mercredi 10 août 2016

Second Term: Salty Saccharine

(Mengintip dari jendela.)
(Hm, berdebu.)
(Brb cari kemoceng.)

Hi there, Captain! Selamat kepada kamu, orang gabut kesekian yang nyemplung ke dalam kenangan genangan blog ini. Setelah mengisi blog ini dengan dua post yang moga-moga bermanfaat (baca: paper berdasarkan passion yang sayang dianggurin di folder tugas, sok atuh scroll sedikit), biarkan Echa kembali menjadi awkward ninja she has always been.

Well, so... after carefully considering what would I do with this blog, I came up with this idea. Agar menjaga blog ini dari sarang laba-laba (ditambah banyaknya pertanyaan seputar kehidupan kampus tu ngapain aja sih) Echa memutuskan untuk selalu menulis rewind tiap semesternya. Oho, tenang aja, saya nggak akan copas semua tugas gue di sini kok karena kalian bisa mati bosan kalau baca review-slash-biografi Aquinas saya but rather I would focus more on some fun (or boring) activities I followed last term.

(Asik.)
(Akhirnya Echa punya proker.)
(Echa untuk hidup yang lebih teratur.)

Semester kedua saya di HI, FISIP, UI nggak se-hectic semester pertama. Hal ini punya sisi alhamdulillah dan astaghfirullah-nya sendiri-sendiri. Alhamdulillah, karena saya nggak tahu apa saya bisa survive empat tahun kalau sibuknya kayak semester satu. Astaghfirullah, karena saya jadi merasa jetlag menggabut setelah satu semester pulang paling cepat pukul 9 malam.

Gimana dengan kehidupan akademis saya? Astaghfirullah atau alhamdulillah? Biarkan saya review satu-satu. Karena matkul saya masih dipaketkan, maka saya mengambil 20 SKS semester ini. Matkul pertama saya adalah MPK Bahasa Inggris. Menurut saya ini kayak semacam lanjutan matpel bahasa Inggris kalian di SMA sih, tapi banyak topik SMA yang nggak diulas ulang, so you have to review it yourself. Kalau di SMA kita lebih diajarkan pada struktur kalimat yang benar dengan segala tenses dan grammar, di MPK Inggris dituntut bisa merangkai paragraf padu akademis tanpa cela. And I'm going to be upfront about it: susah, men. Karena selama ini kita di-expose pada tulisan bahasa Inggris yang sifatnya populer, jadi agak kagok juga waktu disuruh nulis sesuatu yang ilmiah dan terstruktur. (I don't work well with structure, mind you.) Anyway, MPK Bahasa Inggris ini disebut sebagai matkul 3 SKS rasa 6 SKS, karena kita mempelajarinya selama lima jam seminggu (satu jam matkul: 50 menit). Dua jam buat reading, tiga jam buat writing. Me, I loafff the reading session more, karena selain lebih singkat (hehe, saya kan mahasiswa biasa), metode mengajar dosen saya, Miss Arshinta, itu seru, dan materinya juga nggak hoam.

Matkul kedua saya adalah... MMI. Manusia dan Masyarakat Indonesia. HAHAHA ini nggak usah dibahas ya, nanti kalian yang di FISIP nggak surprise lagi :-) Tapi percayalah ketika saya mengatakan, setiap hari Senin usai MMI, profile picture grup Line kelas selalu berubah dan dosa kami bertambah karena gibah. Friendly reminder: buruan research apa itu air panas dingin di Yutob. Bye. (Anyway, I'm not being fair, MMI itu sebenernya superseru, 11/12 lah sama Pengantar Antrop, tapi buat saya terlalu ngawang.)

Geng Air Panas Dingin/AC Satu Sisi/Janda Yutob
Lanjut. Matkul ketiga saya, yang juga ada pada hari Senin, adalah Penulisan Populer. LOL ini perjuangan banget sih saya bisa dapet kelas iniii, but that's a long (and scary) story. Saya bukan kucing yang nyawanya sembilan, jadi harus ekstra hati-hati. Oke, sekian Preambule-nya. Actually, mostly teman saya mengambil matkul Aceng (Academic English), tapi konon itu 11/12 sama MPK Bahasa Inggris dan disebut "matkul rekreasi" karena easy A. Gara-gara tekad saya nggak mau menjadi diri yang lama di SD-SMP-SMA (saya datang-saya makan dan pulang-saya mengucapkan assamu'alaikum), saya ngambil Penpol, deh.  Penpol itu matkul eksternal yang saya belanjakan dari FIB, dan menurut saya ini matkul ringan yang lumayan beban kalau Anda deadliner. Why? Karena setiap minggu bakal diberikan satu plot prompt oleh dosen untuk ditulis dan diserahkan minggu berikutnya. Saya agak keteteran di sini karena paling nggak bisa nulis bebas dengan tema dan deadline. Tapi ini melatih kreativitas (dan daya nge-deadline) banget sih. Nah, setelah tugas diserahkan, dosen bakal membentuk FGD (focus group discussion) untuk mengulas output tugas yang dikumpulkan. You may be lucky or you may be unlucky HAHA, karena selera orang beda-beda, dan kalau ada yang nggak suka sama cerita kamu, siap-siap dapat nilai 6. Minggu depannya lagi, dosen bakal mengembalikan tugas, disertai komentar teman-teman dan komentar beliau sendiri. Kadang diomongin juga di depan kelas. So, beware, beware, siapkan mental ahahaha.

And now comes the mighty MPKT B. Jujur, sampai sekarang saya masih nggak nangkep faedah matkul ini tuh apa, karena basically kalian yang anak Soshum akan dihadapkan lagi pada statistika dan ulasan-ulasan IPA yang sifatnya teknik banget. Enam SKS, dan setiap kelas, pasti ada tugas. Lupakan kalau mau obob-obob cantik di kelas ini. Kamu bakal dibagi jadi FG dan HG, lalu membuat tugas berupa peta konsep (semua tugas MPKT B bentuknya either presentasi atau peta konsep, mancay kan) dengan deadline sedadakan tahu bulat. Peta konsep itu dibuat di aplikasi bernama Cmap Tools. Kalau udah, di-upload ke Scele. DAN INI TRICKY BANGETTT karena kamu harus well-aware dengan waktu batas pengumpulan (kalau lewat nilai otomatis kepotong), folder pengumpulan, dan kelompok. Apakah semua selesai setelah dikumpulkan? HAHA YOU WISH. Kamu masih harus melakukan group discussion di Scelemelekete itu, hasil diskusinya dibikin presentasi deh. Cuma itu nih? HAHA YOU WISH (2). Semua orang bakal kebagian presentasi individu dengan topik teknikal ituuu, dan semua orang harus kebagian nanya dan mengkritisi. Lalu dinilai dan nilainya itu upload ke Scele lagi. Apalagi yang harus di-upload ke Scele? Revisi presentasi setelah kamu dibantai habis sama kelompok lain. 

#HG3Bangga mempersembahkan:
Berta, Echa, Vania, Rakha, Amel, Ocha
Yha, tapi enaknya MPKT B, waktu ujian kamu boleh bawa cheatsheet, jadi sangat membantu sih. Karena MPKT B juga, saya disatukan (cih, padahal paling sering perang di grup) dengan lima orang ini: R. Vania Sapphira (R itu bukan singkatan Raden, fyi), Amalia Rufaida (closing speech-nya akan dikenang sepanjang masa), Alberta Prabarini (she writes decent blogposts, to be honest), Rakha Andinayaka Indra (Van gue masih inget dia tepuk-tepuk di jalan astaga), dan Emia Krisna Pepayosa (nggak tau kenapa saya sama ni anak melulu kalau kelompok diacak). HG kami, HG 3, punya nama RARE dan trademark #HG3BANGGA. EMPAT BULAN COY setiap Rabu dan Jumat duduk menggerombol dengan mereka. Mulai dari berantem over smallest things, nge-Google nama satu sama lain, nyemal-nyemil di depan Mbak Arleni (Ocha suhu danus Kelas O selain Hanim), ngelarin presentasi sembari nunggu kelompok 1 selesai (kami super multitasking emang), ngisi Icon Pop Quiz nama kota, sampai tiba-tiba dibantai Rakha waktu lagi presentasi. Jadi, ya, mereka kelompok paling longlasting dan so pasti paling saya rindukan. (Brb buang ingus.) Anyway, for me personally, MPKT B itu salah satu media sosialisasi isu-isu lingkungan hahaha, dan kudos Greenpeace, kudos Kak Andre, saya survive dan bisa menjalankan semua project matkul ini dengan antusias. Saya juga suka banget sama dosennya, Mbak Arleni. Beliau asalnya dari FK dan saya pikir awalnya beliau super-strict dan nggak paham sama keadaan FISIP, but she turned out to be one of my fav lecturer this term.
(Ok, kalau kalian yang baca ini baru kelar MPKT B juga, maaf ya kubuka album biru luka lama.)

