jeudi 11 juillet 2013

Maura vs. Lampu Disko


Hi guise! Berhubung lagi puasa, stop dulu ya cerbung-cerbung romance yang mengundang syahwat(?) atau air mata. Jadi, di bawah ini ada cerpen yang gue ikutin dalam lomba "Aku dan Guruku"-nya majalah kaWanku, kalo nggak salah sekitar sebulan yang lalu. Idenya sih gue dapet pas kelas 8 di SMP, dengan kumpulan kejadian yang gue rekatkan dalam paragraf padu biar "boom" kesannya. So scroll your page and enjoy this breakfast! :D

***

"Maura! Senia! Kalian nggak dengar bel dari tadi, ya?!"


Aku menciut di balik punggung tegap Maura, dan dengan berani, sahabatku itu nyelonong masuk ke kelas, langkahnya yang panjang membuat belahan roknya jelas terlihat. Di hadapan kami, pupil mata Pak Idris membesar, dan sekilas beliau tampak seperti paus pembunuh.

"Sori Pak, tadi kita abis dari toilet, hehehe." Maura mengibaskan rambutnya yang kemarin baru dicat cokelat gelap.

"Oooh, bapak baru tau tukang siomay sekarang mangkal di toilet," sindir Pak Idris, mengerling sebungkus siomay yang terselip dalam saku kemeja Maura. "Kalian berdua bisa keluar sekarang, dan jangan ikuti pelajaran saya, kecuali dengan surat orang tua dan wali kelas. Mengerti?"

Tubuhku seketika lunglai, dan aku masih maju untuk berkompromi dengan Pak Idris ketika Maura menarikku langsung ke luar kelas. Gaya Maura begitu santai, sama sekali tak menunjukkan gestur menyesal. Tentu Maura sama sekali nggak merasa bersalah karena ini sudah kali keempat ia dikeluarkan dari kelas, kedua kalinya oleh Pak Idris sang guru PLKJ. Sedangkan aku? Jujur, ini kali pertamaku.

"Pak Idris kayak nggak pernah muda aja deh, strict banget sama peraturan," gerutu Maura jijik.

"Kita yang salah, Ra," gumamku pelan.

"Kok kita, sih? Salahin ibu kantinnya dong, lama banget ngelayaninnya! Uh, tapi tetep aja Pak Idris yang paling salah! Kolot banget sih jadi guru," Maura meneruskan omelannya, "ah, bodo amatlah tapi. Yuk, mending kita ke kantin lagi!"

Bicara soal Maura dan Pak Idris memang nggak ada habis-habisnya. Gosip mereka tersebar di sekolah, pertikaian antara "calon menantu" dan "calon mertua". Yah, siapa sih yang nggak tahu, Maura yang 11/12 sama Miranda Kerr itu naksir Fahmi, anak Pak Idris yang seangkatan dengan kami, yang mukanya nggak kalah ganteng dengan Sebastian Vettel? Dalam setiap kesempatan, Maura dan Pak Idris seringkali beradu tatapan maut di kelas, dan seakan itu belum cukup, Maura juga menciptakan nama baru bagi guruku, yaitu Pak Lampu Disko. Katanya sih, karena kepala Pak Idris yang botak bling-bling kayak lampu disko.

Masalahku dan Pak Idris selesai keesokan harinya, dengan surat yang ditandatangani ibu dan Bu Veni, wali kelasku. Mereka sempat nyinyir meyindirku, mengatakan bahwa, "Maura bawa pengaruh buruk buat kamu, Senia." Aku cuma menjawabnya dengan kedikan bahu.

"Sen, kamu udah bikin surat permohonan maaf buat Pak Idris?" tanya Maura begitu aku masuk kelas.

"Udah, lah, plus bonus semprotan yang pahit banget. Kamu, Ra?"

"Belom, nih, nyokap masih di Spore. Bokap? Gila, bisa-bisa gue dilelepin ke sumur kalo doi tau!"

"Lho, berarti hari ini, kamu nggak bisa masuk kelas, dong?"

"Nggak, dan emang nggak niat juga. Diawali PLKJ, diakhiri Matematika, kurang bikin enek apa coba. Udah ya, aku cabut dulu, mau ke kelas Fahmi nih." Maura mengedipkan sebelah matanya padaku, meraih tas Louis Vuitton-nya yang senada dengan kuteks pink manyala yang ia pakai hari itu.

"Pantes, hari ini hebring banget penampilannya," aku mengulum senyum, agak geli juga dengan kebulatan tekad Maura.

"Hari ini dia emang ngajak aku jalan, sih. Dan, coba tebak, aku udah bawa brownies buat dia!" Maura terkekeh. "Daah, Senia! Have fun sama Pak Lampu Disko!"

Menggelengkan kepala, kuputuskan untuk menghadap Pak Idris sendirian.

"Maura mana?" Begitu pertanyaan Pak Idris saat aku menyerahkan suratku.

"Oh, eum, belom dateng, Pak," ringisku. Pak Idris cuma menghela napas panjang sebelum menyuruhku duduk.

Namun Maura juga nggak masuk keesokan harinya, dan dua hari berikutnya. Ini membuatku agak khawatir. Tiap Bu Veni bertanya, selalu kujawab dengan gelengan kepala. Sudah berkali-kali Bu Veni menelpon orang tua Maura, tapi tak pernah diangkat.

Hari Senin, barulah batang hidung Maura terlihat, dan ia kelihatan sedih. Kantung bergelantungan di bawah matanya, dan rambutnya tampak kusam, seakan belum disisir.

"Hei, Ra! Gila, tiga hari sob, tiada kesan tanpa kehadiranmu!" Aku tersenyum riang.

Maura melirikku sejenak, lantas berdiri dan tertawa sinis. "Kamu pasti seneng, ya? Kamu pasti ngerasa menang, kan?"

"Lho, maksudnya?"

Pertanyaan itu diabaikannya, dan ia melengos, mengangkat tas, dan pindah ke deretan kursi paling belakang, habitat cowok-cowok menyebalkan. Aku duduk sendiri, berusaha memahami apa yang salah. Kenapa Maura marah padaku?

Selama satu minggu, aku sama sekali tak bicara dengan Maura. Dia sekarang lebih sering nongkrong dengan gerombolan cowok di baris belakang, lebih acuh pada pelajaran, dan nilainya pun lebih anjlok dari biasanya. Meski merasa nelangsa, sebaliknya, nilaiku membaik dan guru-guru kembali memujiku.

Kelakuan Maura kian menjadi-jadi. Seminggu sebelum Ulangan Akhir Semester, bisa-bisanya dia membolos! Dia tidak pulang ke rumah, dan ini membuatku agak geram.

"Senia, kamu tahu ke mana Maura?"

Aku mendongak, dan mendapati Pak Idris berdiri di ambang kelas. Ini hari Jumat, dan Senin, kami akan menghadapi UAS. Aku agak kaget melihat beliau yang notabene kerap menyindir Maura sebagai contoh kenakalan remaja mengerikan tiba-tiba peduli.

"Umm, saya juga nggak tau, Pak. Orang kartu peserta UAS-nya aja dititipin ke saya," aku mengakui, melambaikan kertas kartu UAS Maura.

"Oooh, begitu. Tolong hubungi dia ya, Senia, kamu kan sahabatnya." Pak Idris tersenyum kecewa sebelum berlalu.

"Uh, dasar Pak Idris. Giliran ada diomelin, nggak ada dicari-cari," rutukku seraya kembali membenahi properti. Dalam ruang kelas ini, tinggal aku yang belum pulang.

"Hayo, ngapain ngomongin bokap gue?"

"HUAAAA!" Seketika aku memekik. Kepala Fahmi menyembul dari balik pintu, tertawa melihat kekagetanku.

"Fahmi, nggak lucu tau!"

"Lucu banget, sih. Bukan tentang bokap gue, tapi muka lo." Fahmi kembali tertawa. "Eh, lo udah siap, belom?"

"Siap?" ulangku heran. "Siap ngapain?"

Ekspresi Fahmi mengeras. "Maura nggak ngasih tiketnya ke lo?"

"Tiket apa sih, Mi? Gue nggak ngerti."

"Dua minggu lalu, gue nitipin tiket ke Maura. Tiket nonton konser. Maksud gue kan..." wajah Fahmi memerah sedikit saat ia melanjutkan agak gagap. "Maksud gue, refreshing gitu lho, biar UAS kita lancar."

Aku agak kaget, dan pemahaman asing terbit di otakku. Tentu saja selama ini Maura kelihatan marah padaku.

"Maaf ya, Sen. Harusnya tiket itu gue kasih langsung ke lo. Gue terlalu takut sih abisnya." Ia terkekeh lagi.

"Oh, kenapa minta maaf?" sahutku ringan. "Memangnya, refreshing harus dilakukan dengan nonton konser? Nggak, kan?"

Fahmi mendongakkan kepalanya, dan tersenyum, aku menghampirinya, dan kami jalan-jalan keluar sekolah bersama. Cuma kegiatan kecil sih, makan es krim di kedai seberang SMP. Namun rasanya, spesial kalau dilakukan dengan Fahmi.

"Kenapa lo takut ngasih tiketnya langsung ke gue?" celetukku di tengah obrolan tanpa sekat kami.

Wajah Fahmi mengkeruh. "Soalnya lo nggak terlalu kenal gue, dan bahkan malah dibilang cuek. Lo nggak pernah nyapa gue duluan, nggak pernah notice kehadiran gue. Yang kayak gitu malah Maura."

"Maura naksir sama lo," ujarku datar, "dia sampe musuhan sama bokap lo gara-gara hal itu."

"Gue tau, kok. Maklumin aja deh, bokap gue emang kayak gitu. Kelewat protektif, cenderung maksain kehendak. Makanya kakak cewek gue kabur dari rumah, gara-gara sikap bokap yang berlebihan. Gue lebih ngerasa kayak merpati yang dikandangi alih-alih anak," kisah Fahmi. "Lo sendiri, gimana? Ortu lo ngeselin, nggak?"

"Nggak terlalu. Gue get along sama mereka. Tegas, tapi ngasih gue kebebasan untuk memilih. Yang penting gue konsisten dengan komitmen, konsisten dengan pilihan gue."

