samedi 1 décembre 2012

Serupa Tapi Tak Sama

Jadi, pas gue nulis nih blog, gue baru aja kelar "malmingan" sama stranger-nya Omegle. Kali ini dia cowok asal USA dan untuk pertama kalinya, gue nggak di-disconnect gitu aja. Yeay!

Jadi nama nih cowok Kyle, 18yo, dari California. Beda dari kebanyakan cowok, dia ini mature banget. Dia bilang kalo para cewek itu hard to understand tapi dia juga pengin ngertiin mereka. Gue pun cerita tentang perasaan gue ke para cowok yang sering nggak peka dan nggak menghargai kami, para cewek.

*brb remes bantal dengan unyu*

Gue tadinya udah seneng banget, apalagi dia bilang gue itu cool and nice. Oke, gue ciumin tablet gue dulu, ya.

TAPI in the end, gue bilang, "You don't look like guys trying to flirt whenever they want to." Eeeeh dia bilang, "I do like it. Flirting is fun!"

Gue speechless.

Setelah gue turn off, gue nonton AFF dan ingatan gue melayang ke masa-masa SMP. Gue inget banget, seolah kejadiannya baru dua tahun lalu, pas jelas 8 gue pernah main futsal. Berhubung gue lumayan suka nonton bola, ya gue semangat banget. On fire lah pokoknya. Tapi pas tim lawan unggul, gue jadi gemes. Ujung-ujungnya, pas si bola melambung tinggi, gue pikir pasti cool kalo menggabungkan jurus voli dengan futsal. Alih-alih tuh bola gue sundul, dengan pedenya gue smash. Tangan gue sakit, tim lawan pun dapet penalti.

Gue sakit hati....

Pelajaran moral yang bisa gue dapet dari tragedi itu, bahwa voli dan futsal emang sama-sama olahraga, tapi peraturannya pasti beda.

Di babak kedua gue berusaha tampil prima. Gue bermain sebaik mungkin. Begitu ada kesempatan, gue langsung ngegiring bola dengan serakahnya. Temen-temen gue teriak, dan gue pikir mereka pasti nyemangatin gue. Sekeren Messi, gue pun ngegolin bola.

Gue langsung masang gaya Irfan Bachdim dan ketawa-ketiwi dengan puas. Tapi....

Krik krik.

Yang lain hening.

Belakangan gue tau, kalo ternyata gue ngegolin ke gawang tim gue sendiri.

Sejak itu gue nggak lagi gaya-gayaan main futsal. Gue sadar diri kok, gue main bekel aja kalah, apalagi futsal!

Di kejadian lain, gue lagi mejeng di Nusa Penida. Gue pikir, karena gue sering snorkeling, gue juga pasti keren di bawah air, a.k.a. diving. Gue juga asal angguk pas instruktur diving-nya ngasih wejangan. Setelah make pakaian selam sama tabung oksigen, gue pun nyemplung.

Ternyata apa yang di bawah beda sama apa yang ada di atas. Visibility air jelek dan gue megap-megap. Seorang engkong-engkong Norway pun membantu gue naik ke permukaan. Nyokap langsung over dan nyelimutin gue pake handuk warna-warni. Masalahnya, tabung gue masih nempel, begitu juga kacamata dan sebagainya. Gue tambah bingung ketika seorang bule ber-tanktop minta foto bareng gue. Pas dia ngasih liat hasil fotonya, gue paham kenapa dia minta foto bareng. Jelas, karena gue udah gaada bedanya sama kura-kura ninja.

Di kejadian terakhir, gue lagi di Lombok dan nyasar. Tadinya gue cuma mau keliling hotel, tapi bablas sampe tiga kilo jauhnya. Akhirnya gue janjian sama bokap di sebuah warung. Nah, sambil nunggu, gue pun mesen mi instan rasa soto, yang warnanya ijo itu lho! Nah si Mbok penjual nanya dengan ayunya, "Pedas atau nggak, Nak?" Gue stay cool dan sambil benerin headset, gue bilang, "Yang pedes ya Mbok."

Pas pesenan gue ditaro di atas meja, gue bingung karena cuma ada semangkuk air coklat kental. Ternyata pedesnya bukan dikasih saos, tapi cabe!!! Karena duit gue pas-pasan, gue cobain.

Sesendok, nggak kerasa apa-apa.
Dua sendok, gue gelagapan nyari air.
Tiga sendok, gue nangis.

Parahnya, duit gue nggak cukup buat beli minum karena harga semangkuk Indomie *akhirnya kesebut juga mereknya* dibanderol gila-gilaan, 11 ribu!!! Karena pedesnya ekstrem dan gaada cara lain, dengan kreatifnya air kobokan gue minum. Untung bokap gue dateng di TKP persis pas gue nyaris semaput. Akumulasi efek dari makan mi instan terkutuk dan minum air kobokan, gue mencret tiga hari. Pas di Soetta pun gue ninggalin koper di bagasi gara-gara blingsatan nyari toilet.

