang menegurnya. Padahal ia tak sekesepian itu! Maksudnya, bagaimana bisa kau kesepian kalau kau masih bisa mengeksplorasi duniamu dalam jerat tinta, dan menulis di samping jendela yang digurat tetesan hujan.

"Apa perlu, ibu kenalin kamu dengan anaknya kenalan ibu?" tanya ibunya.

"Apa saya kelihatan seperti orang yang perlu dijodohkan?" tanpa sadar si wanita membalas dengan nada tinggi. "Saya baik-baik saja, Bu, sumpah."

"Jangan lupa lho, sepupunya Nadine besok menikah. Kamu jangan lupa datang, ya. Kali-kali aja temennya Nadine ada yang udah mapan terus nyantol sama kamu."

Si wanita tidak menjawab, meski ia menuruti keinginan ibunya keesokan harinya. Hujan yang datang tak lagi membuatnya mengeluh. Ia kini mencintai hujan, berkat lelaki yang dulu memberinya setangkai bunga.

Mungkin ia juga jatuh cinta pada lelaki itu. Mungkin. Mungkin juga ia membencinya, sejak si lelaki meninggalkannya sendirian di bus pada sore yang sepi, terbangun karena digoncang kondektur bus, mendapati kursi di sampingnya kosong melompong. Ia jatuh cinta pada orang yang datang dan pergi secepat bayangan berkelebat.

Langkah kakinya mencepat, melihat rumah sepupunya sudah mendekat. Ia masuk dan tanpa basa-basi menyalami Nadine, yang dulu merupakan kembang SMA, cantik dan cerdas dan dikagumi banyak orang.

"Halo, Nadine, selamat yaaa."

"Hai, sepupu! Lama nggak ketemu! Ayo, makan dulu!"

"Maaf, Dine, saya datang cuma untuk ngucapin. Saya masih ada urusan penting."

"Hm, ya udah kalo gitu. Tapi kamu nggak mungkin pergi tanpa menemui suami saya, kan?"

Maka si wanita ditarik sepupunya mendekati siluet seorang pria yang bertubuh tegap. Nadine memeluknya dari belakang, dan si pria tertawa penuh sukacita seraya berbalik. Saat mereka bertatapan, si wanita merasa tata surya beku di tempat, tak lagi bergerak.

Suami sepupunya adalah lelaki yang membuatnya jatuh cinta di bus.

"Hai! Lama nggak ketemu," si pria tersenyum.

"Lho? Kalian pernah ketemu? Dunia sempit banget, ya," komentar Nadine, menggelayut manja di lengan si lelaki.

Si wanita membatu sejenak sebelum mengangkat dagunya dan dengan dingin membalas, "Rasanya... kita pernah bertemu."

2030

Waktu bisa merubah banyak hal, dan itulah yang terjadi pada nenek itu. Rambutnya telah memutih dan keriput sudah merambati pelipisnya. Namun ia masih mungil, seperti yang dulu, masih perasa, dan masih mencintai literatur.

Perbedaannya yang lain mungkin adalah karena ia memakai seragam suster.

Ya, ia bekerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit yang merawat anak-anak autis, menjaga mereka dengan sepenuh hati.

Dari semua anak autis, ada satu favoritnya. Rudi namanya, bocah lelaki kecil berambut acak-acakan yang paling perhatian. Rudi bahkan memanggilnya "ibu" dan terkadang curhat padanya.

"Hari ini, ayah datang," Rudi berceloteh pada suatu hari yang cerah.

"Rudi seneng, dong?" si nenek menanggapi ramah.

"Jelas, dong. Eh eh lihat! Itu ayah!" Tanpa ba-bi-bu Rudi berlari menyongsong datangnya seorang kakek-kakek, yang masih gagah di usia 60 tahunnya.

"Rudi! Akhirnya, Nak!"

Nenek itu memandang si kakek dengan mematung, menatapnya lekat-lekat.

"Astaga, kita ketemu lagi!" pekik si kakek. "Halo, kamu masih ingat saya, kan?"

"Ya," tukas si nenek jujur, "mana Nadine? Saya nggak pernah dengar kabarnya sejak kalian pindah ke Malaysia."