Fahmi cuma mengangguk, dan kami melanjutkan kegiatan makan es krim tanpa obrolan lebih panjang. Setelahnya, Fahmi membayari es krimku, dan kami kembali berjalan ke sekolah.

"Fahmi! Dari mana aja kamu?" Tiba-tiba muncul Pak Idris, menjinjing tasnya, wajahnya memerah. Jelas-jelas beliau sudah menunggu Fahmi sejak tadi.

"Makan es krim," jawab Fahmi jujur.

Pak Idris menatapku sekilas, wajahnya memucat.

"Ayo pulang, Fahmi! Cepet, masuk mobil!"

Tanpa daya, Fahmi menuruti titah ayahnya, masuk ke Sedan biru itu. Pak Idris juga naik, mengendarai mobilnya dengan ngebut sementara aku cuma berdiri mematung, memikirkan masalah yang kira-kira akan terjadi.

Masalah itu datang pada hari Kamis, sehari sebelum pekan UAS berakhir. Kelasku kebetulan diawas oleh Pak Idris, dan seperti biasa, aku yang selesai paling akhir. Saat aku menyerahkan kertasku, Pak Idris mencekal tanganku.

"Jumat lalu, kamu ngapain saja dengan anak saya?"

Agak gagap, aku menceritakan yang sebenarnya.

"Saya nggak tahu apa rencana kamu, tapi tolong jangan dekati anak saya, oke? Kamu anak pintar, dan baik, Senia, saya tahu itu. Saya sayang kamu dan Fahmi, dan saya nggak ingin nilai kalian anjlok gara-gara..."

"Saya sama Fahmi cuma berteman, Pak, nggak lebih," ujarku tertahan, dan gatal untuk bertanya, "Lagi pula, apa hak bapak mencampuri segala urusan Fahmi? Maksud saya, dia udah kelas 10, dia berhak punya privasi. Saya tahu sih bapak ini orang tuanya, tapi kasihan Fahmi, Pak."

"Kamu baru 15 tahun, Senia, nggak tahu apa-apa soal mendidik anak." Pak Idris mengibaskan tangan. "Sudah, mendingan kamu pulang, sana."

Terlalu marah untuk berbasa-basi, apalagi mengucapkan salam, aku keluar dari kelas, membanting pintu tepat di depan muka Pak Idris. Masa bodoh, dasar Lampu Disko nyebelin...!

Kekesalanku dengan Pak Lampu Disko membuat masalah Maura yang masih hilang jadi agak terabaikan, dan aku baru mengingatnya lagi saat Fahmi tergopoh-gopoh datang ke kelasku keesokan harinya.

"Senia! Ya Tuhan, gue nyariin lo ke mana-mana!"

"Kenapa, sih?" tanyaku, agak ketus.

"Maura. Kemarin gue ngeliat Maura lagi nongkrong gitu. Gue pikir lo nyari dia."

"Gue emang nyari dia," tandasku, "lo tau tempatnya di mana? Mau nganterin gue nggak?"

Fahmi mengangguk, dan berdua, kami naik taksi ke jalan yang agak terpencil, dan di ujungnya, ada sebuah kafe kusam. Kafe itu kosong, namun tawa cekakak memenuhi udara, dan itu adalah tawa Maura. Dan benar dugaanku, Maura ada di pojok kafe, bersama gerombolan cewek dan cowok yang rambutnya sama-sama dicat sepertinya. Beberapa cowok nangkring di atas motor, asyik merokok.

"Maura!" seruku.

Yang dipanggil menoleh, dan ia berdiri.

"Eeeeh, Senia, pasti baru jadian sama Fahmi, ya?"

Aku mengabaikan yang barusan. "Maura, yuk, kita pulang. Balik ke sekolah kalau nggak. Kamu mesti ngurus surat buat UAS susulan."

"Males, ah, mending gue di sini aja," Maura mencebik.

"Guru-guru pada sibuk nyariin kamu, Maura. Bahkan Pak Idris juga," ujarku kalem.

"Dan bisa-bisa lo nggak naik kelas kalo nggak ikut susulan," Fahmi nimbrung.

"Masih peduli soal nilai? Mending foya-foya! Ayo, Sen, Mi, rokok itu ternyata enak, lho."

"Kami antirokok, sori," tolak Fahmi tegas, dan rupanya ia salah langkah karena beberapa teman Maura berdiri, banyak yang membawa gir dan senjata tajam.

"Sok suci banget sih temen lo, Ra," celetuk salah seorang di antara mereka.

Baik aku dan Fahmi mundur, alarm otakku meraungkan tanda waspada. Orang-orang itu, yang memakai seragam dari SMA beragam, maju dan memamerkan senjata mereka. Aku dan Fahmi lari, bahkan Maura juga ikutan lari, raut wajahnya tak tertebak.

"Hei, kalian!"

Fahmi menoleh dan langsung menarikku. Aku menarik Maura, dan kami berlari tunggang langgang ke mobil Pak Idris, masuk ke dalamnya. Pak Idris langsung melepas rem dan menjalankan mobilnya, mencoba tidak menabrak siapapun yang sudah meretakkan kacanya dan mematahkan spionnya. Kalau boleh kuakui, sekilas dia tampak sekeren pengendara F1 di lintasan balap.

Kurang dari lima menit, kami sudah sampai dalam lingkup sekolah, dengan mobil polisi terparkir di halamannya.

"Alhamdulillah," gumam Pak Idris, "kita selamat. Kalian nggak apa-apa kan?"

"Nggak pa-pa kok, Yah," tukas Fahmi, sama kagumnya denganku.

"Baguslah. Ayo, kalian ke UKS dulu, minta bikinin teh, ya. Habis itu, kita ke kantor kepsek, dengan catatan kalian sebagai saksi."

Kami mengangguk, dan aku sampai harus menarik Maura yang kelihatan seperti boneka kain, memaksanya minum untuk menenangkan diri, dan ke kantor kepsek sesuai permintaan Pak Idris. Aku dan Fahmi saja cuma bisa menunduk, apalagi Maura. Ia sama sekali nggak berani menatap para guru yang mengelilingi kami seperti hakim, siap menjatuhkan tuntutan.

"Fahmi dan Senia, kalian bisa pulang sekarang, tapi kamu, Maura, kamu masih harus tinggal di sini," demikian kata Pak Kepsek. Mengangguk patuh, aku dan Fahmi berjalan beriringan ke luar kantor.

"Persidangan" Maura memakan waktu nyaris satu jam, dan begitu Maura keluar pada akhirnya, ia memelukku dan menangis di bahuku.

"Kenapa, Ra?" tanyaku lembut, menepuk-nepuk punggungnya.

"Gue... hampir dikeluarin dari sekolah, Sen. Hampir. Terus... Pak Lampu Disko nyuruh gue ngomong, nyuruh gue cerita, dan doi ngebela gue," isaknya, "gue jadi ngerasa bersalah banget, Sen. Dan maaf ya, kemarinan gue ngejauhin lo. Gue cuma stres, soalnya ortu gue mau cerai, dan gue nggak punya siapapun buat cerita."

"Lo punya gue buat jadi tempat penampungan unek-unek, Ra, jangan khawatir. Besok lo minta maaf ya, sama Pak Idris, bilang makasih juga. Beliau kan, udah ngebantuin kita."

Maura mengangguk lirih dan cuma melanjutkan tangisnya. Aku mendongak dan menatap Fahmi, dan tanpa menyuarakannya, kami sama-sama membuat pakta dalam hati, untuk membuat kejutan bagi Pak Idris.

dimanche 7 juillet 2013

Madam Tralala-Tralili

Anyway, ini salah satu cerpen dalam buku kumcer yang pernah kukirim DAN ditolak huahahaha. Itu pertama kalinya saya ditolak dan jujur, rasanya biasa-biasa aja soalnya seminggu sebelumnya baru ditolak cowok pas SD HAHA *eh *kok buka kartu. Mungkin saya nggak ngerasain apa-apa because I wrote it murni karena passion yang menggebu dan berapi-api dan nafsu menunjukkan diri yang menuntut untuk dipenuhi. Begonya tuhhh setelah mendapat surat maaf-naskah-Anda-belum-memenuhi-kriteria, file kumpulan cerpennya ilang. Iyak, ilang, dan cuma cerpen ini yang selamat dan gue tulis ulang, karena gue hafal sampe titik dan komanya saking sukanya.

So here goes my short story! Just like you see; it was written childishly yet genuine. No words edited, so from here you could discover the earlier version of my writing! Last but not least, and for you to know: I never regret this story left unpublished.

***

“Tetangga baru Hana di rumah nomor lima belas itu benar-benar menyeramkan! Seorang wanita paruh baya yang suka marah-marah sendiri tanpa sebab! Bahkan, dia itu udah kecanduan daging manusia, sehari nggak makan daging manusia dia bisa pusing! Wah, benar-benar menyeramkan, deh!” cerita Doni menakut-nakuti Tina dan Slivi. Tina dan Silvi saling berpelukan erat mendengar cerita itu. Doni dan Adam makin bersemangat ngerjain mereka. 

“Kalian ngomongin tetanggaku, ya?!” Hana melotot garang kearah Doni dan Adam begitu ia sampai. 

“Iya, Han! Siapa tuh, namanya, Madam…,” Adam mengingat-ingat. 

“Yang benar Madam Scarlett. Beliau itu orang Belanda. Dulu, kakeknya salah satu kolonial Belanda yang menangkap rakyat-rakyat Indonesia,” jawab Hana sambil mengudap makanan ringan. 

“Tuh, kan! Pasti dia itu serem, deh!” Tina sepertinya udah terpengaruh sama omongan Doni dan Adam. 

“Siapa bilang? Eh, jangan suka ngegosip! Hari gini, cowok masih ngegosip? Apa kata dunia? Kenapa nggak sekalian aja kamu pake rok dan ikut arisan sama emak-emak? Hahaha!” Hana tertawa terbahak-bahak. 

“Bukan gosip, Han! Tapi ini tuh, kenyataan! Iiih, kalau kita nggak bergerak cepat, kamu bisa-bisa menjadi kambingnya yang pura-pura disayang tapi mau dimakan, Han!” kata Doni serius. Hana ketawa ngikik. 