Pelajaran moral: lidah kita boleh aja bicara bahasa yang sama dengan maksud yang tak beda, namun sesungguhnya, "pedas" adalah satuan yang tak bisa dihitung.

Anyway nulis ini juga bikin gue inget sama mantan gue yang dari F itu. Mari andaikan namanya itu Fuyengcekalih. Nah dulu kan gue bertemu dia di suatu tempat bimbel berinisial P, dan kami sebelahan, trus pacaran, trus putus. Nah sementara sekarang dia di Aussie, gue di Indo ikutan bimbel lagi, kali ini inisialnya G. Di sini, ada juga yang namanya persis Fuyengcekalih dan kami duduk deketan beberapa kali. Tapi Fuyeng yang ini ga akrab sama gue, malah termasuk cold. Dari sini gue belajar, nama boleh sama, tapi kalo hati sudah menetapkan pilihan, lo ga bisa berbuat apapun. Ibarat lirik lagu, "You can't get rid of it cause you remember it all too well."

lundi 12 novembre 2012

Manis Asem Asin Jadi Orang Indonesia

Jadi, beberapa jam sebelum gue nulis post ini, gue terlibat "konflik". Nggak bisa dibilang konflik juga sih, tapi lumayan bikin sewot.

Errr, jadi gue baru kenalan sama cowok via Omegle. Tau kannn Omegle itu apaaa? Kalo nggak tau, errr, berarti Anda masih di bawah umur dan sering nonton Dora. Oke, balik ke cerita. Si cowok Omegle ini, asalnya dari Edinburgh, umur tujuh belas, namanya Marlin *ini nggak disamarkan lho namanya* dan entah kenapa mengingatkan gue pada bokapnya Nemo.

Kira-kira dua puluh menit kita ngechat. Gue cerita banyaaak ke dia. Mulai tentang Si Bocah Aussie yang recently getting closer ke gue, tentang guru Bahasa Inggris yang ngatain gue sesat, sampe tentang temen gue yang naksir Pak Tunggul, guru Fisika terkece di 70 (pas gue cerita ini, si Marlin bilang, "I can't see why you laughed at her. It's ordinary, standard. Here in my town, we don't feel awkward to talk bout lovey dovey things with our teachers.")

Nahhh setelah beberapa lama, dia ngajakin gue VideoChat. Gue merasa oke aja karena gue lagi home-alone. Lagian kan, sapa tau dia ternyata Robert Pattinson yang menyamar *ketauan jomblonya~*

Lalu gue klik "Turn to video chat".

Jengjreng........

"Hi, pal!" sapa gue sok asik begitu mukanya Marlin nongol di pojok kanan bawah. Padahal hati gue lagi jleb parah. Marlin ternyata nggak pale-skinned atau punya bibir seksi, rambut rapi, dan mata tajem kayak Edward Cullen, tapi rambutnya rada jebrak, pokoknya ngingetin gue sama Simon si mantannya Adele itu deh. Tapi mukanya baik dan matanya hijau. Ini pertama kalinya gue ngeliat bule bermata hijau langsung!!!

*hapus kalimat lebai terakhir*

Oke. Begitu gue ngeliat dia dan dia ngeliat gue, dia ngetik, "Wowww, you don't look like Asian at all!"

Gue: "So what do I look like, you think?"
Marlin: "I have no idea at all. When you mentioned 'Indonesia', I know it's a huge part of Asia and when I thought about Asia, Japan was on mind."
Gue: *diem* "Well, Japan and Indonesia are pretty far, though."
Marlin: "I know it, babe." *gue langsung loncat dan nge-capture yang barusan* "Hey, how old r u anyway?"
Gue: "Me? I've turned 15 last October:))"
Marlin: "Are you lying? You look alike my cousin! She's just 11!"
Gue: *diem*

Gue nggak tau dan bimbang. Mau marah lha mbok sepele banget, mau tersipu kok kesannya gampang digombalin. Kan kalo gue yang 15 ini keliatan kayak 11 tahun, pasti deh, pas gue kepala enam, orang-orang bule itu ngira gue tiga puluhan.

Well, soal perbedaan ini, gue bisa jelaskan. Mungkin karena anak-anak Europe sana badannya gede dan udah kenal make up sejak kecil, pas gede mereka keliatan lebih dewasa. Sebagai orang Asia, gue bersyukur karena gue nggak boros muka:))

Tapi asemnya jadi orang Indonesia, pernah beberapa kali bule-bule *notabene European* yang ngotot gue ini orang Jepang, Korea, China, atau Vietnam. Gue lebih ngotot lagi gue orang Indonesia. Begitu mereka baca kata "Indonesia", rata-rata mereka nanya, "Umm, sorry? Where's it?"