Now prepare yourself for Pengantar Metode Penelitian Sosial a.k.a. PMPS. Satu-satunya yang saya ingat dari matkul ini adalah saya dibantai saat presentasi setelah begadang semalaman, dan setengah waktu saya dihabiskan jalan-jalan ke Bogor saking seringnya ni kelas di-cancel dadakan. The rest you have to find out yourself.

Nah, matkul saya yang terakhir sekaligus yang paling sakral adalah Pengantar Ilmu Hubungan Internasional alias PIHI. Alhamdulillah, trauma saya tidak terulang. Saya tidak harus mengikuti kuis peta buta dan ditanyakan kapan Kongo ganti nama jadi Zaire, tq. Saya lumayan suka matkul ini (tbh, menurut saya ini matkul paling jelas sepanjang semester dua) karena dosen saya superenak ngajarnya hehe. Ada dua review yang harus dituntaskan sebagai tugas di kelas ini: review pemikiran tokoh dan review konsep. Saya kebagian Thomas Aquinas (pencetus teori Just War) dan International System (menurut saya ini konsep paling luas dan indefinite di antara semua konsep, jadi agak susah nyari sumber literasinya.) Matkul ini juga menuntut analisis dan bukan hafalan, dan waktu UAS, saya disuruh bikin analisis dari berita internasional yang lagi yahud yang tidak ada di Line Today. Tq. Tq. Tq.

I seriously loved second term karena... menurut saya kehidupan perkuliahan yang paling dekat dengan cerita-cerita FTV ya adanya di semester ini aja. Hari Selasa, saya libur. Pulang kuliah, saya biasanya wisata kantin fakultas atau memonopoli hotspot Perpusat buat nulis, latihan desain, download lagu beralbum-album di Joox, nunggu Gojek selesai rush hour, nunggu hujan, nunggu kegiatan kepanitiaan yang biasanya dimulai pukul tujuh, dan bikin review PIHI lain sebagainya. Setelah jadi laler toko buku, saya juga jadi laler Perpusat karena tahu spot-spot rahasia yang pewe untuk tidur, gosip, ngemil, mengamati manusia, atau sekadar membaca dalam damai.

Kalau weekdays saya lumayan senggang, gimana dengan weekend-nya? HOHOHO. Usually fully booked. I plunged into two volunteering activities: jadi pengajar di Rumah Belajar BEM UI, dan volunteer in charge di Greenpeace Youth Jakarta. Bukannya tanpa perjuangan juga LOL bisa jadi pengajar Rumbel :( Awalnya, aplikasi saya nggak masuk karena dengan begonya saya lupa klik "SUBMIT" di G-From. But I got help from my friend Novi, lalu saya diwawancara khusus dengan Kak Alifah, and then I was in a team consisted of four people (Farah, Kak Ratih, Nova) to teach the second graders!

"Mana burungnya?"
Saya mendaftar jadi volunteer Greenpeace murni out of curiosity, karena selama ini belum pernah nemu organisasi internasional pejuang lingkungan yang membuka kesempatan relawan dari anak muda. (Later I found out about WWF Voluntary Program, but well...) Kegiatan GP bermacam-macam, mulai dari kunjungan sekolah untuk edukasi, update campaign, sampai aksi di daerah-daerah tertentu. Saya juga sampai dua kali diundang jadi juri bareng Kak Andre (which is Leader Greenpeace Youth Jakarta) di acara Greensomething PNJ dan PADUKA FEB UI.




Bagi rapor. EA.
The tricky part: kegiatan GP biasanya ada di hari Sabtu, sama kayak jadwal mengajar saya. So I usually spent my Saturday commuting Fatmawati-Tebet/Kuningan-Depok. JANGAN DITIRU! Mengajar anak kelas 2 SD butuh energi dan asupan nutrisi. Mengingat-ingat materi SD, pura-pura ceria, teriak-teriak di saat mereka bandel dan teralihkan perhatiannya, dan ngikutin mereka main buaya-buayaan di saat istirahat itu butuh banyak tenaga, soalnya. Serius. Hari Sabtu saya terasa lebih melelahkan daripada empat hari kuliah. But it was worthy and I felt content and happy. The fluttery feeling you get when you know you do the right thing.


Jagoan Neon kelas 2
Selain ngajar mingguan, Rumbel BEM UI juga punya dua kegiatan lain: study tour dan Pagelaran Bocah (Pagecah). Kami jalan-jalan ke Museum Keprajuritan di TMII, dan kelas 2 digabung dengan kelas 1. Sebelum berangkat, nyokap mewanti-wanti saya, "Jagain itu anak orang, kalau hilang kamu tanggung jawab." HAKJLEB. Untungnya, justru mereka yang selalu mau dekat-dekat saya sampai kedua tangan selalu penuh. Hamdallah nggak berasa jomblo. (Tapi pusingnya di dalam bus sih.) (Serius, mereka gelantungan di holder bus dan ngeluarin kepala dari jendela.)

Pagelaran Bocah dijadikan proker sendiri dan menarik keikutsertaan panitia di luar Rumbel, jadi saya harus ikut oprec lagi. Ini juga perjuangan, men. Saya sempat galau berat di hari wawancara--I was thinking to myself, repeatedly, "Terusin nggak ya?"--karena sudah menjadi PJ suatu divisi di event Greenpeace. Takut keteteran aja, sih. But some unexpected things happened on the day of my interview and prevented me from going home. Satu, ada diskusi dengan Kak Andre di Perpusat. Dua, saya keterusan ngobrol dengan Fachri dan Amel, dua teman HI, sampai-sampai saya kedahuluan hujan. Masalahnya, orang yang mewawancara saya juga nggak membalas SMS, sampai saya menghubunginya via WhatsApp. Begitu flow informasi sudah lumayan lancar, HP saya mati.

Damn.

Luckily, Fachri stayed with me until the very end :") Dia yang meminjamkan saya ponsel untuk menelepon dan baru meninggalkan Perpusat setelah saya ketemu Kak Hilya sang pewawancara (perjuangannya juga nggak banget karena banyak orang yang pakai baju warna sama kayak beliau). Fachri juga yang sangat meng-encourage saya untuk melanjutkan wawancara dengan mantra berikut, "Kalo kata emak gue, buat ngilangin penasaran." In three words I can sum up everything I know about him: Fachri memang luvli.

Dan rezeki anak solehah, hujan reda setelah saya wawancara, dan Kak Hilya juga menawari saya tebengan sampai ke stasiun. In the next two months, saya yang keterima di kepanitiaan itu juga sering nebeng triceng motor Kak Hilya. She also introduced me to some cool places I'd never been before. Booth kami di Pagelaran Bocah, Kampung Main, juga laris manis dan membuahkan keringat. Better late than never: kudos to Kak Hilya, Kak Kavita, Gio, Gen, Retno, Dadam, Intan. Big <3

It looks nice on photo but you will never know the struggle

Para Mafia
(Behind the scene ed. before)

"Lempar saja dadunya biar ramai!"