“Jangan suuzon kamu sama orang!” Hana makin kencang ketawa. 

“Ih, Kak! Ada-ada aja, deh, Kak, temanku itu! masa Tante Scarlett dibilang kanibal coba, suka makan daging manusia!” cerita Hana malam harinya pada kakaknya, Hani. “Trus, kamu percaya, Han?” tanya Hani.

“Ya enggak lah! Zaman sekarang kan, zaman modern, Kak! Bukan lagi zamannya percaya sama yang begituan!” cetus Hana. 

“Zaman modern sih, modern! Tapi kan, nggak menutup semua kemungkinan, kan, termasuk kalau Tante Scarlett itu kanibal?” tukas kakaknya. 

“Eh, aku nggak kepikiran sampai ke situ, lho!” Hana baru sadar. 

“Nah lho? Baru kepikiran, kan?!” Hani mengerlingkan matanya jenaka. 

“He-eh…,” Hana sekarang berpikir. Kemudian, Hana berbalik menuju kamarnya sendiri. Otaknya terus dan terus berputar. Perkataan si Kakak mengiang di kepalanya. Bener juga sih. Meskipun udah zaman modern, tapi tetap aja masih banyak ilmu hitam di muka Bumi ini. Ia mengempaskan badan ke ranjangnya yang empuk, kemudian memeluk boneka babi pink-nya. Hmm, jadi sekarang, bagaimana sebaiknya? 

Tapi sebelum Hana menemukan jawabannya, handphone Hana berbunyi dering yang keras dan centil. Dari Doni. 

“Halo, assalamu’alaikum,” sapa Hana. 

“Wa’alaikum salam, Han, eh, tau nggak, katanya Adam, tadi dia ngeliat tetanggamu, si Tante Scarlett-scarry itu bawa-bawa bungkusan gede. Adam curiga, jangan-jangan isi tuh bungkusan mayat, lagi!” dengan lancarnya Doni bercerita di ujung sana. 

“Ah, masa sih?” Hana mulai agak terusik hatinya mendengar kata “mayat”. 

“Ih, mendingan kamu periksa, deh! Please, Han, sana, liatin dong!” Doni jadi dongkol bercerita dengan Hana. 

“Nggak ah! Malem ini kan, malem Jum’at!” tolak Hana. 

“Ya udah. Kamu tungguin di teras rumahmu, ya. Aku dan Adam mau kesana, mau nyelidikin tuh manusia kanibal!” seru Doni. 

“Eh, Don, tadi waktu kutanya kakakku, katanya, meskipun sekarang zaman modern, tapi ilmu hitam yang gunain mantra-mantra kayak Tante Scalett itu masih ada, lho!” cerita Hana. 

“Tadi nggak percaya! Udah deh, Han! Sana, tungguin di teras rumahmu, aku dan Adam mau kesana, jam delapan, ya!” kata Doni sambil menutup telpon. 

Hana menggerutu sendiri, kemudian ia memakai jaket dan pergi ke teras rumah-nya, duduk dan menunggu Doni dan Adam datang. Beberapa saat kemudian, pukul delapan tepat… 

“Hana…!! Assalamu’alaikum!” seru dua orang cowok yang menaiki sepeda sambil melambai-lambaikan tangannya. 

“Eh, Dam, Don!” Hana cepat-cepat membuka pintu gerbang rumahnya itu. 

“Rumahnya Tante Scarlett serem banget!” kata Adam sambil celingak-celinguk meneliti rumah Tante Scarlett yang besar dan bercat coklat. Hanya ada satu lampu yang menyala di ruangan itu, yaitu lampu di kamar dekat jendela. 

“Kamu nih, ada-ada aja nuduh orang! Mana mungkin Tante Scarlett bawa-bawa mayat ke rumahnya?!” Hana menyentil telinga Adam. 

“Ih, nggak percaya, nih! Ayo kita buktiin! Kita masuk kedalam rumahnya Tante Scarlett!” Doni mulai takabur. 

“Nggak mau ah! Udah setres kamu? Aku sih, masih sayang nyawa, ya!” Hana betul-betul ragu. 

“Jadi ceritanya kamu takut, nih?” Adam tersenyum menantang. Hana menghela napas panjang. Kini ia terdesak mesti mengangguk dan menjawab “ya”. Terpaksa, sih. Daripada setiap malam ia nggak bisa tidur gara-gara mikirin Tante Scarlett. 

“Oke, aku ikut.” Akhirnya Hana menjawab dengan perlahan. Tapi kini ia mulai deg-degan sendiri. 

“Jangan takut, Han! Nanti kamu di tengah, kan kamu cewek sendiri!” kata Doni menenangkan. 

Krieeet…! Pintu gerbang rumah Tante Scarlett yang luas itu mulai terbuka. Adam yang membukanya. Dan di dalam rumah yang besar itu, ketika mereka masuk, anjing Tante Scarlett, Bruto, menyalak-nyalak. Tapi begitu mendengar suara teriakan si majikan dari lantai atas, Bruto berhenti menyalak dan mulai tenang. 

“Don, Dam, ada yang ngintip kita dari atas!” bisik Hana, jantungnya berdetak tak keruan. Doni mendongak. Benar aja, ada setengah raut wajah yang terlihat dibalik tirai dari kamar atas. Lampu kamar itu menyala, dan mata dari raut wajah itu merah menyala, serem… 

“Bersiap-siaplah, kita masuk!” Adam mengetuk pintu. 

“Bismillah hirrahmanir rahim…,” gumam Hana. Anehnya, pintu rumah itu terbuka sendiri. Di dalam rumah itu SAMA SEKALI nggak ada tanda-tanda kalau pernghuninya pemakan dagin manusia atau apalah itu. Rumahnya apik, meskipun menyeramkan dan semua perabot serba berwarna coklat. Tapi, begitu Doni melihat ke meja makan, ia langsung muntah. 

“Uweeeek…!!” Doni mengeluarkan cairan menjijikan dan suara gemuruh yang menyeramkan. Spontan Adam dan Hana menghampiri Doni yang kini bertumpu pada kedua lututnya. 

“Kenapa, Don?” tanya Hana cemas. 

“Itu…,” Doni tak mampu berucap apa-apa. Adam dan Hana juga ikut melongok ke meja makan. Ternyata yang membuat Doni muntah itu…Di mangkuk ada sup belatung dan kuah darah, serta di piring ada kepala tikus bakar! Uweeek…! Ih, jijik! 

Hana mundur selangkah menjauhi meja makan. Nggak sopan muntah di rumah orang lain, menurutnya. 

“A…ayo ki…kita periksa ruangan lain!” ajak Hana yang nggak mau muntah. 

Kemudian, mereka bertiga masuk kedalam sebuah kamar. Di kamar itu, setelah dinyalakan lampunya, ih, serem banget! Ada sebuah ranjang keras sekeras kayu dengan seprai, sarung bantal-guling serba hitam dengan gambar tengkorak yang disilang tulang dengan mata merah menyala. Bahkan, semua furniture di kamar itu berhiaskan tengko-rak. Hiyyy…! Membuat bulu kuduk semua orang biasa yang melihatnya berdiri dan menjerit lalu lari tunggang langgang. 

“Han…, Don…, ayo keluar…Bulu kudukku udah nggak mau diajak kompromi, nih!” kini Adam mulai ketakutan. Tengkorak adalah benda yang paling ampuh untuk menakut-nakutinya. 

“Nah lho, mulai ketakutan, kan?! Makanya jangan takabur jadi orang!” nasehat Hana puas melihat kesusahan dan ketakutan Adam. 

“Iya, deh, Bu Guru…! Tapi, kita pergi, dong, dari kamar ini!” Adam meremas kaos Doni. 

“Oke!” sahut Hana dan Doni menyanggupi. 

Mereka bertiga keluar dari kamar yang scarry itu. Kemudian mereka kembali berjingkat-jingkat mengendap-endap menaiki tangga yang udah reyot dan berbolong itu. Ih, Tante Scarlett, punya rumah guedde, tapi kok, nggak diurusin ya? Sayang-sayang banget deh… Dan ketika mereka sampai diatas, suasananya lebih nggak enak lagi. Kali ini, nuansa kedukun-dukunan mulai terasa dan merasuki jiwa mereka. Ada sebuah meja berdebu yang atasnya menonjol dan ditutupi kain biru pekat yang berdebu juga. Hmm, kira-kira isinya apa, ya…? Ikuti terus petualangannya! 

“Eh, gelap nih!” gerutu Adam. 

“Tenang, aku bawa senter.” Hana menyalakan senter yang tadi dibawanya. 

“Meja apaan, tuh?” Doni mendekati meja itu. 

“Bendanya pasti bulat!” kata Hana setelah meraba-raba kainnya. 

“Coba buka, Don!” seru Adam menyuruh. 

“Kok aku, sih?!” 

“Udah deh, ah! Kalian ini kan, cowok, masa ngebuka kain ini aja takut! Biar aku yang buka!” Hana maju selangkah mendekati meja itu. Kemudian, ia menarik kainnya, dan ternyata, sebuah bola bening dari kaca. 

“Lho, ini kan, bola yang sering ada di film-film itu, kan?” Adam terperanjat. 

“Nah, ketauan sekarang, kamu pasti suka nonton film yang aneh-aneh, ya!” Hana iseng. 

“Kayak bola yang buat ngeramal itu, kan?” Doni menambahkan. 

Triiing…!!! Tiba-tiba bola itu menyala, bersinar seperti sambaran kilat, kemudian tampaklah wajah seorang wanita gendut bertampang galak dan menyeramkan, alisnya melengkung marah, matanya merah, hidungnya runcing, rambutnya bob dan menggembung. Jangan-jangan, dia itu… 

“Tante Scarlett?!” Hana, Doni, dan Adam terpekik. 

“Kalian sudah berani masuk ke rumahku tanpa izin, ya! lihat saja, kutukanku akan segera menimpa kalian! Kalian akan kusihir menjadi lutung nanti malam! Lutung, tetapi bisa bertelur!!” Mata Tante Scarlett melotot. 