Bahasa Inggris gue emang nggak parah, tapi nilai Geografi gue yang bermasalah. Kalo mau ngomong di antara benua Asia-Australia kok nggak spesifik, kalo dibilang deket Jepang jatohnya fitnah, kalo gue tulis letak astronomisnya... ntar dikira gue sok scientific. Ujung-ujungnya gue tulis, "Near Malaysia," atau, "Near Singapore." Parahnya, mereka tau Malaysia itu di mana! Gue langsung gerah dan biasanya langsung gue end conversation. Rasanya tuh... marah. Malaysia cuma sepersekian dari Pulau Kalimantan, tapi kenapa lebih dikenal?

Tapi itu masih mending. Para American beneran bikin tangan gue gatel pengin nyekek. Udah gatau, sok tau pula. Kayak pernah misalnya ada yang nanya, "How's Indonesia diplomatic relation with USA?" Yee, kepo banget? Dikira gue anaknya duta besar kali ya-_-.

But the worst of all, ada seorang bocah 14 tahun dari Montana yang nanya, "Eh, emang bener ye, orang Indonesia masih suka makan manusia? Seburuk itukah kemiskinan di sana?" Gue bales aja, "Yes, and you look nice for my dinner."

Itu belom seberapa. Ada orang yang begitu tau gue orang Indonesia, dia langsung nanya, "Are you Muslim?" dan begitu gue bales, "Yes," dia langsung end conversation. Gitu aja! Gue terpuruk dan langsung nyadar gue baru aja jadi korban rasisme!!!

*brb benerin dasi*

Hmm, tapi nggak semua orang Western itu pelit penghargaan gitu, lho. Gue punya beberapa temen dan kami masih berhubungan akrab sampe sekarang. Ada Sterling si Londonese tulen, Brooklyn dari Florida, Lili dari Wina, sama Rajavik dari India. Nah, yang terakhir tuh baiiikkk banget.

Entah kenapa, soal keramahan, orang Asia memang selalu selangkah di depan. Walau rata-rata negara berkembang, tapi penduduknya nggak miskin senyum. Apa mungkin, andai suatu saat Indonesia jadi negara maju, gue bakal gantian nanya, "Sorry, where's your country located?"

lundi 15 octobre 2012

Istiqlal-Cathedral, Bukti Budaya Damai Masyarakat Indonesia

Ada pemandangan menarik yang mengundang penasaran jika Anda berjalan di Sawah Besar, di dekat Lapangan Merdeka. Di sana berdiri dua bangunan gagah yang membuat saya tercenung dan berpikir. Di ruas kanan jalan berdiri sebuah gereja megah nan cantik bergaya neo-gotik. Berwarna abu-abu, dan atapnya meruncing ke langit, seolah berniat menusuk awan. Di ruas kiri jalan, bangunan yang tak kalah keren, masjid Istiqlal, dibangun. Berwarna putih dengan banyak pilar, membuat saya bertanya-tanya, seindah inikah Taj Mahal di India? Sedangkan Katedral Jakarta sendiri mengingatkan saya akan Sagrada Familia karya Anthoni Gaudi, dengan warna yang mirip.

Siang itu, saya sedang merayakan ulang tahun saya yang ke-15 dengan keluarga dan beberapa orang teman. Maksud hati ingin ke toko Es Krim Ragusa, adzan zuhur berkumandang di tengah kemacetan. Jadilah kami banting setir dalam arti yang sebenar-benarnya. Kami berbalik arah ke Istiqlal, lalu shalat di sana.

Masjid Istiqlal, yang sudah melegenda dengan kemegahannya, rupanya mendatangkan banyak pengunjung juga. Setelah shalat zuhur, saya sempat berbincang-bincang dengan beberapa orang pengunjung, dan ternyata mereka jauh-jauh datang dari Indramayu hanya untuk ke Istiqlal! Jujur, saya tak habis pikir. Tapi buru-buru saya mengingatkan diri, mereka pada Istiqlal tak ubahnya kita pada Bali. Orang setempat menganggapnya biasa, tapi kita menganggapnya tidak biasa.

Masjid Istiqlal sendiri, yang dibangun pada 1978, sedang direnovasi habis-habisan. Cat-cat dan tangga bertebaran di mana-mana. Saya berusaha memaklumi, tapi pemandangan orang-orang yang tidur seenaknya membuat saya miris. Alih-alih tidur di pinggir, mereka malah ngorok seenaknya di tengah jalan! "Simfoni kandang babi," demikian seorang teman berbisik pada saya. Saya terkikik dan membenarkan dalam hati.

Selain pengunjung yang kurang disiplin, konter-konter penyewaan mukena dan sajadah juga belum meluas secara rata. Bayangkan, untuk masjid yang sebegitu luas, saya menghitung hanya ada tiga konter, dan itu pun kecil! Selain itu, banyak pengemis bertebaran di luar masjid. Saya bukannya sinis, tapi menurut saya, ada baiknya mereka ditertibkan.