Tim Terkalahkan
(Behind the scene ed. after)

I made a crucial change on my lifestyle, starting from year-end holiday sih. I decided to satisfy my wanderlust, my thirst for travel. Last year, I had a painstaking mental breakdown and somebody who knows me by heart advised me to travel more to heal myself. And it works! Setelah buku dan ongkos, pengeluaran terbesar saya dalam sebulan ya, buat jalan-jalan. Setiap ada matkul yang di-cancel, setiap jenuh di suatu kelas padahal jatah absen belum dipakai, setiap malas pulang, saya akan jalan-jalan. I will definitely make a special post for that.

So, how was my second term in the end? It's a familiar misfit: sweet and salty and sour and bitter and those get along well in my memories. Now, after I took my baby steps, I am not so ready for the real jungle of my college life namely second-year. (Sori mengharu-biru, baru kalah SIAK-War soalnya.) But, hey, change and challenge are two inevitable things, right?

samedi 28 mai 2016

Pasung: Pelanggaran HAM Tak Kasatmata di Indonesia

Setiap orang dengan penyakit jiwa, atau mereka yang diperlakukan demikian, harus diperlakukan dengan manusiawi dan hormat sesuai dengan harkat-martabat yang melekat pada diri manusia.
Resolusi Majelis Umum PBB 46/119, Pasal 1, Ayat 2.[1]

Untuk ukuran sebuah negara bercorak budaya ketimuran yang identik dengan nilai kesopanan, hak asasi manusia di Indonesia menjadi urusan kesekian yang mendapat perhatian dan prioritas dari pemerintah maupun masyarakat segala lapisan. Kebanyakan pelanggaran HAM di Indonesia baru mendapat bidik setelah disorot tajam oleh media asing. Ironi tidak berhenti di situ saja; mayoritas tindakan pelanggaran HAM di Indonesia yang mendapat perhatian publik “hanyalah” pelanggaran yang sudah memakan korban jiwa. Sisanya? Tidak diusut hingga tuntas, atau bahkan tidak disadari sebagai bentuk pelanggaran HAM sehingga tidak dilaporkan.
Salah satu pelanggaran HAM paling diremehkan di Indonesia eksistensinya adalah praktik pasung yang dilakukan pada mereka yang terganggu kejiwaannya. Praktik pasung baru mendapat tanggapan dari pemerintah setelah menjadi topik kajian lembaga Human Rights Watch Indonesia pada 2015. Jika disesuaikan pada pengkategorian Komnas HAM Indonesia, maka pasung termasuk pelanggaran hak “bebas dari penyiksaan, penghukuman, atau perlakuan lain yang kejam, tidak manusiawi, atau merendahkan derajat dan martabat kemanusiaan” yang merupakan bagian kelompok hak atas rasa aman.[2] Dari total 8.249 kasus pengaduan yang diterima Komnas HAM pada 2015, pelanggaran hak tersebut berjumlah 127 kasus, atau sekitar 1,53 persen saja dari keseluruhan.[3] Pengaduan atas pelanggaran hak tersebut bahkan lebih sedikit dari pengaduan pelanggaran hak kepemilikan tanah (1.225 kasus). Padahal, menurut kajian yang dilansir Human Rights Watch, sekitar 57.000 individu dengan keterbatasan mental di Indonesia pernah menghabiskan waktu mereka dalam pasung, dan sekitar 18.800 orang masih terkungkung di pasung hingga saat ini.[4]
Praktik pasung sudah mendapat larangan keras dari pemerintah pada tahun 1977. Program Indonesia Bebas Pasung sudah dicanangkan oleh Kementerian Kesehatan dalam dua kabinet berturut-turut, di bawah pimpinan Endang Rahayu dan Nafsiah Mboi, masing-masing ditargetkan rampung pada 2014[5] dan 2019[6]. Pada 2016, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa ikut mencanangkan program yang sama di lembaga yang dipimpinnya, dengan target rampung pada 2017. Akan tetapi, dengan waktu yang tersisa satu tahun, sosialisasi yang belum merata di tingkat pemerintah daerah, dan fakta bahwa tradisi pasung tetap saja dijalankan oleh keluarga penderita keterbatasan mental di rumah, pemuka agama, dan bahkan tenaga medis di yayasan rehabilitasi kejiwaan atau rumah sakit jiwa,[7] banyak orang menyangsikan keberhasilan program ini.
Tingkat kesadaran masyarakat Indonesia akan kesehatan mental masih sangat rendah. Pasung menjadi jalan alternatif tercepat ketika penderita keterbatasan mental bertindak agresif; hal itu dilakukan sebagai tindakan preventif, supaya penderita keterbatasan mental tidak mengganggu atau melukai orang-orang di sekitar mereka. Padahal, praktik pasung menyebabkan penderita keterbatasan mental semakin parah kondisinya. Mereka kian merasa tertekan dan depresi karena terkurung, dan banyak yang mengalami malnutrisi dan menderita berbagai penyakit diakibatkan buruknya sanitasi di tempat mereka dipasung.
Di kebanyakan daerah di Indonesia, ada kepercayaan kultural bahwa kondisi kesehatan mental merupakan indikasi bahwa mereka kerasukan roh jahat, diteluh, pernah berdosa, pernah melakukan perbuatan tak bermoral, atau kurang beriman.[8] Relativisme budaya, di mana tiap-tiap kebudayaan memiliki perspeksi sendiri tentang keterbatasan mental dan penyebabnya, bertabrakan dengan prinsip psikiatri yang memandang keterbatasan mental sebagai penyakit universal.[9]
Implikasi dari kepercayaan kultural ini: keluarga dari penderita keterbatasan mental biasanya akan berkonsultasi ke tabib, guru spiritual, atau penyedia jasa pengobatan tradisional. Opsi ini dipilih—selain karena adanya kepercayaan campur tangan makhluk gaib dalam penyakit tersebut—sebab fasilitas untuk keterbatasan mental dengan tenaga medis terdidik sulit dicapai. Bagaimana tidak, Indonesia hanya memiliki 48 rumah sakit jiwa, lebih dari setengahnya berada di empat provinsi di Indonesia. Delapan provinsi tidak memiliki rumah sakit jiwa sama sekali, dan tiga provinsi tidak memiliki psikiater. Indonesia sendiri hanya memiliki enam ratus hingga delapan ratus psikiater, atau dengan perbandingan satu psikiater untuk 300.000 sampai 400.000 individu.[10]
Fasilitas dan pelayanan yang ada di rumah sakit jiwa maupun yayasan rehabilitasi kejiwaan juga tidak mendukung terlaksananya hak-hak dasar manusia dengan keterbatasan psikososial dan mendorong terjadinya kekerasan terhadap mereka. Tidak jarang, justru pekerja profesional di bidang kesehatan mental yang melaksanakan pelanggaran HAM terhadap penderita keterbatasan mental.[11] Di berbagai RSJ dan yayasan rehabilitasi kejiwaan, pasien-pasien ditempatkan di ruangan tertutup atau bahkan berjeruji, dan diisolasi sendiri jika menolak meminum obat yang disediakan. Sama seperti yang dilakukan oleh keluarga-keluarga pasien di rumah, pihak RSJ dan yayasan rehabilitasi kemudian memasung atau merantai mereka jika melakukan tindakan agresif atau destruktif. Rata-rata pasien tidak bisa melaporkan perlakuan yang mereka terima, sebab banyak keluarga mereka yang tidak lagi datang membesuk di yayasan atau rumah sakit, bahkan meninggalkan alamat dan nomor telepon palsu di data rumah sakit.[12] Keluarga merasa tersudut oleh stigma masyarakat yang melabel penyakit mental sebagai bentuk karma atas perbuatan tak bermoral atau penyimpangan yang pernah pasien lakukan. Selain itu, ketiadaan produktivitas pasien menimbulkan beban berat bagi keluarga untuk menanggung biaya pengobatan,[13] sehingga keluarga menelantarkan mereka begitu saja di institusi-institusi kejiwaan tersebut, sebagai langkah yang mereka pandang lebih baik ketimbang pemasungan di rumah.
Begitu umumnya praktik pasung yang bahkan dijustifikasi institusi-institusi kejiwaan, menyebabkan banyak orang tidak awas terhadap pelanggaran HAM yang sesungguhnya mereka perbuat. Untung menanggulangi perkara ini, Human Rights Watch mengajukan beberapa rekomendasi, mulai dari membuat Rancangan Undang-Undang Kesehatan Mental, memperketat pengawasan dan implementasi kebijakan pemerintah seperti larangan pasung, sosialisasi di tingkat RT terkait penyakit mental dan ragamnya, sampai pemberian pelatihan kepada pekerja profesional di institusi-institusi kejiwaan. Kementerian Kesehatan dan Kementerian Sosial juga perlu bekerja sama menciptakan suatu program yang terintegrasi alih-alih menciptakan program yang serupa namun menjalankannya sendiri-sendiri.
Sudah terlalu lama negeri ini pincang dalam menegakkan hak-hak warga negaranya, terutama mereka yang seharusnya mendapat perhatian khusus. Biarpun program Indonesia Bebas Pasung 2017 terlalu utopis diwujudkan, bila semua kalangan ikut berpartisipasi meningkatkan kesadaran mereka tentang kesehatan mental dan juga HAM, maka sedikit demi sedikit ada satu lagi hak asasi yang diakui kekuatannya dan dijamin tegaknya di Indonesia.