“Ampuuun…, Tante, eh, Madam Scarlett!” Doni dan Adam berlutut pada bola itu. 

“Akh, daripada jadi lutung, mendingan aku…KABUUUR…!!!” Hana berlari meninggalkan Doni dan Adam. 

“Eh, Hana! Tunggu kami!” jerit mereka berdua. Tapi, Doni dan Adam sudah terpojok. Ditambah lagi ada angin kencang berembus, lalu datanglah seorang wanita seperti yang ada di bola kristal tadi. Ia melotot sambil tertawa keras bak nenek sihir. 

“Hahaha…!” tawanya kencang. 

“Aaaa!” jerit Doni dan Adam. Mereka saling berpelukan. Bahkan, mereka sampai, pipis di celana saking takutnya! 

Kini Hana sudah tak bisa lagi menahan tawanya. 

“Hahaha…!!” tawa Hana, kemudian naik ke atas lagi. Disebelahya ada Tante Scarlett dengan senyuman yang lebar. 

“Eh, lho, Hana kok, enggak kabur?” Doni bingung. 

“Dasar kalian! Hahaha…! Emang enak dikerjain? Kalian tuh, cuman aku kerjain, tau!” Hana tertawa makin kencang. 

“Hah? Terus, gimana yang tikus bakar dan sup belatung itu?” Adam terheran-heran. 

“Cuma lilin,” kata Tante Scarlett sambil merangkul mereka. 

“Lalu, angin yang tadi berembus kencang, furniture berhias tengkorak, lalu bola kristal yang bisa menyala?” Doni makin bingung. 

“Ada trik-nya, dong! Itu semua alat-alat yang digunakan untuk membuat film horor. Tante Scarlett kan, punya adik sutradara film! Iya kan, Tante?” jelas Hana sambil menengok Tante Scarlett. 

“Terus, kantong yang gede itu? Bukan mayat?” tanya Adam. 

“Itu kantong berisi alat-alat ini! Alat-alat untuk mengerjai kalian!” Tante Scarlett cekikikan. 

“Ja…jadi…Tante Scarlett itu…, bukan Madam Scarlett atau manusia kanibal?” Doni dan Adam saling berpandangan. 

“Hah? Madam Scarlett? Madam Tralala-Tralili, kaleee…!!!” Hana kini sampai memukul-mukul meja saking gelinya. 

Doni dan Adam malu, karna mereka udah ngarang cerita yang enggak-enggak tentang Tante Scarlett. Padahal, Tante Scarlett wanita yang keibuan dan baik hati pada anak-anak. Nah, ada pelajarannya juga, nih! Kalian yang lagi baca ini, jangan lupa tentang pelajarannya, yaitu… JANGAN MENUDUH SEBELUM MELIHAT BUKTI !!!

dimanche 30 juin 2013

Deja Vu

So here goes my dream: I am standing on a tunnel, my car parked beside me. Another car stops by, and Andrew Sullivan steps out. I don't remember, or hear, what I am saying; my dream always goes like an echo. But I can see, Drew takes a step closer toward me, arms wide open, and suddenly I bury my head on his chest, my arms hanging freely. I see Drew pat my shoulder, strokes my hair with his warm, gentle hand, and I smell his perfume, like sea breeze and a little bit pine.

I hear a ringtone, too, and I think it will end immediately. It turns out not. I watch the me standing in Drew's arms answers the call, which is from Brit.

"You are a bitch. No more than a bitch. Keep that in mind, bitch."

And strange, I watch the me inside Drew's hug is laughing, and I realise, and know, why. Because there's nothing matters as long as Drew is here. I see Drew breaks the distance between us, I see me tilts my--or her--head, and Drew's full lips suddenly on mine.

Maybe it's not dream. Maybe I won't ever wake up. Just like Brit, even though a meteor crashes this planet we step on, I won't care at all. What really matters to me is Drew is here, and he tightens his hug. Nothing can break this moment, nothing.

Nothing but....

"Piper! Wake up, honey!"

I shut my eyes open, regret it almost immediately because sunshine blinds them. I am breathing heavily. My mom just opened the curtain, one thing I always hate yet she never stops doing.

"Morning, sunshine. Let's blind the world with your light!"

It's always been  her mantra. She says it whenever I wake up or get my hope down. She once said it had been her mother's mantra, too, and I can't help it but favourite that quote. My mom, a poetic single mother who always believes in magic and fairytale. She's that kind of hopeless romantic woman, too, she's always been, even after she met my father, caught a spark of temporary summer romance, so in love that he got her pregnant and ran away after he knew it.

She admitted he called her twice or trice when I was in 4th grade, and I was so curious about how it felt having a dad, so we met, for the first time of my life, in NYC. He brought his lovely bride-to-be, and my mom ended up crying along the road home. That was when I swore I wouldn't ever call my father again, when I swore that life could be so harsh, but as long as I had my mom, I wouldn't ever cry.

"Ready to shine their way?" my mom asks, throwing herself on my bed. She looks at me carefully, and asks again, "Hey, you look so pale."

"I'm okay," I say.

"Having a fever?" She put his back hand on my forehead and shrugs. "No, not fever. Getting anxious because you're meeting Drew today?"

"I'm not being... hey, how could you know I'm going to meet him?" I wrinkle.

"A momma's instinct," she answers cheerfully as she gets up and dances around my bedroom, "I lie, of course. Drew called couple of minutes ago. He said he and Brit would be here in..."

Precisely after that, the knocks on the door startles me. My mom smiles knowingly at me.

"Get out of bed and get dressed! I'll meet them and see what kind of flower he does bring..."

"Mom!"

"I was joking, of course, joking," she manages a laugh while I bang my bathroom door locked. I shower as quick as I can and rush to my wardrobe. Luckily I'm not picky about choosing what to wear, what could I reach is what I will wear.

I grab a scarf and linger it around my neck, and have no time to care about shoes. I wear pair of my favourite ones carelessly and go to my family room.

And here they are. Brittany Mason, the prettiest girl in school, and the hottie Andrew Sullivan.

My mom knows them so well, so I'm not shocked they laugh as if they were on the same line. Sometimes my mom is being so ridiculously childish, and people tend to see her as my sister instead of mother. I couldn't blame them really. We only have 17 years difference.

"Hey, Pipe," Drew smiles at me, "just calm down."

To my surprise, he wears the same clothes as I saw in my dream. White Polo t-shirt, mud black denim jacket, torn jeans, and shoes he always wears on the football yard. And the cap... there it is, on his lap. Watching him that way makes me sweaty.

And Brit, well, if she appeared in my dream wearing the same clothes, too, without doubt I'd have called her the boss of the bitch. She's wearing crop top and hot pants as if it's summer already. Her hair pulled back into a messy bun, though I still notice her new bleaching experiment. Purple today.

Brit. Gorgeous as always, and as long as I remember... yes, she's never been ugly.

"Piper! Uh, finally! Let's get out of here!" Brit stands and grabs my arms, her habit.

"Yes, get out of here, honey. Remember the curfew, okay? And here is your key." My mom hands me our old Volkswagen key.

"What?"

"Daddy's angry somewhere over there, he still couldn't deal with my scores last term. So, you can guess..." Brit rolls her eyes.

"He didn't allow you to get your car," I continue with a nod. It's not hard to guess, and I prefer to take it easy. "Let's go, then."

We go outside and I chill. It's March, one of my preferable month, when flower starts to blossom and leaves are turning green again. Mom said it's important to be grateful, whatever the season is. I called her liar because she's grateful the most when midnight sale season comes.

I don't get my driving lisense yet, but my easy going mom believes it in me. I drive my car, with Drew in passenger seat and Brit is behind us, chattering endlessly. Every single time we stop because of traffic light, she starts to mutter, and Drew and I will exchange a look and laugh soundlessly. But for today, I try to not to look at Drew, even for once. I know it would distract me, remind me of my dream. Until now, I can't help but blushed whenever the thought of me-and-him-kissing crosses my mind. For today, I try to look as nonchalant as I could.

I park my car once we pass Lucia's gateway, my and Drew's and Brit's first list Italian restaurant. We drop by here so often that I memorise the security's name, Douglas. I know, from his friendly look, that he memorises us, too. 

"Finally! Lucia's!" Brit's blue eyes widened.

"Yeah, Lucia's," I parrot, yanking my key out and open the door. Spring air slams my face, that sweet, kind of petrichor air....

"Keep daydreaming, Pipes," Brit grumbles as she takes my arm and drag me to the entrance. We still have one year 30% off voucher, which we bought for 75 dollars. We, I mean me, Drew, Brit, and Caitlin.

"I haven't been here for millenia, I think," Brit mumbles.

"Millenia? We took out breakfast here three months ago, remember? We skirt off chemistry and Caitlin couldn't make it from detention room."

Suddenly I wish I could swallow my words again. It's an old story, I feel it comes from a different lifetime. Caitlin Rouge was Drew's girlfriend, part of our gang, too. We broke our friendship when Brit and Drew caught off kissing in the maths class. It was the bleakest time of my life; we didn't talk to other. But now everything's fine, though Caitlin never shows off again since then.

Secretly, Caitlin and I still chatting by Line or WhatsApp. Secretly, Brit was, and is, so in love with Drew that she chose to betray her best friend and kiss Drew. She said she did it by accident, but I've known her so well, too well that I could tell she had prepared it.

To be honest, Caitlin is not as gorgeous as Brit, despite her silver blond hair and full lips, which make her interesting. She's cheerful, too, yet she never says something if she couldn't see the importance. It broke my heart, you know, realising we wouldn't ever be the same. Me and her and Brit. She'd been the scale between the talkative Brit and the quiet, passive Piper Owens.

"How about picking the menu?" Drew clears his throat, and I break off.

"Oh, yes, sure, let's pick," Brit agrees in low tone. 

We wait until several minutes, and as usual, Brit talks about those nail-polishing and bleaching and manicuring things. Drew and I love to talk about books and old movies, something neither Brit nor Caitlin ever understand. However, with Brit here and voice as high as ladder, how could we be selfish and talk about something she doesn't have interest in?