Namun begitu saya keluar dari masjid, pemandangan indah berupa gereja. Saya kemudian menyandingkannya dengan atap masjid yang memayungi saya. Sungguh indah. Apalagi saya juga dengar, begitu banyak kegiatan amal yang dilakukan dua pihak, masjid dan gereja. Sungguh sebuah bukti budaya damai masyarakat Indonesia masih melekat pada diri kita.

Es Krim Ragusa, Satu Berdua pun Kebanyakan!
Setelah "wisata" ke masjid, waktunya mengisi perut! Kami pun bergerak menuju tujuan kami semula: kedai es krim Ragusa. Letaknya sedikit terpencil, tapi pengunjung berdesakkan, keluar-masuk, mengisi meja-meja. Saya langsung mengantre di depan kasir. Kira-kira 30 menit sebelum pesanan saya jadi. Es krim yang saya pesan, spaghetti ice cream, yang merupakan menu favorit, sangat enak dan banyak. Bahkan walau saya sudah memakannya berdua dengan seorang teman, tetap saja kebanyakan!

Bukannya promosi, sih, saya hanya memberi review dari sudut pandang saya. Mungkin saja nggak objektif. Satu-satunya yang minus dari kedai es krim itu, mungkin ibu kasirnya yang jutek dan kasirnya yang mukanya datar tar tar tar kayak baru disetrika! Well, at least keinginan saya untuk makan es krim Ragusa setelah tahunan nggak nyicip lagi terpenuhi.

Thanks God it's Sunday.
14/10/12.
Esa Khairina.

Goodbye Fourteen!

Hai. Inget nggak ya sekarang tanggal berapa? Oh, tanggal 15 Oktober ya? Kalo sekarang tanggal 15, berarti tiga hari yang lalu tanggal berapa, dong? 12. Ada apa di tanggal 12 Oktober?

Jengjengjengjeng....
*drumrolls*

Okeh. Jadi guys, 12 Oktober itu hari lahir gue. 12 Oktober 1997 tepatnya. Jadi...., automatically sekarang saya sudah resmi berumur 15! Pertengahan sepuluh tahun! YEAAAAY!

*brb ngitungin kado*

Entah kenapa gue sukaaaaaaa banget sama angka 12. Selain tanggal lahir, mungkin sebabnya 12 itu nomor absen gue di kelas, nomor registrasi gue waktu ikut CYCLE Conference'12, dan nama SMP gue dulu. Sedangkan Oktober..... Honestly, I hate October. Nggak tau kenapa. Gue sih bukan pakar feng shui atau pakar telematika kayak Roy Suryo *dan apa hubungannya feng shui dan telematika dengan segala hal ini?* Semuanya bermula sejak tiga tahun lalu. Setiap Oktober, gue siaaaal mulu. Semoga aja "kutukan" itu berakhir tahun 2012 ini, amiin.

Oh iya. 12 Oktober itu juga wedding anniversary Nyokap-Bokap gue, loh. Jadi tuh ceritanya, gue lahir di anniv setahun ortu gue nikah! Whooop, makanya bokap sering banget bilang kalo gue ini "kado" buat doi. Muahahaha.

14, oh 14. Banyaaak banget hal yang terjadi selama gue berumur 14 tahun. Setahun yang kayak Nano-Nano; manis asem asin, rame rasanya~ 12 Oktober tahun lalu, gue diteriakin "happy birthday!" sama anak-anak 12, dan itu pas gue lagi UTS. So many things changed! Tahun ini gue bukan murid putih biru lagi, tapi putih abu-abu. Sekolah gue bukan SMPN 12 lagi, tapi SMAN 70. Gue juga ngerayain ultah dengan teman-teman yang berbeda, walau teman-teman SMP yang sekolah di SMA lain juga ngasih ucapan langsung karena kita training  ESQ bareng.

Mungkin 13 dan 14 adalah usia yang paling produktif untuk gue. Di umur 13 tahun gue nulis beberapa judul buku dan di umur 14, dua dari beberapa itu, terbit. Sebagai penulis, alhamdulillah gue merasa lebih, uhm, dikenal masyarakat, dan gue beberapa kali diundang roadshow sama penerbit. Selain itu... gue juga mengeksplorasi beberapa hobi baru. Nggak lama setelah SMA, gue ikut pementasan teater Telur Emas, di GSRJ Bulungan, 22 September lalu. Yah, walau ada beberapa hal yang nyakitin dan nguras air mata, sih, tapi air mata itu juga bagian dari kebahagiaan, bukan? And I can't be more grateful for those things. Thanks, God....

But life goes on, ppl, and time flies faster than you think. Gue udah bikin resolusi buat umur gue yang sekarang 15 ini. Yap, gue emang nggak kayak kebanyakan orang yang bikin resolusi di awal tahun. Gue bikin resolusi pas gue ulang tahun! Dan berhubung resolusi gue untuk umur 14 banyak yang terkabul, gue harap resolusi gue tahun ini bisa terkabul juga. Amiin.