BIBLIOGRAFI

[1] “Resolution 46/119: The protection of persons with mental illness and the improvement of mental health care,” UN General Assembly, diakses pada 26 Mei 2016, http://www.un.org/documents/ga/res/46/a46r119.htm
[2] Subbagian Penerimaan dan Pengolahan Pengaduan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, Laporan Data Pengaduan Tahun 2015 (2016), hlm. 4, diakses pada 26 Mei 2016, http://www.komnasham.go.id/sites/default/files/Laporan/Laporan%20penerimaan%20pengaduan%202015.pdf
[3] Ibid.
[4] Human Rights Watch, Living in Hell: Abuses against People with Psychological Disabilities in Indonesia (2016), hlm. 3, diakses pada 26 Mei 2016, https://www.hrw.org/sites/default/files/report_pdf/indonesia0316web.pdf
[5] “Menuju Indonesia Bebas Pasung,” Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, diakses pada 27 Mei 2016, http://www.depkes.go.id/pdf.php?id=1242
[6] Herman, “Menkes Ajak Pemda Wujudkan Indonesia Bebas Pasung,” Berita Satu, 10 Mei 2014, diakses pada 27 Mei 2016, http://www.beritasatu.com/kesra/183215-menkes-ajak-pemda-wujudkan-indonesia-bebas-pasung.html
[7] Human Rights Watch, Living in Hell, hlm. 3
[8] Ibid., hlm. 4 241
[9] Michael Winkelman, “Transcultural Psychiatry and Indigenous Psychology,” dalam Culture and Health: Applying Medical Anthropology (San Francisco: Jossey-Bass, 2009), hlm. 208
[10] Human Rights Watch, Living in Hell, hlm. 5
[11] Dharmono dalam I. Irmansyah dkk., “Human rights of persons with mental illness in Indonesia: more than
legislation is needed,” International Journal of Mental Health Systems, Vol. 3, No. 14 (Juni 2009), hlm. 8, diakses pada 26 Mei 2016, http://ijmhs.biomedcentral.com/track/pdf/10.1186/1752-4458-3-14?site=ijmhs.biomedcentral.com
[12] Ibid., hlm. 6 163
[13] Sri Indaiani, dkk., “Kesehatan Jiwa,” dalam Riset Kesehatan Dasar 2013 (Jakarta: Badan Pengembangan dan Penelitian Kementerian Kesehatan RI, 2013), hlm. 125, diakses pada 25 April 2016, http://www.depkes.go.id/resources/download/general/Hasil%20Riskesdas%202013.pdf

mardi 17 mai 2016

Feminism in Indonesia: How We Still Misplace the Spotlight of Kartini Day

One of the most memorable reminiscences of our childhood is the festivities of Kartini Day. Perhaps until elementary school, we celebrated it by wearing traditional clothes, participating in various competitions such as fashion show, and marching down the streets around our neighborhood that we caused heavy traffic. Today, as time rolls by and society claims everybody in every social stratification needs to commemorate Kartini’s struggle, many institutions obligate their members to wear traditional clothes, too, on 21st April. In most places in Java, this means kebaya for women and batik or koko shirt for men. They also celebrate it by conducting fashion show or cooking competitions. Of course, that’s a nice thing to do. As young generation, we should conserve our culture and be proud of it. The question: is it what Kartini’s struggle all about? Wearing a nice kebaya to appear pretty, supple, and graceful? With the fact that Kartini devoted her short years of life trying to break through the cage of Javanese patriarchal culture that degraded women as delicate figures created to serve men, it is safe for me to say that we still misinterpret the meaning of her struggle.

Google was being Google: it doodled
Kartini to celebrate her birthday, too!
Kartini is an important figure in Indonesia’s long list of heroes and pioneers. What did she fight for? Education for girls, regardless of their ancestry status and age. This makes her a feminist. As we have already known, in Kartini’s era, only local royalties could go to school and got basic education with children of Dutch elites. This privilege stopped as soon as they hit the age of maturity, for they had to stay at home until a royal man came proposing. In Javanese culture, this act of keeping a girl at home until being proposed is called pingitan. Kartini expressed her feelings: refusal, anger, sadness, through letters she sent to her Dutch friends. She sounded her first idea of emancipation to Estella Zeehandelaar; her desire for freedom of walls of her house that had trapped her for years, how she thought that “law and education belong to men only”, and that she wasn’t impressed by the practice of polygamies and arranged marriages.[1] Her other friend, Rosa Abendanon, collected all the letters she sent, and her husband, Jacques Henrij Abendanon, published it under the title of Door Duistemis Tor Licht (in Bahasa Indonesia: Habis Gelap Terbitlah Terang). It was Kartini who gave J. H. Abendanon inspiration to build schools for the royals as well as the commoners, when he was appointed as Dutch East Indies’s Minister of Culture, Religion, and Craft in early 1900’s.[2]
With Rosie the Riveter on it, this
poster appeared during World War II
and became a symbol for patriotic
womanhood.
In her letters, it was even implied that Kartini was somewhat angry at Javanese feudal culture that forced her to become a wife and a mother, when she was a student whose thirst for knowledge wasn’t fulfilled. So how could we commemorate her by wearing kebaya to symbolize her as a Javanese feudal, domestic mother? The fact is, W. R. Supratman originally created a song titled Raden Ajeng Kartini, but then it was changed into Ibu Kita Kartini in Soekarno’s reign.[3] However, it was during New Order, a doctrine that defined women as wives and mothers, appeared. The doctrine was coined as “state ibuism” by Indonesian feminist Julia Suryakusuma.[4]
As an emancipator and Indonesia’s first feminist, have Kartini’s ideas of gender equality been well received among Indonesian society? To some extends, the answer can be yes and no. As modernization and globalization wave from one place to another, our knowledge about the idea of gender equality has increased. Many women have gathered, being a voice instead of an echo. Feminist movements roar louder. Yet, our awareness and understanding is still shockingly hazy, and some people still see the world through patriarchal spectacles.
The most notable cases that have gone on for years are child marriage cases. Indonesia is one of ten countries with the highest numbers of child brides every year, with an estimated one in every five girls is married before the age of 18.[5] One of the key drivers is rigid gender norms, where there is a statement that “girls don’t need higher education—they will end up in their kitchen anyway”. Other drivers include poverty, economic dependency, financial incentives, dowry practices, lack of access to education and health service. Most marriages don’t end well; poverty keeps catching up while the young couple bears children, resulting in domestic violence, stolen dreams and childhood.
Perhaps we don’t realize, there have been many thoughts from Indonesian youth that have tendency to commodify women. You may have familiarized yourself with the analogy “women in modest clothes are like wrapped candies, they are more valuable because they are still pure and untouched”. This saying has analogical fallacy, because candies don’t have any reasoning capabilities, and they are only possessions, subjects to people’s satisfaction. Therefore, if you say that women are like candies, you practically agree that women are subjects to people’s satisfaction.
Another thing that indicates our awareness towards gender equality is still poor is the growth of rape culture in Indonesia. In a nutshell, rape culture is “a complex of beliefs that encourage male sexual aggression and supports violence against women”. This complex of beliefs includes, “Only ‘bad’ women get raped,” or, “Women incite men to rape.” This culture can be caused by the lack of sex education, patriarchal culture, and weak law enforcement.[6] What’s the evidence? In 2013, UN conducted a study about sexual violence in Asia and the Pacific, which found that 19,5% men in rural Indonesia, 26,5% men in urban Indonesia, and 40,6% men in Indonesia-Papua had committed rape at some time in their lives.[7]
It must be still fresh on your mind: the case of YY, a ninth-grader in Bengkulu, who was raped by fourteen men on her way home from school. This horrible case has summoned national outrage. Sadly, some people still blamed it on the victim; that she should have not walked home alone. Parents in YY’s village also feel the terror, and as result, they become more protective of their daughters. They make sure their daughters use water taxis, always have companies to walk home with, and dress more moderately.[8] This is a pattern that’s common in patriarchal society. When a woman gets raped by a man, other women get told how to dress and behave, meanwhile other men don’t get told not to rape.
Those are the evidences of how the battle that Kartini fought for then, is still raging on now. Instead of focusing on what kebaya to wear and win a fashion show competition with, it would be better if everyone takes their role and works together to solve every problem regarding gender equality issue.