"Meninggal bulan lalu, makanya saya baru bisa ke sini hari ini," tukas si kakek.

"Oh."

"Bagaimana kalau kita ke kantin sekarang?" ajak si kakek. "Sudah lama kita nggak berbincang-bincang."

Si nenek menghela napas dalam-dalam. "Kita memang nggak pernah benar-benar berbincang."

"Kita beberapa kali berbincang, hanya saja kamu nggak pernah sadar," balas si kakek. "Dulu kita ketemu, saat kita ada di SR. Lalu pada suatu sore di perpustakaan, dan sore lainnya di kafe itu. Setelahnya, di bus, dan kamu tetap tak kenal saya. Sebenarnya, saat saya melihat kamu, saya juga sedang murung. Nadine baru saja menolak mawar putih yang saya beri, makanya saya berikan itu ke kamu," si kakek menghela napas dalam-dalam, "saya kaget saat melihat kamu, ternyata kamu sepupunya Nadine. Sepupu Nadine adalah cinta pertama saya, dan mungkin cinta terakhir juga."

Si nenek menatap si kakek, tersenyum rikuh. "Sudah terlambat belasan tahun untuk mengatakannya. Kita nggak akan bisa mengejar."

"Mungkin. Saya hanya ingin kamu tahu, daripada tidak sama sekali. Saya cinta kamu, Rima."

Si nenek mendongak, menatap bulir hujan yang kembali jatuh. "Saya juga. Kamu adalah segala yang saya tuang dalam puisi, kata yang saya tulis dalam cerita. Saya juga cinta kamu,

"Sajak."

14:54, 17/05/2013

mardi 7 mai 2013

Balada Hari Selasa

Hari Selasa gue kali ini dimulai dengan SMS Kak Rea pas gue lagi di mobil, yang ngasih tau kalo hari ini kita mesti tubas a.k.a cabut lagi. FYI, selama semester ini, gue udah empat kali tubas, biar kata semuanya karen sekolah yang ngutus. Tubas gue Selasa ini dalam rangka upacara pembukaan FLS2N. Gue lomba puisi, doi solo vokal. The problem is... hari ini gue ada remed dua biji, plus sosio dan geografi ada tugas dan PKn adalah mapel favorit gue.

Sontak gue panik, secara gue belom ngomong ke ortu gue, tapi gue juga gaberani ngomong juga, since it was my 5th time tubas. Jadi yaa gue mingkem aja walo bokap duduk di depan. Nyampe gerbang, gue ngeliat tasnya Kak Rea di pos satpam, trus gue SMS doi, bilang kalo gue udah nyampe gerbang. Berhubung Kak Rea lama, gue pun ke kelas gue di lantai tiga, soalnya gue belom ngelarin tugas geografi yang gue sangka wajib dikumpulin hari ini. Gue tambah panik pas Mitha, sang sekretaris yang merangkap teman sebangku gue, belom dateng. Yawdah akhirnya gue ngerjain geografi superngebut, pikiran gue kebelah gara2 Kak Rea belom bales SMS dari tadi.

Sialnya tuh Bu Sri, guru agama gue yang muka security hati Hello Kitty keburu masuk. Gue tetep ngerjain geografi, walo rada stay cool sih. Gue ngangguk aja pas doi ngomong, tangan gue teteup bergerak nulis. Tiba2 Kak Rea bilang dia gabisa ngizinin gue, mesti gue ndiri yang minta surat izin ke guru piket. Gue pun ngerengek via teks, ngomong kalo ni guru rada angker dan gue yang berkerudung ini remed pelajaran agama, sempet disindir jangan ngerjain yang lain pula. Dan bimsalabim, Kak Rea pun masuk dengan bawa surat izinnya,terus ngomong sama Bu Sri.

"Esa?"

Dalem hati: "Mampus afektif gue C." Mulut: "Iya Bu?"

"Kamu bisa bikin puisi?"

"Errrr gitu sih Bu, tapi ga jago2 amat hehehehehe."