Once again, HAPPY 15TH BIRTHDAY, ME!

15/10/12
Cheers,
Esa Khairina.

jeudi 20 septembre 2012

AJAL&AGIL: Muka Heavy Metal, Hati Heavy Rotation

Oke, ehem, berhubung ini blog baru gue (yang gue bikin antara rela dan nggak rela, berhubung Multiply mau ditutup), too many tales I wanna write! Sejak gue masuk SMA, hampir udah nggak ada waktu buat ngeblog. Jangankan ngeblog deh yaa, punya waktu buat istirahat aja udah jadi kemewahan tersendiri. Guru-guru gue sangat… sangat… dan terlalu baik untuk memberi kami waktu untuk break. Tiap hari dikasih PR melulu….

Apalagi gue ikut ekskul teater, yang rehearsal-nya bikin gue megap-megap. Tiap hari latihan intensif, jadi yuk menghitung, berapa waktu yang gue gunakan di luar rumah? Gue bangun jam setengah enam dan berangkat sekolah jam setengah tujuh. Pulang jam 2.45 siang, trus latihan sampe jam enam. Hari Senin-Rabu-Jumat, gue kursus Bahasa Inggris. Weekend pun abis buat latihan. Waktu istirahat dipake buat ngerjain tugas. Buntutnya? Tiga minggu lalu gue tifus. Hurray.
Tapi entah kenapa, gue lebih milih capek otak sama badan daripada capek hati. Di rumah cuma diomelin, sama sekali nggak bisa nyante. Dan semakin sibuk gue, semakin besar kemungkinan gue ngelupain hal-hal yang memang seharusnya nggak perlu diingat-ingat lagi. And because I always get tired at night, gue langsung blek tidur begitu nyentuh kasur, gaperlu pake flesbek sama sweet memories in the past, galo, dan ujung-ujungnya spamming di Twitter.
(UDAHAN YUK GALAUNYA.)
Daaaannnn seenggaknya capek badan itu cuma sementara, nggak selamanya, dan gue baru ngerasa capek setibanya di rumah. Di sekolah sih gue hepi-hepi aja dan bahkan cenderung nggak ngerasain capek sama sekali. Mungkin karena gue dikelilingi orang-orang yang miringnya udah 90 derajat.
Temen-temen teater gue itu……. %$^&*() banget, sob. Gila, crazy, insane, terserah Anda mau menyebutnya apa. Bayangin ajaaa, pernah pas yang lain lagi pada latihan, gue sama mereka malah main bentengan dan meng-alay ria di lapangan. Pernah juga yang lebih gila, pas gue lagi banyak-banyaknya tugas, gue dateng ke sekolah lebih awal buat main remi sama Nolilen *NB, bokapnya ini polwan, loh*. Pernah juga gue sama Fianu sama Wedew manjat-manjat air mancur buat ngealay. Random parah, dan sebelumnya di SMP gue nggak pernah merasa segila ini, seliar ini, se-untamed ini….



Dan saking gila dan “keanakjalanannya” mereka (dan gue…), gue punya panggilan khusus. AJAL DAN AGIL. Sadap. Berdarah-darah gitu kesannya. Padahal AJAL itu singkatan buat Anak Jalanan, dan AGIL itu singkatan buat Anak Gila. Dan gue juga punya sentence khusus untuk mendeskrepsikan mereka: Muka Heavy Metal, Hati Heavy Rotation. Wuih.







Muka mereka emang boleh garang, coy, dan kalo ketawa seringnya nyablak, terutama Erma si angub jadi-jadian. Tapi justru karena kecuekannya itu gue jadi merasa lueppassss (PS., gue cuek dan lepas bukan berarti gue make legging bolong ye… *lirik Cherie* Bukan berarti pula gue gegulingan sama tiarap di rumput kayak latihan militernya Be A Man, iya kan, Ce, Dhe?).





Karena mereka juga gue jadi ngerasa free dan hidup sehidup-hidupnya. Seenggaknya masa-masa SMA nggak sesuram itu, lah….


Thank you Ajal-Agil :”)

vendredi 14 septembre 2012

Semut Oh Semut

Oke....

Ketika gue nulis nih blog, yang menjadi objek kajian *sakau sosiologi* gue adalah para semut. Bokap udah sering banget komplain sama sepasukan serangga yang satu itu. Ke mana-mana selalu bawa kawanan. Kayaknya nyaris nggak pernah sendiri. Baru muncul satu, terus muncul lagi dua, tiga, sampe satu komunitas yang membutuhkan kalkulator untuk menghitungnya dengan cermat.

Di rumah gue, entah kenapa, kayaknya semut sama nyamuk betah banget bersarang. Adek gue sampe bela-belain beli raket nyamuk, tapi teteup aje, pada nggak kapok. Doi pun frustasi dan menggunakan raketnya buat main badminton. Begitu kena shuttle cock, bulunya angus semua. Adek gue galau....