REFERENCE

[1]Rahman Indra, “Apa Sebenarnya Isi Surat-Surat Kartini?’, National Geographic Indonesia, last accessed on 8 May 2016, http://nationalgeographic.co.id/berita/2014/04/apa-sebenarnya-isi-surat-surat-kartini
[2] “J. H. Abendanon,” Wikipedia, last accessed on 8 May 2016, http://id.wikipedia.org/wiki/J.H._Abendanon
[3] Petra Mahy, “Being Kartini: Ceremony and Print Media in the Commemoration of Indonesia’s First Feminist,” Intersections: Gender and Sexuality in Asia and the Pacific, Issue 28 (March 2012), last accessed on 8 May 2016, http://intersections.anu.edu.au/issue28/mahy.htm
[4] Jewel Topsfield, “Feminism in the spotlight as Indonesia celebrates Kartini Day,” The Sydney Morning Herald, last accessed on 21 April 2016, http://smh.com.au/world/feminism-in-the-spotlight-as-indonesia-celebrates-kartini-day-20160420-goalp2.html
[5] “Child Marriage Around the World: Indonesia,” Girls Not Brides, last accessed on 9 May 2016, http://girlsnotbrides.org/child-marriage/indonesia/
[6] Boby Andika Ruitang, “Indonesia, You Have a Rape Culture Problem. Stop Pretending that You Don’t,” Medium, last accessed on 8 May 2016, http://medium.com/life-tips/indonesia-you-have -a-rape-culture-problem-stop-pretending-that-you-dont-63d301bb021#.owr264e1a
[7] “The UN Multi-Country Study on Men and Violence in Asia and the Pacific,” Partners for Prevention, last accessed on 8 May 2016, http://partners4prevention.org/about-prevention/research/men-and-violence-study
[8] Christine Franciska, “How a rape that was ignored angered Indonesia’s women,” BBC, last accessed on 8 May 2016, http://bbc.com/news/world-asia-36200441


**originally written for an essay assignment in one of my class.

mardi 9 février 2016

Satu Semester di [(HI) (FISIP) (UI)]

Those who can, survive.
Those who can't, suffer.

Kebanyakan dari mereka yang melihat gue sebatas dari outer layer, mengasumsikan Echa sebagai sosok independen yang keputusannya unshakable. Well, andai mereka tahu seberapa panjang perjalanan (dan banyaknya poin-poin pertimbangan) sebelum gue memutuskan sesuatu, bakal tahu gue--barangkali--adalah orang ter-indecisive yang pernah ada. When it came to deciding which university, which faculty to go for my higher education, I took six whole months to fix my choice. Bukannya apa-apa, bo, kalo nentuin baju yang gue pake sehari-hari aja gue udah susah (atau mendingan naik Gojek atau bus kota, contoh lainnya), apalagi milih jurusan yang bakal sangat berpengaruh di masa depan (dan, kata senior gue, turut menentukan kita nikah sama siapa)?

Orangtua gue, dengan segala diktat mereka, ikut menyarankan jurusan gue. Bokap kepingin gue masuk Hukum, prodi beliau, sekaligus mewujudkan cita-cita nggak kesampean beliau ngampus di FHUI. Tapi gue tahu masuk FH won't do me any good, because I simply suck at making decision, let alone verdict for other people. I'm too aware of the consequences other people may weigh because of me. Nyokap, sebaliknya, menyarankan gue masuk Akuntansi, melupakan fakta bahwa gue ceroboh dan sering kehilangan barang. Dan, yes, nyokap gue juga lulusan Akuntansi, jadi gue mendeteksi adanya ambisi pribadi. In the end, I eliminated their choices, karena di sekolah gue ada pemetaan SNMPTN, dan dua teman gue yang rankingnya lebih tinggi udah milih dua prodi itu.

(YES) (PADAHAL NGELES)

Gue sendiri punya tiga bidang ilmu I was really fond of: psikologi, sastra, dan HI. Kenapa? Karena yea, gue simply mikir masa depan yang gue inginkan nggak jauh-jauh dari ketiga jurusan itu. Gue kepingin jadi psikolog, penulis/penerjemah, atau diplomat. Dan kebetulan, tiga jurusan itu belum "di-tag" teman gue yang lain. Setelah gue udah hampir hilang akal, gue pun salat istikharah. Lalu suatu saat, gue bermimpi...

(ENG, ING, ENG)

Nggak, sih. Mimpinya nggak dramatis. Gue mimpi dikasih tote bag dengan makara hijau oleh seorang perempuan yang kayaknya dosen, tapi gue ngejar beliau dan minta tukar tote bag-nya dengan yang makaranya jingga. FYI, di UI, setiap fakultas punya makara masing-masing yang beda warna. Makara hijau itu punyanya FK, jurusan yang pasti gue pilih seandainya gue jurusan IPA (I almost stumbled there). Makara jingga adalah FISIP, rumah yang menaungi HI. Gue jadi lebih yakin, dan tanggal 13 Februari (atau Maret, ya? Gue lupa), satu hari sebelum SNMPTN ditutup, gue milih HI UI di pilihan pertama, dan Sastra Inggris UI di pilihan kedua. Ortu gue sangat menentang gue memilih Psiko, because once my cousin went there, and it didn't go well.

And, you know, time flies. Tahu-tahu, gue melewati UN (jangan tanya NEM-nya berapa, ya). Tahu-tahu, gue udah wisuda SMA. Tahu-tahu, gue udah ikut intensif SBMPTN di BTA. (Gue yakin banyak kejadian seru yang gue tulis selama gue naik bus ke BTA.) Tahu-tahu, udah tanggal 9 Mei pukul lima sore. Hasil SNMPTN diumumkan.

Nggak. Gue nggak punya screen capture hasil SNMPTN untuk dibagikan. Tapi, ya, hasilnya, alhamdulillah gue diterima di jurusan HI UI. Seneng nggak? Seneng, dong! Rasanya, kayak beban gue keangkat semua. Rasanya... rasanya... kayak gue udah nggak usah berjuang lagi.

If only I had known better.

(But, technically, I was right after all. Gue nggak usah berjuang lagi sampai masuk kuliah.)