Yang lain sontak pada komentar, tapi celetukan yang paling gue inget sih, "Bikin puisi tentang gue dong Cha!" Tau deh itu siapa yang ngomong.

Singkatnya gue sama Kak Rea finally keluar kelas juga, trus ke bawah ngebalikin surat izin trus minta surat izin asli ke TU trus ditolak hahahahahaha. Masalahnya sepele: surat izin kita ga ditandatanganin kepsek, padahal jelas2 Pak Liliek sang kepsek lagi mejeng di GOR Ragunan, which is tujuan gue sama Kak Rea barusan. Pak Dendy Desmal sang Mr English yang menurut kamus Firda 11/12 sama Dimas Anggara pun ngasih saran yang sangat membantu, "Yaudah, kalian pergi ke Ragunan, minta tanda tangan Pak Liliek, terus balik lagi." Tengkyu banget Mister:')

Gue sama Kak Rea bolak-balik nyari Pak Ferry sang penaggungjawab, dan entah berapa kali kami nyasar kayak Dora yang kehilangan peta. Gue bahkan sempet mikir untuk nanya ke gerombolan Aud yang lagi nongkrong di kantin, "Apakah kakak melihat Pak Ferry? Apa? Di mana? Lebih keras!" Tapi mendadak gue kebelet pipis. Kak Rea akhirnya ninggalin gue ke TU dan simsalabim lagi, pas gue balik semua urusan udah beres dan kita tinggal cabut.

Masalah lainnya: pas gue sama Kak Rea udah naik minibus sekolah, Pak Dedi si sopir bus pun lenyap. Trus ngeliat minibusnya lowong, Pak Satpam yang gue lupa namanya pun naik. Sesokkeren Sebastian Vettel, Pak Satpam ngegas, ngebawa kita ngiterin 70 hahahahahaha untung ga nubruk pohon ya Pak. Pas di depan masjid, gataunya Pak Ferry buntutin pake motor hahaha trus Pak Satpamnya dilempar omelan nonverbal dalam bentuk delikan mata, trus kita pun dibawa ke depan Pak Dedi.

Kita pergi bareng Pak Dedi sama Bu Yanti, dan di sepanjang perjalanan gue sama Kak Rea ngerusuh di bus, as always. Pas udah nyampe di GOR Bulungan, gue sama Kak Rea plenga-plengo kea penguin nyasar di gurun, coz kebayakan peserta bergeragam SD dan SMP, ditambah lagi kita terancam balik ke Bulungan naik bus. Yaudah akhirnya gue sama Kak Rea nekat nerobos kerumunan, didadahin kayak Jennifer Lawrence baru menang Oscar. tapi selangkah sebelom gue masuk ke pintu utama, tas gue ketarik kuat banget sampe gue jinjit, dan bapak2 bertampang angker pun ngomong pake urat, "Jangan lewat situ, udah ada Kasudin. Lewat pintu belakang sana!"

Gue dan Kak Rea, sebagai anak manis dan imut2 pun nurut, terus jalan lumayan jauh ke pintu belakang. Pas udah di sana, gue ngeliat peserta lain udah pada baris rapi banget, gimana bisa nerobos? Akhirnya kita pun ngikutin barisan anak berseragam yang juga telat, dan shit men, kita ketauan trus kena interogasi, "Seragam kalian mana?"

Jenjengjenjeng.

Kita berdua sama2 cengo, tapi alhamdulillah dibolehin masuk at last. Ternyata emang cuma geng Jaksel doang yang mejikuhibiniu alias gaada seragamnya. Kak Rea pun ngeliat Kak Ruri, kakak kelas gue waktu SMP yang kebetulan juara satu lomba solvok. Kita langsung nyerobot barisan trus ketawa2 aja. Kak Ruri juga ngasih tau kalo kita mesti dadah2 freak waktu nama kita dipanggil.

Masalahnya, udaranya subhanallah panas banget men. Gegara panas itu juga, pas kita jalan gue lupa dadah2 freak kea instruksi Kak Ruri. Gue cuma nyengir kuda. Trus kita diangon kea anak kambing siap panggang ke lapangan yang 2x lipat lebih nyesss panasnya. Berdiri di situ selama 30 menit bener2 nerakanya dunia, man.