Kalo diperhatiin, semut itu nyaris nggak pernah sendiri dan selalu sibuk. Selalu dalam unstopped movement. Selalu berkawan dan berkonsolidasi. Kerjaannya ngumpulin makanan mulu, kayak nggak pernah kenyang *brb ngecek perut*. Saking sibuknya dia, gue sampe nggak bisa ngebedain mana temen mana keluarganya *trus mau lo?*. Saking sibuknya, sampe-sampe suatu detik mereka say hi, dan di detik selanjutnya mereka mengucapkan goodbye. Selalu begitu.

Dan rasanya... gue sedikit agak sama dengan para semut. Orang bilang gue selalu dikelilingi keramaian. Bahkan ada tiga orang yang bilang, "You always get friends that surround you like a shield..."

Sama juga seperti para semut, sejak SMA, gue bener-bener sibuk. SIBUK, dengan S, I, B, U, dan K, semuanya di-caps. Gue selalu berada dalam rutinitas yang membuat gue sering banget mengucapkan "Heeei," dan, "Dadah." Teman gue banyak dan seperti semut, gue juga selalu bareng mereka. We're on our unstopped movement.

And those school task could poison me instead. Guru jaman sekarang mah ngasih tugas seolah-olah minta izin buat kentut. Disukain dan "direstuin" atau nggak, mereka tetap melakukannya. Tugas-tugas jaman sekarang pun udah kayak air aja, ngalirrrr terus nggak brenti-brenti. Bahkan walau gue udah ngusahain buat ngelarin PR di hari pertama PR itu dikasih, gue tetep ngos-ngosan.

Eh, tapi gue dan temen-temen gue sesama grup "poisoned by homework" juga nggak sendiri, kok. Liat aja itu semut-semut.... Emang lo kira mereka ikhlas mikul-mikul remahan roti? Nggak juga sih. Mungkin aja mereka males, tapi di mana-mana prinsip "mau nggak mau harus mau" itu selalu ada, coy. Analogi paling gampangnya gini: kalo orang bisa kaya tanpa kerja, ngapain mereka bercapek-capek berangkat pagi pulang dinihari? Plus bonus macet-macetan di jalan, pula.

Gue mau nggak mau ngerjain tugas karena gue pengin dapet yang terbaik *asekk*. Apalagi di 70, penjurusan nggak dimulai pas lo kelas dua, tapi pas awal semester genap kelas satu. Dan belom apa-apa, gue udah migrain sendiri ngeliat daily schedule gue yang supersesak. Apalagi gue ikut ekskul teater dan tanggal 22 September nanti kita bakalan pentas untuk Lomba SLTA JaBoDeTaBek. Tiap hari latihan efektif, belom lagi tugas-tugasnya. RASANYA TUH..... bener-bener.

Balik ke semut. Sekarang perhatiin deh, apa para semut pernah keliatan galau dan do something useless? Nggak. Bersama semut-semut lain, dia selalu kelihatan sigap ngambil makanan. Tapi di sarangnya... who knows?

And it happens to me, too. People say, "Cha, kayaknya stok senyum lo itu kebanyakan, deh," bahkan banyak yang dengan kurjarnya bilang, "Lo brenti ketawa kek. Belom sikat gigi seharian aja belagu." But they don't know what I feel inside, deep down. Bokap-nyokap gue bukan tipe ortu yang menjadikan globalisasi sebagai pengoyak nilai-nilai yang mereka anut, dan it kinda kills me slowly. Dan adek gue....... walaupun dia punya kuping, tapi seringnya jadi pajangan doang. Sering banget nge-bully gue. Dan gue nggak punya siapa-siapa sebagai tempat berkeluh-kesah. Semuanya udah sibuk sama urusan sendiri-sendiri.

Gue yakin, semut-semut pasti sering galo. Berapa ratus anggota mereka yang mati keinjek per harinya? Mungkin setiap senti sudut rumah adalah kuburan massal buat mereka. Siapa yang tau tiap hari mereka ngadain tahlilan berapa kali? Hayo?

Tapi mereka berusaha menyembunyikan kegaloan mereka dengan terus kerja. Sesibuk mungkin. Segiat mungkin. Secapek mungkin. Harapan mereka, dengan terus begitu, mereka bisa ngalihin pikiran dari hal-hal yang bikin mereka sedih, dan pas mereka tidur, mereka nggak perlu mikirin hal-hal itu lagi.

I feel it, too, and I don't really succeed. Sesibuk apapun gue, setepar apapun, tapi ketika semua kesibukan itu udah abis dan gue tinggal "menggelepar" di atas kasur, pikiran-pikiran itu datang. Flashback ke kejadian indah yang lo tau nggak akan terulang dan bikin lo makin sesak. Berusaha mengejar sesuatu yang lo tau nggak akan tergapai. It's like... try to hold the wind.