Dari menjadi penumpang tetap bus 614, gue beralih status jadi pengunjung setia SMA gue. Ngurusin berkas legalisasi, blahblahblah. Gue bolak-balik soalnya birokrasinya ribet dan ada beberapa human error, tapi akhirnya I made it! Tanggal 5 Juni, gue verifikasi. Gue nggak mau cerita because it's a long story. Bayangin aja sih, ribuan camaba yang diterima SNMPTN dari DKI Jakarta, ditumplekin dalam satu hari buat verifikasi. Tapi lumayan cepat sih. Gue nyampe sana pukul enam pagi, dan urusan gue selesai pukul 1 siang lengkap dengan segala drama dan atletiknya. The real deal itu pasca-verifikasi, tanggal 9 Juni. Gue lupa itu dari Jakarta lagi, atau semua camaba hasil SNMPTN (which is 4000 orang) Sementara teman-teman gue berjuang di SBMPTN, gue berjuang antre dari pukul 6 pagi sampai 8 malam, buat ngurus KTM, ngukur jaket, mendengarkan informasi soal OBM (Orientasi Belajar Mahasiswa), OKK (Orientasi Kegiatan Kampus), juga penyambutan maba tingkat fakultas dan jurusan. Gue kembali ke rumah membawa setumpuk berkas tanggalan dan buku panduan yang nggak pernah gue baca.

Okay, semuanya sudah terlewati. Gue lanjut OBM. Apa itu OBM? Err, semacam simulasi belajar kita di kampus, sih. Mahasiswanya dicampur, dosennya juga nggak nentu dari fakultas mana, dan lo juga belum tentu dapet kelas di fakultas lo. Gue dapet di FMIPA dan F. Psiko. OBM itu the only time you get to know people from other faculties, so make the experience count. (Karena link di OBM berguna untuk kelanjutan OKK.) Ngapain aja di OBM? Ya gitu. Lo belajar ngisi borang (yaitu bahasa Indonesia baku dari form) hasil diskusi yang bakal lo gunain di kelas MPK, terus ada simulasi PBL atau problem based learning, semacam diskusi dari masalah di sekitar kita sehari-hari. Yang seru itu kelas LS atau learning skill, kita belajar lewat games, dan yang ngajar pun senior dari masing-masing fakultas kelas lo berada (gue dapet Psiko). Di OBM, gue dikasih dua buah buku panduan. Lama OBM itu empat hari, dan walau gue ngerasa kelasnya random, gue sekarang merasa kehilangan dan kangen ketika beban terbesar gue adalah nentuin urutan barang yang harus lo bawa kalau tersesat di luar angkasa.

My OBM class and I, on our last day. This is not a goodbye, this is a see you again!


Kelar OBM, lanjut OKK. Jadi, supposedly ini tuh orientasi tingkat universitas. Kita dikasih tugas, kalau nggak salah ada enam macam, individu dan kelompok. Nyari kelompoknya agak problematik, soalnya harus campur dari tiga kelompok ilmu: Saintek, Soshum, dan RIK (Rumpun Ilmu Kesehatan). Nah, inilah saatnya kita menggunakan networking yang didapat dari OBM. (Tapi ujung-ujungnya kelompok gue harus nge-stalk orang dari FB dan meminang dua orang cowok, sih.) Di hari H OBM, individu maupun kelompok yang karyanya paling baik diumumkan.

Anyway, di hari H OBM (yang dibagi menjadi dua hari dengan kategori Reguler/Paralel), gue disuruh bawa karton kuning, nametag yang template-nya dikasih dan bermartabat (ini serius. For once in my life, gue nggak disuruh bikin nametag bentuk daun atau bunga), dan air mineral satu setengah liter (WARNING: NEXT TIME NGGAK USAH DIBAWA!). Nanti bakal ada senior-senior yang memeriksa kelengkapan atribut kita. Terus, ada cerita lucu gini....

Waktu gue diperiksa di depan Balairung, senior yang bertugas adalah cowok (yes, like every story, it starts with a guy). Dia nanyain gue dengan suara rendah, "Bawa gunting, penggaris, parfum?" And I was too in tune with my surroundings, all the hectics, that I blurted out, "Non." Trus dia bales, "Francais?" Gue baru beneran melihat dia, melihat makara putih di jaket kuningnya. Gue berasumsi dia anak Sastra Prancis.
I nodded my oui. Dia lanjut nanya, "Belajar dari mana?"
Gue bilang, "IFI."
"Puis quand?" Sejak kapan, katanya.
Gue gelagapan karena udah lupa tenses. "Errr, deux annes?"
And then he smiled that playful smile and let me go.
Terus gue teringat kejadian itu dan penasaran lagi. Sial.

Akhirnya gue masuk ke Balairung. Duduknya diatur dan sengacak itu. Gue tidak menemukan satu pun peer group gue di sana. Akhirnya gue SKSD dan ngerumpi sama kanan-kiri gue. Untungnya, pembicaranya lumayan menarik. Salah satunya itu Chairil Tanjung. Gue baru tahu doi ternyata alumni FKG UI. Lalu, ada sosok inspiratif yang menyebarkan pesan anti-korupsi lewat media dongeng ke anak-anak kecil. Sisanya... gue lupa.

Hal berkesan lainnya dari OKK itu ya pas angkatan 2015 disuruh bikin makara kuning, makara UI. Lalu kami pulang.

Makara 2015. Coba cari gue di mana.


Lantas, apa itu semua sudah selesai? Ohoho, belum. Jangan cabut dulu. Sini, sini, duduk lagi.

Gue lupa bagaimana urutan rangkaian tepatnya. Yang jelas, gue harus mendatangi latihan paduan suara (lately gue dikasih buku lirik lagu-lagu khas UI) untuk penyambutan MTQ Nasional di UI (yang, untungnya, dikasih makan KFC gratis) juga untuk melepas kelulusan senior 2011 (yang ini konsumsinya McD, tapi gue nggak happy karena nggak menemukan orang yang gue cari [orang yang bikin gue bersumpah bakal masuk UI, dan di saat gue udah masuk, dia malah keluar. Kampret.]). Pelatih paduan suaranya adalah the Mighty Pak Dibyo. Latihannya tujuh kali, dan gue dikasih kartu absen datang dan pulang yang merupakan inovasi terbaru sepanjang sejarah Kamaba UI. Terus, ada juga upacara 17 Agustus di Rotunda (yang panas banget, btw), PCK (Program Cinta Kampus, di mana lo membawa ikan untuk dilepas ke danau UI dan burung untuk dilepas ke hutan UI. Keliling hutannya seru, btw), dan nonton demo UKM. Sayangnya, yang terakhir nggak seseru yang diceritakan senior-senior gue, huhuhu. Kata senior 2013, di tahun dia masuk, waktu demo UKM, ada kuda dari UKM Equastrian masuk Balairung. Terus gue kecewa karena gue suka kuda. Dan yang terakhir adalah Tes Kemampuan Dasar Bahasa Inggris! Wo-ho! Seangkatan dikumpulkan buat ngerjain semacam TOEFL gitu. Dari semua rangkaian Kamaba UI, kami dapat dua puluh kartu absen yang dipakai buat menebus jakun, a.k.a. jaket kuning. Ada beberapa teman gue yang kartunya kurang dan akhirnya dapat jakunnya ditunda tiga bulan. Sedi.

Selesai rangkaian Kamaba tingkat UI, datanglah... eng, ing, eng! PSAK! Pengenalan Sistem Akademik Kampus. Yaitu OSPEK tingkat fakultas, yang namanya beda di setiap fakultas. Budaya dan tugas di setiap fakultas juga beda. Teman gue di FE, misalnya, kedapatan tugas menganyam makara dan dijadikan sampul buku, juga berfoto dengan anak-anak angkatannya di FE, terus dibikin biodata. Teman-teman dari FH dan Psiko harus memakai jakun dalam kurun waktu dan tempat tertentu. Sisanya gue lupa, huehuehue.

Di FISIP, angkatan gue dibagi ke dalam 60 kelompok. Gue masuk kelompok 41 sama Vina (kunjungi blognya ya, vinaitulalat.tumbeler.com), Arya (kalo lo pernah ngeliat cowok mirip Tulus dan mirip paus, itu Arya. Jangan lupa disapa, ya), Ariel (anaknya gampang homesick), Rafi (kepala suku kelompok 41), Ody (calon-calon ui.cantik), Via (kelompok gue selamat dari kelaparan pas hari H PSAK berkat beliau), Rara (anaknya kalem, tapi sekalinya ngomong ricuh sih lucunya), dan BELVA KEBANGGAAN KITA (bikoz Belva caketang, alias calon ketua angkatan). Mentor kami Kak Ezra (mau gue tulis spesialisasinya tapi nanti gue dikira mem-bully lagi) dan Kak Bayu (yang sekarang jadi Waketu HMIK). I need to jottle down these names because I won't (and it's impossible to) forget them. Lucu, seru, asyik, memori pertama gue di FISIP ya sama mereka. Kalau FISIP itu pohon, akar gue ya mereka (asli, gue nggak disogok kok). Tugas-tugas pas PSAK itu... ada kelompok dan individu. Yang individu mostly berupa esai. Yang paling memorable itu bikin Canfis alias Catatan FISIP, baik sampulnya, maupun kontennya, dan foto bareng artis FISIP, juga bikin karya visual tentang masalah di kota Depok. LOL JADI KANGEN. Pardon my melancholy.