Akhirnya pas tengah upacara, kelar janji atlit dan janji peserta, gue, Kak Rea, sama Kak Ruri pun kabur lewat pintu belakang sebelah kanan yang ga dijaga, plus bareng pendampingnya Kak Ruri hahahahahaha jadi kita aman. Desperate for kipas angin, gue pun alibi mesen siomay di kantin, dan Kak Rea nggunain fasilitas stop kontaknya buat ngecharge BB. Ternyata siomaynya gila2an porsinya, dan gue pun maksa Kak Rea buat ngabisin siomay gue. Trus akhirnya kita gajadi terdampar naik bus soalnya Pak Dedi jemput yihaaaa. Pak Rochmat, pendamping Kak Ruri, dan yang didampingin juga ikut minibus 70. Sepanjang jalan kita ngobrol, dan pas nyampe 70, gue baru tau kalo tadi gajadi remed Sejarah dan Geo sama Sosio cuma ngerjain tugas dan PKn gabut soalnya Pak Aprizal ngeremed anak2 yang nilainya kurang hahahahaha senangnya hatiku turun panas demamku~ :"D

Ohiya trus Mtk juga gajadi remed dan deadline puisi buat another lomba gue terselesaikan trus tadi gue dikasih Diary of A Wimpy Kid sama Olla soalnya dia punya dua hahahahahaha tengkyu Olla:)) Terakhir, binder ijo gue yang gue sangka ilang pun ketemu muahahaha.

Considered myself fortunate in misfortune,
Thanks Allah it's Tuesday:)

lundi 29 avril 2013

Bila

Ada banyak yang ingin kudongengkan
Bila kau ada di sini
Tentang kepulan secangkir kopi
dan tetesan embun pagi
juga dering telepon di ruang tamu

Ada beberapa yang ingin kukenang
Bila kau ada di sini
Tentang kicau burung yang melantun tembang merdu
Tentang riang suaramu yang telah lama tidak kudengar
Tentang mawar putih dan rinai hujan
Juga petikan gitarmu di sore hari

Ada sedikit yang ingin kuungkapkan
Bila kau ada sini
Tentang betapa aku mencintai merah cakrawala
Tentang betapa kurindukan teduh mata hitam

Ada satu hal yang ingin kudengar
Bila kau ada di sini
Apakah kau harap aku kembali?

11:43
27/8/13

samedi 27 avril 2013

Sebaiknya Pulang

Ada baiknya, Dik
kau pulang ke peraduan
dan berbelok ke tikungan kecil
tempat ini terlalu keras bagimu
debu menempeli air mata di pipi
yang kauharapkan dapat menyeretnya kembali

Pulang saja sana, Dik
apa gunanya berkeluh kesah?
apa kauharap desau angin mampu menggemakan suaranya?
atau bayangan semu di bawah dahan beringin bisa kausentuh?

Tidakkah sebaliknya kau pulang saja?
pulang... kembali ke cangkang
kerlip ibu kota akan mengaburkan rasa pedih
kau takkan lagi disakiti
seret kakimu akan membawamu
menjauhi kefanaan memori
menjauhi dia yang pergi

Namun kulihat kau masih di sana, pada cerlang senja
merenung dengan rambut digandeng angin
matamu sembab, namun  menyala
punggungmu nyaris sekokoh batu karang di lautan

Jangan menangis, Dik
Jangan menangis

10:26
27/4/13

Tentang Kandang (Dan Beberapa Hal Lainnya)

Heihooo! Apa kabar temen-temen semuaaaa? Pasti pada kangen Echa yaa secara udah beberapa hari tidak bersua *kemudian ngecek blog* *gataunya baru seminggu* *krik*

Jadiii setelah bolak-balik baca buku, ngerjain soal dan PR, nekunin RPUL sampe kepala ngepul, saya putuskan untuk ngeblog aja, in case ada orang di luar sana yang kangen dan ingin melirik dunia yang saya pijaki *duh kumat lagi hakhakhak tolong ambilin obat dund*

Now, mau bahas apa yaaa? Mending bahas tentang kamar. Wetseh kamar emangnya segede apasih kamarmu Ndukkk hahaha. Jawabannya: kecil banget, 3x4. Satuannya meter loh ya, kali yang sentimeter mah namanya pas foto bukannya kamar hahaha *krik* Jadi, apa yang bisa gue lakukan dengan kamar semungil itu? It turns out ada banyak kok hahaha. Tidur makan nulis ngerjain tugas nyantaiii. Wah pokoknya apapun gue lakuin di kamar deh ahahaha.