"... so I said to the hairdresser, just to please her, 'Thank you very much, I love the bleaching,' but after I got home I was like, 'What the fuck did that bitch do to my hair?!' The next day I went to another salon to get my purple," she sighs. "Hey, guys, don't you pay attention to me?"

Drew and I only nod.

"What was my story about?" Brit sues.

"Um, the bitch who got your hair bleached in ugly colour?" I guess.

"Not precise."

"It's still cold outside," Drew pleads, "the air disrupted our ears, your voice sounded muffled."

Nice try, Drew. Very nice try.

"You guys didn't listen," she nags, disappointed. You know my Brit. She's getting disappointed by easiest, simplest thing to handle on earth.

Luckily the waiter comes to deliver our meals, and we enjoy it for a moment. Brit's only quiet when it's time to eat, and yes, food is one of simplest mantras to make her forget her annoyance, too. So after spicy pepperoni pizza and some breads, Brit turns as cheerful as usual.

"Go another place now?" Brit asks.

"No, I think," Drew snaps, a way too excited. He clears his throat before he says, "Umm, I'm gonna confess something here."

Brit's eyes are widened again, and smile grows on her face. I look around. I know what he's gonna confess. I've known it, for so long, that it would happen. It just surprises me a little bit that Drew takes this much time. Brit said she wondered about it every night.

"I think I'm in love with you, Piper."

I'm so shocked. It must be cold air disrupting my ears, or cold air blinding Drew's eyes.

I see smile falters from Brit's face.

"But, but, it must be a mistake here."

"Pardon me?" Drew wrinkles at her.

Brit stand up, looks disgusted. "You must be mistaken, Drew. You can't be in love with Piper. You can't be in love with... with this girl."

"Tell me why can't I?" Drew asks calmly.

"Because there's me," she says it in the trust-me-I-know-everything way.

"So why? Why if there's you?"

"Why? Every Adam in world knows who's prettiest, smartest, sexiest, among Piper and me. Oh, and Caitlin," she quickly adds. "She's nothing, Drew, nothing."

I'm nothing. Nothing.

The fact that I'm nothing doesn't surprise me. The way Brit says it does.

"Yes, she's right," I gulp. "I'm nothing. You must be mistaken."

"Don't plead yourself, Pipes. You know you're not a saint, yet you always act like you are. Saving for marriage, going to church every Sunday. Remember what you came from? Remember that you have no dad? You, and your mom. My mom told me your mom was a bitch, too, and so you are."

"You could talk badly about me, but not my mother," I snap. "You're not a saint either, Brit. Remember Caitlin? Remember how we talked about forever? Remember when you broke it, and you said to her that Drew pushed you to kiss him?" I fire back at her.

"Wait... did you really say that?" Drew looks like I'd just slammed him.

I'd hit the spot, and it grows Brit's anger. Without thinking she grabs her Cola glass, flushes it to me.

I bite my lips. I wouldn't cry. Wouldn't dream of it.

"I'm going home," I say for final deal. I take my sling bag and go outside, driving my car without thinking. I'm speeding, and I don't care about that.

All of sudden my car stops, right near the tunnel.

"Shit, shit, shit. Out of petrol."

I open the door, sweep the scenery around me. It's a beautiful March afternoon, and my friendship and Brit ends that way.

Doesn't she know I love her? As much as I love Caitlin, as much as I love Drew.

Drew....

Remembering him doesn't help much, only digs my anger deeper. Drew wasn't supposed to say that, he's never been supposed to. I hate him for that. I hate my crush for liking me back.

And the deja vu goes on. A black car stops by, and Drew gets off.

"Jammed again, isn't it?" he asks with voice as soft as marshmellow.

"What are you doing here?" I hiss.

"Chasing after you," he answers simply.

Now I know what actually I said in my dream. Drew opens his arms and suddenly I am in them. It feels so comfortable, so warm and so right that I could cry right now.

"Why did you say it?" I whisper.

"Because I meant it," he replies. His pitch lightens my body. I sense I not only could cry. I could fly.

"Do you mean it now?"

"I always mean it, Piper," he smiles crookedly, brushing hair that flies out of my ponytail.

"I always hope you mean it, too," I admit. "Just tell me that it's real, Drew."

He laughs softly, takes a step closer and bend down. "Only one way to make sure, isn't it?"

I am holding my breath now. Drew tilts my head, and as I close my eyes, I taste his lips. Full, warm, and tastes like pepperoni.

Oh, yes, we just ate pepperoni. One thing filling me with happiness is, you couldn't taste pepperoni in your dream.

When I gasp for air, he breaks down, smiles again. "I love you, Pipe. Believe me now?"

I only stare at him, and I hope he understands.

Then after, my phone rings. And sure you know what happens next.


30/6/2013, 8:46 pm.

mercredi 26 juin 2013

Another Afternoon: The Confession

Pada kali keempat another afternoon kami, Ale menemui gue dengan penampilan baru.

Rambutnya dipotong pendek, mungkin cuma satu senti di bawah kuping, tapi jelas itu bikin gue pangling. Rambut barunya itu membuat lehernya tampak lebih jenjang, tulang pipinya kian menaik, dan, gue nggak tahu apa ini memang nyata atau cuma tipuan mata, bibirnya tampak penuh.

Dari sekian banyak pengakuan yang akan gue tuturkan padanya hari ini, jelas ucapan "lo lebih cantik kalo rambutnya pendek" bukan salah satunya.

Maka untuk menutupi nervous, gue berdeham dan meledeknya, "Rambut baru, Neng?"

Responnya standar. Menaikkan bahu acuh tak acuh, mengeluarkan laptop dari dalam ranselnya. Poni Ale bergerak liar di sekeliling dahinya, dan dengan cahaya matahari yang merefleksikan warna pirang pada rambut-rambut itu, sekilas Ale tampak seperti Louise Brooks.

Yah, mungkin lo nggak kenal dia, tapi silakan Googling.

"Eh, gue cuma mau ngomong satu hal nih ya, gue nggak bisa lama-lama sekarang," celetuknya.

"Hah? Kenapa?"

"Gue ada janji sama Regan," jawab Ale singkat.

Regan. Tentu saja. Regan dan Regan dan Regan. Gue sadar ini adalah salah satu hal yang dulu bikin gue mutusin dia. Ale terlalu banyak punya temen cowok dan kelihatan kewalahan membangun tembok pembatas dengan mereka. Dia juga nggak mampu menarik garis pembeda antara mereka dan gue sebagai pacarnya waktu itu.

Ale seperti burung. Dia nggak suka dikekang. Pernah, gue bertanya ke dia suatu kali, apa yang dia suka jadi single. Jawabannya, "Bisa lebih bebas, itu pasti. Bisa ngobrol sama siapa aja, hang out kapan aja," dia merendahkan suaranya dan bertopang dagu, seakan ia berbagi rahasia dengan gue, "and I could kiss whoever I want."

"Hah?" Gue nggak bisa kedip sedikit pun. "Errr, lo nggak serius, kan?"

"Kalo gue serius, kenapa?" Andai Ale berbicara dengan suara cemprengnya yang biasa, tentu gue akan menganggap dia lagi nge-flirt. The flirtatious Ale, meski cuma sama orang-orang yang sudah dikenalnya dengan baik aja. Tapi tidak. Ia bertanya dengan nada menantang. Dan, penasaran juga.

"Ya, nggak pa-pa, sih." Gue hanya menaikkan bahu kala itu, sedangkan mata Ale juga sudah menerawang menembus kaca jendela kafe. Ale memang sering begitu. Dia sering nggak notice terhadap sekeliling. Saat ia memandang dunia di luar, gue tahu otaknya sedang memperumit pertanyaan sederhana, seperti, "Kenapa udara itu transparan? Gimana cara bikin suatu materi solid jadi tembus pandang kayak kaca? Kenapa api membakar sedangkan air bikin basah?"

"Oke, jadi agenda kita hari ini adalah, confession," Ale berdeham, dan lamunan gue pun buyar seketika. Gue menegakkan posisi duduk gue, menatapnya seserius mungkin. Ini adalah versi yang lebih serius dari truth or dare kami, biasanya pas gue atau dia merasa ada sesuatu yang salah. See, hubungan gue dan Ale memperkaya alternatif, menambah kosakata, memperuwet juga kadang-kadang. Kami punya bahasa tersendiri untuk satu hal, dan biasanya, Ale yang menggagasnya duluan.

Ale adalah wallflower, kalo gue boleh jujur. Namun, pada orang-orang tertentu, dia bisa ceria dan bebas bercerita.

"Lo yang nanya duluan," tembaknya langsung.

Gue cuma tertawa kecil. "Oke, semangat banget sih, Bu, kepengin di-interview. Bentar, gue udah catet pertanyaannya somewhere. Nah, gue inget. Hm, menurut lo, dosa lo yang paling gede apa?"

"Segede apa?" tanya Ale. Tuh, kan.

"Seandainya dosa itu digaji, katakanlah lo bisa beli rumah di Pondok Indah sepuluh biji," ungkap gue sok ilmiah.

Ale berpikir sejenak sebelum menjawab dua menit kemudian, "Ah, gue tahu. Well, oke. Gue pernah jadian sama seseorang cuma buat percobaan."

"Hah?" Kali ini gue kaget lagi.

"Namanya Yudha, temennya Fahran. Gue ngecengin dia pas gue dan Fadel putus. Gue lagi buntu, nggak ada inspirasi, sedangkan gue ada lomba nulis waktu itu. Jadi yah, korban eksperimen gue adalah Yudha. Kita jadian seminggu, dan waktu nama gue keluar sebagai pemenang..." ia meraih hot chocolate-nya dan mengunyah sedotannya, "gue nraktir Yudha makan. Di perjalanan pulang, gue mutusin dia."

Gue menatap dalam-dalam mata Ale, mencoba melihat sebeapa autentik pemaparannya itu. Sayangnya, mata Ale berkabut, dilapisi atom-atom yang nggak bisa gue tembus. Ale memang nggak pernah bisa ditebak, dan ekspresinya tidak membantu sama sekali.

Gue menghela napas dalam-dalam dan bertanya, "Lo nyesel nggak abis itu?"