Kelompok 41 - Photoshoot for Canfis cover. It's our Paus in the centre.


PSAK FISIP UI berjalan selama empat hari, dan dua hari pertama gue telat, guys. Oke, barangkali gue harus ngasi tau aturan mainnya, walau nggak bakal jadi surprise lagi: jangan coba-coba telat pas OSPEK. Do that now, thank me later. Hukumannya itu beneran bikin pegel, disuruh merentangkan tangan dan kepala nengok ke atas, terus ditanyain sama Tibum (short for Ketertiban Umum, di fakultas lain bisa beda nama) alasan kenapa kita telat. Oh iya. Aturan kedua: jangan coba-coba ketawa. Hari pertama, gue diinterogasi (?) dua senior, terus hari kedua satu aja, tapi dia ingat gue juga telat hari sebelumnya, and that doomed me completely. Di PSAK, ada banyak kegiatannya, di antaranya adalah: perkenalan BEM dan HM, stan-stan UKM dan organisasi, perkenalan sama jajaran dekanat, mentoring keagamaan, latihan solidaritas (?) angkatan yang termasuk di dalamnya pemilihan Ketua Angkatan, talkshow inspiratif (I failed to find another name), perkenalan sama warga FISIP, dan banyak lagi, gue yakin (maafin udah lupa). Hari terakhir PSAK bersamaan dengan hari ambil jakun, terus gue jadi merasa hore gitu.

Setelah orientasi tingkat fakultas, maka muncullah (drumrolls) TKHI! Alias Temu Keluarga Hubungan Internasional. Orientasi di HI UI. (Again, nama resmi orientasi di tiap jurusan itu beda.) Kalau beberapa teman gue beropini orientasi tingkat fakultas mereka lebih melelahkan daripada orientasi tingkat jurusan, gue berpendapat sebaliknya. Tapi, as always, tingkat kesulitan suatu kegiatan berbanding lurus dengan eratnya bonding pelaku kegiatan tersebut.

Jakun baru, foto dulu. :p


Mahasiswa angkatan 2015 di HI UI itu sebanyak 50 orang, belum termasuk exchange students-nya. Kami dipecah ke dalam sepuluh kelompok, dan tema nama kelompok tahun ini adalah peristiwa-peristiwa penting di dunia internasional (tahun lalu penerima Nobel, tahun lalunya lagi kriminalis tingkat internasional), misalnya: Meiji Restoration (inget soalnya ada Amel di situ lol), Kyoto Protocol (kelompok paling bala), Yom Kippur War (ngeksis sis dengan jargonnya "MANA SEMANGATNYA? NIH!"). Me? I got paired up with these freaky kids in Asian African Conference (tuh, gengs, gue stabiloin saking pentingnya kalian buat gue #cih). Kelompok dengan nama paling panjang, sampai-sampai our senior eventually gave up dan ikut menyingkatnya jadi AAC aja. Ada siapa aja di AAC? AHAHAHAHAHA mari kita telusuri profilnya.

AAC pasca Final Day.
LTR: Giffar, Difa, Echa, Grace, Vincent.

A! Ada Vincent dan Difa.
A! Ada Echa dan Giffar.
C! Coba Grecia yang mana?
Haaai, Grecia itu nama dia (yang di tengah).
Oooh! Asian African Conference!
p.s. nyanyinya pake nada jingle Sakatonik ABC ya.

Btw, itu adalah potongan dari salam kelompok kami (AAC kalo nyanyi salam kelompok paling merry-ah). Jadi, di AAC itu ada Vincent si anak artsy. Vincent ini jago akting (lately I knew he played for profitable theatre play), trus jago main piano (anak orkestra dia) to the point dia ngajarin les privat piano dan made a living from that job. Vincent itu nunda setahun gara-gara tahun lalu milih FK semua: FK UI, FK UGM, FK Unpad ahahahaha ngesein emang ni anak (tapi ai laf yu kok Cent). Trus "pelarian"-nya sekarang ke HI UI (makin ngeselin kan) dan nyasar ke kelompok AAC. Fakta unik tentang Incen: tua, panggilannya VW, hopeless romantic, dan pernah mimpi jadi nabi. Status di AAC: the always-ngilang one.

Orang kedua di AAC, sesuai urutan jingle kami, adalah Difa. Jadi Difa ini adalah anak IPA yang ingin membuktikan pada dunia bahwa anak IPA juga bisa masuk dan berprestasi di HI UI. Difa ini LDR-an sama pacarnya yang namanya Jeni, terus kerap kali mengeluh kalau nggak jarak menghalangi romansa mereka #ciat. Difa ini juga anak debat, dan anak HI banget sih kata w. Fakta unik tentang Difa: nggak suka bawang goreng, punya satu lemari penuh dengan koleksi Elmo, dan punya kucing bernama Brunese yang kelakuannya kayak anjing. Status di AAC: the reliable one.

Orang ketiga di AAC adalah... gue. ANJIR KOK GUE. Ya udahlah di-skip. Orang ketiga ngapain diulas, bikin makan ati aja. LAH KOK BAPER. Status (orang ketiga juga punya status) di AAC: IRS tidak bermasalah.

Lanjut. Sekarang kita bertemu Giffar AHAHAHAHAHA orang yang kalo ditanyain fakta unik setiap hunting pasti ganti-ganti saking banyaknya. Giffar ini bangga banget sama root-nya yang orang Bogor. Kalau dia nikah, dia mau di Kebun Raya Bogor. Disaksikan rusa-rusa lucu. Giffar itu sepeka itu (baca: sering salah fokus). Giffar juga senantiasa murah hati membagikan makanannya kepada anak-anak HI (truth be told, gue nggak pernah ketemu orang yang makannya sesedikit doi). Giffar juga berkontribusi paling banyak dalam penciptaan salam kelompok dan salam angkatan. Fakta unik tentang Giffar: nggak suka daging sapi karena nggak enak dikunyah (tapi dia suka daging kambing. BINGUNG NGGAK LO), kalo tidur TV-nya harus dinyalain, pernah digigit tomcat, menurutnya rasa mentimun dan semangka itu mirip, terus bisa terbang saking kurusnya. Status di AAC: the creative one.

Last but not least... Grace! Alias Grecia Anggelita (inget-inget yaw, doi gampang baper kalo orang typo nyebut/nulis namanya). Teman LDR Difa juga dengan pacar bernama Bima. LOVE STORY GRACE ITU UNYU BANGET BENER DEH kayak cerita-cerita FTV. Grace sebangga itu dengan akarnya sebagai orang China. Grace itu paling street-smart, alias banyak akal, karena dia realistis wkwkwk. Grace melengkapi Giffar dengan kreativitasnya, Difa dengan praktikalismenya, Vincent dengan nyeninya, dan gue dengan idealisme gue. Tapi Grace juga jago akting AHAHAHA we'll get to that part later. Fakta unik tentang Grace: ahli babi (tahu beda rasanya babi China dan babi Batak), ahli anjing (punya delapan ekor Shitzu di rumah nyaw), ahli hamster (punya lima kandang), ahli figure doll, dan ahli LDR.