Barang-barang yang ada di kamar? Cuma beberapa sih. Kasur, meja belajar, rak buku dua, sama lemari. Udah. But they make a whole new world for me. Emang sih gegara sering makan trus jarang nyapu belom lagi kalo ada es tumpah, kamar jadi jorok trus sering banyak semut giduuu hahaha gapapa lah semutnya tau gue jomblo makanya ditemenin *duh* *udah mendingan brenti aja deh baca nih blog*

Oh iya, dengan kamar saya yang semungil itu, emang susah sih untuk bergerak wahaha. Belom lagi ventilasi kecilnya kea telor cicak wakakak. Seringnya sih saya nyalain AC kalo di kamar tapi berhubung konsumsi listrik di rumah terbatas jadi seringnya turun listrik huahaha terus diomelin nyokap deh akhirnya *jedukin kepala ke tembok*

Oh iya. Di sebelah kamar adalah ruang keluarga merangkup ruang tamu jadi haram banget hukumnya ruang tamu diberantakin bisa-bisa muka gue diberantakin juga kalo tamu bokap dateng dan kertas-kertas berserakan. Seringnya gue dan adek nonton TV sampe larut dannn kadang gue suka nonton malem-malem gitu. Kadang bokap ngigo kalo gue nonton midnight movie yang horror di mana lampu di rumah si tokoh kedap-kedip, bokap suka ngomong, "Kamu dugem ya?!" .........

Lalu soal buku. Gue ini bookfreak banget, dan berhubung gue denen bawa buku yang beda ke kasur tiap malem, gue pun melabel diri gue dengan sebutan bookslut. Iya, bookslut. Ada yang salah?

Nah bagaimana cara gue menyesuaikan banyaknya buku dengan kondisi kamar yang sedemikian padetnya? Ya gitu deh. Buku-buku yang ga ketampung di rak ya ditaro di mana-mana. Ga teratur. Sampe pernah pas baru pulang sekolah saking cakepnya, eh, capeknya, langsung blek tidur begitu saja dan kebangun tengah malam dengan perut keroncongan dan leher kretek-kretek. Ga taunya di bawah bantal ada buku Harry Potter enam versi hardcover :')

Ngomongin soal buku nih, buku gue sampe sekarang udah lebih dari tiga ratus jadi bisa dibayangin gimana nyeseknya tidur di kamar dengan space sesempit itu. Tapi gue cuek aja tuh beli buku, bahkan sebulan bisa ngeluarin setengah juta demi beli buku.

Sirik ga sama temen yang kamarnya luas? Buset jangan ditanya ini mah hahaha sirik sekali hahahahaha. Apalagi semalem (dan sekarang) lagi ada di rumah Maria di Kemang yang satu kamarnya bisa muat buat bikin video klip hahahaha. Lo mau jungkir balik kek, pull up di balkon kek, ngapain ajaaa bebas. Beloman lagi tiap kamar di rumah keluarga Maria ada WiFi-nya hahaha aduh norak sekali gue ini yaaa.

Tapi entah kenapa gue ngerasa paling betah di rumah. Lo tau kenapa? Karena kayak apapun rumah lo, rumah adalah hal yang paling lo kangenin waktu lo pergi jauh, dan bakal jadi tempat pertama yang menyambut lo saat lo kembali.

samedi 20 avril 2013

Writing Always Starts Tomorrow?

Ehm, sebelum gue nulis post ini, gue lagi blogwalking and I found something that made me felt like I'd been punched. Ada suatu pertanyaan, "Ada berapa hal dalam hidupmu yang terlewat dari jerat tinta dan hilang begitu saja?"