"Kalo nyesel soal dapet hadiah dua setengah juta dan mutusin dia biar dia bisa dapet yang lebih baik sih, enggak ya. Tapi kalo soal kelicikan gue... yah, mana mungkin gue mengkategorikannya sebagai dosa kalo gue nggak nyesel ngelakuinnya?"

Benar juga.

"Bukannya nge-judge sih, lo berubah drastis, ya," ujar gue lambat-lambat. Ale memincingkan mata, terpingkal-pingkal.

"Setiap ada aksi, pasti ada reaksi," tukasnya ringan.

Everything happens for a reason. Pain changes people, itu maksudnya.

"Dan lagian, cuma orang-orang naif kan, yang berharap segala sesuatunya nggak berubah? Maksud gue, liat aja deh. Setiap satu detik, ada berapa banyak orang yang meninggal? Ada berapa banyak bayi baru lahir? Ada berapa banyak bacotan yang di-post di twitter?" Ale menenggak minumannya lagi. "It just happens the way it is. The changing. The mobile. Natural coincidence. Like, we can't stop them, or prevent them. We can't prevent things change."

Dan sekali lagi, dia benar. Inilah suatu keajaiban Ale, dia bisa membuat seseorang mengerti tanpa muter-muter, menjelaskan panjang-lebar. Ale berpikir sederhana, tapi ribet juga. Yah, pokoknya gitu. Kayak yang gue bilang di awal, ada banyak Ale dalam satu Ale.

"Sekarang giliran gue!" Ale bertopang dagu kembali. "Apa hal paling memalukan yang terjadi pas lo di Amsterdam?"

Aha, pertanyaan lucu, dan memalukan juga.

"Gue? Hm...." Gue pikir-pikir sejenak. "Gue hampir, yah, gue sama hostsister gue...."

"Ya?"

Putus asa, gue mengait telunjuk tangan kanan gue dengan yang kiri. Mata Ale membulat, dan gue tahu dia kepengin ketawa.

"Terus? Kok nggak jadi?"

"Kok lo tau akhirnya kita nggak jadi?" Gue mengernyit.

"Tadi lo ngomong 'hampir', halo," Ale mendengus, "dan satu lagi. Untuk menyebutkan lo dan adik angkat lo itu, lo pake istilah 'kami'. Kalo kita, itu artinya lo sama gue."

"Oke, oke, expert-nya bahasa Indonesia," gue menggerundel, "ya gitu. Dia lagi mabuk, cuma itu. Dan lagian, gue nggak suka dia. Terlalu banyak perbedaan."

Ale mengangguk mengerti.

"Kalo lo? Kejadian paling memalukan, apa?"

"Memalukannya bukan gue yang berbuat tapi," Ale mulai ketawa keras. Kebiasaannya. Dia sering ketawa bahkan sebelum cerita. "Native speaker gue pernah salah kirim SMS. Umurnya pasti udah 60 tahun dan doi mirip kodok. Tau nggak, dia salkir apaan?"

"Hm? Apaan?"

"I can't wait to wake up next to you."

Tawa kami sama-sama meledak, perut gue sampe kram dan Ale sampai meneteskan air mata saking gelinya, dan pelayan yang lewat bahkan berhenti untuk mengamati kami.

"Terus, terus..." dia tersedak, masih ketawa, "dia ngirim SMS lagi, 'Sorry but I made mistake. I hope you won't spread it at class....' Tadinya doi paling hobi ngomel kalo gue telat atau gimana, tapi sekarang udah nggak lagi."

Gue pun nyengir, berargumen, "Pasti doi tau lo suka nulis, makanya doi baik-baikin lo biar lo nggak nulis yang jelek-jelek tentang dia."

Ale menyeringai, tampak nakal. "Gue nggak peduli, sih. I write what I want to write. You can call me coward, but literature is my revenge, and this..." dia menepuk-nepuk netbook birunya, "is my weapon."

Senyum gue mengembang. "I've always known that."

Untuk sesaat kami diam, merenungi apa terjadi. Gue nggak tahu apa ini salah atau nggak, tertawa dengan Ale dengan status yang berbeda. Gue nggak tahu apa kami akan berubah lagi. Tapi gue akan setia menunggu perubahan-perubahan itu, sedikit nggak sabar, malah. Yang gue tahu, masih ada another afternoon menanti di depan kami.

9:07 pm, 26/6/2013
for f,
DON'T TRY THAT AT HOME LYK SRYSLY
anyway, your photo is safe, unless you write something bad X)

lundi 24 juin 2013

The Day We Fall

Menurut gue, konsep "jatuh cinta setengah mati" itu kelewat hiperbolis sampe gue mengalaminya sendiri.

Sebelumnya gue nggak pernah mikir bakal naksir gila-gilaan sama tuh cewek. Bocah ingusan baru lulus SMP yang badannya lempeng kayak papan jalan. Dia juga standar di sekolah, bukan anak rejesan, namanya nggak pernah disebut sebagai pengharum nama sekolah tiap upacara hari Senin, dan dia juga nggak eksis-eksis amat. Mukanya pun nggak istimewa dan matanya sedikit aneh. Fleksibel, bisa kelihatan belo dan sipit di waktu yang sama.

Itu dulu. Sekarang, baru ngeliat Irene senyum aja, gue juga nggak bisa nahan senyum.

Lebay banget, nggak, sih? Seorang Gayung yang terkenal sampe SMA-SMA sebelah akan kegarangannya di ladang tawuran bisa bertekuk lutut di hadapan seorang adik kelas. Jangan tanya gue kenapa, tapi yang jelas, bagi gue Irene beda. Setelah nyaris tiga tahun pacaran, setelah semua teriakan dan ciuman dan gelas pecah yang pernah Irene lempar saking kesalnya, gue sadar kalo this love is simple. Sederhana, nggak muluk-muluk. Gue pun nggak mendeskripsikannya dengan muluk-muluk ke lo-lo pada. Bagi gue, cinta itu aneh. Kadang cuma bekerja baik pada orang-orang tertentu. Emang nasib gue beruntung aja diservis dengan baik oleh si dewi cinta.

Ada suatu malam yang menurut gue istimewa. Irene menginap di rumah gue gara-gara kemaleman nemenin gue ke pesta ultah sepupu. Dan berhubung besoknya kita anniv yang ke 35 bulan, kami memutuskan untuk merayakannya dengan movie marathon sampe subuh. Gue mengatur ruang TV jadi serupa bioskop kebanyakan bantal sementara Irene nyiapin pop corn dan ganti baju di lantai atas.

"Kaaak!"

Gue agak kaget karena Irene tiba-tiba melompat ke pangkuan gue, pop corn di tangannya banyak yang berjatuhan. Gue cuma ketawa dan mengecupnya di pipi dan hidung, tempat favorit gue. Irene meringis dan meletakkan mangkuk pop corn seraya mencari bibir gue.

Gue selalu suka bibir Irene. Don't ask me why, I just simply do.

Kemudian Irene memecah jarak di antara kami, mundur karena kehabisan napas. Ikal-ikal bekas roll sudah mulai menghilang dari rambutnya, dan entah kenapa, dia jadi kelihatan seksi. Apalagi malam itu, dia make legging-nya dan sweter gue yang kekecilan, yang tetap aja kegedean di badannya. Leher si sweter terkadang turun, menyingkap sediki tali bra yang dipakai Irene.

Biru. Hm, warna favorit gue.

"Udah, ah, mulai filmnya," pinta Irene, membuyarkan otak cowok gue yang mulai nyeleneh entah ke mana. Gue mengangguk dan memencet remote control, dan selama beberapa jam, kami diam, menonton, sesekali makan pop corn. Satu kesamaan gue dan Irene adalah, kami paling benci ngobrol atau diajak ngobrol saat sedang serius nonton film bagus.

Kemudian film habis, dan gue sama Irene sama-sama bengong selama beberapa saat, sebelum akhirnya gue memutuskan untuk merebahkan kepala di pahanya, memejamkan mata. Irene cekikikan, tangannya bermain di rambut gue.

"Kak?" Tiba-tiba ia memanggil.

"Hm?" respons gue, masih memejamkan mata.

"First love kakak siapa?" tanya Irene polos.

"Kok tiba-tiba nanya gitu?" gue balik nanya, melek total. Nggak biasanya Irene menanyakan sesuatu yang berhubungan dengan perasaan satu sama lain. Yang kami sama-sama tahu, kami saling sayang, dan itu udah lebih dari cukup. Nggak perlu lompat dari Menara 165 untuk membuktikannya.

"Yeee, pengin tau aja. Kan kata kakak, kita mesti saling berbagi. Iya, kan?"

Gue cuma tertawa mendengar penjelasannya, dan gue merangkul leher Irene, menciumnya lagi. Rambutnya kini menggelitik hidung gue.

"Oke, tapi kamu jangan jealous, ya. Ada, sih. Namanya Astrid." Gue mengedikkan bahu, melukis bayangan Astrid dalam kepala gue. "Aku naksir dia gara-gara alasan yang cetek banget. Soalnya arti nama kami sama. Bintang. Yah, nggak ngerti lagi, deh. Itu aku baru kelas empat SD, lho, waktu di Jerman. Dia Indo, nyokapnya Indonesia dan bokapnya Jerman."

"Terus, apa yang terjadi?"

"Apa yang terjadi?" ulang gue, mengingat-ingat. "Nothing. Ah, iya. Selain first love, dia juga first kiss aku."

Wajah Irene masam sejenak, tapi seperti biasa, ia membiarkan gue melanjutkan. Ini adalah salah satu hal yang paling gue kagumi dari Irene. Kemampuannya mendengarkan, nggak gampang nge-judge.

"Waktu itu, aku sama dia abis nonton film, terus pasangan di samping kami kissing. Aku penasaran aja, sih. Dan tau-tau, besoknya di taman bermain, dia ngajak aku ciuman." Kening gue berkernyit, berusaha menggali memori itu lebih dalam. "Pertama kalinya sih, aku jijik. Maksudku, dia abis makan gulali dan aku nggak suka mananan manis. Terus, mana hidung aku kejedot, pula. Tapi ya namanya first kiss, it's unforgettable. Aku ngerasa alam mulai menyesuaikan ritme dengan kami. Aneh, yak?"