Yah, tapi at least, gue sama bahagianya dengan para semut. Seberduka apapun mereka, mereka selalu tau kalo life goes on. Yang mereka pikirin adalah cara untuk survive, dan andai itulah satu-satunya cara untuk bikin gue bisa ngelupain seseorang, cara itulah yang akan gue pake. Gue akan mencoba, dan berusaha, buat ngerti. Ini semua nggak sesimpel yang lo pikir, tapi suatu saat lo akan paham yang gue maksud.

Just like a quote said, "You are the reason why I became stronger. But still, you are my weakness."

mercredi 22 août 2012

Bitter Honey part 1

Wajah Nata berapi-api. Dengan langkah cepat dibukanya gerbang rumah kosnya, lalu ia menghambur pada Rega yang sudah duduk manis di beranda dengan tangan mengepit gitar.

"Reg, Reg! Guess what, gue diajak jalan loh sama Rei! Berdua aja, pula!"

Rega menatap cewek itu, campuran geli dan frustasi. Padahal dia sudah menunggu nyaris dua jam di depan rumah gara-gara pintu Nata dikunci DAN setelah cewek itu nyampe rumah, tanpa basa-basi atau minimal nawarin minum, hujan deras kata-kata meluncur dari mulut Nata.

Dan satu... dua... tiga...

"Rei itu ternyata orangnya lucu, loh, Reg, childish gitu juga kayak lo. Gue nggak nyangka, ternyata di balik otot-ototnya yang square-square itu, dia masih suka nonton Phineas and Ferb! Trus dia bilang dia juga hobi gambar karikatur gitu. Lo mau liat nggak?" tanpa mendengar jawaban Rega, Nata mengaduk-aduk isi ranselnya yang berantakan dan mengeluarkan kertas sketchbook yang dirobek. "Ini diaaa gambarnya! Dia tau loh gue suka Harry Potter, makanya dia bikin karikatur Harry lagi nangkep Snitch! Liat deh Reg! Ada tanda tangannya pula. Ih, tuh cowok lucu banget sih...."

"Ta...." panggil Rega pelan, bosan, karena kalau nggak di-stop, mulut bawel Nata bisa mengoceh empat jam tanpa henti. "Woi, gue laper nih!"

"Laper?" kelopak mata Nata yang besar seperti kelopak bunga matahari membulat. Detik berikutnya, Nata menabok jidatnya yang mendapat gelar kehormatan "jidat lapangan bola" oleh orang-orang. "Oh iya! Lo udah nunggu dari tadi kan ya? Aduh maap maap gue lama. Lo belom lumutan, kan?" Nata langsung bangkit dan merogoh kunci rumah dari saku celana, lalu membuka pintu.

Rega bangkit dan mengekor Nata. "Paling bentar lagi karatan," angguknya kalem. Nata menatapnya hopeless, nyaris ketawa.

"Lo tunggu di sini bentar yaa, perasaan gue masih nyimpen daging hot dog, deh," Nata menggumam nggak jelas sambil menuding sofa, lalu melempar ranselnya ke furnitur itu dan menendang Converse-nya asal-asalan. Tanpa malu-malu dilepasnya jeans, menampilkan celana kodorai biru tiga per empat. Berikutnya Nata menanggalkan pullover abu-abunya, menyisakan kaus chic putih.

Rega cuma menonton semua itu sambil geleng-geleng kepala dan iseng-iseng memetik gitar. Kalo orang, terutama cowok, ngeliat kegiatan Nata di dalam rumah kayak gimana, dia berani jamin mereka pasti langsung ilfeel. Tapi Rega sudah berteman dengan Nata nyaris dua tahun lamanya. Di kelas sembilan, Rega yang anak baru sebangku dengan Nata.

Segala hal yang bisa ia pikirkan kalau ditanya opini tentang Nata bisa dirangkum menjadi satu kata singkat, "Ekstrovert!" Padat, singkat, jelas, kayak ngisi soal ulangan. Cewek itu mungkin cewek paling blak-blakan yang pernah ditemuinya. Bayangin aja, di hari pertama Rega kenalan sama Nata, cewek itu menawarinya pancake, dan setelah Rega menerimanya, Nata langsung mencerocos, "Lo tau nggak, sopir gue lebih jago masak daripada si Mbak, loh! Sopir gue tuh bisa bikin steak sama roti cane, eh tapi dulu pernah dikasih uang buat bikin, masa dia malah nraktir temen-temennya yang tukang bajaj! Kurang asem apa coba? Terus blablablabla..." Rega cuma bisa bengong dengan rahang nyaris jatuh.