Rasanya gue langsung jleb dan ingatan gue langsung terbang entah ke mana. Got my memories came in flashback. Gue pun ngetikin komen di blog itu, "Banyak banget." Sedetik kemudian, komen itu gue hapus dan gue nglamun gitu aja.

Jujur aja nih, gue tipikal orang yang suka nunda-nunda. Mungkin secara soalnya bintang gue Libra yang simbolnya timbangan, jadi suka gabisa nyusun skala prioritas hahahaha ngeles tingkat planet ekstraterestrial banget inimah-_-

But that's it. Gue selalu ngestuck wondering, which activity should I do first. Karena kelamaan mikir, seringnya gue gajadi ngelakuin apa-apa. Gue ngerasa rugi banget.

"Demi masa. Sesungguhnya manusia kerugian." -Al-Asr, ayat 1 dan 2.

Gue selalu ngerasa kian rugi tiap baca ulang ayat itu. Betapa gue kerugian karena udah sering nyia-nyiain waktu. Kalo uang lo ilang, lo masih bisa cari gantinya. Lah kalo waktu? Mau malak dari mana hayo?

Dan... gue paling jleb waktu ngait-ngaitin topik itu sama nulis. Kenapa? Karena sebagai anak SMA, sehari gue cuma punya waktu luang empat jam. Pas pulang, gue udah terlalu capek buat ngapa-ngapain. Kalo ada ide baru, gue cuma tulis draft dikit tanpa bikin perwujudan kompletnya. Dan taraaa, idenya jadj bikin jenuh trus kebuang sia-sia aja, deh.

Waktu gue baca ulang autobio gue, itu kerasaaa banget. Ada banyak bagian autobio yang gue copas dari blog, tapi ada banyak juga bagian dari hidup gue yang miss gitu aja; kayak gue yang nyasar di GOR Pasar Minggu pas lomba gegara Pak Fulmer sibuk nawar tukang foto, atau pas gue numpahin es krim Baskin Robin-nya Refal yang baru dibeli seharga 97 ribu.

"Kenapa dulu gue nggak cepet-cepet tulis ya?" It keeps repeating on my mind. Jawabannya, deep down, gue udah tau sih. Karena gue dulu mikir momen itu sepele dan gaada harganya. Padahal, even the tiniest moment can be the most precious story to tell. Dan hanya karena lo nganggep pengalaman lo itu nggak penting, bukan berarti bagi orang lain gitu, lho.

Penyesalan gue yang lain adalah: waktu SMP gue punya waktu hampir dua bulan setelah UN sampe gue balik ke sekolah. Dan dua bulan itu gue laluin gitu aja, tanpa ngerampungin satu project pun! Tiap malaikat kuping kanan gue bisik, "Ayo nulis!" maka gue selalu ngebales, "Besok aja, ah." Terus begitu fasenya sampe liburan berakhir dan gue nggak punya sesuatu buat disombongin.

Well, tapi menyesal itu juga termasuk time-wasting lho, dan karena itu I wrote this instead of regretting, grumbling over myself, or nangis-ing uhuk-uhuk ngabisin bergulung-gulung tisu.

Hayo penulis, berapa lama waktu tersisa? :)

jeudi 18 avril 2013

Unluckiest Day of 2013

Yah, sesuai dengan judulnya, 18 April 2013 so far could be awarded as unluckiest day of the year. Pertamaaaaa, gue bangun kesiangan buat mengerjakan suatu project di rumah Gani di Bintaro. Gue bangun gedebak-gedebuk, dan pas lagi nyalain laptop, gue baru sadar kalo portable charger (buat laptop) gue ilang.

Bentar ya, gue ngelelepin diri ke sumur dulu.

It took almost an hour to find, tapi akhirnya sih gaketemu hahaha ya akhirnya karena HP gue udang krangkring mulu, gue akhirnya dianter ke Bintaro. Gue ke sana cuma sekitar tiga jam, abis ituuu dianter sopirnya Gani pake motor ke GOR Bulungan. Yaa secara gue abis dari rumah temen, baju gue jadi saltum gitu deh. Abisan tadi sebenernya ganiat latihan teater sih. Dan ini sebenernya gue juga ngelawan nyokap, soalnya doi bilang gue langsung pulang aja. Tapiii berhubung gue pimpro, gue ga enak sama Kak Angel, ketua teater gue.