Nah, selain kami berlima, di AAC juga ada Kak Lisa sebagai mentor hore, dan Kak Rizki sebagai mentor akademis yang bantuin kami. Bersama AAC, gue mengarungi bahtera kegiatan TKHI yang akademis. Di TKHI, ada tugas akademis bertingkat yang terdiri dari summary, review, esai dan presentasi kelompok. Gue kelabakan banget sih ngerjainnya wkwkwk #deadliner. Selain ada sesi akademis, ada community service, dan Life After HI juga (kalo yang ini cuplikan lagu angkatan). PDW-nya pun hacep gila. PDW stands for practical diplomacy workshop merangkap MUN (Model United Nations, gue dapet Indonesia wey di debut w). TKHI itu lamanya dua bulan, dan selama itu juga kami ditantang buat "hunting" 120 senior. Pernah suatu minggu AAC kalah hunting, trus kita dihukum bikin video tutorial hijab. Dan tentu aja, as always, nggak seru kalo hukumannya nggak diaib-aibin sama AAC. Tutorial hijab itu pun kami plesetin jadi iklan nonkomersil lima menit situs jilbabe.com. Bikin videonya, kami berlima nginep di apartemen Giffar di Tamel, pas hari ultah Vincent. Tidurnya shift-shift-an AHAHAHA, dan Vincent jadi malaikat penjaga (karena nggak kebagian kasur) yang melindungi kami dari serangga Tamel. That's the most memorable moment with AAC sih:") Ohiya, di TKHI juga kami harus menampilkan salam angkatan, dan Giffar jadi salah satu koordinatornya yay (it doomed AAC karena banyak banget liriknya yang membongkar aib kami)!  Puncak dari TKHI adalah Final Day!


Poster play Gelmab HI 2015
(tema anarkisme)
Selain TKHI, kegiatan mahasiswa baru di HI (dan FISIP) juga bejibun. Di tingkat FISIP sendiri, ada FISIP Premier Games (sebelumnya bernama Olimfis, yaitu kompetisi olahraga), LIMAS (kompetisi akademis), dan Gelmab (kompetisi seni edisi teater). Selain itu, masih ada Pengmas alias Pengabdian Masyarakat. Di tingkat HI, ada Amazing Race dan Potluck. Di Amazing Race itu, gue ngegantiin Grace setim sama Giffar (LAGI), Kak Omar, dan Kak Habil di grup Raz Muhammad. Tema tahun itu musik. ITU SERU BANGET GILA sayangnya diganggu hujan deras yang turun (dan gue setakut itu sama petir, sip). Nah, kalau Potluck itu agenda kesukaan gue, karena dia semacam kabaret, dan kami dibiarin mengeksplor aja gitu kelucuan kami ada di mana (me, gue sangat garing). Nah, pelatih Potluck itu angkatan sebelumnya, dan dalam hal ini, 2014 yang ngelatih kami. FYI, tema Potluck itu nggak boleh diketahuin angkatan lain selain 2014, jadi latihannya beneran kucing-kucingan, mulai dari bank BNI depan Perpusat, Tamfir, sampe Rotunda di tengah hujan malam yang menggigil. I enjoyed that, though.



Poster Potluck 2015: Peyang Mengundang.





AAC berjaya waktu Potluck! Grace dan Giffar menang Best Actress dan Best Actor.
Nah, di samping Kamaba, ofkorz gue juga mengerjakan kewajiban seorang mahasisiwa (yeu), yakni makan, nugas, kurang tidur, nangis, makan lagi belajar. Tahun pertama di UI, matkul kami masih dipaketkan, dan di HI sendiri, gue mengambil 20 SKS. Matkulnya apa aja? MPKT A (no comment, tapi pengetahuan tentang cara mengisi borang dengan benar diuji di sini), MPK Agama (hidup Pak Mujilan! Btw, kemampuan debat gue diuji di kelas ini, karena banyaknya populasi anak Politik), MPK Seni/Olahraga (gue ambil Batik kelas Bu Nani, recommended sih), Pengantar Antropologi (gue sih suka, tapi ujiannya susahnya naujubile), Pengantar Politik, Pengantar Sosiologi (ME LIKEY! WE LOVEY MAS RIKI!), Pengantar Penulisan Ilmiah (sukak juga, gue dibiarkan mengeksplor tema yang dimau dari kacamata ilmiah), dan... jenjengjenjeng.... DHIP. Dinamika Hubungan Internasional Pasca 1945 ini matkul pertama HI (kami baru ambil pengantar di semester dua), isinya sejarah yang mirip sejarah SMA tapi lebih dalam (pelajaran tiga tahun lo dibabat dalam satu pertemuan). Materinya detail dan unpredictable, karena sumbernya buku IR Since 1945 karya Young and Kent yang tebalnya bisa Anda lihat sendiri di Google. Ujiannya PG, dan teman-teman gue dari jurusan lain "memfitnah" ujian kami gampang. Andai mereka tahu rangkuman UAS-nya aja tebalnya 42 halaman dan soal pertamanya adalah, "Kapan Rhodesia berganti nama menjadi Zimbabwe?"

Selain rangkaian Kamaba dengan berbagai tingkatan, gue juga ikut kepanitaan Grafity UI, dan diterima jadi staf ticketing bersama Vinaitulalat. Hal paling memorable dari Grafity adalah waktu hari H, gue dapet tempat operasi di SMA 1 Sejahtera Depok (yang, omong-omong, punya akronim Sesat), mobil gue nyeblos ke lubang got. SEDIH PARAH. Gue jadi kapok nyetir memarkir sejak itu.

And now, we get to the part where I answer the question: "Jadi, kuliah di HI UI gimana, Cha?" Jujur, nggak seperti yang gue bayangkan muahahaha. Dulu, selalu tercetus di benak gue kalo di HI UI ya, lo belajar tata krama jadi diplomat (termasuk di dalamnya table manner dan cara berjalan yang anggun) dan budaya masyarakat asing. Forgive my naivety and DON'T follow me. Di HI UI (atau bahkan di UI sendiri), lo bakalan lebih sering dijejalkan teori daripada praktik, karena--mengutip perkataan salah satu dosen--mahasiswa UI diarahkan menjadi polisiator, bukan eksekutor. Sedangkan soal cross-cultural studies, ternyata itu "jatah"-nya anak Antropologi, bukannya HI. First thing to remember: HI itu pecahan Politik, jadi udah pasti yang dipelajari itu politik dalam scope yang lebih luas. Jangan kaget waktu masuk HI dan dikasih paper analisis post-war disorder atau teori balance vs. bandwagon. TAPI tapi tapi, nanti di HI UI sendiri bakal ada peminatan pada semester lima, yakni Ekopolin (Ekonomi dan Politik Internasional), Pengstrat (Pengkajian Keamanan Strategis), dan Mastrans (Masyarakat Transnasional, peminatan yang paling muda di HI). Sifatnya nggak rigid. I haven't decided and discovered which way to go. I'm still sticking with my dream to work for UNICEF or WWF, though.

Satu semester di HI, rasanya... campur aduk. Dengan segala kegiatan yang datang silih-berganti, selama empat bulan itu gue hampir selalu pulang jam sembilan malam, naik kereta. Nyampe rumah, begadang nugas, baik tugas akademis maupun non-akademis. Kayak zombie sih rasanya:" Bukan Oktober, gue didiagnosis kena infeksi saluran percernaan, yang merupakan penyakit turunan dari mag kronis. Gue sering mendapati diri gue mengintip ke fakultas sebelah dan berandai-andai gue membuat pilihan yang lain. Dikelilingi seni, dikelilingi mereka yang "nyeleneh" tapi mengerti bahwa hidup nggak punya teori atau formula resmi. Dikelilingi mereka yang antusias dengan penulisan populer.

Don't get me wrong. I passed last term just okay, but you know, there's always a space in my heart that keeps screaming, "IT'S NOT RIGHT, YOU FOOL," or, "Stop pretending. It's not what you want. You can't lie to me." And my head will answer it in whisper, "Darling, the world is not a wish-granting factory."

Satu semester dan semester satu di HI UI: babak belur, tapi setidaknya gue survive. Now I'm just gonna cross my fingers for this upcoming term. (Gue masuk mulai besok, dan hari Selasa nggak ada matkul yay!)

Ini catatan hidupku. Bagaimana denganmu?