Dulu sih, Rega pikir Nata cuma cewek genit yang tiap lima menit sekali ngelirik kaca buat ngebenerin rambut, tapi ternyata dia seratus persen salah. Nata beda banget sama cewek-cewek di lingkungannya. Selain selalu menjadi favorit para cowok buat dikerjain abis-abisan dengan trademark "Jipang" alias Jidat Lapang, Nata juga selalu jadi tempat curhat anak-anak cewek. Dia hampir nggak pernah ngegosipin orang, kecuali ya, itu tadi, tentang sopirnya yang lebih punya talent dibanding kokinya.

Cewek itu sendiri juga superaktif, kata singkat yang merujuk pada supersibuk. Mungkin saking kebanyakan talenta. Nata lihai dalam berdebat, gampang dalam menghafal, jago Matematika, dan punya segudang ide kreatif yang membuatnya jadi kecintaan teman-teman sekelas dadakan pas ulangan Kesenian. Satu hal lain yang bikin Rega makin kagum padanya adalah fakta kalau Nata udah bisa nyari uang sendiri dengan semua talenta itu.

Mungkin karena keekstrovertannya itulah, Nata gampang akrab sama semua orang, tapi Rega tahu dari semua teman-temannya, dirinyalah yang paling Nata percaya. Kalo bukan dia, mana mungkin Nata sampe bela-belain ke rumahnya cuma buat minta tolong menyimpulkan dasi SMP-nya? Mana mungkin Nata selalu minta sepuluh menit setiap hari untuk bisa catch up dan curhat sepuas-puasnya pada dirinya? Mana mungkin Nata selalu menggandengnya jadi partner kalau ada tugas kelompok? Mana mungkin....

"Hoi! Bengong lagi, ntar kesambet lho!"

Lamunan Rega buyar dan ia mendongak ke Nata yang sudah duduk manis di sampingnya. Lagi-lagi. Rambut cewek itu tetap membandel keluar kunciran, tapi Rega tahu itu adalah ciri khas Nata. Menguncir rambut asal-asalan dan menjepit poni ke samping kanan, fanatik dengan merk Converse, selalu memakai jeans, kaus chic, dan pullover beragam. Selalu begitu. Tapi jangan salah sih, Rega tahu jeans Nata berwarna-warni, dan untung kaus, ia tahu betul warna netral adalah warna favorit cewek itu. Sedangkan pullover, Rega sampai hafal urutan warna yang dipakai Nata setiap pulang sekolah. Biru untuk hari Senin. Abu-abu untuk Selasa, merah marun untuk Rabu, turkois untuk Kamis, hijau lumut untuk Jumat.

"Yeee, nih anak, tadi bilangnya laper, sekarang malah planga-plongo kayak sapi ompong gitu. Regaaa, nanti keburu dingin tuuuh!"

Buru-buru Rega mengambil hot dog-nya dari piring, lalu memakannya. Nata sama sekali nggak bisa masak dan itu mungkin kelemahan terbesarnya yang paling nyata, di samping cewek itu juga bego olahraga, tapi Nata selalu jago me-mix and match bahan-bahan beku yang ada di kulkas untuk dijadikan pengganjal perut.

"Eh, gue ada PR Bahasa Prancis nih, susah banget. Reg, nanti bantuin gue yaaa," Nata berujar ringan, sok manis. Ciri khas yang juga Rega hafal luar kepala kalau Nata ada maunya.

"Kalo gue nggak mau, gimana?" Rega membalas datar, menikmati ekspresi ceming Nata. Cewek itu memang paling gampang dikerjain. Gampang percaya sama orang.

Satu, dua, tiga.... Dan meledaklah tawa Rega. "Aduh, duh, duh, jelas gue bantuin lah, Nata, lo itu gampang banget sih dipelonco!"

"Reg, nggak lucu tau nggak!" Nata merengek nggak suka. "Gue udah lupa sama apa yang waktu itu pernah kita pelajarin, sumpah. Gurunya bikin gue salah fokus total. Sok seksi banget sih, bikin gue enek. Padahal lo tau kan, gue ini..."

"Ya, ya, ya..." Rega melanjutkan mengunyah hot dog-nya. Melihat pipi Nata yang menggembung sok ngambek, Rega tak tahan untuk tidak menjawil rambutnya, menarik kepalanya untuk menyender di bahunya. Rega udah biasa banget sama gerakan ini, dan baik dia maupun Nata sama sekali nggak risih.

"Lo baru digituin aja udah percaya. Pantesan aja lo dibooing mantan-mantan lo mulu."

"Ih, nyumpahin ya?" Nata menarik badannya dari Rega, lalu kembali bersedekap, gimik yang sudah Rega kenal kalau-kalau Nata mulai bete.

"Bukannya nyumpahin sih, ngingetin doang," Rega menyanggah santai. "Lo itu terlalu polos dan terlalu ramah, makanya orang-orang pada suka salah paham. Mereka pada ngira lo naksir mereka. Dan giliran lo bener-bener naksir mereka, yang lo taksir itu udah tau titik lemah lo, trus lo dimainin, deh...."

"Sadis lo! Masa iya gue sebego itu, sih," Nata