Kita selese latihan sekitar jam 3.30 kan yaaa, dan berhubung lagi ujan dan gue pake baju dari bahan sifon dan gabawa payung, maka gue bareng Wedew yang bawa payung. Di belakang gue ada Anin sama Firda. Pas mau keluar dari GOR, berhubung sempit-sempitan, gue kepisah ama Wedew, dan posisi payung pun ditempati oleh Anin. Hem. Oke.

Gue teriak-teriak dan akhirnya gue pun kepayungan(?) lagi setelah baju gue udah setengahnya basah. Abis ituuu gue nyebrang ke gerombolan bajaj di depan Sevel, secara gue gaenak kalo minta jemput mama Agung, ojek langganan gue. Nah, kan gue minta tukangnya nganterin gue ke Wijaya I, nggak taunya harganya naik jadi 25k. Anjrot. Seandainya kagak ujan, mendingan gue jalan kaki, ngesot kalo perlu, kampret!

Duit gue cuma ada 12.5k, dan akhirnya gue pun masuk Sevel, nelpon mama Agung. It turned out, motor mama Agung dipake anaknya. Gue bel nyokap gue, dan gue pun disuruh pulang. Berhubung gue udah masuk Sevel dan nggak enak kalo nggak beli apa-apa, gue pun beli puding cokelat.

Sialnya, gue ngantre lamaaa banget soalnya kasirnya ilang entah ke mana. Pas akhirnya gue udah bayar, gue pun pergi dari Sevel, dan menghampiri si tukang bajaj sok jual mahal itu, secara cuma dia yang mangkal-___- Saking mangkelnya gueee, pintu bajaj gue buka kelewat keras sampe palang buat parkiran roboh. Wow, besar betul tenaga gue (yang sedang marah). Gue pun naik sambil nyebutin jalan rumah gue.

Pas udah jalan, gue bingung soalnya doi nggak belok ke jalan yang biasa gue lalui buat ke rumah. Gue tegor doi, "Bang, kok lewat sini sih?" Abangnya cuma mendengus ketus gitu. Dihhhh. Dikira muke lu seganteng Dude Harlino kali yee, penumpang kea gue digalakin!!!

Akhirnya gue diem, secara doi keliatannya udah expert banget yekannn. Pas kita terus lurus, gue makin bingung, dan akhirnya gue nekat, "Bang! Kok lurus sih? Mestinya kan belok kanan!"

"Lah, tadi katanya mau ke Wijaya I?"

ASDFGHJKLQWERTYUIOPFFFCKKKK.

"GUE TADI BILANG DAMAI DUA, BANG! SOALNYA DUIT GUE GACUKUP!"

Oke, gue tau yang tadi itu jahat banget but I swore it was outta my control. Si abangnya pun muter balik, dan lo tau apaaaa? MACETTTTTT. Kemarahan gue bercampur dengan sensasi kebelet boker, dan akhirnya gue pun nangis di jalan.

Nggak lama, gue pun nyampe di depan gang, dan gue nungguin nyokap sampe karatan. Secara duit gue gacukup buat bayar. Doi pun dateng dan ngebayarin gue. Pas si tukang bajaj udah pergi, gue baru nyadar sesuatu.

"LOH? HAPE AKU MANA?"

Nyokap panik dan langsung ngomelin gue di jalanan. Gue lari ke tengah jalan. Si bajaj udah raib. Gue periksa plastik Sevel gue.

HP gue ada di sana.

"Hehehehehehe ada deng," gue cengengesan. Nyokap gue siap mengadu muka gue dengan aspal sebagai gilesan.

Gue pun balik ke rumah dan nyampe di sanaaa, gue sadar kalo kacamata gue gagangnya patah.

Sekian dulu kesialan gue. Gue mau lanjutin nangis dulu, ya. Dadah.