Irene cuma mengedikkan bahu. "Nggak aneh, sih."

"Kamu sendiri? First love kamu, siapa?"

"Ivan," sahutnya lirih, tapi lugas. Kami nggak pernah membahas soal si Lutung Kasarung itu lagi. Irene kelihatan shock dan gue nggak pernah bisa menahan diri untuk nggak nonjok sesuatu tiap keinget dia.

Tapi kali ini beda. Gue bertanya, "Apa yang terjadi?"

"Nothing. Maksudku, dia kan ketauan punya kecengan lain waktu kita pacaran. Dan tenang, first kiss aku itu kakak, kok." Dia nyengir seakan itu menyelesaikan semua permasalahan.

Entah kenapa, hal itu nggak bikin gue tersanjung. Gue tetap lebih memilih jadi first love-nya alih-alih first kiss. Apalagi, ciuman pertama kami nggak banget. Di depan Pak Mulya, dan baik gue maupun Irene diskors dua hari gara-gara itu.

"Hmmm," gumam gue, bangkit dan membiarkan jari gue menjelajah wajahnya. "Buat apa mikirin masa lalu? Mending mikirin masa depan. First love aku emang bukan kamu, Rene. But would you like to be my last love?"

Gue tau itu kedengaran kayak lamaran, dan seandainya bokap Irene ada di sini, pasti gue udah dirajang. Mata Irene membesar dan ia tertawa, menyenderkan kepalanya di bahu gue sambil mengangguk.

Film lain diputar, dan kami menontonnya dalam diam, meski sesekali Irene memekik melihat sang heroine diperlakukan semena-mena oleh sang villain. Ketika pahlawan favoritnya meninggal, Irene ikut menunduk, seakan-akan berdukacita.

"Hei, itu kan cuma karakter di film. Nggak nyata," cetus gue melihat matanya berkaca-kaca.

Irene cuma mendengus. "Bagi sebagian orang, terutama mereka yang menciptakan, karakter itu bernapas, Kak. Mereka hidup. Ada yang berduka kalau mereka meninggal. Payah nih, kakak, nggak peka banget jadi cowok!"

Gue ketawa geli dan mengacak-acak rambutnya. "Oke, oke. Aku bakal peka mulai sekarang."

Gue nggak tahu pikiran apa yang sedang melintasi kepala Irene, karena nggak ada angin, nggak ada ujan, apalagi geledek, tiba-tiba ia bertanya, dengan nada yang hanya satu tingkat di atas bisikan, "Kak, kakak pernah kangen Kak Zizi, nggak?"

Meski nggak ada geledek, reaksi gue udah lebih lebay dari orang kesamber geledek.

"Kadang," ungkap gue, jujur. Sekilas bayangan berkelebat di depan mata gue; wajah Persia yang delicate, suara selembut kicau merpati, rambut panjang yang harumnya seperti buah. Suara gue lirih dan Irene pasti menyadarinya, karena ia kembali menunduk. "Kadang, aku nggak bisa nahan diri untuk nggak mikir 'what if'. What if it happened different? What if she hadn't ever had that disease? What if dia nggak pernah pindah ke Jakarta?"

Pikiran kayak gitu biasanya bakal diakhiri dengan, "What if I end up with her instead of you?" Tapi nggak. Gue nggak menyuarakannya pada Irene.

"Apa kakak pernah mikir... kakak sayang sama dia?" Irene kembali bertanya, kali ini lebih lugas. "Apa kakak pernah bingung dan nggak tahu harus reaksi gimana, apa kakak pernah memerangi hati sendiri dan lebih ngikutin instruksi logika?"

Ketika ia menanyakannya, gue tahu Irene juga menanyakan hal yang sama pada dirinya sendiri. Gue. Zeno. Itu udah cukup clear. Kadang juga, gue takut. Gue takut suatu saat tangan yang akan melingkari bahu Irene, tangan yang akan menghapus air matanya, tangan yang akan ngasih dia pelukan selamat datang bukan gue, tapi Zeno. Kadang, gue pikir Zeno ancaman serius.

"Hm? Kenapa ngomong kayak gitu, sih?" Gue tersenyum dan memeluk badannya penuh-penuh, mencium aroma tubuh Irene. Hambar, sama seperti rasa bibirnya. "We'll stay together, okay? You and me. Just leave what left behind."

Meski Irene mengangguk, gue tahu hatinya masih ragu.

Karena ada hal-hal yang memunculkan pertanyaan "kenapa" dan lo nggak bisa menjawabnya. Lo hanya tahu itu benar.

"Rene?" panggil gue ketika gue yakin ia udah mendengkur halus di bahu gue.

"Hm?"

Perlu beberapa detik untuk mempertimbangkannya, tapi toh akhirnya gue melontarkan permintaan itu, "Panggil aku Arian, oke?"

Irene tidak menjawab, dan dengkurannya kini kian terasa di bahu gue. Dan bahkan walau ia menjawab, gue yakin dia akan nanya balik. Kenapa?

Dan kali ini, gue menjawabnya sendiri, "Karena aku nggak mau disamain sama Zeno."

***

Gue nggak pernah percaya sama cinta pada pandangan pertama, sampai gue ketemu dia.

Yah, siapa lagi kalo bukan Irene? Satu tahun di bawah gue, bego, blangsakan, ceroboh, kalo ngomong seringnya seenak udel. Gue juga nggak ngerti kenapa. Kalo kata Arian nih, "You just know, there's no why."

Oh iya, Arian itu pacarnya Irene. Dan bisa lo simpulkan, gue berkawan dengan cowoknya cewek yang gue suka, yang juga merangkap sahabat gue, yang sering bermanja-manja kayak anak kucing tiap Arian ngilang. Gue tau hubungan kami ini rumit, kayak jaring laba-laba, saling terhubung satu sama lain. Namun, kayak jaring laba-laba juga, kami solid dan kuat. Nggak lengkap tanpa yang lain.

Setelah dua tahun kenal mereka, bisa dibilang kami bertiga sohiban. Kami sering jalan bertiga, geng yang sering Irene sebut, "Romeo-Juliet dan tukang foto". Gue tahu dia cuma bergurau, sih, tapi tetep aja itu bikin jleb. Apalagi Arian tipe orang yang kalo udah nafsu, nggak bakal berusaha memeranginya. Pernah dia mencium Irene tepat di depan masjid.

Iya, mereka emang gila. Dan mungkin gue lebih gila karena mau aja makan ati dua tahun bergaul sama mereka.

Tapi kalau itu artinya gue bisa bersama Irene setiap kesempatan, kenapa nggak?

Irene tipikal cewek yang selalu cerita ke pacarnya tentang apapun, dan kalo Arian nggak ada, gue yang terpaksa jadi tong sampahnya. Meski begitu, gue yakin sih, ada satu hal yang Arian belum pernah dengar tentang Irene.

Ini tentang ketika gue sadar gue jatuh cinta sama Irene.

Itu adalah hari biasa di sela-sela latihan vokal. Gue dan Irene bakal ke Jungle Cafe untuk balik kerja. Tiba-tiba, waktu lewat lapangan softball, Irene menarik tangan gue, memaksa gue duduk di atas rumput, tepat di balik pagar pembatas lapangan.

"Apaan deh, Rene? Kita nyaris telat, nih," demikian gue ngedumel.

"Sssht!" sergah Irene. "Liat ke atas!"

Maka gue pun mengikuti pandangannya, dan seketika juga ingin tersenyum. Ada sarang burung di dahan tertinggi, dengan kicauan anak-anak burung sedikit bising. Gue menatap Irene dan kini nggak bisa menahan senyum. Fokus Irene kini hanya satu, sarang anak burung.

"Sebentar lagi, Mandarin dateng."

"Mandarin?" Alis gue menaik.

Irene cuma mengangguk samar, dan beberapa menit berikutnya, gue tahu siapa yang ia sebut Mandarin. Burung pipit lain yang berukuran lebih besar, membawa sesuatu di mulutnya. Ia hinggap di dahan, membagikan makanannya pada satu per satu anaknya.

"Dulu, waktu nih lapangan belom dijadiin lapagan softball, gue sering latihan teater di sini. Rumputnya hijau, bisa buat guling-gulingan. Gue suka lama-lama duduk di sini, nungguin sunset. Kadang gue beli kuaci di Indomaret buat Mandarin."

"Burung makan kuaci?" Kali ini gue nggak bisa menyembunyikan keheranan gue, dan kepengin ketawa juga. Sayangnya gue nggak tega. Irene sangat serius, seolah menjelaskan fakta ilmiah.

"Burung pipit makannya biji-bijian, Kak, dan lagian mereka juga nggak nolak, kok. Yang penting, kenyang. Ah, tapi sekarang semuanya beda. Markas gue diinvasi anak-anak softball, padahal mereka juga jarang tuh, latihan di sini. Ngeselin, deh."

Satu hal tentang Irene, dia selalu ceria, dan ketika ia kesal, itu sudah pasti beralasan. Dan gue memahami kekesalannya saat ini, sort of.

Tiba-tiba ia berhenti dan terlihat sedang menimbang sesuatu. Ia melirik gue dan berkata cepat, seperti orang kumur-kumur, "Ini perbedaan lo sama Kak Arian."

"Apa?" tanya gue nggak yakin.

"Ini, perbedaan lo, sama Kak Arian." Irene menaikkan bahu dan duduk, menyender di pohon. "Kak Arian jarang mau denger yang begituan. Dia lebih suka suasana sunyi. Menurutnya, silence speaks louder than mouth ever does." Dari nada bicaranya, gue tahu Irene sangat kontra dengan opini sang pacar, tapi gue nggak. Gue sedikit banyak setuju dengan Arian.

Dan entah kenapa, gue ngerasa bangga memiliki sesuatu yang lebih di mata Irene daripada Arian.

Kemudian ia berbaring di rumput, sementara gue memanjat pohon dan menyender di dahannya yang paling bawah, membiarkan angin menyenandungkan lagu sorenya pada kami. Gue mulai menggenjreng gitar, dan entah karena terbawa suasana atau kenapa, mendadak Irene bertanya, "Kak, mimpi lo apaan?"

"Hm, mimpi?" Jujur, sebagai orang pesimistik dan nggak jarang sarkastik, membicarakan mimpi adalah hal yang tabu bagi gue. Motto gue adalah, seperti yang Ritu Ghatourey mantrakan, "Work hard in silence, let your success be your noise."

"Iya, mimpi. Everyone has a dream."

Irene sungguh kekanakan dan genuine, satu hal yang bakal bikin lo nggak nyaman berbohong sama dia. Tatapan Irene juga nggak jarang menakutkan. Seolah menelanjangi lo dari lapisan kepura-puraan. Bikin lo berdosa kalo ngelakuin sesuatu yang salah sama dia. Jalan sama Irene, rasanya kayak jalan sama orang yang lo tau kastanya lebih tinggi dari lo, tapi si orang itu selalu menunduk tiap ketemu lo.

Bagi gue, itu menakutkan sekaligus mengagumkan, in some ways.

"Mimpi gue..., hm. Nggak tahu."

Jadi penulis lagu. Jadi gitaris. Jadi musisi. Jadi sesuatu yang berhubungan dengan seni. Jadi seseorang yang bisa bermakna sesuatu bagi dunia. Jadi seseorang yang bisa bikin lo senyum.

Gue mengerjapkan mata dengan gagasan yang terakhir. Apa? Gue mikir apa barusan?

"Liar," tuduh Irene riang. "Everyone has a dream," ulangnya.

"Kalo lo sendiri? Apa?" Giliran gue bertanya.

"Hm, astronot. Atau badan penyelidik alien."

"Hah?"

Irene bangkit dan kini memutar tubuhnya, memandangi gue dari bawah seakan-akan gue penghuni Ragunan.

"Iya, gue pengin jadi astronot. Lucu aja sih, nge-discover sesuatu yang asing. Jadi badan penyelidik alien juga. Maksud gue, nama alien sendiri udah ngundang kontroversi. Mereka yang berpandangan cupat mikir alien itu cuma bullshit. Tapi bagi gue, just because you don't see it, doesn't mean it doesn't exist."

"Sama kayak orang yang jatuh cinta tapi nggak sadar?" Sumpah, gue nggak tahu dari mana asalnya kata-kata itu, yang jelas gue nggak bisa menelan mereka kembali. Irene kini mengernyit.

"Yah, lo pasti tau apa maksudnya. Mereka yang nggak sadar mereka udah jatuh sama seseorang sampai orang itu pergi. Atau kasusnya sama kayak Mandarin, kayak orangtua jaman sekarang. Banyak anak-anak yang dramatis mikir ortunya udah nggak sayang lagi sama mereka hanya karena mereka nggak melihat kasih sayang dalam bentuk yang mereka inginkan. Padahal, cinta itu nggak harus diwujudkan dengan... yah, maksud gue, pandangan tiap orang itu beda-beda, kan?"

Irene kini mengangkat alis sebelum tertawa terpingkal-pingkal.

Gue terpekur menatapnya. "Kok, lo ketawa?"

"Hei! Adanya gue kali yang nanya! Kok, bisa-bisanya lo ngomong cinta? Bukannya lo orang paling bitter kalo udah ngomongin yang begituan?"

Baik, kini pipi gue terasa panas.

"Yah, seenggaknya hari ini gue nge-discover satu lagi sifat baik lo. Puitis," Irene cekikikan dan bangkit, "udah yuk, ah, kita balik kerja! Jangan nangkring kayak gitu kek, lo jadi kayak bekantan."

Perkataannya lugu, polos, dan nggak disaring. Tapi hanya mendengar suaranya, dan berpikir bagaimana suara Irene terdengar seperti musik, gue tahu gue udah jadi korban dari ocehan gue sendiri.

Gue jatuh cinta sama Irene.

***

Ini sudah pukul lima lewat empat puluh, yang berarti sudah nyaris satu jam dari waktu janjian, dan muka Kak Arian belum nampak juga.

"Awas aja ya kalo gue ketemu dia, bakal gue sate hidup-hidup!" maki Kak Zeno di samping gue, mengibaskan tangan, berusaha menangkal asap sate padang favoritnya. Ini adalah awal minggu terakhir bulan Ramadhan, saat iman manusia udah rontok-rontoknya, dan satu jam aku dan Kak Zeno berdiri di sesak festival makanan Asia ini, festival yang tiap tahun rutin digelar. Selain ada stan-stan yang menjual makanan dan tempat berbuka, ada juga konser amal dan bazaar diskonan. Iya, diskonan setelah harganya dinaikkan 50% dulu.

"Orang sabar disayang Tuhan," jelas gue, meski perut gue kini keroncongan nggak jelas lagi. Sejak tadi gue emang bermasalah dengan perut, dan gue mungkin nggak akan ke mana-mana kalau Kak Arian nggak SMS gue untuk bukber, sama Kak Zeno juga. Katanya, udah lama sejak Romeo+Juliet+JuruFoto nggak ngabur bareng lagi.

Kak Zeno cuma mendengus. Hampir semua stan sudah dijejali keluarga-keluarga maupun pasangan, dan kami di sini kayak orang hilang. Mana HP Kak Arian nggak aktif, pula.

Dan mendadak, dengan tiba-tiba Kak Zeno memeluk gue dari belakang, hal yang bikin gue nyaris kehilangan keseimbangan dan terjatuh.

"Nyet, lo lagi dapet?" bisiknya di telinga gue, terdengar panik.

"Hah? I-iya, apa?" Gue ikutan panik.

"Lo tembus! Shit, kenapa lo pake jeans putih segala, sih," Kak Zeno mendecak di telinga gue.

Dunia seakan membelah jadi dua. Gue kepengin nangis.

"Angka dua belas ada toilet. Buruan ke sana, gue di belakang lo."

Layaknya orang main kereta-keretaan, gue dan Kak Zeno berjalan sampai ke toilet umum. Gue langsung ngacir ke bilik yang kosong, mendapati jeans gue kini kotor dengan darah. Sial, sial, sial. Berusaha berpikir jernih, gue menelpon Kak Zeno.

"Halo, gimana?" tanyanya di ujung sana.

"Parah! Gila, kayaknya gue nggak bisa keluar dari toilet deh, Kak."

"Buset, lo mau mati di situ, hah?" Kak Zeno terdengar jengah. "Oke, lo tunggu di situ, ya. Jangan ke mana-mana."

Dia mematikan koneksi telepon, dan sebisa mungkin gue membersihkan jeans gue dan memakainya lagi. Nyaris lima belas menit, dan tiba-tiba bilik gue digedor dari luar.

"Rene, buka woi!"

Gue pun membuka pintu bilik, mendapati Kak Zeno berdiri di luar sana, seluruh wajahnya memerah,  seakan hampir-hampir berasap. Cewek-cewek di luar toilet mengamati kami dengan raut tertarik, bahkan ada juga yang tanpa malu-malu ketawa.

"Nih!" tandas Kak Zeno, langsung memberikan gue plastik besar, dan pergi tanpa mengatakan apapun. Di dalam plastik itu ada rok kering dan kau-tahu-apa. Pipi gue langsung terasa panas, membangun skenario Kak Zeno berjalan ke salah satu konter dan berkata, "Bu, pembalut satu."

Tapi itulah yang terjadi. Dan Kak Zeno melakukannya demi gue.

Perasaan hangat menjalar ke hati gue, dan secepat mungkin gue memakai rok itu, memasukkan jeans gue yang basah ke dalam plastik. Rok batik selutut putih dengan corak hitam, yang entah bagaimana matching dengan kaus hitam gue. Setelah merasa rapi, gue pun keluar, mendapati Kak Zeno sedang berdiri di depan toilet tanpa ekspresi, tangan terlipat di depan dada.

Untuk sesaat, dia cuma memandangi gue, dengan ekspresi yang kadang gue lihat di wajah Kak Arian tiap gue memakai kaus biru, warna kesukaannya. Ekspresi yang kalau diterapkan pada Kak Arian, akan disusul pujian, "Kamu cantik banget, aku sampe pangling."

Namun bibir Kak Zeno buru-buru terkatup, dan sambil menaikkan bahu, ia tersenyum samar. "Udah? Yuk."

Gue pun mengikutinya, dan kami berputar-putar selama beberapa saat sampai suara yang familiar meneriakkan nama kami. Kak Arian, tergopoh-gopoh, dengan kaus putih bergaris hitam horizontal dan topi, sinar emas matahari menambah pekat auranya. Di tangannya, tiga kemasan teh kotak bergelantungan.

"Hei, gue nyariin kalian ke mana-mana!" ujarnya, tersenyum pada gue. "Irene? Tumben kamu pake rok, jadi makin cantik."

Gue dan Kak Zeno saling melempar pandangan sebelum sama-sama tertawa lepas.

"Yeee, malah ketawa, lagi. Sori ya gue lama, tadi gue mesen topi dulu di stan ujung sono. Nih, buat kalian!"

Ia memberi kami masing-masing sebuah topi. Punya gue putih, Kak Zeno abu-abu, sedangkan Kak Arian sendiri hitam. Di bagian depan, ada sebuah kata. Punya Kak Zeno "we", gue "are", dan Kak Arian "insane".

"We are insane?" tawa gue begitu menyadarinya.

"Lha, emang bener, kan." Jari-jari Kak Arian kini menyelip di antara jari-jari gue, dan sambil mengulum senyum, Kak Arian berkata, "Tuh, si jomblo digandeng juga, biar nggak kayak anak ilang. Gue udah mesen tempat buat kita. Buruan jalan!"

Gue hanya tersenyum dan buru-buru mengekor langkah panjang Kak Arian. Adzan maghrib berkumandang dan dua cowok di samping gue pun membuka minuman masing-masing. Saat-saat seperti ini, gue merasa nggak akan bisa memilih. Saat-saat seperti ini, gue akan menyingkirkan "kenapa", dan menarik gagasan bahwa selama kami bertiga, segalanya akan baik-baik saja.

I believe that, and I hope, so do you.

Like, ever.


24/6/2013, 11:39 pm.
for you,
who paints me a blue sky, brushes the colour of rainbow on my meaningless, empty canvas.
i hope we believe.